Refdinal-Muzan

Puisi-Puisi Refdinal Muzan

Begitulah September 

September, begitulah selalu yang terurai
Napasnya mengurung dalam sebuah riak tepian
Keterdiaman menikam lembar demi lembar yang telah hanyut
Tersapu angin, tertiup badai

Lalu kembali datang September dalam hujan
Relung kosong kembali terisi
Menetes melembabkan semua gersang yang terasing
Menepi untuk sejenak kenal dan meresapi

Lalu lalang hidup
Lalu lalang kenang
Lalu lalang janji
Lalu lalang bukti
Lalu lalang kepergian
Lalu lalang kedatangan
Lalu lalang kematian

Begitulah September selalu datang
Rintik-rintiknya telah menjadi
titik-titik api yang menghangat
dan membakar

(Biaro, 10 September 2020)

 

Tentang Sebuah Kepergian

Beranda dan cuaca ganti berganti tiba memberita
Daun-daun telah menggenapkan hitungan
Putaran telah berhenti di garis edar
Dan catatan-catatan telah lengkap dibukukan

Pada sadar dan kau yang tak menduga
Pada tanda dan sinyal yang tak terartikan
Orang-orang akan memakna kata kehilangan
Dan bayang-bayang yang masih hangat di pelukan

Kepergian adalah di dia, kita dan mereka
Kehilangan menjadi arti ketidakabadian
Dan kesadaran adalah tanda-tanda
yang mesti kita baca
Sebelum melangkah jauh
saat lambai tak sempat
terbalaskan

(Gurunpanjang, Jan 2021)

 

Mereka yang Pergi 

Terdiam sejenak kau datang
Keabadian ini makin terbingkai
Jelas
Lambat
Sebab padaku berangsur surut
Menjadi penyaksi
Ruang ini pernah kita tempati
Siapa sangka
Tapi duga
Satu persatu jadi mereka
Jauh pergi tinggal membayang
Akulah telah pernah bersama
Bertegur sapa
Melambai senyum
Tapi sungguh kira tiada
Sewaktu aku pun
Menjadi fana

(23 Sept 2020)

 

Kepulangan 

telah kembali kusimak tentang sebuah
kepulangan
dengan dan tanpa selenting angin mengabarkan
semua datang memberita
di satu renung mengurung
di satu kenang menggenang
telah ternyata kembali kau buktikan
dari apa-apa tertera
dari segala apa terhinggap
bening memantul kaca
sesal menguliti rupa
melangkahlah
sebab tujuan ada di muka
dan kepulangan jelas terus
menjelma

(sungai pua 1102020)

 

Ia yang Membaca Tiada 

Selalu itu terbaca dan terasa
Saat dingin gigil memagut
Saat sepi sunyi menyelimut
Telah ia duga pada titik sebuah nadir
Telah ia rasa tak berkepanjang hingga akhir

Lalu ada pekik tak bersahut
Begitu lepas seperti angin menuruni lembah
Begitu kencang seperti kuda liar di padang rumput
Hanya mengalir dan bergerak
Seirama alam berkehendak

Pada titik saat tak mungkin berbalik
Kau telah berdiam dan menari berputar seperti seorang sufi
Mabuk larut mencapai pekat
Hitam malam tajam merajam
Fana membaca hingga tiada

(25 Juni 2021)

 

*Refdinal Muzan, lahir di Padang 15 Mei. Telah menyertakan beberapa karyanya dalam beberapa Antologi Puisi Nasional dan Internasional. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah MOZAIK MATAHARI (Penerbit FAM Publishing 2012), SALJU DI SINGGALANG (Alif Gemilang Pressindo 2013) , DANDELION ( ena House, 2016) TITIAN KABUT (Mediaguru, 2018), dan LUKA AIR (Arashi Group, 2020). Keseharian berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di SMP N 1 Sungai Pua, kabupaten Agam Sumatera Barat.