Nova Ruth, Arka Kinari dan Mimpi Besar

Oleh Yono Ndoyit

“Jaket kuning ini dipakai dalam pertunjukan di atas kapal. Pengingat bahwa emas menyilaukan, sedikit adalah cukup. Sinar matahari lebih baik dan boleh dipakai sebanyak-banyaknya.” Keterangan yang tertulis pada secarik kertas, melekat di lantai dekat tangga menuju lantai dua gedung rakyat, di bawah sepasang jaket kuning keemasan yang pernah dipakai Nova dan Grey dalam salah satu pementasannya. Sepasang kostum yang nampak seolah bersalut emas sebagai pengingat, bukan seperti fenomena “orang baru” yang memamerkan kemewahan di tengah masyarakat yang kerap dibilang sedang krisis, namun pengingat kritis akan bentuk keserakahan. Sepasang jaket yang sebagian dari beberapa kostum yang dipamerkan.

Selasa malam (10/05/2022), Nova Ruth dan Grey Filastine menggelar pameran dan pertunjukan musik bertajuk Segara Gunung di Gedung DPRD Kota Malang. Menempati lobi hingga ruang pertemuan di lantai tiga gedung itu. Dalam releasenya yang terpajang di lobi disebutkan, Yayasan Lintas Batas yang bekerjasama dengan Program Jalur Rempah Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi sejak tahun 2020 sebagai rekanan internasional yang melibatkan Arka Kinari untuk menambah khasanah kemaritiman dan penyambung budaya antara satu titik dan lainnya yang memiliki kesadaran sejarah, serta ikut menjaga kelestarian alam, gunung dan laut, bagi masa depan yang berkelanjutan.

Gambar peta dunia cukup besar pada canvas yang dari jauh nampak seperti teropong langsung terlihat begitu masuk lobi gedung. Peta dunia bertuliskan Arka Kinari Voyage 2019 – 2021 yang sekaligus sebagai pembatas pandangan antara halaman gedung dan ruang pameran. Garis warna merah pada peta seolah menunjukkan perjalanan pelayarannya dan titik-titik persinggahannya dari Eropa hingga ke Nusantara.

Memasuki ruang pameran, terlihat foto-foto dokumentasi perjalanan berbingkai bulat dan catatan-catatan pada kertas kecoklatan selama pelayarannya terlihat di kiri kanan dinding ruang pamer. Di tengah ruang pameran, terpampang beberapa miniatur kapal yang satu diantaranya adalah perahu layar Pinisi Makassar. Beberapa pemberian dan bingkisan kenangan dari titik-titik persinggahannya di Nusantara juga dipamerkan seperti serangkaian sarung dan baju bodo khas Suku Bugis, badik besar, gambar sketsa kapal, ikat kepala laki-laki khas Makassar dan panel kayu asli pahatan Suku Asmat.

Gambar 1. Foto dokumentasi perjalanan berbingkai dalam pameran. (Sumber: arsip penulis)

Gambar 2. Foto dokumentasi perjalanan berbingkai dalam pameran. (Sumber: arsip penulis)

Di ruang pertemuan lantai tiga Gedung DPRD Kota Malang, Nova dan Grey menggelar kisah perjalanan lautnya yang diselingi pertunjukan musik yang dikemas sederhana. Video maping dokumenter jadi latarbelakang yang cukup berhasil mendramatisir kisahnya. Grey memaparkan petualangannya dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan Nova dalam bahasa yang “cair” dan kerap dia sisipkan bahasa Malangan.

Friksi ekologi dan hubungan antar manusia menjadi minat dan alasan pertunjukan panjangnya. Perjalanan atau mungkin lebih tepat petualangan panjang dan mengkhawatirkan yang tak semua orang sanggup menjalaninya. Sebuah perjalanan yang menurut mereka sejak awal sebenarnya sudah susah. “Membicarakan masalah saja tidak cukup. Cerita kami tuliskan, tapi perkembangan dari realitas berjalan lebih cepat,” ujar Nova yang menggambarkan seolah dia sedang berlomba dengan perkembangan persoalan-persoalan ekologi di bumi. “Ceritalah yang bisa merubah, bukan fakta,” katanya yang mengungkap keyakinannya.

“Mimpi besar harus bisa ditampung dalam perahu besar, namun perahu itu tak harus menanggung beban yang terlampau berat,” tuturnya yang menggambarkan perlunya kerjasama “lintas batas” dalam mewujudkan visi besar.

Gambar 3. Foto Nova Ruth dan Grey Filastine. (Sumber foto: http://morezvukov.nl/filastine)

Bagaimana caranya menghindari bajak laut di samudera, bagaimana caranya bisa survive di tengah badai laut dan menghadapi persoalan penolakan di titik-titik persinggahan semasa pandemi hingga menemukan dan harus untuk sementara menetap di pulau persembunyiannya yang pada tahun 1950 menjadi pulau tempat uji coba bom Amerika, sempat mereka paparkan.

“Memberikan mimpi pada generasi selanjutnya sekaligus sebagai tambahan referensi, rasa penasaran saat berinteraksi dengan masyarakat adat, mengumpulkan cerita lokal dan mengekspresikan kedalam seni,” menjadi beberapa alasan mereka hingga melakukan perjalanan yang disertai pertunjukan musik tersebut. “Tidak ada alasan lagi dari seniman untuk menghindar isu-isu lingkungan,” tuturnya menjelang akhir sesi.

Nenek moyangku seorang pelaut.

—————-

Kapal Arka Kinari, seperti yang tertulis dalam Jalurrempah.kemdikbud.go.id, adalah sebuah kapal klasik berukuran 18 meter, dengan dua layar dan dilengkapi dengan panel surya. Hal ini yang membuat kapal milik dua musisi lintas benua, Grey Filastine (Amerika Serikat-Spanyol) dan Nova Ruth (Indonesia), berlayar menggunakan tenaga angin dan menjadikan perjalanan Arka Kinari bebas karbon. Pada mulanya, kapal ini adalah sebuah kapal bernama Neptune I yang diluncurkan pada 1947 di Rostock, Jerman, dua tahun setelah perang dunia dua berakhir. Kapal bertiang satu ini selanjutnya berganti nama menjadi Mariosa dan difungsikan sebagai penangkap ikan berdesain khusus untuk bisa mencapai kemiringan yang cukup agar bisa mengambil jaring ikan lebih mudah. Barulah di pelabuhan Rotterdam, salah satu pelabuhan terpenting di benua Eropa, Mariarosa kemudian berganti menjadi Arka Kinari. Nama ini sendiri diambil dari dua bahasa, taitu Arka (Latin) yang berarti menahan atau memertahankan, dan Kinari (Sansekerta) yang berarti musisi penjaga kehidupan.

Gambar 4. Foto maket kapal dalam pameran. (Sumber: arsip penulis)

Gambar 5. Foto maket kapal dalam pameran. (Sumber: arsip penulis)

Pelayaran kapal ini merupakan kampanye krisis iklim dan kelestarian laut, juga sebagai proyek transaksi lintas budaya—di mana tim kapal akan rutin melakukan pertunjukan seni dan berkolaborasi dengan penduduk sekitar tempat di mana ia singgah. Sebuah perjalanan panjang Arka Kinari dari Samudra Pasifik menuju Indonesia untuk menyambangi beberapa titik jalur rempah nusantara. Dari mulai Sorong, Banda Naira, Selayar, Makassar, Benoa-Bali, hingga Surabaya. Dalam proyek ini, tim kapal juga berkerja sama dengan Program Jalur Rempah dalam menyambangi peninggalan-peninggalan masa jaya jalur rempah dari mulai cagar budaya, hingga menampilkan warisan budaya tak benda, berkolaborasi dalam sebuah pertunjukan hasil lintas budaya serta melakukan edukasi ke generasi muda. Pelayaran menuju kepulauan Jalur Rempah nusantara ini dimulai dari 2019. Arka Kinari berlayar dari Belanda, Portugal, Maroko, Pulau Canary, Tanjung Verde, Trinidad, Menyusuri laut Karibia di Venezuela, Laut Pasifik Amerika dan Meksiko, Hawai, hingga dijadwalkan tiba di Indonesia pada September 2020. Di Indonesia, mereka akan singgah di Sorong Papua, Banda Neira Maluku, Selayar Sulawesi Selatan, Makassar, Benoa Bali dan Surabaya.

Gambar 6. Foto suasana pameran. (Sumber: arsip penulis)

Dalam catatan Arkakinari.org, Arka Kinari adalah platform kebudayaan terapung yang digagas oleh Filastine & Nova untuk mempromosikan kebertahanan terhadap perubahan iklim serta terlibat kembali dengan laut yang telah lama terabaikan. Di siang hari, Arka Kinari merupakan ruang lokakarya, bertukar keahlian dan konser kecil bagi komunitas sekitarnya. Berganti malam, kapal menjadi panggung pertunjukan bagi Nova dan Filastine bertema darurat krisis ekologi dan visual sinematik yang menggambarkan bayangan kehidupan di masa depan pasca ekonomi karbon. Pertunjukan Arka Kinari menggunakan panel surya sebagai sumber energinya, menjadikan metode dan pesan menyatu menjadi laku.

*Penulis, peminat seni di Malang