Obituari Nuraeni Hendra: Dongeng Pedih Gadis Mayoret

Oleh: Agus Dermawan T.*

Raden Nuraeni Hendra binti Raden Soeyoed Sastrasudirja wafat dalam usia 79 tahun, pada 4 September 2026, pukul 1.00 dini hari, di Bandung. Nuraeni adalah isteri maestro seni lukis Hendra Gunawan. Sebagai isteri, kehidupan Nuraeni banyak menyimpan cerita, yang berkait dengan politik, kekuasaan dan lukisan.

————

PADA 30 September 1965 sejarah Indonesia dilumuri tinta hitam: terjadi upaya kudeta pemerintahan di Jakarta. Sejumlah jenderal dibunuh pada tengah malam 1 Oktober. Namun kudeta yang dinamai G30S (Gerakan 30 September) itu gagal. Rezim Orde Baru yang kemudian berkuasa menyebut dalang kudeta adalah PKI (Partai Komunis Indonesia).

Rakyat Indonesia lantas bergerak. Mereka mengadakan demonstrasi dahsyat, dengan mengajukan berbagai tuntutan. Di antaranya adalah pembubaran PKI beserta organisasi onderbouwnya, yang salah satunya adalah Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Presiden Sukarno diminta turun dari kekuasaannya, serta antek-antek Sukarno dan para sukarnois ditangkap, diperiksa, dan dipenjara.

Gembong PKI dan simpatisan PKI dikejar, untuk kemudian dihukum. Orang-orang yang dianggap tokoh, di antaranya dalam bidang budaya, dicokok. Maka sastrawan Pramoedya Ananta Toer dibekuk dan dibuang ke Pulau Buru. Pelukis Hendra Gunawan diringkus dan dimasukkan bui tanpa sedikit pun pengadilan.

Nuraeni Hendra, 22 Juni 1947- 4 September 2026. (Foto: Dokumen)

Lukisan Nuraeni Hendra, “Bisikan Para Pejuang”, 2024. (Foto: Agus Dermawan T).

Hendra Gunawan, ketua Sanggar Pelukis Rakyat yang dianggap juru visual Lekra, ditangkap di Ciparay pada Desember 1965. Kemudian ditahan di Cimahi. Dan akhirnya dipindahkan ke penjara politik Kebon Waru, Bandung. Sejak itu, nama Hendra sebagai pelukis hilang dari percaturan. Reputasi artistiknya tetap diakui banyak orang. Namun secara politis namanya dinistakan. Dalam berbagai kitab sejarah seni, namanya berusaha dihapus.

Di dalam penjara Hendra meninggalkan isterinya, Karmini, dan tiga orang anaknya. Keluarga Hendra pun menjadi sangat susah. Kehidupan Karmini tertekan, pergaulannya tersingkir, lapangan pekerjaan tertutup. Tapi Karmini mencoba tidak putus asa. Lukisan-lukisan Hendra yang masih ada dijual kepada siapa saja yang mau. Karya yang dihasilkan di penjara ia bawa ke luar, dan berusaha dijualnya ke sini dan ke sana.

Nasib gadis mayoret

Dua tahun sudah Hendra meringkuk dalam kesuraman penjara. Meski kesuraman itu acap diterangi lilin, saat Karmini menghibur kala bertandang. Namun ruang penjara dirasakan mendadak berpancar petromax ketika Hendra bertemu dengan seorang gadis bernama Nuraeni.

Ya, Nuraeni!

Sosok Nuraeni sesungguhnya sudah lama dikenal Hendra. Ia adalah mayoret (majorette) yang populer pada tahun 1960-an. Mantan pelajar SMP 10 Bandung itu senantiasa tampil menonjol dalam pawai-pawai drumband di kotanya, dan dikenal sebagai dirigen yang sanggup bergerak lincah dan atraktif ketika mengonduksi para pemain musik-baris.

Nuraeni juga tercatat sebagai anggota paduan suara yang bagus. Sosoknya beberapa kali menghiasi koran, seperti Pikiran Rakyat dan Sinar Harapan. Wanita kelahiran Banten 22 Juni 1947 ini dijunjung sebagai remaja lapangan yang sangat memiliki masa depan. Ketika baru duduk di bangku sekolah menengah atas di Bandung, Nuraeni sudah direkrut sebagai anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), organisasi siswa di bawah payung PKI.

Pada suatu kali di tahun 1964, di lapangan Gelora Senayan Jakarta diadakan festival drumband se Indonesia. Presiden Sukarno secara khusus menonton. Hendra juga berada di situ. Di depan sang presiden Nuraeni mendemonstrasikan keterampilan. Tongkat mayoret diputar-putar dan dilempar ke atas. Ditangkap kembali dengan gaya koreografis. Bunyi tambur, terompet, vibraphone melodius bermain di belakangnya. Lagu Cingcangkeling dan Pat Lapat yang jenaka gemuruh berbunyi. Presiden terpesona.

Setelah acara usai, Presiden berkata kepada Hendra, bahwa ia ingin mengundang mayoret itu beserta sejumlah anggota drumbandnya ke Istana.

Lukisan Hendra Gunawan, “Aku dan Karmini di Lonceng Kedua”, 1976. Lukisan ini menceritakan Hendra sedang memeluk erat Karmini, isteri pertamanya, ketika lonceng kedua berbunyi. Karena lima menit kemudian lonceng ketiga penjara akan bergema, tanda bezoek tahanan politik sudah habis waktunya. Catatan: lukisan ini rusak akibat percobaan pencurian di kantor Dewan Kesenian Jakarta, 1996. (Foto: Agus Dermawan T).

 

Di Istana Bogor Nuraeni dijamu, dan bahkan sempat disuruh menyanyi Pahlawan Bangsa serta lagu pop tradisional Sunda Tehon Cewang. Nuraeni jadi pergunjingan lagi. Dan efeknya kemudian, kelompok drumbandnya sering diundang dalam berbagai acara sebagai wakil dari Jawa Barat. Latihan-latihan, yang dikoordinasi oleh CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang juga onderbouw PKI, semakin ditingkatkan. Tetapi sejak G30S meletus, drumband Nuraeni praktis mati.

Tahun 1967 tiba. Pada suatu senja yang sial, ketika sedang berada di rumah familinya di Tasikmalaya, Nuraeni tiba-tiba dijemput oleh seorang lelaki. Nuraeni dengan paksa dibawa ke kantor Pusdikpom (Pusat Pendidikan Polisi Militer) di Cimahi. Sampai di sini ia belum tahu apa sebenarnya yang terjadi. Dan semua menjadi jelas setelah ia dibawa ke Pomdam (Polisi Militer Daerah Militer). Nuraeni ditangkap sebagai oknum yang terlibat gerakan politik! Sejumlah petugas Pomdam sempat terkejut. “Nur budak keneh? Politik?” katanya. Maknanya, penangkapan politis atas gadis yang baru berangkat dari usia remaja itu sangat tidak masuk akal.

Namun Nuraeni tetap dimasukkan ke sel. Dua bulan ia dalam ruang tahanan Cimahi, kemudian dengan mobil kerangkeng gajah ia dipindahkan ke penjara Kebon Waru. Penjara para tapol yang permanen.

Di Kebon Waru si tapol budak sohor (anak kecil yang populer) Nuraeni memperoleh sambutan hangat. Nuraeni jadi primadona.

Di penjara, kepada para seniornya Nuraeni menanyakan arti politik, dan sikap politik. Apa urusannya drumband dengan politik? Masuk akalkah gelora politik dapat dihidupkan oleh remaja puteri belum 20 tahun, hingga dirinya harus ditangkap?

Nuraeni tetap tak mengerti ketika ada pria agak tua menjelaskan semua itu lewat perspektif George Orwell. Dikatakan bahwa semua persoalan bisa dijadikan masalah politik. Sementara politik itu sendiri adalah rumah kumpulan dusta, himpunan nafsu penyingkiran, album kebodohan, kliping kebencian dan skizofrenia. Pria agak tua itu adalah pelukis Hendra Gunawan.

Pemahaman atas politik Nuraeni mulai terbuka ketika di dalam penjara ia berkenalan dengan dua remaja puteri yang juga dicokok dan dijebloskan bui. Mereka adalah Yung Hie dan Yung Lie, anggota PPI (Pemuda Pelajar Indonesia), organisasi di bawah Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), yang dituding berafiliasi dengan PKI. “Padahal kami tak mengerti politik sama sekali,” ujar Yung bersaudara.

Nuraeni mengatakan bahwa dirinya juga tidak tahu apa-apa tentang politik. Bahkan ayahnya, Raden Soeyoed Sastrasudirja, pengurus perkebunan karet di Cicendo, mantan wakil kepala perusahaan tambang emas di Cikotok, Jawa Barat, sama sekali tidak berpolitik. Begitu juga ibunya, Ratu Yoniah, yang berasal Tarogong.

Nuraeni, Hendra dan anaknya, Dadang Nurhendra, di Bali,1982. (Foto : Dokumen).

Pertemuan Hendra Gunawan dan Nuraeni dengan pelukis Affandi dan Maryati di Bali, 1982. (Foto: Dokumen)

Cinta di geluduk politik

Di dalam penjara Hendra boleh melukis dan bahkan dipersilakan memberi pelajaran melukis kepada sesama tahanan. Nuraeni tak tahan untuk tidak ikutan. Bahkan di sini Nuraeni memposisikan diri sebagai “asisten”nya. Lalu cinlok (cinta lokasi) pelan-pelan menelusup, sampai kemudian merebak menjadi cinran (cinta beneran). Mereka berdua berkait hati.

Maka pada bulan Mei 1968, Hendra yang 50 tahun dan Nuraeni yang 21 tahun menikah dalam sel.

Di tengah geluduk situasi politik, Hendra agaknya pelan-pelan melupakan kesetiaan Karmini, yang dinikahi puluhan tahun sebelumnya.

Hendra tampak begitu terpikat kepada Nuraeni. Sampai ia mengubah namanya menjadi Hendranuraeni. Sementara Nuraeni juga memanjangkan namanya jadi Nuraenihendra. Nama-nama ini diprasastikan dalam tanda tangan naskah, catatan harian dan surat-surat mereka.

Rasa kasmaran Hendra tak hanya dihaturkan dalam tutur, namun juga dituliskan dalam banyak puisi, yang ditulis tangan di kertas-kertas khusus, dengan ilustrasi yang kini mahal harganya. Simak salah satu puisi yang berjudul Mesra-mesra Jua.

Kureguk air narcis

dan puja mengembang air mata

dari sumber dahaga cinta

tidak berkesudahan

reguk pula air mawar

 

Permulaan dan kelanjutan

adalah mesra-mesra jua

gandrung dan berlindung

jauh di kedalaman wangi

jantung dan kecubung.

Hendra tak jarang menyanyikan lagu Five Minutes More untuk Nuraeni. Sehingga “kemerduannya” terdengar di sel tetangga. Lagu ciptaan 1946 itu pernah dipopulerkan oleh Frank Sinatra. Bagaimana romantisnya syair si lag, pembaca bisa cari sendiri.

Nuraeni dibebaskan dari penjara pada Januari 1972 dalam keadaan hamil tua. Pada 10 Februari 1972 lahirlah anak mereka, yang diberi nama Dadang Nurhendra Girang Bagja.

Ketika Hendra “bujangan” lagi di penjara, Nuraeni tentu acapkali menengok suaminya. Karmini, isteri pertamanya, bersama anaknya yang gemar melukis, Tresna Suryawan, juga selalu datang meski dengan hati tak karuan.

Hendra bebas dari penjara tahun 1978. Nuraeni bersama Hendra lantas memilih tinggal di Bali. Ketika Hendra wafat pada 1983, Nuraeni balik ke Bandung. Di hari tuanya Nuraeni berusaha untuk terus melukis. “Meneruskan warisan Pak Hendra,” katanya.

Kini Hendra, Karmini dan Nuraeni sudah tiada. Drama telah ditutup layarnya. Namun keriuhan kehidupannya akan senantiasa bergema sebagai cerita. ***

*Agus Dermawan T. Penulis buku Hendra Gunawan, A Great Modern Indonesian Painter – Ir. Ciputra Private Collection (2001, 2015), Surga Kemelut Pelukis Hendra (2018), dan Hendra Gunawan Sang Maestro (2022).