Tari di Tengah Zaman Algoritma
Oleh: Purnawan Andra*
Di era ketika kecerdasan buatan mampu menulis puisi, menyusun musik, membuat gambar, bahkan merangkai argumentasi yang terdengar meyakinkan, sebuah pertanyaan menjadi semakin penting: apa yang masih khas dari manusia?
Pertanyaan itu bukan semata-mata tentang kemampuan. Mesin sudah menunjukkan bahwa banyak hal yang selama ini dianggap sebagai keistimewaan manusia ternyata dapat ditiru, bahkan diproduksi dalam hitungan detik. Yang lebih menarik justru apa yang terjadi pada manusia ketika kehidupan sehari-hari semakin disusun oleh kecepatan, ketepatan, pengukuran, dan prediksi.
Dalam situasi seperti itu, tubuh menjadi penting. Dan tari, sebagai seni yang menjadikan tubuh sebagai medium utama, menawarkan cara yang menarik untuk membaca kembali pengalaman manusia.
Membaca Pengalaman Manusia
Kita bisa melihatnya dari kehidupan sehari-hari. Tubuh orang-orang di kota bergerak mengikuti lampu lalu lintas, jadwal kereta, pintu otomatis, eskalator, antrean, dan notifikasi telepon. Kita berjalan sambil membaca layar, berhenti karena pesan masuk, mempercepat langkah karena terlambat, kemudian duduk berjam-jam di depan komputer. Tanpa seorang koreografer pun, kehidupan telah menghasilkan rangkaian geraknya sendiri.
Antropologi menyebutnya sebagai teknik tubuh – cara manusia belajar menggunakan tubuhnya sesuai lingkungan sosial dan kebudayaan. Kita tidak lahir dengan pengetahuan tentang bagaimana berdiri di eskalator, mengantre, mengendarai sepeda motor di tengah kemacetan, atau menjaga jarak dengan orang asing di dalam lift. Semua itu dipelajari. Tubuh menyerap kebudayaan melalui gerak.
Tari sebenarnya bekerja pada wilayah yang sama, hanya dengan kesadaran yang berbeda. Seorang penari tidak sekadar menggerakkan tangan dan kaki. Ia belajar mengatur napas, berat tubuh, keseimbangan, tempo, arah pandang, jarak, dan hubungan dengan penari lain.
Teknik gerak adalah pengetahuan tubuh yang diperoleh melalui latihan panjang. Tubuh tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga kapan harus menahan, mempercepat, mengubah, atau bahkan berhenti.
Di sinilah persoalan tari menjadi lebih menarik ketika berhadapan dengan AI.
Hari ini mesin bahkan dapat mengenali dan menghasilkan pola gerak. Gerakan manusia dapat direkam, dipetakan, dianalisis, lalu diterjemahkan menjadi data. Koreografi dapat dibantu algoritma. Avatar dapat menari. Teknologi motion capture memungkinkan gerak tubuh dipindahkan ke tubuh digital. Karena itu, mengatakan bahwa AI tidak akan pernah mampu “meniru” tari mungkin bukan argumen yang cukup kuat.
Yang lebih sulit ditiru bukan geraknya, melainkan pengalaman yang membuat gerak itu berarti.
Sebuah gerakan dapat direkam, tetapi apakah kelelahan seorang penari setelah bertahun-tahun berlatih juga dapat direkam? Sebuah putaran tubuh dapat dihitung sudut dan kecepatannya, tetapi bagaimana dengan ingatan yang membuat seseorang memilih bergerak dengan cara tertentu? Bahkan ketika dua penari melakukan koreografi yang sama, tubuh mereka tidak pernah sepenuhnya identik. Ada sejarah tubuh, usia, pengalaman, luka, kebiasaan, dan suasana batin yang ikut hadir di dalam gerak.
Karena itu, kekuatan tari bukan semata-mata pada bentuk geraknya, tetapi pada kehadiran tubuh.
Pemikiran Maurice Merleau-Ponty membantu menjelaskan hal ini. Tubuh bukan benda yang dimiliki manusia, melainkan cara manusia hadir dan mengalami dunia. Kita mengenali ruang bukan hanya melalui pikiran, tetapi melalui tubuh. Kita tahu sebuah lantai licin sebelum sempat merumuskan kalimat tentang kelicinan. Kita tahu kapan seseorang terlalu dekat sebelum menghitung jaraknya.
Tubuh memiliki pengetahuan yang bekerja melalui pengalaman. Dalam tari, pengetahuan itu menjadi bahasa estetis.
Karena itu pula sebuah pertunjukan tari tidak pernah benar-benar sama, meskipun koreografinya sama. Ada perubahan energi penari, kualitas ruang, suara penonton, temperatur, bahkan kegugupan sebelum pertunjukan. Kesalahan kecil pun dapat mengubah pengalaman. Seorang penari terlambat sepersekian detik, kehilangan keseimbangan, atau menarik napas lebih panjang, dan sesuatu yang tidak direncanakan tiba-tiba menjadi bagian dari peristiwa artistik.
Di sini tari memiliki hubungan yang menarik dengan logika algoritmik. Algoritma cenderung bekerja dengan mengenali pola dan mengoptimalkan kemungkinan. Tari justru memperlihatkan bahwa pengalaman manusia tidak selalu menjadi lebih bermakna ketika semakin presisi. Ada jeda yang penting. Ada keraguan yang membuka kemungkinan. Ada kesalahan yang justru menghasilkan pengalaman estetis.
Pertanyaan Lebih Mendalam
Tetapi bukan berarti tari harus memusuhi teknologi. Justru perjumpaan dengan AI dapat menjadi kesempatan bagi tari untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri. Bayangkan sebuah pertunjukan ketika penari manusia berhadapan dengan tubuh virtual yang bergerak tanpa kelelahan. Tubuh digital dapat mengulang gerakan seribu kali dengan presisi yang sama, sementara tubuh manusia harus bernapas, berhenti, berkeringat, dan sesekali gagal.
Kontras itu bukan sekadar pertunjukan teknologi. Ia menjadi pertanyaan tentang manusia. Apa arti kehadiran jika tubuh dapat digantikan avatar? Apa arti latihan jika gerakan dapat dihasilkan mesin? Apa arti pengalaman jika sebuah sistem dapat menghasilkan bentuk yang secara visual lebih sempurna daripada manusia?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membuat tari tetap relevan dalam kebudayaan kontemporer. Ia tidak harus memenangkan perlombaan melawan teknologi. Tari justru dapat menggunakan teknologi untuk memperlihatkan sesuatu yang tidak dimiliki teknologi: keterbatasan tubuh sebagai sumber pengalaman.
Di sinilah pemajuan kebudayaan juga memperoleh makna yang lebih luas. Pemajuan kebudayaan tidak cukup dimaknai sebagai mempertahankan bentuk tari agar tidak hilang. Yang perlu dirawat adalah pengetahuan, pengalaman, nilai, dan relasi sosial yang membuat tari terus hidup.
Ketika gerak tradisi didigitalisasi, misalnya, yang disimpan bukan hanya bentuk tubuh, tetapi juga konteks yang membuat gerak itu bermakna. Teknologi dapat membantu mendokumentasikan kebudayaan, tetapi kehidupan kebudayaan tetap berlangsung melalui manusia yang mengalami dan mempraktikkannya.
Maka kita memiliki kesempatan untuk melihat tari dari pertanyaan yang lebih besar. Bukan apakah tari mampu mengalahkan AI, tapi apa yang dapat kita pelajari tentang manusia ketika tubuh berhadapan dengan mesin yang semakin menyerupai manusia.
Mungkin jawabannya justru berada pada sesuatu yang selama ini dianggap kelemahan, yaitu tubuh yang tidak sempurna. Tubuh yang membutuhkan waktu untuk belajar, bisa kelelahan, bisa salah, bisa berubah, dan pada akhirnya akan berhenti.
Di tengah dunia yang semakin ingin membuat segala sesuatu cepat, presisi, dan dapat diprediksi, tari mengingatkan bahwa ada pengalaman yang justru memperoleh maknanya karena tidak dapat diulang secara persis. Setiap tubuh membawa sejarahnya sendiri. Setiap gerak meninggalkan pengalaman yang berbeda.
Maka masa depan tari barangkali bukan berada pada usaha menjauh dari teknologi, tapi pada keberanian untuk terus menggali apa yang hanya bisa dilakukan oleh tubuh yang hidup. Sebab ketika mesin semakin pandai meniru gerak manusia, pertanyaan tentang tari justru menjadi semakin mendasar. Bukan bagaimana tubuh dapat bergerak sempurna, tetapi untuk apa manusia masih perlu bergerak.
*Purnawan Andra, alumnus Jurusan Tari ISI Surakarta. Pamong Budaya pada Kementerian Kebudayaan.




