Tony Doludea

Bima Suci Atau Transendentalisme?

Oleh Tony Doludea

Menjelang siang, Sena telah sampai di gua gunung Candramuka, air yang dicarinya itu ternyata tidak ada. Lalu gua dan di sekitarnya diobrak-abrik. Rukmuka dan Rukmakala, raksasa yang tinggal di hutan itu marah dan mendatanginya. Meskipun Sena sudah menjelaskan tujuan kedatangannya, kedua raksasa itu tetap mengamuk karena merasa hidup mereka telah diganggu.

Kemudian terjadi perkelahian. Namun kedua raksaksa itu kalah, ditendang, dibanting ke atas batu dan meledak hancur. Sena berhasil membunuh kedua raksasa itu, sekaligus telah membebaskan mereka dari kutukan Batara Guru. Mereka kembali ke wujud semula, yaitu dewa Indra dan Bayu. Sebagai ucapan terima kasih, keduanya memberi tahu Sena bahwa air suci itu tidak ada di hutan ini.

Sena, yaitu Wrekudara atau Bima, merupakan saudara kedua dari lima kakak beradik Pandawa dalam kisah Mahabarata. Sena juga adalah murid Durna itu diberi perintah mencari air suci kehidupan untuk meraih kesucian dan kesempurnaan diri. Sena mengikuti titah gurunya itu. Air itu berada di hutan Tikbrasara di bawah Gandawedana, di gunung Candramuka, yang terkenal angker ‘gung liwang liwung, jalma mara jalma mati’, setiap mahluk yang datang ke tempat itu akan mati.

Sesampainya di Astina, mereka terkejut melihat Sena pulang dengan selamat. Sena menyampaikan hasil perjalanannya ke hutan Tikbrasara. Resi Druna kemudian berkata kepada Sena bahwa ia sesungguhnya sedang diuji, karena air suci yang dicarinya itu sebenarnya ada di tengah kedalaman samudera.

Sena memutuskan pergi lagi. Walaupun mulai curiga, ia tetap bertekad kuat untuk mencari air itu, meskipun harus dibayar dengan nyawanya. Ratapan kakak adiknya tidak dihiraukan, tidak membuat Sena mundur. Namun Kresna minta para Pandawa untuk tidak bersedih hati, karena tipu daya para Kurawa itu akan mendapatkan balasan dari dewa.

Sena pun berangkat, tanpa rasa takut keluar-masuk hutan, naik-turun gunung, hingga akhirnya tiba di tepi laut. Ombak bergulung-gulung menggempur batu karang seperti menyambut dan merasa kasihan kepada Sena. Angin topan menggelegar seakan mengatakan bahwa Druna memberi petunjuk sesat, bahwa Sena telah ditipu supaya mati tenggelam di dasar samudera.

Namun bagi Sena, lebih baik mati daripada pulang menentang sang Maharesi. Walaupun sebenarnya ia tidak mampu masuk ke dasar samudera. Sena pasrah sepenuhnya, tidak gentar, karena sakit dan mati memang adalah kehendak dewata yang agung saja. Sena menceburkan dirinya ke dalam samudera.

Dengan ilmu Jalasengara, air menyibak, Sena dengan sukacita memandangi laut dan keindahan isi di dalamnya. Ketakutan dan kesedihan sirna terkikis sudah. Yang tersisa tinggal kegembiraan.

Namun Nemburnaka, seekor naga besar, pemangsa, buas dan ganas. Racun bisanya sangat mematikan, mulutnya bagai gua, taringnya tajam berkilat. Melilit Sena sambil menyemburkan bisa, deras bagai hujan. Tidak kuasa meronta, kuku Pancanakanya menyembul keluar. Akhirnya Sena berhasil membunuh Nemburnaka.

Di kedalaman samudera itu, Sena berjumpa dengan wujud anak kecil mirip dengan dirinya, yang sedang asik bermain. Dewa Ruci itu lalu berkata, “Wahai Wrekudara, jika tidak mati-matian tentu engkau tidak akan dapat sampai di sini. Kedatanganmu ini adalah atas petunjuk Sang Hyang Druna untuk mencari Air Hidup. Gurumu memberi petunjuk, itulah yang kau jalani.”

Dewa Ruci & Sena. (Sumber: wayang.wordpress.com).

“Kemarilah Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku,” kata Dewa Ruci. Namun Dewa Ruci membaca pikiran Sena lalu berkata, “Lebih besar mana dirimu dengan dunia. Seluruh jagad raya, alam semesta, seisi dunia, hutan dan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku.”

Atas petunjuk Dewa Ruci, Sena masuk ke dalam tubuh kecil itu melalui telinga kiri. Lalu tampak luas tidak bertepi, tidak ada Utara dan Selatan, Timur dan Barat, bawah dan atas, depan dan belakang, samping dan sisi, terang dan gelap, siang dan malam, penuh dan kosong, kemarin, saat ini dan esok. Tidak ada apa-apa, kosong melompong. Kenyataan adalah kemelompongan yang kosong, sejatine suwung awang-uwung.

Wrekudara masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci untuk menerima ajaran tentang Kenyataan. Kemudian, terang, sinar memancar, menerpa, hatinya terasa tenteram dan nyaman.

Bima dengan tekad bulat, kuat yang sudah sempurna dan penuh semangat, kembali pulang ke negerinya. Bima sadar bahwa pencariannya itu telah dicurangi, bahwa di lautan itu kosong dan tidak ada Air Hidup. Sontoloyo! Memang ngglethek, tetapi Bima sangat gembira sukacita dan tentram karena telah menemukan kenyataan itu.

********

Pada 1833 menjelang siang di Jardin des Plantes, Perancis, Ralph Waldo Emerson (1803-1882) mendapatkan pencerahan melalui Ilmu Botani dan Zoologi, setelah menyelam dan tenggelam dalam keindahan alam di sekeliling taman itu. Emerson lalu bertekad untuk menjadi seorang naturalis, berbalik dari Teologi ke Ilmu Pengetahuan Alam.

Emerson adalah seorang pendeta yang ditabiskan pada 1829 dan melayani di Boston’s Second Church. Pada tahun yang sama, Emerson menikah dengan Ellen Tucker. Mereka saling mencintai, namun Emerson sangat terguncang atas kematian istri terkasihnya itu, hanya satu setengah tahun setelah pernikahan mereka.

Pada saat itu juga, ia menolak untuk melanjutkan pelayanannya sebagai gembala di gereja tersebut. Dan pada Oktober 1832, ia mengundurkan diri dari jabatannya itu dengan alasan bahwa ia tidak lagi dapat melayani Sakramen Perjamuan Kudus, yang baginya itu sudah tidak memiliki makna lagi.

Istrinya meninggal dan karirnya berantakan, Emerson lalu menjual rumah dan semua perabotan di dalamnya, lalu pergi ke Eropa. Ia berpindah-pindah selama enam bulan di Italia dari Sisilia, Napoli, Roma, Florence dan Venesia. Kemudian sisanya tiga bulan di Swiss dan Paris, lalu pulang melalui Inggris dan Skotlandia kemudian tiba di Amerika pada Oktober 1833.

Mulai saat itu Emerson memulai karirnya sebagai seorang pengajar publik di Boston. Melalui kuliah-kuliahnya itu ia berusaha untuk mengajarkan mempersonifikasikan alam dengan menjelaskan bahwa alam ini adalah sebuah metafor, kiasan dan gambar dari kesadaran manusia.

Pada 1835, Emerson pindah ke Concord dan pada September tahun itu juga, ia menikahi Lydia Jackson of Plymouth. Mereka mendapatkan empat orang anak, namun Waldo anak pertama mereka meninggal pada umur lima tahun, yang meninggalkan luka dan penderitaan mendalam bagi mereka.

Pada 1836 Emerson bersama beberapa temannya memulai suatu pertemuan yang dikenal sebagai Transcendental Club. Para Transendentalis ini percaya dan berdasar kepada pentingnya hubungan langsung antara Allah dengan alam. Manusia menyaksikan dan mengalami sendiri secara langsung dan menjadi bagian ke-Satu-an hubungan langsung itu.

Gerakan Transendentalisme ini merupakan reaksi terhadap berkembangnya industrialisasi yang mengakibatkan materialisme dan dehumanisasi, termasuk perbudakan pada abad 18 dan 19 itu. Mereka juga tidak puas dengan ketidakmampuan kerohanian yang telah disebarkan oleh agama (gereja) mapan zaman itu. Para Transendentalis ini juga berada di bawah pengaruh Filsafat dan Sastra Eropa, yaitu Kant, Fichte, Schleiermacher, Hegel, Schelling dan Goethe, juga Bhagawadgita dan Buddhisme.

Transendentalisme merupakan bagian dari Romantisisme, yaitu reaksi terhadap formalisme Pencerahan dan Rasionalisme. Transendentalisme sebaliknya menekankan pada intuisi, inspirasi, perasaan, spiritualitas, individualitas dan subjektivitas. Secara sosial Transendentalisme menekankan reformasi sosial melalui penyempurnaan individu dari dalam diri, bukan dari luar secara sosial.

Mereka mengikuti Immanuel Kant (1724-1804), yang menyatakan bahwa pengalaman inderawi itu mengungkapkan objek atau benda sebagai yang tampak (fenomen), sedangkan pengertian menyatakan objek itu secara formal konseptual. Sementara pengetahuan tentang Allah, moralitas, kebebasan dan kekekalan itu tidak dapat dipahami oleh pikiran dan budi manusia. Namun ia terpahami dalam diri manusia secara intuitif.

Manusia pada dasarnya bersifat moral dan ilahi. Pemahaman tentang gagasan tersebut bersifat transendental, yaitu melampaui pengalaman inderawi dan pikiran manusia. Namun pemahaman tersebut secara intuitif sudah berada di dalam diri manusia itu sendiri dan terbentang di alam luar sana. Maka dengan takzim Kant mengungkapkan kekagumannya kepada langit berbintang di atasnya dan hukum moral di dalam dirinya (caelum sideribus ornatum super me, moralis lex in me).

Para Transendentalis percaya bahwa roh ilahi ada dalam diri serta meliputi manusia dan alam.  Setiap orang dan alam itu adalah cerminan kesadaran ilahi, maka seluruh jagad raya ini dapat diungkapkan oleh bagian-bagian alam tersebut. Hukum dan tatanan alam ini merupakan perwujudan Allah itu sendiri.

Kehadiran roh ilahi baik di alam dan dalam diri manusia ini memungkinkan pemahaman langsung tentang Allah dan keterbukaan kepada alam merupakan jalan bagi kesadaran diri terhadap kebenaran tertinggi. Gagal mengenali hakikat alamiah tersebut akan menjauhkan diri manusia dari Allah.

Dalam bukunya Nature (1836), Emerson berusaha untuk memulihkan hubungan manusia secara langsung dengan alam, sebagaimana yang telah dialami oleh nenek moyang manusia. Sehingga dapat menikmati juga hubungan langsung tersebut melalui filsafat, sastra dan puisi.

Ralph Waldo Emerson. (Sumber: britannica.com).

Bagi Emerson, bagaimana manusia harus hidup itu tidak boleh dikembalikan kepada Allah, negara atau masyarakat bahkan sejarah umat manusia. Namun kepada alam itu sendiri. Karena manusia adalah bagian dari alam (part of nature), tetapi oleh kesadarannya, manusia sekaligus terpisah dari alam (apart from nature). Kesadaran adalah subjek penahu, alam adalah objek yang diketahui, mereka terpisah tapi satu.

Dalam Nature Emerson bersaksi tentang keyakinannya bahwa kesadaran atau roh manusia itu lebih penting daripada dunia fisik, material dan fenomen atau alam. Keduanya memang nyata ada, namun roh lebih utama dari alam. Alam merupakan hasil karya roh. Alam adalah efek samping dan dampak dari roh.

Namun saat ini bagi Emerson, manusia hanya memiliki sudut pandangan yang terpotong-potong tentang dunia ini. Manusia tidak dapat lagi menempati tempat yang layak dan tepat di dunia. Karena ia telah kehilangan suatu rasa spiritual yang membentuk ikatan penyatu antara Allah, alam dan manusia.

Apabila manusia mendekati alam secara tepat, maka ia akan mampu melampaui keberadaannya yang terpecah dan terpisah itu, untuk kemudian masuk ke dalam keseluruhan yang utuh. Karena alam itu merupakan suatu bentuk panduan rohani, apabila didekati dengan intuisi. Allah menciptakan alam untuk bekerjasama dengan kesadaran supaya manusia dapat dibebaskan, yaitu menyatu utuh bersama-Nya.

Supaya berada tetap dalam proses intuitif tersebut, orang harus percaya pada dirinya. Manusia harus berpikir untuk dirinya sendiri, bergantung tidak lain pada dirinya saja untuk memahami, mempertimbangkan dan bertindak. Ia tidak menyerahkan kebebasannya itu kepada kepercayaan dan adat istiadat yang sempit, nilai-nilai kerumunan masal dan lembaga yang mapan.

Rupanya Emerson masih seperti Kant, mereka tidak dapat meloloskan diri dari tarikkan kuat gravitasi bahwa iman adalah anugerah, yang memang telah luntur dalam pemahaman lembaga keagamaan yang mapan itu. Lembaga agama mapan itu memang masih mengucapkan, bahkan membahas serta merayakan juga mengupacarakan iman itu adalah anugerah.

Namun mereka hanya berhasil meletakkan iman itu di dalam dunia pengalaman inderawi, pemahaman konseptual formal dan akal. Maka orang-orang seperti Kant dan Emerson lalu merasa muak terhadap penghujatan kepada Tuhan Allah yang telah dilakukan oleh lembaga mapan tersebut.

********

Di kedalaman samudera raya yang tak terbatas itu, Dewa Ruci mengajak Sena untuk memasuki batinnya. Tiba-tiba ia menyadari dirinya telah berada dalam kekosongan. Sena lalu melihat empat warna, yaitu kuning, merah, hitam dan putih.

Kuning melambangkan nafsu berkeinginan keras, selalu mengingini sesuatu dan mengumbar kesenangan. Merah lambang nafsu keras hati, angkara murka dan amarah. Hitam lambang nafsu rakus, loba dan tamak. Putih melambangkan ketenangan hati, kebijaksanaan dan keutamaan.

Sedangkan wujud cahaya tunggal tanpa bayangan di dekatnya itu, seperti kumbang yang bertaburan banyak sekali. Itulah cahaya dari kalbu dan batin manusia dan itu pulalah wujud dari niat, keinginan dan pemikiran. Kesemuanya itu ada pada saat antara, yaitu saat sebelum bertindak dan tindakan dilakukan.

Sena juga melihat delapan warna yang melambangkan gabungan tubuh manusia dengan dunia. Delapan unsur tersebut adalah tanah, air, api, angin, angkasa, matahari, bulan dan bintang. Pancamaya (aneka warna) ini terkait dengan rahasia hidup dan hubungan hakiki antara mikrokosmos dan makrokosmos.

Sena kemudian melihat kilatan cahaya pelangi melengkung dan sebuah boneka gading putih mengilat. Menurut Dewa Ruci itu adalah pramana, perwujudan Hyang Suksma dalam diri setiap manusia. Meskipun tidak menyatu namun tidak terpisah. Sedangkan Suksma adalah diri manusia dan tidak dapat dipisahkan.

Suksma sehakikat dengan Hyang Suksma, dengan demikian inti dari manusia (Suksma) sama dengan hakikat Allah (Hyang Suksma). Manusia mendapatkan anugerah yang besar, yaitu persatuan (manunggaling) manusia (kawula) dan sang pencipta (gusti).

Hubungan wujud dalam diri manusia yang bersifat nonfisik dengan Allah ini digambarkan, bahkan sangat dekat sekali. Seperti hubungan antara asap dengan api, ombak dengan air dan susu dengan lemak. Maka tubuh dan seluruh gerak pikir manusia berasal dan merupakan anugerah (nugraha) dari TUHAN.

Bima mengalami pencerahan (tyas padhang anampani) sebagai anugerah (nugraha), seperti bulan yang diselimuti awan, dengan datangnya wahyu pencerahan, awan itu tersibak. Hilang noda-nodanya, bulan bersinar terang benderang.

Manusia bagaikan wayang, Sang Dalang memainkan setiap gerak-gerik dan berkuasa di antara perpaduan kehendak. Dunia merupakan panggung dan layar untuk memainkan peran.

Bima telah mengenal dirinya sendiri. Dewa Ruci berkata kepadanya bahwa Air Hidup itu tidak perlu dicari dan ia telah selesai menyampaikan ajarannya. Bima tidak bingung lagi dan semua sudah dipahami.

Namun Bima telah kehilangan keinginan-keinginannya, yaitu mati dalam hidup dan hidup dalam mati (mati sajroning ngaurip dan urip sajroning mati). Seperti dalam keadaan mati dalam hidup.

Bima sesungguhnya dalam keadaan hidup, tetapi ia selalu mematikan segala nafsu-nafsunya. Sebaliknya, pada saat yang sama, ia juga mengalami hidup dalam mati. Badan fisiknya masih hidup, namun ia telah bersatu dengan badan hakiki, yang menyebabkan ia merasa seakan-akan mati, karena tidak lagi memiliki keinginan, penglihatan, rupa, suara dan lain-lain.

Bima kembali ke alam kemanusiaan, kembali menapaki hidupnya, namun membawa kegembiraan bagi sekelilingnya. Hatinya gembira, kekalutan dan kegelapannya sirna, menjadi terang karena telah menerima anugerah wahyu sejati.

Sementara bagi Emerson jika manusia menyatukan kesadarannya dengan alam dan menggunakan seluruh kemampuannya, maka ia dapat mencapai pengetahuan tentang Allah. Alam menyediakan bagi manusia jalan masuk ke kesadaran ilahi dan itu menjadikannya sebagai pencipta pembantu (co-creator).

Kedekatannya kepada Allah itu erat terkait kepada penghargaan dan simpatinya bersama alam. Hidup selaras dengan alam, cinta pada kebijaksanaan dan keutamaan.

Orang seperti ini adalah manusia yang telah mandiri (self-reliance), karena ia berhasil mengijinkan intuisinya meraih keilahian yang membungkus manusia dan alam. Setiap orang adalah suatu pengejawantahan Sang Pencipta dan memegang kunci untuk membuka rahasia jagad semesta. Demikian juga alam adalah sebuah ungkapan ilahi dan jalan untuk memahami-Nya.

Saat seorang memandang kerlip bintang nun jauh di sana, ia segera dapat merasakan keterpisahannya dengan dunia material ini. Bintang-bintang diciptakan untuk mengijinkan seorang manusia paham akan hadirat ilahi yang kekal.

Terlihat setiap malam, bintang-bintang itu mempertunjukkan bahwa Allah itu selalu hadir. Bintang-bintang ini tidak pernah gagal menggetarkan hati manusia. Maka manusia harus tetap memelihara perasaan asalinya untuk mengagumi, bahkan kepada pemandangan alam yang biasa saja itu menjadi wahyu yang baru. Demikian yang telah terjadi pada Bima, di dalam samudera yang tak bertepi, yaitu dirinya sendiri. Manusia itu adalah anugerah ilahi.

*Penulis adalah Peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia.

********

Kepustakaan

Emerson, Ralph Waldo. The Portable Emerson. Penguin, New York, 1981.

Nasuhi, Hamid. Serat Dewa Ruci: Tasawuf Jawa Yasadipura I. Ushul Press, Ciputat, 2009.

Suseno, Franz Magnis. Etika Jawa. Gramedia, Jakarta, 1984.

Wilson, Leslie Perrin. Thoreau, Emerson, and Transcendentalism. IDG Books Worldwide, Inc. Foster City, 2000.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *