The Brutalist: Arsitektur, Kekuasaan, dan Penebusan

Oleh: Bambang Supriadi ICS*

Poster film The Brutalist. Sumber: Past Movie Poster

The Brutalist (2024) film yang disutradarai oleh  Brady Corbet, mengisahkan perjalanan László Tóth. Ia seorang arsitek Yahudi asal Hungaria yang selamat dari Holocaust dan berusaha membangun kembali kehidupannya setelah bermigrasi ke Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II. Sebagai imigran dengan masa lalu yang penuh luka, ia berharap dapat memulai hidup baru melalui profesi yang telah membentuk identitasnya.

Kesempatan itu datang ketika Harrison Lee Van Buren, seorang industrialis kaya, mempercayakan kepadanya sebuah proyek pembangunan monumental. Namun, proyek tersebut perlahan berkembang menjadi arena tarik-menarik antara idealisme seorang seniman dengan kepentingan pemilik modal. Di balik pembangunan sebuah karya monumental, tersirat pula ambisi yang lebih personal, yaitu menjadikan arsitektur sebagai warisan yang bukan hanya mengabadikan nama keluarga Van Buren, tetapi juga dipandang sebagai upaya menebus noda masa lalu yang membayangi keluarganya.

Sejak ditayangkan perdana dalam kompetisi utama Festival Film Internasional Venesia ke-81, The Brutalist memperoleh apresiasi luas dari kalangan kritikus. Film ini mengantarkan Brady Corbet meraih Silver Lion untuk Sutradara Terbaik, sementara sinematografer Lol Crawley meraih Academy Award (Oscar) dan BAFTA Award untuk kategori Best Cinematography berkat pencapaian visualnya yang luar biasa. Berbagai pengakuan tersebut menegaskan The Brutalistsebagai salah satu karya sinema paling berpengaruh pada tahun 2024–2025, sekaligus menunjukkan bahwa kekuatan film ini tidak hanya terletak pada kedalaman tema, tetapi juga pada bahasa visual yang menjadikan arsitektur sebagai medium utama penceritaan.

Judul The Brutalist mengacu pada Brutalisme, sebuah aliran arsitektur modern yang berkembang pada pertengahan abad ke-20, bukan pada pengertian “brutal” sebagaimana lazim dipahami dalam percakapan sehari-hari. Aliran ini menekankan kejujuran struktur, fungsi, dan ekspresi material tanpa dekorasi yang berlebihan.

Brutalisme tidak semata-mata ditandai oleh dominasi penggunaan beton, tetapi oleh keberanian dibalik rancangannya, yaitu memperlihatkan struktur bangunan secara jujur. Karena itu, kehadiran rangka-rangka besi baja yang dominan dalam The Brutalist tetap sejalan dengan semangat arsitektur Brutalisme, yaitu menjadikan struktur sebagai bagian dari ekspresi visual bangunan.

Brady Corbet kemudian mengangkat prinsip itu menjadi bahasa sinema. Sebagaimana bangunan Brutalisme tidak menutupi beton yang menopangnya, film ini juga tidak menutupi luka-luka yang membentuk kehidupan tokohnya. Trauma perang, pengalaman sebagai imigran, pergulatan mempertahankan idealisme, hingga ketergantungan pada patron yang membiayai karya-karyanya ditampilkan tanpa romantisasi. Karena itu, The Brutalist sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang arsitektur, tetapi tentang manusia yang dibentuk oleh sejarah, sekaligus tentang hubungan yang rumit antara kreativitas, kekuasaan, dan modal.

Di sinilah The Brutalist menjadi menarik untuk dibaca dalam perspektif budaya film. Film ini mengingatkan bahwa karya-karya besar hampir tidak pernah lahir dalam ruang yang sepenuhnya bebas. Di baliknya selalu ada patron, negara, lembaga, atau pemilik modal yang menyediakan sumber daya, tetapi pada saat yang sama ikut menentukan arah penciptaannya. Seniman membawa visi, sedangkan patron membawa kepentingan. Pertemuan keduanya tidak selalu melahirkan hubungan yang setara.

László Tóth menjadi representasi banyak seniman yang hidup di antara dua kutub tersebut. Ia memperoleh kesempatan untuk mewujudkan gagasan-gagasannya, tetapi kesempatan itu datang bersama berbagai kompromi yang perlahan menguji kebebasan kreatifnya. Harrison Lee Van Buren tidak digambarkan sebagai antagonis dalam pengertian konvensional. Ia adalah patron yang membuka jalan bagi lahirnya karya besar, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa dukungan ekonomi hampir selalu diikuti oleh pengaruh terhadap proses penciptaan karya.

Relasi antara László Tóth dan Harrison Lee Van Buren juga dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar hubungan antara arsitek dan pemberi kerja. Van Buren tampaknya melihat proyek monumental itu sebagai sebuah warisan yang akan mengabadikan nama keluarganya. Pembacaan ini semakin menarik ketika, melalui penuturan Erzsébet, istri László, film mengungkap bahwa ayah Van Buren adalah seorang pemerkosa yang telah meninggalkan noda moral bagi keluarganya.

Dalam konteks itu, proyek arsitektur monumental tersebut dapat ditafsirkan sebagai upaya membangun citra baru yang lebih terhormat. Pilihannya terhadap László pun bukan tanpa makna. Sebagai penyintas Holocaust yang membawa pengalaman penderitaan sekaligus visi arsitektur yang sarat nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, László menjadi sosok yang mampu mewujudkan bukan hanya sebuah bangunan, tetapi juga sebuah narasi tentang kehormatan dan penebusan. Namun, di sinilah ironi yang dibangun Brady Corbet: uang dapat membiayai sebuah monumen, tetapi tidak serta-merta dapat menghapus jejak sejarah atau menebus beban moral yang melekat pada masa lalu.

Pembacaan semacam ini terasa relevan ketika kita menengok praktik industri film masa kini. Di banyak negara, termasuk Indonesia, produksi film semakin bergantung pada jejaring pendanaan, sponsor, platform digital, dan berbagai bentuk dukungan institusional. Dukungan tersebut membuka peluang yang lebih besar bagi sineas untuk berkarya, tetapi juga memunculkan pertanyaan: sejauh mana kebebasan artistik dapat dipertahankan ketika proses kreatif harus berhadapan dengan kepentingan ekonomi, politik, maupun strategi pemasaran?

Pilihan visual Brady Corbet memperkuat gagasan tersebut. Arsitektur tidak diperlakukan sekadar sebagai latar cerita, melainkan sebagai bagian dari narasi. Bangunan-bangunan monumental, komposisi ruang yang menempatkan manusia tampak kecil, penggunaan cahaya naturalistik, serta format VistaVision menghadirkan kesan bahwa sejarah dan kekuasaan selalu lebih besar daripada individu. Kamera tidak hanya merekam ruang, tetapi mengajak penonton merasakan beban yang dipikul oleh tokohnya.

Di sinilah kekuatan The Brutalist sebagai sebuah karya budaya film. Film ini memperlihatkan bahwa sinema tidak selalu membangun makna melalui dialog. Komposisi gambar, ruang, cahaya, tekstur, dan skala visual dapat menjadi bahasa yang sama kuatnya dalam menyampaikan gagasan. Sinematografi tidak lagi sekadar menghasilkan gambar yang indah, tetapi menjadi cara berpikir untuk mengartikulasikan hubungan antara manusia, sejarah, dan kekuasaan.

Brady Corbet membangun bahasa visual tersebut dengan sangat konsisten. Arsitektur tidak diperlakukan sebagai latar yang memperindah gambar, melainkan sebagai bagian dari narasi. Bangunan-bangunan monumental, rangka-rangka besi baja yang terbuka, hamparan bukit-bukit marmer, serta ruang-ruang yang luas terus-menerus menempatkan manusia dalam posisi yang kecil dan rapuh. Komposisi seperti ini menghadirkan kesan bahwa individu selalu berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada dirinya: sejarah, kekuasaan, dan waktu.

Pendekatan visual tersebut diperkuat oleh tata cahaya yang cenderung naturalistik. Cahaya hadir seolah hanya berasal dari jendela, langit, atau sumber-sumber yang memang terdapat di dalam ruang sehingga suasana terasa nyata tanpa kehilangan kekuatan dramatiknya. Pilihan ini membuat penonton tidak hanya melihat ruang sebagai lokasi peristiwa, tetapi juga merasakan beban psikologis yang menyelimuti tokoh-tokohnya. Cahaya menjadi medium yang menghubungkan realitas fisik dengan kondisi batin László Tóth.

Palet warna film juga memperlihatkan kesatuan dengan tema yang diusungnya. Dominasi warna-warna bumi, abu-abu, cokelat, hitam, serta nuansa dingin menyatu dengan karakter beton, besi baja, batu, dan marmer yang mendominasi dunia visual film. Warna-warna tersebut tidak dimaksudkan untuk mempercantik gambar, melainkan membangun atmosfer yang keras, sunyi, dan kontemplatif, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan László dibentuk oleh trauma perang, pengasingan, dan perjuangan untuk mempertahankan martabatnya.

Pilihan-pilihan visual itu memperlihatkan bahwa setiap unsur sinematografi memiliki fungsi naratif. Komposisi gambar menegaskan relasi manusia dengan ruang dan kekuasaan; tata cahaya memperkuat pengalaman emosional tokoh; sementara palet warna membangun suasana psikologis yang konsisten sejak awal hingga akhir film. Tidak ada elemen visual yang hadir sekadar sebagai hiasan estetis. Seluruhnya bekerja sebagai bahasa sinema yang mengajak penonton memahami makna tanpa harus selalu dijelaskan melalui dialog.

Melalui pendekatan seperti itu, The Brutalist menunjukkan bahwa kekuatan sebuah film tidak hanya terletak pada cerita yang disampaikan, tetapi juga pada cara cerita itu divisualisasikan. Brady Corbet berhasil memadukan penyutradaraan, sinematografi, tata artistik, dan arsitektur menjadi satu kesatuan yang utuh. Bangunan-bangunan monumental dalam film ini pada akhirnya bukan hanya menjadi objek yang dipandang, melainkan metafora tentang ambisi, kekuasaan, trauma, dan pencarian penebusan yang terus membayangi kehidupan manusia.

Salah satu adegan yang memperlihatkan kekuatan visual The Brutalist adalah ketika László menyentuh permukaan marmer. Adegan ini menggunakan cool desaturated monochromatic palette, dengan dominasi warna putih kebiruan, abu-abu, dan nuansa dingin yang menyatu dengan karakteristik tekstur batu. Pilihan palet warna tersebut tidak hanya memperkuat kualitas material marmer yang keras, dingin, dan monumental, tetapi juga membangun suasana emosional yang selaras dengan kondisi batin László.

“Palet warna cool desaturated monochrome”. Sumber: The Brutalist.

Sebagai penyintas Holocaust, László membawa luka dan kehilangan yang tidak pernah benar-benar hilang. Kesenduan dan keterasingan yang ia rasakan seolah dipantulkan melalui temperatur warna dingin pada permukaan marmer yang disentuhnya. Batu tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen arsitektural, melainkan menjadi simbol dari sesuatu yang kokoh, abadi, tetapi sekaligus sunyi.

Di tengah dominasi warna dingin dan tekstur keras material tersebut, sentuhan tangan László menjadi satu-satunya unsur yang menghadirkan kehangatan manusiawi. Melalui kontras inilah Brady Corbet memperlihatkan pergulatan seorang arsitek yang berusaha mengubah pengalaman hidup yang penuh trauma menjadi sebuah karya yang mampu melampaui dirinya.

“Mood yang dibentuk dari ratio dalam pembingkai dan skala ruang” Sumber: Film The Brutalist.

Batu tersebut bukan sekadar material bangunan, melainkan simbol dari sesuatu yang kokoh, abadi, tetapi juga sunyi. Di tengah dinginnya permukaan marmer, sentuhan tangan László menjadi satu-satunya unsur yang menghadirkan kehangatan. Melalui kontras inilah Brady Corbet memperlihatkan pergulatan seorang arsitek yang berusaha mengubah pengalaman hidup yang pahit menjadi sebuah karya yang mampu melampaui dirinya.

Selain warna, Brady Corbet menggunakan hubungan antara sudut penempatan kamera, komposisi, skala ruang untuk menghadirkan paradoks kehidupan László: manusia begitu kecil di hadapan sejarah, tetapi melalui gagasan dan karya yang diciptakannya, ia berusaha meninggalkan jejak yang melampaui dirinya.

Elemen-elemen arsitektur tidak hanya berfungsi sebagai bentuk fisik, tetapi juga menjadi ekspresi visual dari ambisi dan kondisi batin László. Komposisi bidang-bidang beton yang masif, dipertegas oleh garis-garis vertikal yang menjulang serta struktur geometris yang kaku, menghadirkan kesan kekuatan, keteguhan, dan tekad yang tak tergoyahkan.

Bidang-bidang tersebut membangun kesan monumental sekaligus menegaskan hasrat László untuk menciptakan sebuah karya yang mampu melampaui waktu, menjadikan arsitektur bukan sekadar bangunan, melainkan perwujudan identitas, idealisme, dan warisan yang ingin ia tinggalkan.

Meski demikian, garis-garis vertikal dan bidang-bidang geometris itu tidak selalu tersusun harmonis. Persilangan antarelemen menciptakan dinamika visual yang mencerminkan pergulatan batin László antara ambisi membangun masa depan dan bayang-bayang masa lalu yang terus mengiringi hidupnya.

Di balik ambisi menciptakan sebuah karya monumental, tersimpan pula lapisan motivasi lain yang perlahan terungkap: proyek tersebut bukan semata-mata lahir dari hasrat artistik atau niat tulus untuk menghadirkan ruang yang bermakna bagi manusia, tetapi juga menjadi nstrument untuk menjaga kehormatan dan citra keluarga Harrison Lee Van Buren.

“ Dinamika Persilangan Elemen Bidang ”. Sumber: Film The Brutalist.

Melalui komposisi tersebut, persilangan garis-garis arsitektur tidak sekadar membentuk dinamika visual, tetapi juga menjadi metafora bagi konflik batin László. Di dalamnya tersirat tarik-menarik antara idealisme penciptaan yang sarat nilai spiritual dengan kepentingan sosial, ego, serta upaya mempertahankan kehormatan keluarga yang tersembunyi di balik lahirnya sebuah mahakarya.

Film The Brutalist pada akhirnya bukan sekadar menghadirkan kemegahan arsitektur dan pencapaian visual yang mengantarkannya meraih berbagai pengakuan internasional, tetapi juga menjadi refleksi tentang relasi antara seni, kekuasaan, dan kemanusiaan. Melalui perjalanan László Tóth dan Harrison Lee Van Buren, film ini menunjukkan bahwa karya besar sering kali lahir dari tarik-menarik antara idealisme dan kepentingan. Ketulusan berkarya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi ambisi, menjaga reputasi, atau mempertahankan kehormatan.

“Siluet Arsitektur Simbol Ambisi, Kekuasaan dan Penebusan” Sumber: Film The Brutalist.

Di balik berbagai konflik, relasi kuasa, dan kepentingan yang melingkupi proses penciptaannya, karya monumental László pada akhirnya melampaui zamannya. Arsitektur tidak lagi sekadar menjadi wujud fisik sebuah bangunan, tetapi ruang tempat ambisi, pengorbanan, dan pencarian makna berkelindan. Sejalan dengan ungkapan Ars longa, vita brevis, kehidupan manusia beserta segala hasrat dan kekuasaannya akan berlalu, sedangkan karya yang lahir dari gagasan, integritas, dan dedikasi akan terus hidup sebagai warisan peradaban.

Dalam perspektif itulah, The Brutalist menempatkan arsitektur bukan hanya sebagai monumen kekuasaan, tetapi juga sebagai ruang penebusan, ketika sebuah karya mampu melampaui penciptanya dan menemukan makna yang lebih abadi.

***

*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.