Batobo: Ketika Piala Dunia Menjelma Menjadi Warisan Budaya Hidup di Ternate dan Tidore

Oleh: Asfarinal*

Setiap empat tahun sekali, dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan Piala Dunia. Jutaan manusia larut dalam kegembiraan, ketegangan, dan harapan yang menyatukan berbagai bangsa melalui sepak bola. Namun, di Provinsi Maluku Utara, khususnya kota Ternate dan kota Tidore, Piala Dunia menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar pertandingan. Ia telah bertransformasi menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sinilah lahir sebuah tradisi unik yang dikenal sebagai Batobo.

Hari ini, ketika Spanyol berhasil mengalahkan Argentina pada final Piala Dunia 2026, perhatian masyarakat Ternate dan Tidore tidak hanya tertuju pada siapa yang mengangkat trofi. Mereka juga menantikan sebuah tradisi yang selalu hadir setiap kali turnamen berakhir, Batobo. Kali ini, sorotan masyarakat mengarah kepada Wali Kota Tidore yang akrab disapa Ayah Erick, seorang pendukung setia Argentina, yang dengan penuh keakraban “ditagih” untuk menjalankan Batobo.

Di mata orang luar, Batobo mungkin tampak sebagai sebuah tradisi sederhana, para pendukung tim yang kalah diiringi menuju pantai, kemudian melompat dan berendam di laut di tengah sorak-sorai masyarakat. Namun, bagi masyarakat Ternate dan Tidore, Batobo memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan hukuman, bukan pula bentuk ejekan. Batobo adalah simbol penerimaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap nilai sportivitas.

Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat kepulauan memiliki cara tersendiri dalam memaknai kekalahan. Dalam budaya Maluku Utara, laut bukan sekadar ruang geografis. Laut adalah sumber kehidupan, jalur perdagangan rempah-rempah, ruang perjumpaan antarpulau, sekaligus simbol penyucian dan rekonsiliasi. Ketika seseorang melakukan Batobo, ia seolah “mengembalikan” seluruh kekecewaan kepada laut dan kembali menjadi bagian utuh dari komunitas.

Di sinilah Batobo memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal mampu mengolah sebuah fenomena global menjadi praktik budaya yang memiliki identitas sendiri. Piala Dunia memang berasal dari panggung internasional, tetapi makna sosialnya dibangun oleh masyarakat Ternate dan Tidore melalui nilai-nilai lokal.

Antropolog Clifford Geertz pernah mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan “webs of significance”, jaringan makna yang dipintal sendiri oleh manusia. Batobo adalah contoh nyata dari jaringan makna tersebut. Sepak bola hanyalah pemicunya, sedangkan nilai yang hidup di dalamnya adalah solidaritas, humor, penghormatan kepada lawan, dan penerimaan terhadap hasil pertandingan.

Selama berlangsungnya Piala Dunia, wajah Ternate dan Tidore berubah menjadi ruang budaya yang sangat dinamis. Kampung-kampung dihiasi bendera negara peserta. Jalan-jalan dipenuhi warna-warni Argentina, Brasil, Spanyol, Jerman, Portugal, Inggris, Belanda, hingga Maroko. Rumah-rumah memasang atribut negara favorit, sementara warung kopi dan halaman rumah berubah menjadi ruang nonton bersama yang terbuka bagi siapa saja.

Fenomena ini bukan sekadar dekorasi. Ia merupakan bentuk partisipasi budaya masyarakat. Setiap lingkungan membangun identitasnya sendiri, tetapi tetap berada dalam semangat persaudaraan. Rivalitas berhenti ketika peluit akhir dibunyikan. Yang tersisa hanyalah cerita, tawa, dan kebersamaan.

Nilai seperti inilah yang oleh UNESCO disebut sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage), yakni praktik, ekspresi, pengetahuan, dan tradisi yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui partisipasi masyarakat. Warisan budaya bukan hanya bangunan tua, benteng, atau situs arkeologi. Ia juga hidup dalam kebiasaan, ritual sosial, dan cara masyarakat membangun hubungan antarmanusia.

Batobo memenuhi karakter tersebut. Tradisi ini tidak lahir dari keputusan pemerintah ataupun lembaga resmi. Ia tumbuh secara organik dari masyarakat, dipelihara melalui kesepakatan sosial, dan diwariskan melalui pengalaman bersama. Setiap edisi Piala Dunia menjadi ruang belajar bagi generasi muda tentang arti sportivitas dan persaudaraan.

Nelson Mandela pernah mengatakan:

“Sport has the power to change the world. It has the power to inspire. It has the power to unite people in a way that little else does.”

Kalimat tersebut menemukan maknanya di Ternate dan Tidore. Sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan media yang memperkuat kohesi sosial.

Tradisi Batobo juga memperlihatkan kuatnya budaya maritim masyarakat Maluku Utara. Selama berabad-abad, laut menjadi pusat peradaban Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Dari laut pula rempah-rempah menghubungkan kawasan ini dengan Timur Tengah, India, Tiongkok, hingga Eropa. Tidak mengherankan apabila laut kemudian menjadi ruang simbolik dalam berbagai praktik budaya masyarakat, termasuk Batobo.

Dengan demikian, Batobo sesungguhnya merupakan pertemuan antara budaya maritim, budaya komunal, dan budaya olahraga. Ketiganya berpadu menjadi identitas lokal yang unik.

Selain nilai budaya, Batobo juga memberikan dampak sosial dan ekonomi. Selama Piala Dunia berlangsung, warung kopi, pelaku UMKM, pedagang atribut, pengrajin bendera, hingga pelaku ekonomi kreatif memperoleh manfaat langsung dari meningkatnya aktivitas masyarakat. Kampung menjadi hidup sepanjang malam. Ruang publik dipenuhi percakapan lintas generasi. Anak-anak belajar mengenal berbagai negara, sementara orang tua mewariskan cerita tentang tradisi Batobo yang telah mereka jalani sejak puluhan tahun lalu.

Inilah bentuk nyata living heritage, warisan yang tidak disimpan di museum, melainkan dipraktikkan setiap hari oleh masyarakatnya.

Dalam konteks pelestarian budaya, Batobo juga mengajarkan bahwa tradisi tidak selalu harus berasal dari masa yang sangat lampau. Sebuah tradisi dapat lahir dari dinamika masyarakat modern, selama ia mengandung nilai bersama, diterima secara kolektif, dan diwariskan secara berkelanjutan.

Karena itu, Batobo layak dipandang sebagai bagian dari identitas budaya Ternate dan Tidore. Ia dapat didokumentasikan, diteliti, dipromosikan sebagai atraksi budaya, bahkan menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional. Tradisi ini memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia mampu mengolah budaya global tanpa kehilangan jati diri lokal.

Hari ini Spanyol menjadi juara dunia. Argentina harus menerima kekalahan. Namun kemenangan terbesar di Ternate dan Tidore bukanlah milik salah satu negara peserta. Kemenangan sesungguhnya adalah kemampuan masyarakat menjaga persaudaraan, merawat tradisi, dan mengubah rivalitas menjadi perayaan bersama.

Ketika masyarakat berseru, “Ayah Erick, waktunya Batobo!”, mereka tidak sedang merayakan kekalahan seseorang. Mereka sedang merawat sebuah warisan budaya hidup yang mengajarkan bahwa kemenangan akan berlalu, trofi akan berpindah tangan, tetapi persaudaraan harus tetap tinggal.

Di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh fanatisme, Batobo menghadirkan pelajaran yang sederhana namun sangat mendalam: budaya memiliki kekuatan untuk mengubah kompetisi menjadi solidaritas, mengubah kekalahan menjadi kehormatan, dan mengubah sepak bola menjadi bahasa bersama yang menyatukan masyarakat.

Mungkin inilah alasan mengapa Batobo layak dikenang, bukan hanya sebagai tradisi sepak bola Ternate dan Tidore, tetapi sebagai salah satu wajah kebudayaan Indonesia yang terus hidup, tumbuh, dan diwariskan oleh masyarakatnya sendiri.

Batobo sebagai Living Heritage Kota Rempah

Ternate dan Tidore selama berabad-abad dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia. Kedua kota ini bukan hanya meninggalkan benteng-benteng kolonial, istana kesultanan, masjid tua, dan jejak arkeologi, tetapi juga mewariskan tradisi sosial yang terus hidup dalam keseharian masyarakat. Dalam kajian pelestarian budaya, warisan seperti ini sering kali jauh lebih rapuh dibandingkan bangunan fisik, karena keberlangsungannya sepenuhnya bergantung pada partisipasi masyarakat.

Batobo adalah salah satu contoh bagaimana warisan budaya tersebut tetap bertahan. Ia tidak memiliki naskah resmi, tidak tercatat dalam kitab adat, dan tidak diatur oleh pemerintah. Tradisi ini hidup melalui kesepakatan sosial, diwariskan melalui pengalaman, dan terus diperbarui setiap kali Piala Dunia berlangsung. Dengan kata lain, Batobo adalah living heritage, warisan yang hidup karena terus dipraktikkan oleh komunitasnya.

UNESCO melalui Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (2003) menegaskan bahwa warisan budaya takbenda mencakup praktik sosial, ritual, perayaan, pengetahuan, serta keterampilan yang diakui oleh komunitas sebagai bagian dari identitas mereka. Batobo memenuhi unsur-unsur tersebut. Tradisi ini lahir dari masyarakat, dipraktikkan secara kolektif, memiliki makna simbolik, dan menjadi penanda identitas Ternate dan Tidore setiap kali pesta sepak bola dunia berlangsung.

Yang menarik, Batobo memperlihatkan bagaimana masyarakat tidak sekadar menjadi penonton budaya global, tetapi juga menjadi pencipta budaya. Piala Dunia merupakan peristiwa internasional yang diselenggarakan oleh FIFA, tetapi masyarakat Ternate dan Tidore mengolahnya menjadi tradisi lokal yang tidak ditemukan di tempat lain. Inilah bentuk kreativitas budaya yang menunjukkan bahwa globalisasi tidak selalu menghapus identitas lokal. Sebaliknya, globalisasi justru dapat memperkaya kebudayaan ketika masyarakat mampu melakukan adaptasi secara kreatif.

Sosiolog Pierre Bourdieu pernah menyatakan bahwa praktik budaya merupakan hasil interaksi antara pengalaman hidup, nilai-nilai sosial, dan ruang tempat masyarakat berkembang. Dalam konteks ini, Batobo lahir dari karakter masyarakat kepulauan yang terbiasa hidup secara komunal, terbuka terhadap perbedaan, dan menjunjung tinggi kehormatan melalui humor, persahabatan, serta saling menghormati.

Nilai tersebut juga sejalan dengan falsafah masyarakat Maluku Utara yang menempatkan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan sosial. Rivalitas boleh berlangsung selama pertandingan, tetapi setelah pertandingan selesai, semua kembali menjadi saudara. Tidak ada dendam, tidak ada permusuhan. Yang tersisa hanyalah cerita yang akan dikenang hingga Piala Dunia berikutnya.

Ruang Publik sebagai Panggung Kebudayaan

Fenomena menarik lainnya adalah bagaimana ruang kota berubah selama Piala Dunia berlangsung. Gang-gang, jalan lingkungan, lapangan, pelabuhan, hingga warung kopi bertransformasi menjadi ruang budaya. Bendera negara-negara peserta berkibar berdampingan tanpa mempersoalkan batas negara maupun perbedaan identitas.

Transformasi ruang ini mengingatkan pada pemikiran Henri Lefebvre bahwa ruang bukan sekadar wadah fisik, melainkan diproduksi melalui aktivitas sosial masyarakat. Dalam konteks Batobo, ruang kota dipenuhi makna baru. Jalan menjadi arena konvoi, pantai menjadi ruang rekonsiliasi, dan kampung berubah menjadi ruang dialog lintas generasi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa identitas kota tidak hanya dibentuk oleh bangunan bersejarah, tetapi juga oleh aktivitas masyarakat yang terus memberi makna terhadap ruangnya. Oleh sebab itu, pelestarian kota pusaka seharusnya tidak berhenti pada konservasi bangunan, melainkan juga melindungi praktik-praktik budaya yang memberi kehidupan pada kota tersebut.

Batobo sebagai Modal Budaya dan Pariwisata

Di banyak negara, festival olahraga telah berkembang menjadi daya tarik wisata budaya. Batobo memiliki potensi serupa. Tradisi ini dapat dikemas sebagai bagian dari kalender budaya Kota Ternate dan Kota Tidore tanpa menghilangkan sifat spontan dan partisipatifnya.

Bayangkan apabila pada setiap penyelenggaraan Piala Dunia terdapat Festival Batobo, yang menghadirkan pawai budaya, pertunjukan musik tradisional seperti Tifa dan Cakalele, bazar kuliner rempah, pemutaran film sepak bola, diskusi budaya, hingga prosesi Batobo sebagai penutup pesta rakyat. Wisatawan tidak hanya datang menyaksikan pertandingan, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana masyarakat Maluku Utara merayakan sportivitas melalui budaya.

Model seperti ini memberikan manfaat yang luas. UMKM memperoleh ruang usaha, pelaku seni mendapatkan panggung, generasi muda semakin mengenal budayanya, dan citra Ternate serta Tidore sebagai kota rempah semakin kuat di tingkat nasional maupun internasional.

Negeri yang Melahirkan Bintang-Bintang Sepak Bola Indonesia

Batobo tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang kecintaan masyarakat Ternate dan Tidore terhadap sepak bola. Tradisi ini lahir bukan semata-mata karena euforia Piala Dunia, tetapi karena olahraga tersebut telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Maluku Utara.

Di banyak kampung di Ternate dan Tidore, sepak bola adalah permainan yang tumbuh bersama anak-anak sejak usia dini. Lapangan terbuka, halaman sekolah, bahkan ruang kosong di tepi pantai menjadi tempat lahirnya mimpi-mimpi para pesepak bola. Setelah azan Asar berkumandang atau ketika matahari mulai condong ke barat, anak-anak berbondong-bondong membawa bola ke lapangan. Di sanalah mereka belajar bekerja sama, menghormati lawan, menerima kemenangan, dan mengakui kekalahan.

Sepak bola di Ternate dan Tidore bukan hanya olahraga. Ia telah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Turnamen antarkampung selalu dipenuhi penonton. Warga bergotong royong menyiapkan lapangan, memasang lampu, mengumpulkan hadiah, hingga menyediakan konsumsi bagi pemain dan penonton. Pertandingan menjadi pesta rakyat yang mempertemukan seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga para tetua kampung.

Jika ingin memahami mengapa sepak bola begitu mengakar di Ternate dan Tidore, maka datanglah ke Kelurahan Gurabati, Kota Tidore Kepulauan. Di sinilah setiap tahun berlangsung Gurabati Open Tournament (GOT), sebuah turnamen sepak bola antarkampung (tarkam) yang telah menjelma menjadi salah satu ikon olahraga rakyat paling bergengsi di Indonesia Timur. Bahkan banyak kalangan menyebutnya sebagai salah satu turnamen tarkam terbaik di Indonesia karena kualitas pertandingan, atmosfer suporter, serta manajemen penyelenggaraannya.

Berbeda dengan anggapan bahwa turnamen antarkampung hanya diikuti pemain lokal, Gurabati Open justru menjadi magnet bagi banyak pesepak bola profesional. Ketika kompetisi Liga 1 atau Liga 2 memasuki masa jeda, sejumlah pemain memanfaatkan waktu libur untuk memperkuat klub-klub peserta Gurabati Open. Kehadiran pemain profesional bersama talenta lokal menciptakan kualitas pertandingan yang tinggi sekaligus menjadi ruang belajar bagi pemain-pemain muda Maluku Utara. Panitia bahkan secara terbuka menyebut bahwa turnamen ini rutin menghadirkan pemain Liga 1, Liga 2, hingga pemain tim nasional.

Budaya inilah yang kemudian melahirkan sederet pemain nasional. Generasi yang lebih dahulu mengenal nama Rahmat Rivai, atau yang akrab dijuluki “Si Poci”, sebagai salah satu penyerang terbaik Indonesia pada masanya.  Generasi berikutnya melahirkan nama Rizky Pora, pemain sayap asal Ternate yang menjadi andalan Tim Nasional Indonesia dan dikenal melalui penampilannya bersama Barito Putera. Tidak lama kemudian muncul Zulham Zamrun, putra Ternate yang mengawali karier bersama Persiter Ternate sebelum bersinar bersama Persela Lamongan, Mitra Kukar, Persib Bandung, PSM Makassar, dan Tim Nasional Indonesia.

Di balik nama-nama tersebut berdiri sejarah panjang Persiter Ternate, klub yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Maluku Utara. Stadion Gelora Kie Raha pernah dipenuhi ribuan suporter yang menjadikan pertandingan Persiter sebagai pesta rakyat. Dari klub inilah lahir banyak pemain berbakat yang kemudian memperkuat berbagai klub besar Indonesia dan Tim Nasional.

Inilah yang menjadikan Ternate dan Tidore begitu istimewa. Kedua kota ini bukan hanya mewariskan benteng, kesultanan, dan jalur rempah yang menghubungkan Timur dan Barat. Mereka juga mewariskan budaya sepak bola yang melahirkan pemain-pemain nasional, membangun solidaritas sosial, dan menghadirkan Batobo sebagai simbol persaudaraan. Dari negeri rempah lahirlah negeri sepak bola; dari lapangan kampung lahirlah para pemain nasional; dan dari laut lahirlah filosofi bahwa setiap kompetisi pada akhirnya harus bermuara pada persahabatan.

Merawat Tradisi, Merawat Peradaban

Di tengah derasnya arus globalisasi, Batobo mengingatkan bahwa identitas budaya tidak selalu lahir dari masa lampau yang jauh. Tradisi juga dapat tumbuh dari pengalaman masyarakat modern selama ia mengandung nilai bersama, diwariskan secara berkelanjutan, dan memperkuat kohesi sosial.

Karena itu, Batobo bukan sekadar cerita tentang pendukung tim yang kalah lalu menceburkan diri ke laut. Ia adalah narasi tentang masyarakat yang memilih tertawa daripada bertengkar, memilih persaudaraan daripada permusuhan, dan memilih kebudayaan sebagai cara memaknai kompetisi.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi polarisasi, Batobo menawarkan pelajaran penting bahwa kemenangan sejati bukan hanya mengangkat trofi, melainkan menjaga hubungan antarmanusia. Tradisi ini memperlihatkan bahwa sepak bola dapat menjadi jembatan budaya, laut menjadi ruang rekonsiliasi, dan kota menjadi panggung tempat nilai-nilai luhur terus diwariskan.

Batobo akhirnya menjadi bukti bahwa Ternate dan Tidore bukan hanya mewarisi sejarah rempah dunia, tetapi juga terus menciptakan warisan budaya baru yang hidup di tengah masyarakat. Inilah wajah kebudayaan Indonesia yang dinamis: menghormati masa lalu, berdialog dengan dunia, dan melahirkan tradisi yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal.

Akhir Kata…….

Ketika masyarakat Ternate dan Tidore mengiringi para pendukung tim yang kalah menuju laut, sesungguhnya mereka tidak sedang merayakan kekalahan. Mereka sedang merayakan persaudaraan. Laut menjadi ruang rekonsiliasi, tawa menjadi bahasa kebersamaan, dan Batobo menjadi simbol bahwa tidak ada kemenangan yang lebih besar daripada kemampuan manusia untuk tetap menghormati sesamanya.

Di kota-kota rempah yang dahulu mempertemukan berbagai bangsa melalui perdagangan, Batobo kini mempertemukan berbagai identitas melalui sepak bola. Tradisi ini membuktikan bahwa kebudayaan selalu menemukan cara untuk tetap hidup, bahkan dari sebuah pertandingan yang berlangsung ribuan kilometer jauhnya.

Mungkin inilah makna terdalam Batobo: bukan tentang siapa yang menjadi juara dunia, melainkan tentang bagaimana sebuah masyarakat memilih menjadikan olahraga sebagai jalan untuk merawat persahabatan, memperkuat identitas budaya, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.

Dalam setiap gelombang yang memecah di pantai Ternate dan Tidore, Batobo mengingatkan kita bahwa warisan budaya tidak selalu tersimpan di balik dinding museum atau di dalam naskah kuno. Ia juga hidup dalam tawa masyarakat, dalam langkah bersama menuju laut, dan dalam kesadaran kolektif bahwa kebudayaan adalah cara sebuah komunitas menjaga kemanusiaannya.

“Sebagaimana rempah-rempah dahulu menghubungkan Ternate dan Tidore dengan dunia melalui jalur perdagangan, kini sepak bola dan Batobo menghubungkan kedua kota itu dengan dunia melalui bahasa budaya. Keduanya mengajarkan pesan yang sama: peradaban yang besar bukan hanya dibangun oleh kemenangan, tetapi oleh kemampuan masyarakatnya merawat persaudaraan.”

Asfarinal, Mahasiswa Doktoral Arkeologi Universitas Indonesia