Matheus Wasi Bantolo

Rasa Sebagai Konsep Estetika Tari Jawa: Dari Relief Candi sampai Pulung Gelung Drupadi

Oleh Matheus Wasi Bantolo

Menawi gangsa sampun mapan iramanipun,
kedah lajeng ndengek sapemandeng,
asta kalih kapangku,
sikut mangenceng,
driji ganda maru,
menawi gangsa ngelik lajeng ngaras sareng gong;

Punika pralambang ;
menawi manungsa sampun pirsa lenggah dumadi,
sarana taklim,lajeng amawasa kanthi kapurunan, ingkang ngantos kecepeng guthithanipun; dununging kawula gusti yen saget tamat dumugi raos, lajeng manembaha dhateng sipat esa, mila dipun namekaken beksa, raosipun ambeg sawiji, saha ninggal, inggih punika piwulang yoga.

Kutipan di atas diambil dari Serat Wedhataya, yang disusun Pakempalan Yogyataya ing Surakarta Hadiningrat,.. Arti dari kalimat di atas adalah:

Jika suara gamelan sudah stabil,
harus terus diangkat kepala memandang ke depan,
kedua tangan dipangku,
siku mengencang,
jari–jemari berjalinan,
apabila gamelan melengking lalu bersembah bersamaan gong,
ini merupakan perlambang,
kalau manusia telah tahu kedudukan makhluk, dengan takjim, menatap dengan berani, sehingga sampai tertangkaplah akan seluk-beluknya, kedudukan makhluk dengan Tuhan kalau dapat tuntas sampai mendalam, kemudian menyembah pada yang bersifat tunggal, maka disebutlah beksa rasanya berwatak menyatu dan muksa, demikianlah ajaran yoga.

Kalimat tersebut  menunjukkan bagaimana seorang penari harus selalu berkonsentrasi, dan ingat akan keberadaan Tuhan dalam melakukan setiap gerakan. Setiap gerak untuk memunculkan suatu keindahan terkait dengan Yang Maha Esa.

Bertolak dari Estetika Hindu

Estetika merupakan cabang filsafat yang bertalian dengan keindahan, khususnya dalam seni.  Menurut almarhum The Liang Gie yang dahulu mengajar di fakultas Filsafat UGM estetika bisa juga disebut filsafat cita rasa atau philosophy of taste. Dalam buku Garis Besar Estetik, ia menulis:Traditionaly, the branch of philosophy dealing with beauty or beautiful, especially in art, and with taste and standards of value in judging art” (1976:18). Akan halnya Djelantik dalam bukunya Estetika: Sebuah Pengantar (1999:9), membahas mengenai ilmu-ilmu yang dapat digunakan untuk membantu dalam mempelajari keindahan.

Tulisan ini ingin membahas rasa dalam konteks estetika tari tradisi Jawa. Berbicara mengenai estetika seni tari Jawa, dan konsep-konsepnya, disadari  harus mengungkap estetika Hindu sebagai pandangan yang mempunyai pengaruh pada produk kesenian Jawa. Istilah rasa dalam estetika tari Jawa dapat dilacak dalam estetika Hindu.  Estetika Hindu, menyebut rasa sebagai pencapaian kualitas keindahan tertinggi. “Rasa” merupakan kemampuan kognitif atau pengenalan sebagaimana dipahami oleh para mistikus Jawa, kita gunakan untuk mengetahui aspek-aspek intuitif terhadap realitas.

Konsep-konsep keindahan tari Jawa berdasarkan estetika Hindu tidak hanya melihat bentuk sebagai obyek estetika tetapi sesuatu yang mengarah pada Ke-Tuhanan. Puncak keindahan Jawa yang disebut rasa akan muncul apabila bentuk dan pendalamannya menyatu untuk mengarah kepada yang bersifat Ilahi. Hal itu dapat dicapai dengan mengikuti kaidah-kaidah keindahan yang ada pada tari Jawa.

Pandangan seni Hindu seperti disampaikan Ananda K. Coomaraswamy dalam The Dance of Shiva menganggap rasa sebagai sebuah filosofi dari kehidupan. Filosofi ini bukan sesuatu yang secara fisik dapat diamati, tetapi berhubungan dengan kedalaman pandangan religius untuk mencapai suatu keselamatan atau moksha (Coomaraswamy, 1958:5). Hal ini menjadi kunci dalam ajaran kebenaran tertinggi Hindu: Brahman yang berbeda dengan ajaran kebenaran tertinggi Budhis yaitu nirvana. Dalam metafisika kebenaran Brahmanjalan keselamatan tertinggi adalah moksha yang berarti menyatukan diri dengan yang Ilahiah atau yang kuasa..

Cara menuju moksha adalah melakukan yoga secara total, melakukan  penyerahan diri dan pengabdian yang disebut bhakti. Yoga merupakan konsentrasi jiwa dalam perenungan untuk melupakan perbedaan antara subyek dan obyek sehingga tercapai kesatuan kesadaran. Totalitas konsentrasi ini dapat dicapai apabila seseorang melaksanakan bhakti secara total. Pencapaian  kebenaran semacam ini menurut Coomaraswamy juga  merupakan sebuah pencapaian keindahan.(Coomaraswamy, 1958:37).

Coomaraswamy lebih lanjut menyatakan bahwa rasa sebagai sebuah filsafat dalam budaya Hindu harus dihayati berhubungan dengan religi, moral dan seni. Seluruh  keindahan seni atau rasa selalu  mengarah pada keagungan Dewa. Saya melihat ketiga aspek tersebut  juga menjadi dasar estetika tari Jawa dalam pencapaian keindahannya. Saya melihat religi dalam tari Jawa ditunjukkan melalui pencapaian keindahan melalui persatuan manusia dan Tuhan yang dalam istilah Jawa manunggaling kawula lan Gusti. Akan halnya moral merupakan suatu etika menuju kebenaran yang  mampu membedakan kebaikan dan kejahatan. Antara religi dan moral atau etika menjadi landasan untuk mencapai keindahan seni.

Sebagaimana teori rasa di India , teori rasa di Jawa maka dari itu tak hanya terbatas pada  pengertian kekuatan dorongan hati yang terungkap melalui gerak-gerak tari. Rasa di Jawa lebih jauh menurut saya terkait dengan  hal-hal yang berhubungan dengan pandangan serta perilaku masyarakat di mana pertunjukan itu berada. Masyarakat Jawa menyebut kesinambungan hubungan itu sebagai kunci penting. Sesuatu dikatakan mungguh apabila merasakan segala dimensi perasaan jasmani atau indrawi dan kemudian perasaan kesatuan dengan alam semesta dan akhirnya kesadaran mendalam akan keakuannya sendiri (Suseno, 1999:130).

Dalam  istilah kesenian Jawa kesesuaian makna dan ungkapan seni  dengan pengalaman batin masyarakat disebut sebagai mungguh. Mungguh memiliki makna kesesuaian antara wujud dan isi.. S.D. Humardani – sebagaimana dijelaskan dalam buku Gendhon Humardani: Pemikiran dan Kritiknya menganggap mungguh memiliki arti dasar ketepatan wujud yang diamati melalui bentuk dan isi secara menyeluruh (1991:26). Ketepatan dalam tari ini menyangkut wujud kesatuan tari yang timbul dari kesatuan unsur-unsur gerak, bentuk tubuh, serta unsur-unsur penunjangnya seperti tata rias, tata busana, tata iringan, tata panggung, dan tata cahaya. Kemungguhan yang berhubungan dengan rasa ini terkait pula dengan hal-hal di luar seni seperti diuraikan di atas. Ketepatan dalam pandangan masyarakat, dan hubungannya dengan religi berpengaruh terhadap kemungguhan tersebut. (Suseno, 1999:130).

Rasa maka dari itu bagi orang Jawa bukan pengertian spekulatif, dan bukan teori mistik melainkan pengalaman tentang dirinya sendiri yang terbuka (Geertz, 1969:234-242). Rasa bersifat terbuka mengenai realitas keseluruhan diri sendiri, maka rasa itu sekaligus berarti eling, atau ingat akan asal-usul sendiri, yang ilahi. Orang jawa dalam rasa mencapai kawruh sangkan paraning dumadi, pengertian tentang asal-usul tujuan segala makhluk. Pencapaian rasa yang lebih mendalam sekaligus mencapai eksistensinya yang lebih mendalam, dengan sendirinya hidupnya akan berubah, ia akan memiliki sikap-sikap yang lain, yang lebih benar, lebih cocok dengan realitas yang sebenarnya.

Sejarah Tari Jawa

Pengamat tari dan arkeolog Edy Sedyawati mengungkapkan rangkaian sejarah tari Jawa telah berlangsung melalui proses sangat panjang untuk menunjuk tari Jawa sekarang. Proses panjang ini  ditunjukkan dengan adanya data-data arkeologis  berupa relief-relief candi di masa Hindu-Buddha  yang menampilkan adegan tari, Relief Candi Prambanan dan Candi Borobudur misalnya menampilkan pose-pose tari.(1981:164-166). Pada beberapa  prasasti berbahasa Jawa Kuna maupun Sansekerta pun terdapat ungkapan tentang keberadaan tari pada upacara masa lalu. Kakawin-kakawin  juga  banyak yang  menginformasikan  adanya tari di  masa lalu. Di antaranya adalah kakawin pada masa Kediri dan Majapahit seperti Arjuna Wiwaha, Sumanasantaka, Nagarakertagama.

Sejarah tari Jawa ini berlanjut pada masa Mataram Islam, yang sampai pada akhirnya Mataram Islam terpecah menjadi dua kerajaan besar pada tahun 1755 dengan adanya Perjanjian Giyanti oleh penjajah Belanda. Dua kerajaan tersebut adalah Kasunanan Surakarta dengan rajanya Sri Susuhunan Paku Buwana III, dan Kasultanan Yogyakarta dengan rajanya Sri Sultan Hamengku Buwana I. Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta masing-masing dipecah kembali menjadi dua kerajaan oleh Belanda. Kasunanan Surakarta dipecah dengan berdirinya Pura Mangkunegaran pada tahun 1757 yang dipimpin Raden Mas Said atau Pengeran Sambernyawa sebagai seorang Adipati bergelar Sri Mangkunegara I. Kasultanan Yogyakarta juga dibagi menjadi dua kerajaan ditandai berdirinya Pura Paku Alaman pada tahun 1813 dengan Pangeran Natakusuma sebagai Adipati bergelar Sri Padhuka Paku Alam I.

Pembagian tersebut berakibat kesenian di dua kerajaan pecahan Mataram juga terpecah menjadi dua. Satu bagian bersumber pada Surakarta, satu bagian lainnya bersumber pada Yogyakarta. Kebudayaan di Pura Mangkunegaran bersumber pada budaya Surakarta, sedangkan budaya Pura Paku Alaman bersumberkan budaya Yogyakarta. Kedua budaya antara Pura Mangkunegaran, dan Pura Paku Alaman meskipun pada dasarnya bersumber dari kerajaan di mana budaya itu berada, terdapat silang pengaruh dari dua kerajaan besar di atas. Pura Mangkunegaran mendapat pengaruh budaya Kasultanan Yogyakarta sejak awal mula berdirinya, dan Pura Paku Alaman mendapat pengaruh budaya Kasunanan Surakarta sejak tahun 1909.

Tari-tari klasik Jawa yang sekarang masih ada, berdasarkan karya sastra yang menyertainya diciptakan pada masa Mataram Baru oleh raja-rajanya seperti Panembahan Senapati, Sultan Agung, atau Sri Sultan Hamengku Buwana I. Bentuk tari yang dianggap muncul pada masa Mataram Baru di antaranya terdiri dari tiga bentuk yaitu bedhaya, srimpi, dan wireng. Bedhaya yang diciptakan pada masa Sultan Agung yaitu Bedhaya Ketawang masih dipentaskan satu tahun sekali dan dilatih setiap 35 hari sekali di Kraton Surakarta untuk peringatan penobatan raja yang disebut Pengetan Jumenengan. Upacara ini di Kasultanan Yogyakarta menggunakan drama tari yang dianggap sebagai ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwana I yang disebut wayang wong.

Pulung Gelung Drupadi : Rasa dalam Tari Jawa Baru

Perkembangan tari Jawa saat ini ditandai dengan berbagai karya-karya tari baru yang masih menggunakan tari Jawa sebagai dasar pijak penggarapan koreografinya. Adalah menarik sastrawan  Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu artikelnya yang dimuat di portal Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2021 ini membahas tentang kepenarian Nungki Kusumastuti dalam karya “Pulung Gelung Drupadi” dalam sudut pandang riset artistik: ilmiah dan naluriah.

“Pulung Gelung Drupadi” merupakan karya cipta saya pada tahun 2014. Seno Gumira Ajidarma menguraikan bagaimana Nungki Kusumastuti memerankan tokoh Drupadi dalam karya tersebut. Kemampuan Nungki Kusumastuti menjadi penari dalam suatu karya cipta merupakan suatu proses riset kepustakaan maupun riset lapangan secara sistematis sebagai bagian integral produksi karya seni dalam sudut pandang Ajidarma.

Proses kepenarian tersebut dari sudut pandang saya sebagai pencipta karya memang melalui tahapan yang panjang. Sejak pertama kali menentukan Nungki Kusumastuti menjadi pemeran karakter Drupadi, sudah terjadi dialektika antara saya sebagai  koreografer dan Nungki. Nungki  untuk menampilkan diri sebagai Drupadi melakukan riset  pada visual relief mengenai Drupadi  yang ada pada Candi Jago, Malang. Nungki berusaha menghidupkan visual adegan relief itu ke  dalam dirinya. Proses ini tentunya memerlukan interpertasi yang penuh makna.

Usaha Nungki untuk mewujudkan karakter Drupadi ini apabila dikaitkan dengan teori estetika rasa  di atas, maka bisa disebut merupakan bagian dari: kemungguhan. Ungkapan penari melalui gerak, kostum, musikalitas, dan dialog menunjukkan kemungguhan terkait ide cerita, pandangan masyarakat, dan keinginan koreografer. Rasa tari Jawa sudah menubuh dalam penjiwaan Nungki  sebagai representasi sosok Drupadi. Tubuh Nungki menampilkan menyatunya daya swara dan daya raga dalam pembentukan estetika ragaswara.

*Penulis adalah koreografer, penari dan mahasiswa S3 STSI Surakarta.

———-

Kepustakaan

Benamou, M.L. 1998. “Rasa in Javanese Musical Aesthetics”. Disertation  in University of Michigan. Michigan.

Brakel, C.P. 1991. Seni Tari Jawa. Terjemahan : Mursabyo. Belanda : Universitas Leiden.

Clarke, M., and Vaughan, D. 1977. The Encyclopedia of Dance and Ballet. New York: G.P. Putnam’s Sons.

Coomaraswamy, A.K. 1958. The Dance of Shiva. London : Peter Owen Limited

Dewan Ahli Yayasan Siswa Among Beksa, 1981. Kawruh Joged-Mataram. Yogyakarta : Yayasan Siswa Among Beksa.

Fraleigh, S.H. , Hanstein, P (ed.). 1999. Researching Dance. Pittsburgh. University of Pittsburgh Press.

Geertz,C. 1960. The Religion of Java. Chicago : The University of Chicago Press

Geertz,C. 1973. The Interpretation of Cultures. New York : Basic Books Inc

Hersapandi. 1999. Wayang Wong Sriwedari. Yogyakarta : Yayasan untuk Indonesia

Humardani,S.D.,Kustantia,N.,Nurwulan,B.Y.,Prabawa,W.S.,Rosini,Tasman,A., 1980. “Perbendaharaan Gerak Tari. Dokumentasi Kesenian Sub Proyek ASKI Surakarta.

Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta : Balai Pustaka

Kulkarni, V.M.  (ed).  1986. Some Aspects of the Rasa Theory. Delhi : B.L. Institute of Indology.

Lindsay, J. 1991. Klasik, Kitsch, Contemporary: A Study of The Javanese Arts. Terjemahan Nik Bakdi Sumanto. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Magnis Suseno, F. 1999. Etika Jawa. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Mangunwijaya, Y.B. 1986. Ragawidya. Jakarta : Kanisius

N.N., 1956. “Waton-waton Beksan. Surakarta: Pamulangan Beksa ing Mangkunegaran.

Prawiroatmojo,S. 1981. Bausastra Jawa–Indonesia, Jakarta. PT. Gunung Agung

Rustopo (ed.). 1991. Gendhon Humardani : Pemikiran dan Kritiknya. Surakarta : STSI Press.

Schechner, R. 1985. Between Theater and Anthropology. Philadelphia : University of Pennsylvania Press.

Schechner, R. 1988. Performance Theory. New York : Routledge.

Sedyawati,E. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta :Sinar Harapan.

Sedyawati,E. (ed.).1984. Tari : Tinjauan dari Berbagai Segi. Jakarta : Pustaka Jaya

Sedyawati,E. 2001.  Characterization in Javanese Theatrical Art : A Constructed Channel for Aesthetic Enjoyment”. Taiwan : Symposium National Musium of History.

Turner, V. 1982. From Ritual to Theatre. New York : PAJ Publications

Wibowo,F.(ed). 1981. Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Dewan Kesenian Propinsi DIY.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *