Reny Wahyuesti

Membangun Praktik Meditasi di Rumah

Oleh Reny Wahyuesti*

Paralel dengan tradisi Jawa yang mewariskan laku hidup Ngelmu iku kelakone kanthi laku” maknanya berpengetahuan itu hanya bisa ditebus dengan tindakan nyata, menjalani sendiri. Hanya membicarakan, tanpa melakukan tidak masuk dalam tataran praktik Chan. Tradisi Chan (meditasi yang berkembang di Tiongkok) atau Zen (Jepang) lebih mementingkan pada laku atau praktik serta mengaplikasikan kesadaran dalam kegiatan keseharian, dibandingkan dengan kajian-kajian akademik, scholar. Karena sasaran praktik Chan adalah latihan itu sendiri, bukan tujuan yang lainnya. Meskipun demikian Zen, bentuk Jepang dari meditasi atau samadhi malahan menghasilkan banyak sekali literatur, banyak praktik bisa memproduksi banyak pengetahuan. 

Dalam tradisi Chan dikenal tiga pilar praktik, yaitu praktik formal, praktik informal, dan praktik intensif atau retreat.

Praktik formal atau praktik resmi adalah kita mengalokasikan slot waktu tertentu misal 20 menit, 30 menit atau sejam dengan postur tertentu untuk latihan meditasi. Kita mendedikasikan waktu dan keberadaan diri ini untuk berlatih. Kita juga memunculkan kekuatan latihan dengan menyatakan tekad, mendeklarasikan kepada diri sendiri untuk meditasi atau olah batin. Ada intensi yang terbit dari dalam. Bentuk latihannya bisa meditasi duduk menggunakan metode hitung nafas, menggunakan angka 1- 10.

Praktik meditasi duduk ini fondasi bangunan latihan kita. Sebab apa? Dengan duduk kita mampu berkonsentrasi untuk jangka waktu yang relatif lama. Dalam keseharian jika kita melakukan tugas penting, atau pembicaraan yang serius kita pun perlu duduk bareng. Duduk juga postur terbaik saat kita terserap pada pekerjaan yang membutuhkan pikiran dan ketrampilan tangan, seperti saat menulis artikel. Duduk itu menciptakan stabilitas.

Jenis praktik formal kedua adalah meditasi berbaring, mengaplikasikan metode pemindaian tubuh, body scanning. Terhubung dengan tubuh, bagian demi bagian, dan efeknya rasa relaks istirahat yang sebenarnya. Dalam proses body scanning kita merasakan sensasi-sensasi tubuh, sehingga gerak pikiran mereda dengan sendirinya. Kenapa dalam Chan ada meditasi dengan berbaring? Karena prinsip Chan bisa digunakan oleh semua orang, yang sedang kurang sehat atau pun sedang capai teknik bodyscanning dengan postur supine memberi kemungkinan terjadi pemulihan. Hasil sesi latihan ini adalah rasa segar kembali.

Praktik formal ketiga yang lain bisa digunakan sehari-hari adalah meditasi gerak; jalan lambat , jalan biasa, atau pun kombinasi keduanya, hiking di pegunungan, bersepeda, dlsb. Perlu diperhatikan dalam meditasi gerak tidak perlu mengerahkan tenaga berlebihan, adu kuat, ngotot tidak mendukung kemajauan. Latihan dengan paksaan, tidak natural, bisa gembos sewaktu-waktu. Sikap madya perlu diterapkan dan nantinya attitude begini akan memberi sumbangsih pada saat kita duduk meditasi menggunakan metode yang dipilih. Sejak awal latihan tubuh dan pikiran dikelola secara terus-menerus, telaten, sehingga terbebas dari cengkeraman tegang. Beberapa kawan senang dengan melakukan sekuen yoga atau postur yoga tertentu yang akan membantu menenangkan pikiran atau batin. Bagi masyarakat modern latihan Chan lebih bersahabat, praktisi tidak langsung duduk, tapi melakukan sejumlah olah tubuh, olah nafas sehingga situasi pikiran yang aktif, pikiran menyebar berkelana  ditangani terlebih dahulu  Dengan pikiran yang lebih kalem memberi kemungkinan muncul perasaan kerasan saat mulai duduk meditasi.         

Praktik formal yang lain, latihan relaksasi dengan seni, aktivitas ini disukai anak-anak hingga  orang dewasa, bahkan belakangan lansia juga melakukannya.  Membuat karya seni doodle art atau zentangle. Kegiatan kreatif menggambar garis dan pola-pola tertentu yang berulang-ulang.  Bisa dengan garis sederhana dan kemudian meningkat lebih mendetail, variasinya tidak terbatas. Yang penting adalah sikap dan attitude dalam proses ini yang dikelola layaknya kita samadhi, tidak perlu mikir-mikir hasilnya akan seperti apa, kerjakan saja. Just do it. Lakukan repetisi membuat goresan. Biasanya hasilnya tak terduga, karya seni yang indah. Kegiatan seni ini bahkan tidak perlu bakat seni, siapa saja bisa melakukannya. Ada kebebasan berekspresi dan fokus yang penuh perhatian dalam setiap goresan. Perhatian diletakkan pada gambar. Kegiatan bisa menjadi terapi bagi yang pernah mengalami trauma tertentu, jika sulit untuk melakukan pemindaian tubuh atau meditasi, inilah solusinya.

Praktik informal – kita masuk latihan dengan mengapikasikan mindfulness dalam kegiatan sehari-hari. Rutinitas yang dilakoni di keseharian, menjadi berbeda pada saat kita membawa seluruh perhatian bersama dalam aktivitasnya. Aktivitas apa saja dari pagi hingga malam boleh dimanfaatkan untuk melatih hidup berkesadaran. Metodenya dengan meletakkan perhatian atau terhubung dengan kegiatannya. Letakkan perhatian kita pada apa yang sedang dilakoni -apa adanya tanpa menambahi dengan cuitan-cuitan pemikiran, komentar, analisa, berandai-andai, dan membandingkan. Melakoni yang sedang kita lakukan dengan rela dan tidak ada menolak yang dihadapi.

Memanfaatkan setiap aktivitas ringan sejak terbangun membuka mata, mulai bergerak, memenuhi tanggung jawab pekerjaan, terhubung dengan dunia luar hingga nanti menjelang tidur sebagai proses sadar. Ketika setiap aktivitas dilakukan dengan telaten dan sabar akan banyak memberikan sumbangan pengalaman sadar. Kita tahu dengan jernih dan juga tahu saat pikiran menyabotase. Acap kali pikiran kita telah melompat menjauh dari momen saat ini dan hanya karena belum terampil kita kemudian tergulung dalam banyak pikiran yang notabene tidak ada hubunganya dengan sedang dilakoni. 

Hal yang sederhana  terhubung  demikian, bisa menjadi sulit di abad teknologi yang dibanjiri dengan informasi dan entertainment. Upaya untuk tilik ke dalam ibarat sikap yang melawan arus luar -yang menawarkan kesenangan. Menjumpai apa adanya dengan pikiran yang cuti dari kesibukan mikir – kerasan dalam hening di sini dan saat ini- menjadi sebuah perjuangan baru yang menantang.

Proses menerapkan mindfulness ini seperti membuat jalur yang beda dari sebelumnya.  Dalam sesi latihan tentunya kita banyak menjumpai perhatian yang acap kali melenceng, mleot dari kesadaran. Kita mulai sadar bahwa pikiran itu tidak diam. Nah, setiap kali kita kembali ke motode … dan kembali lagi … Inilah upaya-upaya trampil yang kita bangun, kita cicil sedikit demi sedikit.  Tahu bahwa pikiran melenceng ke sana-sini  adalah suatu keberhasilan latihan, bukan kegagalan. Tolong jangan salah mengerti.    

Contoh gampang ketika bangun pagi kita menerapkan mindfulness ya kita berjalan dengan langkah yang disadari. Merasakan telapak kaki menyentuh lantai terasa dingin, kaki terangkat terasa sensasi ringan dan mendarat lagi di lantai. Sebelumnya kita bergerak secara hapalan, mekanis, terjadi begitu saja. Kehidupan kita selama ini berlangsung dengan sejumlah kebiasaan-kebiasaan otomatis dan kita telah kehilangan momen kekinian, karena kesibukan pikiran.

Kita bisa memilih satu aktivitas yang kita seneng. Misal menyapu lantai. Saat sedang nyapu, ya merasakan sedang menyapu, telinga mendengar sapu digeser, mata melihat sampah kotoran, mungkin hidung mencium bau, dlsb. Panca indera terlibat, merasakan sensasi. Pemikiran -sapunya kok sudah aus, besok ganti baru, sapu kaya apa ya yang awet, mungkin pegangannya kayu, nanti pulang kerja mampir toko, oh lebih baik beli online praktis – inilah pikiran menggembara. Mental kita terus-menerus menerbitkan buah pikir-buah pikir sehingga kita tersadar sudah melewati seluruh ruang. Kok bisa? Kita seperti robot pembersih kamar.  Kita tidak eling, bagaimana kita berpindah, bagaimana sapu menarik debu-debu dan kotoran terkumpul. Ini satu contoh kita telah disabotase pikiran. Pikiran kita melantur membawa kita jauh berkelana. Panca indera kita tidak terhubung dengan pengalaman menyapu. Menyapu ya tujuannya hanya menyapu. Sesederhana itu. Hidup berkesadaran, semacam ketrampilan, bisa dilatih. Rekaman pengalaman membentuk jalur dalam benak kita. Sehingga dengan adanya akumulasi pengalaman sadar, semakin lama kita semakin trampil, tidak sempat melantur jauh, sudah sadar kembali. Modalnya telaten dan sabar membawa seluruh keberadaan kita, pikiran atau batin dan tubuh berada di momen kekinian.

Kita bisa membangun latihan di rumah, secara formal dan menerapkan versi informal untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Latihan secara bertahap, kumpulkan pengalaman dan carilah komunitas yang memiliki kesamaan sehingga bisa berdiskusi saat menjumpai kesulitan. Dinua sekarang terhubung tanpa pembatas. Nah, pengalama-pegalaman akan menjadi pengetahuan dan berguna untuk mana kala kita menghadapi situasi yang tak terduga. Berkesadaran itu tak beda dengan jenis-jenis ketrampilan fisik seperti: berkebun, membatik, menjahit, kaligrafi,  dlsb. Jam terbang akan membangun kualitasnya.

Praktik intensif, retret

Mengunakan waktu secara khusus untuk berlatih di sebuah retreat center. Tempat dan waktu dikondisikan untuk latihan intensif. Dalam Chan ada latihan satu hari, ada weekend retreat, ada juga yang panjang 7 hari atau 15 hari. Desain retreat ini membuat kita terputus hubungan dengan dunia luar. Tidak mengurusi kerjaan, urusan rumah tangga, dan tidak menggunakan HP. Tidak bersosialisasi sesama praktisi, noble silence. Namun, hal yang mendesak atau urgent masih bisa dikomunikasikan, ada panitya yang bertanggung jawab sewaktu-waktu ada urusan penting dengan keluarga.

Bentuk latihannya berselang-seling ; meditasi duduk formal dan meditasi gerak. Kombinasi latihannya bisa yoga, pranayama, sujud atau namaskara, tai chi, senam, jalan cepat, hiking. Dalam retreat kita dibimbing guru meditasi atau Chan Master, jadi setiap hari ada sesi Dharma teaching. Wawancara terkait dengan kemajuan praktik dibuka setelah beberapa hari berjalan, bukan curhat masalah pribadi dan kisah hidup. Jadwal kegiatan lain seperti mandi, makan, istirahat, dll sudah diatur sedemikian rupa. Aktivitas retreat Chan ini sempat terhenti karena dunia dilanda pandemi. Memang sebelum dunia dilanda pandemi, retret sebagai latihan intensif bisa leluasa dilakukan. Dunia selalu berubah, namun sekarang desain retreat online pun mulai dikembangkan, kita berada di rumah sendiri untuk melakukan retreat, instruksi latihan  dan ceramah Dharma online dari Chan Master.

 

*Fasilitator meditasi Chan di Jogjakarta. Pernah bekerja di beberapa advertising agency di Jakarta. Pernah terlibat dalam peneltian sosial I La Galigo di Sulawesi Selatan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *