Ular dan Kabut Ajip
Oleh: Nizar Machyuzaar*
Autobiografi Pelintas: Romantisme versus Modernisme
Pembuka
Pada tahun 1973 buku antologi puisi Ular dan Kabut diterbitkan Pustaka Jaya. Ada 55 puisi yang ditulis Ajip Rosidi dalam rentang proses kreatif penulisan dari tahun 1970—1972. Pada saat buku ini terbit, usia Ajip menjelang 35 tahun. Karenanya, buku ini dapat dijadikan salah satu bahan kita untuk mengetahui bagaimana proses kreatif menulis puisi seorang Ajip.
Puisi berjudul “Menjelang Usia 32” menjadi puisi pertama yang tersaji. Puisi ini bertitimangsa 1970. Karenanya, refleksi atas perjalanan hidup aku lirik yang menjelang usia 32 tahun ini sekaligus dapat dibaca sebagai aku-nya penulis alias Ajip. Mari, kita hampiri puisi ini.
Menjelang Usia 32
Bayang-bayang yang mengejar kesempurnaan dan selalu terhenti
Pada batas antara harapan dan kecewa
Namum akhirnya, apa pun terjadi, tawakal menerima.
Waktu bagimu tiada arti. Hanya selagi kucari
Dalam hening alam, dalam hening mata sayu: usia 32 tak jadi apa!
Adakah masih jauh perjalanan yang kan kutempuh?
Adakah kau itu yang berdiri dalam remang sisi ranjang,
hampir dapat kusentuh?
Pertanyaan-pertanyaan senantiasa jadi abadi
Namum senantiasa aktuil di setiap situasi.
Hanya kau yang tahu, tapi kau selalu membisu.
1970
Barangkali, pada bait pertama kita menemukan kata ganti orang pertama aku (lirik) yang menuturkan dan mengorientasikan diri bukan pada masa depan: /… kau tak nanti/, melainkan pada masa kini. Adapun masa lalu, terbaca berbatas harapan dan kecewa: //… /Pada batas antara harapan dan kecewa/Namun akhirnya, apa pun terjadi, tawakal menerima//.
Sikap atasnya adalah tawakal menerima: tetap berusaha dengan hasil diserahkan kepada Sang Pemilik Takdir. Sikap aku lirik ini terasa berbeda jika dibandingkan dengan sikap aku lirik pada puisi “Derai-derai Cemara” Chairil Anwar. Aku lirik pada puisi Chairil mengorientasikan diri ke masa depan dengan menyerah terhadap Sang Pemilik Takdir: //…/Dan tahu ada yang selalu tak terucapkan/sebelum akhirnya kita menyerah//.
Sementara itu, bait kedua memberi penegasan atas masa depan yang tak pasti, //Adakah masih jauh perjalanan yang kan kutempuh?/. Hal ini sejajar maknanya dengan pernyataan pada bait ketiga /Pertanyaan-pertanyaan senantiasa jadi abadi//.
Diskursif
Lebih dari itu, kata ganti orang pertama aku dapat dianggap sebagai kesadaran aku lirik. Namun, adanya kesadaran mengandaikan adanya aku lirik dalam aras yang melampaui kesadaran. Hal ini terbaca pada bait kedua: //…/ Adakah kau itu yang berdiri dalam remang sisi ranjang/hampir dapat kusentuh?//. Singkatnya, larik ini menyiratkan hubungan aku lirik dan yang liyan.
Dalam alam pemikiran Timur, kesadaran atas adanya diri yang liyan, yang tak tersentuh, yang asing, bahkan yang adikodrati berhubungan dengan pandangan siklus atas waktu. Bagi orang Timur, khususnya Sunda, waktu dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari ruang yang berputar dalam skema berpasangan tetap: siang-malam, lelaki-perempuan, sedih-gembira, kebaikan-keburukan, yang diciptakan-yang menciptakan, dan sebagainya.
Karenanya, apa yang disebut dengan kesadaran aku lirik terdukung adanya ketidaksadaran aku lirik. Untuk memahami diri, aku lirik perlu memahami yang bukan diri. Jika diperluas, dalam kehidupan sehari-hari, untuk memahami siang, kita perlu memahami malam. Untuk meyakinkan bahwa seseorang beridentitas lelaki, orang tersebut perlu memahali identitas perempuan. Demikian pun sebaliknya.
Bahkan, untuk meneguhkan pemahaman atas pandangan siklus pada waktu, kita perlu memahami negasinya, yakni pandangan linear pada waktu. Dengan kata lain, linearitas waktu mengejawantahkan rangkaian peristiwa kausal yang berujung pada akanan seperti deret hari Senin s.d. Minggu berganti tanggal, bulan, dan tahun. Hal ini lugas digambarkan Ajip pada bait terakhir: /Namun senantiasa aktuil di setiap situasi/.
Cara berpikir memahami sesuatu dengan memahami pasangan negasinya ini, atau kita sebut saja dengan cara berpikir diskursif, sudah melekat dalam diri manusia, bahkan pun sebelum manusia mampu memaksimalkan potensi akalnya. Hilangnya pesona mitis dunia berhubungan dengan kemampuan manusia dalam berpikir filosofis, saintis, dan teknis yang seiring dengan berkembangnya alam pemikirian bahwa manusia adalah pusat dunia dan pusat makna (antroposentrisme: aku berpikir maka aku ada).
Ular
Entah siapa yang menentukan penjudulan buku ini, bisa Ajip atau penyunting bukunya. Yang pasti, setelah lima puluh tahun buku ini terbit, dua judul puisi yang dipilih sebagai tajuknya, yakni puisi berjudul “Ular” dan puisi berjudul “Kabut” dapat dijadikan dasar pijakan kita untuk memaknai lagi buku ini dalam konteks kekinian.
Dengan ini, kita dapat memulai ulasan esai dari skema berpikir mitis yang terbakukan dalam puisi berjudul “Ular”. Pada bagian ini kita akan mencoba menemukan kemungkinan manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari (gerak) alam. Saya sertakan utuh puisi tersebut berikut ini.
Ular
Ular yang mendesis merisik, dengan warna kulit indah
mengejarku, bahkan sampai dalam mimpi.
Berhenti! Kataku. Dan ia menatapku patuh, namun gelisah.
Tiba-tiba kubaca: namamu terukir pada lidahnya yang terjulur
merah.
1970
Dalam tradisi monoteisme yang berpangkal pada ajaran Ibrahim (Yahudi, Kristen, dan Islam), kisah Adam dan Hawa yang dihukum karena melanggar aturan Sang Pencipta menyertakan tokoh pembisik (baca:penghasut), yakni Iblis. Bagaimana bentuk makhluk bernama Iblis? Dalam tradisi bible, umat kristiani menyimbolkan tokoh pembisik ini dengan binatang ular.
Kisah ini direproduksi ulang melalui pengalaman batin dalam kesadaran dan ketaksadaran aku lirik: //Ular yang mendesis merisik, dengan warna kulit indah/mengejarku, bahkan sampai dalam mimpi./…//. Namun, keputusan untuk mengikuti atau menolak bisikan ular berada pada kuasa manusia sebagai makhluk yang dibekali akal untuk menimbang kebaikan dan keburukan: / Berhenti! Kataku. Dan ia menatapku patuh, namun gelisah./
Pernyataan penutup memberi arahan bahwa aku lirik terjebak pada berpikir mitis karena kisah ini merupakan analogi atas penghayatan manusia akan nasibnya yang terhukum untuk sementara menempati bumi, bukan surga. Jebakan berpikir mitis dapat dikatakan sebagai bentuk pengetahuan yang diwariskan turun-temurun dari generasi sebelumnya: / Tiba-tiba kubaca: namamu terukir pada lidahnya yang terjulur/.
Bahkan, kisah yang menjadi pengetahuan bersama umat manusia dalam tradisi monoteisme Ibrahim ini meninggalkan bekas luka dan trauma tidak berkesudahan. Sebagai contoh, dalam puisi “Di Kebun Binatang” karya Sapardi Djoko Damono, sepasang manusia harus buru-buru meninggalkan kandang ular hanya karena ular mengingatkan mereka pada kisah atau tragedi turunnya Adam dan Hawa dari surga ke bumi.
Kabut
Sekarang, kita beralih pada puisi kedua yang dijadikan judul buku, yakni puisi berjudul “Kabut”. Puisi ini terdiri atas tujuh baris dengan memakai majas paralelisme anafora, yakni larik 1 s.d. 6 diawali dengan kata yang. Larik tujuh merupakan kelanjutan dari larik enam. Saya sertakan utuh puisi tersebut.
Kabut
Yang mengurungku dalam samar adalah kabut
Yang mendinding menghalang langkah adalah kabut
Yang hadir tak terjamah adalah kabut
Yang bergetar tak terdengar adalah kabut
Yang diam, yang rahasia, yang tak pasti
adalah kabut.
1971
Penghadiran kata ganti orang pertama aku menandai seorang penutur yang berkisah tentang kabut. Bagi aku lirik, kabut dimaknai yang putih menyilaukan, yang mengurungku dalam samar, yang mendinding menghalang langkah, yang hadir tak terjamah, yang bergetar tak terdengar, yang diam, yang rahasia, dan yang tak pasti.
Dengan ini, kita dapat menghubungkan diksi kabut sebagai metafora atas sesuatu di luar diri aku lirik. Hal ini tentu saja sejalan dengan kehadiran yang liyan yang terbicarakan pada puisi “ular”. Karena menjadi sebuah kesatuan pernyataan, judul buku “Ular dan Kabut” dapat dianggap sebagai skema pengetahuan aku lirik-yang liyan, baik disadari maupun tidak disadari.
Dengan ini pula, kita dapat menganggap bahwa kumpulan puisi ini sebagai dokumen autobiografis seorang Ajip dalam merespons maunya zaman sekira tahun 1970-an. Kita tahu bahwa pada dekade tersebut bangsa Indonesia sedang bergiat melakukan pembangunan di bawah kebijakan pemerintahan Orde Baru.
Lalu, bagaimana puisi-puisi lain dalam buku ini meneguhkan dan mengukuhkan tematis Ular dan Kabut yang menggambarkan sesuatu (baca: kekuatan) yang liyan? Atau, adakah sisipan tema lain menyertai buku antologi puisi ini? Untuk itu, pada bagian berikutnya kita akan mengintegrasikan 53 puisi lainnya.
Adikodrat
Puisi kedua berjudul “Sia-sia Kau Kucari di Balik Rumpun Bunga”. Puisi ini semakin menegaskan bahwa satu acuan-diri atas adanya liyan tertuju pada Sang Pemilik Takdir, yakni Tuhan. Berikut ini saya sertakan puisi tersebut.
Sia-sia Kau Kucari di Balik Rumpun Bunga
Sia-sia kau kucari di balik rimbun rumpun bunga, keriuhan pasar,
lorong-lorong senyap
Gunung-gunung tinggi dan jurang-jurang curam yang kurangkaki,
pada senja pertemuan terang dengan gelap
Namun kutempuh juga jalan yang kautunjukkan, tersaruk sendu
Kucium dingin lantai rumahmu, waktu terasa betapa mesra belaian
tanganmu
Tuhanku, Tuhanku, aku tersedu. Kau!
Lalu, kisah dapat meneguhkan keberadaan aku lirik yang berpasangan sekaligus bertentangan dengan liyan. Dengan pengalaman manusia yang terbakukan dalam kisah, baik pengalaman faktual maupun fiksional, aku lirik mengukuhkan pemahamannya. Hal ini bermakna karena pemahaman atas sesuatu dapat dan hanya dapat disampaikan melalui kisah.
Bagaimana kisah bermakna bagi aku lirik? Di dalam puisi ketiga berjudul “Tahun-tahun Lewat” kita menemukan bahwa kisah dapat meneguhkan pengalaman hidup: //Tahun-tahun lewat dengan cepat/Dan kita bagaikan tiang-tiang kawat: Menanti./Menanti uluran Nasib menawarkan buah khuldi/(Yang tumbuh pada pohon purba/yang tidak kasat-mata. Bernama Cinta).//.
Dengan tiga puisi pembuka ini, yakni puisi “Menjelang Usia 32”, “Sia-sia Kau Kucari di Balik Rumpun Bunga”, dan “Tahun-tahun Lewat”, kita menemukan sebuah simpul proses kreatif menulis puisi Ajip yang bertitimangsa 1970 sebagai kelugasan Ajip menuangkan gagasan ke dalam teks puisi sebagai autobiografi puitis.
Keterasingan
Kata konkret dapat dianggap sebagai satu aspek puisi yang menyusun acuan-diri teks dengan lugas. Sementara itu, pencitraan atau imaji yang tesertakan melalui penginderaan atas kata konkret akan menyusun acuan-diri teks dengan taklugas. Nama tempat yang terinderai aku lirik tidak hanya menginformasikan bahwa tubuh biologis aku lirik hadir di dalam ruang dan waktu tempat tersebut, tetapi juga menandai abstraksi, persepsi, bahkan sensasi tubuh atas tempat-tempat tersebut, terutama yang baru terjejak aku lirik.
Dari sini kita dapat mengasumsikan bahwa respons tubuh atas ruang dan waktu yang baru terjejak menempatkan aku lirik dalam keterasingan fisik sekaligus psikologis. Kita mengenal hal ini dengan istilah puisi perjalanan yang dihasilkan saat penyair berada di tempat yang baru, yang asing, dan perlu penandaan baru. Sebagai gambaran, saya sertakan puisi yang ditulis bertitimangsa tahun 1970 beriktu ini.
Identifikasi Tempat dalam Puisi-puisi yang Ditulis pada Tahun 1970


Pengalaman berkunjung ke tempat baru sering terbakukan dalam puisi. Hal ini wajar karena pengalaman di tempat baru akan berhubungan dengan pengetahuan baru yang asing dan sekaligus memperluas pemahaman diri. Pangalaman tubuh melalui cerapan inderawi tersebut dipindahkan dan dihimpun ke dalam ingatan melalui daya abstraksi otak.
Dari ke-22 puisi yang ditulis pada tahun 1970 terdata 12 puisi tidak menyertakan nama tempat dan 10 puisi secara lugas menyertakan nama. Dari 10 puisi yang menyertakan nama tempat, terdata 1 puisi menyertakan nama tempat Bandung dan 9 puisi menyertakan nama tempat di luar negeri. Namun demikian, jika urutan puisi menandai kronologi titimangsa penulisan puisi, dapat diduga bahwa puisi “Kau yang Tidak Menangis”, “Lautan Maha Dalam”, dan “Surat kepada Dunia” ditulis saat Ajip berada di luar negeri.
Bagaimana persepsi atau tempat baru? Dalam puisi “Tokyo menjelang Tengah Malam” terbaca persepsi aku lirik sebagai berikut: //Bagai terjaga dari mimpi aku tiba-tiba jadi mengerti/Kejemuanmu akan hidup rutin yang serba-duniawi:/Bayang-bayangmu melintas-lintas dalam gerimis tak kunjung habis/Lenyap dalam dalam deras lalulintas kota raksasa yang kaku menghantu.//.
Karenanya, romantisme terangsang dalam diri aku lirik. Saat menonton tari topeng di Istana musim panas, Seoul, aku lirik terkenang akan tanah kelahirannya, Cirebon. Aku lirik terkenang akan hal yang sama, yakni tari Topeng Cirebon: //Waktu menonton tari topeng di Istana Musimpanas/Aku terkenang betapa indah topeng Cirebon dari Kalianyar!/…//.
Tidak hanya itu, dari 23 puisi yang ditulis pada tahun 1971 s.d. 1972 terdapat 14 puisi dengan lugas menyertakan nama tempat di luar negeri. Puisi-puisi tersebut adalah “Kuching, Senja Hari”, “Simanggang, Lewat Tengah Malam”, “Di Mesjid Negara, Kuala Lumpur”, “Senja di Kelantan”, “Pelukis Affandi di Pasar Vittoria”, “Paris Bulan Juni”, “Hutan Wassenaar”, “Pantai Scheveningen”, “Seekor Bajing di Mount Vernon”, “New York, Musim Panas 1972”, “Soneta dari Manhattan”, “Naik ke Mount Kisco”, “El Paso Dini Hari”, dan “Kepada Rodin”.
Kemampuan untuk memindahkan pengalaman nyata ke dalam ingatan melalui daya abstaksi ini sekaligus menghadirkannya kembali ke dalam dunia imajinasi, seperti puisi, akan membangun persepsi aku lirik yang baru. Selain itu, secara dialektis ada pertemuan antara pengetahuan aku lirik sebelumnya (romantisme) dan pengetahuan aku lirik kini yang bersentuhan dengan modernisme.
Barangkali, tidak ada puisi yang ditulis tidak berdasar pada pengalaman subjektif penyairnya. Barangkali juga, tidak usah melekatkan kata autobiografi pada esai ini untuk menunjukkan bahwa aku lirik yang tesertakan dalam puisi-puisi pada buku ini mengacu pada penutur yang senyatanya seorang Ajip. Namun, seperti terbicarakan di muka, tiga puisi pertama menandai bahwa buku ini merupakan buku puisi yang dengan lugas mengisahkan penulisnya.
Dengan kata lain, melalui aku lirik yang dapat disubstitusi dengan penulisnya, Ajip telah menggunakan daya abstraksinya dan menuangkan kembali berbagai lintasan peristiwa ke dalam tulisan yang dimodelkan dan diniatkan sebagai puisi. Tentu saja, perlintasan masa lalu (romantisme) dan masa kini (modernism) telah memosisikan seorang Ajip untuk bersikap. Hal ini dapat dikenali dari nada puisi yang tesertakan pada puisi penutup yang ditulis pada tahun 1970, yakni puisi “Surat kepada Dunia”.
Surat kepada Dunia
Kutempuh dengan hati pedih jalanmu ini. Kukurbankan
ketentraman masa depanku: kesedihannya menjadi gairahmu.
Bukankah itu maumu? Kepalsuan di mana orang tertawa hampa
dengan jiwa luka: mengerang dengan mulut terkatup bisu.
Penutup
Buku kumpulan puisi Ular dan Kabut telah berusia lima puluh tahun. Namun, pelintasan yang dilakukan aku lirik puisi masih relevan untuk dibincang saat ini. Masa depan, bagi aku lirik, bagai teka-teki yang kehilangan soalnya. Modernisme telah memosisikan aku lirik, yang sekaligus dapat dianggap seorang Ajip, dalam berbagai perlintasan. Kita tahu bahwa Ajip menulis karya puisi di dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Bahkan, dalam hal kritik sastra, terkhusus dalam bahasa Sunda, Teddi Muhtadi (2022) telah menempatkan Ajip sebagai tokoh renaisans Sunda.
Selain itu, perjalanan Ajip yang harus melintas ke berbagai negara, bahkan menetap di Jepang, membuat hampir setengah dari 55 puisi dalam buku ini mengisahkan pelintasan Ajip dalam tegangan romantisme dan modernisme. Satu keberhasilan modernitas dengan sains sebagai bagian tak terpisahkannya adalah teknologi. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa puisi mampu memediasi dan menginskripsi berbagai pengalaman dan pengetahuan masa lalu, masa kini, bahkan masa depan.
Sekali lagi, meski puisi bukan nujuman, tetapi daya batin seorang pelintas seperti Ajip telah telah menyadarkan kita bahwa puisi mampu menangkap koding-koding alami yang dicerap penginderaan dan diabstraksikan ke dalam ingatan, baik subjektif maupun kolektif. Sementara itu, persepsi aku lirik dapat dianggap muatan ideologis seseorang, termasuk Ajip, dalam menyikapi maunya zaman. Saya tutup esai ini dengan sebuah puisi berikut ini.
Soneta dari Manhattan
Di bawah bayang-bayang Manhattan yang gelap
kulihat kau menyelinap, mengendap-ngendap
mengais-ngais mencari dalam dirimu:
sesuatu telah terjadi dan itu engkau tak tahu
Begitu banyak peristiwa dan begitu banyak rahasia
yang dalam hidupmu hanya nampak satu segi saja
tidakkah bagimu hidup ini akan tetap gelita
bagaikan teka-teki yang hilang soalnya
Adakah dengan dinding-dinding kukuh perkasa
bersarang perasaan aman dalam sanubari manusia?
yang kau temui hanya kewaswasan, sumber kegelisahan
Adakah dengan perkembangan teknologi
manusia telah menemukan dirinya sendiri?
kau hanya tahu: komputer ternyata menghasilkan banyak
persoalan
1972
Sumber Bacaan:
Rosidi, Ajip. 1973. Ular dan Kabut. Pustaka Jaya. 1973
Muhtadin, Teddi. 2020. Renaisans Sunda: Fungsi Sosial Kritik Sastra Sunda Ajip Rosidi.
Penerbit Layung. 2020
*Nizar Machyuzaar, Pengamat Sastra





