Jendoel Hadi Santosa

Antara ruangrupa dan Roger Waters

Oleh Jendoel Hadi Santosa

Documenta ke-15 di Kassel, Jerman yang dikuratori ruangrupa menjadi perhatian dunia. Seperti kita ketahui terjadi polemik atas penurunan instalasi “People’s Justice“ karya kelompok Taring Padi, Indonesia. Karya itu berbentuk banner sepanjang sekitar dua belas meter dengan tinggi sekitar delapan meter yang penuh sesak dengan figur campur-baur yang berjudul “People’s Justice” yang dibuat dua puluh tahun lalu oleh kelompok seni Taring Padi, Indonesia.

Pada banner sebelah kiri tertulis The Expansion of Multicultural State Hegemony. Nada gambar suram, penderitaan karena penindasan; tentara bersenjata; makluk bermata satu, seorang pria dengan janggut dan taring mengenakan topi fedora yang dengan tulisan SS. Figur lainnya adalah tentara berkepala babi mengenakan syal Bintang David dan helm bertuliskan Mossad, nama dinas keamanan Israel; figur lain anggota M15 dan KGB dan 007. Di bawah kaki para tentara itu ada beberapa tengkorak manusia bertuliskan: Aborigin, Palestina, Afganistan, Rwanda, Amerika Indian, Iran.

Pada banner sebelah kanan ada sosok petani, anak muda bermain gitar, orang-orangan sawah, anak kecil, binatang piaraan. Dan ada seorang petani mengangkat pamflet dengan tulisan Resistence Culture Movement. Nada gambarnya bersemangat, bekerja, berjuang dan bersantai—berlawanan dengan gambar sebelah kiri.

Karya itu mencolok karena bentuknya, ukurannya, maupun penempatannya yang strategis di alun-alun pusat kota Kassel. Di depan banner, di lapangan berumput, berdiri puluhan wayang modern karya Taring Padi yang dibuat dari kardus bekas; karya terpanggang matahari musim panas—beberapa wayang kardus modern itu tumbang rusak oleh angin.

Farid Rakun dan Ade Darmawan, dua anggota ruangrupa, menyatakan mereka akan fokus pada penderitaan di dunia hari -hari ini yang berakar pada kolonialisme, kapitalisme, atau struktur patriaki. Mereka ingin menampilkan karya dan kreatifitas yang memungkinkan orang-orang memiliki pandangan yang berbeda tentang dunia. Para punggawa ruangrupa yang lebih mirip aktivis dibanding kumpulan seniman menyatakan “Kami mencoba menghasilkan estetika baru. Pekerjaan kita tidak boleh dinilai oleh orang luar….”

Sesungguhnya “People’s Justice” adalah karya yang biasa. Tidak ada yang istimewa dengan karya yang konon dikerjakan oleh dua puluh orang itu. Kita bisa melihat gambaran serupa pada grafiti di kota mana pun di dunia ini. Secara keseluruhan “People’s Justice“ adalah campuran pamflet politik, seni jalanan, karikatur editorial dan lelucon satire. 

Tapi kenapa karya ini lalu menghebohkan? Bahkan secara politis? Ungkapan usang yang masih berlaku hingga kini: penafsiran karya seni bisa berbeda antara mata pikiran satu dan mata pikiran lainnya, agaknya masih tepat untuk membaca terjadinya polemik perbedaan pandang terhadap karya ini. Satu karya seni dilihat oleh sepuluh orang niscaya akan menghasilkan sepuluh penafsiran yang berbeda.

Kedutaan Israel di Jerman menanggapi dalam serangkaian tweet bahwa Documenta lewat karya Taring Padi mempromosikan propaganda gaya Goebells—merujuk kepada Joseph Goebells, kepala propaganda Nazi. Sebuah tuduhan yang dibesar-besarkan, ceroboh dan membahayakan karena mengancam seniman dan karya seninya.

Taring Padi "People’s Justice"

Foto karya Taring Padi “People’s Justice” (Sumber Foto: www.br.de)

Sesungguhnya, beberapa bulan sebelum pameran dibuka, isu antisemitisme telah dihembuskan. Pada bulan Januari, muncul protes dari grup Allliance Against Antisemitism Kassel menuduh ruangrupa mendukung BDS (Boycott, Divestment and Sanctions, sebuah gerakan yang menggunakan tekanan ekonomi untuk menghentikan pendudukan Israel dan pembangunan pemukiman ilegal di Palestina) dan mempertanyakan diikutsertakannya kelompok seni Palestina The Question of Funding, yang menurut pendemo adalah simpatisan BDS. Segera kolumnis surat kabar dan politisi Jerman mengangkat kekhawatiran itu dan membesar-besarkannya.

Pada Mei, Felix Klein, pejabat di pemerintahan Jerman yang bertugas memerangi antisemitisme, mengkritik kurangnya seniman Israel dalam Documenta 15. Pada bulan yang sama, penyusup menyemprotkan grafiti di ruang pameran yang dijadwalkan menjadi stan The Question of Funding. Sebuah teror sebelum pameran dibuka.

Hembusan dugaan adanya antisemitisme kembali muncul dalam pembukaan Pameran Sabtu, 28 Juni lalu, ketika Presiden Jeman Frank-Walter Steinmeier mengatakan dalam pidato pembukaan “Kebebasan artistik adalah jantung dari konstitusi Jerman, kritik kepada pemerintah Israel diperbolehkan. Namun, tambahnya, “mencolok bahwa tidak ada seniman Yahudi dari Israel yang terwakili pada pameran seni kontemporer yang sangat penting ini.”

Peristiwa ini mengangkat kembali persinggungan antara kurator, seniman, karya seni yang diciptakannya dan pihak eksternal, termasuk dan terutama penguasa, media, dan pihak yang berseberangan secara politis dan ideologis—untuk menafsirkan satu karya. Sabine Dchormann, Direktur Jenderal Documenta, mengatakan kepada majalah berita Det Spiegel bahwa penyelengggara tidak menyaring karya seni apa pun sebelumnya, untuk menghormati kebebasan artistik.

Beberapa jam setelah komentar itu, penyelenggara Documenta telah menutup karya itu dengan lembaran kain hitam. Hal itu tak mencegah Dewan Pengawas Pameran, yang meliputi Wali Kota Kassel, Christian Geselle, mengadakan pertemuan dan memutuskan untuk menghapus karya seni tersebut. Claudia Roth, Menteri Kebudayaan Jerman, mengatakan dalam sebuah pernyataan di media sosial “Dalam pandangan saya ini adalah gambaran antisemitisme. Di sinilah kebebasan artistik menemukan batasnya”

Sebuah tuduhan yang tidak asing lagi.

Taring Padi "People's Justice"

Foto karya People’s Justice” ditutupi lembaran kain hitam (Sumber Foto: www.artasiapacific.com)

***

Pada 18 Juli 2013, saat Roger Waters—dulu penulis lagu, pemain bass, dan penyanyi dari band Pink Floyd—mengadakan konser di Belgia, seorang penonton merekam konser tersebut dengan kamera ponsel dan memberikannya kepada kantor berita dan mengunggahnya di media sosial. Dan viral.

Dalam video tersebut saat lagu “Run Like Hell” terlihat sebuah balon raksasa berbentuk babi badannya penuh coretan dan logo Shell, McD, dan Bintang David, melayang di atas panggung konser dan diujung pertunjukan balon babi itu turun ke penonton untuk dipermainkan hingga rusak. 

Jewish Human Rights Group, Rabi Abraham Cooper, Dekan the Simon Wiesenthal Center, menuduh Roger Waters anti Israel, pembenci Yahudi, dan anti-Semit. Michael Freilich, Pimpinan Redaksi majalah bulanan Yahudi Belgia: Joods Actueel, meminta pemerintah untuk mengutuk konser yang disebutnya anti-Semit.

Bedanya: Documenta lewat ruangrupa dan Taring Padi meminta maaf dan mengaku khilaf; Roger Waters membela diri dan membela karya seninya—bahkan menyerang balik penuduhnya.

Waters menulis surat terbuka di Facebook. Waters mengkritik penggunaan ‘antisemit’ oleh Cooper, dengan menyatakan bahwa Anti-Defamation League, Liga Anti Fitnah, telah memutuskan bahwa karyanya tidak memiliki tujuan antisemitisme.

Waters mengkritik kebijakan Israel; penggunaan Bintang David sebagai simbol agama dan lambang negara yang membingungkan; politik Apartheid Israel; pendudukan Palestina; pagar keamanan Tepi Barat Israel. “Memprotes secara damai (lewat karya seni) terhadap kebijakan domestik dan luar negeri Israel yang rasis bukanlah anti-Semit.”

Waters telah menggunakan balon babi dalam pertunjukannya sejak September 2010 untuk menggambarkan “kejahatan, khususnya kejahatan negara. ”Tak cukup balon babi hutan yang melayang, selama lagu “Goodbye Blue Sky” sebuah proyeksi video menunjukkan bom dijatuhkan dalam bentuk berbagai simbol: salib, Bintang David, tanda dolar, bulan sabit, logo Mercedes, dan Shell oil.

Waters dalam pidato 29 November 2012 selama 25 menit di PBB menuduh Isreal melakukan pembersihan etnis, apartheid dan telah melakukan kejahatan internasional. Roger, yang juga aktivis BDS menyatakan: lobi Yahudi sangat kuat di sini dan khususnya di industri tempat saya bekerja, industri musik rock ‘n’ roll.

Saat Waters hendak mengadakan konser di kota-kota di Jerman kelompok Yahudi mendesak agar masyarakat memboikot konser 6 September 2013. Roger Waters tidak bergeming: “the show must go on”.

Foto Roger Waters (Sumber Foto: www.tempo.co)

***

Protes telah menjadi hal lumrah yang mengiringi Documenta sejak 1968, tahun pemberontakan mahasiswa di seluruh Eropa; mereka menyerukan “Documenta Alternatif” dengan tema sayap kiri, dan menyerang pameran karena tidak menggubris Perang Vietnam. Pada 1987 kelompok Feminis New York Guerilla Girl memprotes mengapa Documenta “95 persen kulit putih dan 83 laki-laki?”

Presiden Jerman Barat saat itu, Theodor Heuss, pernah berkata “Kita tidak bisa menciptakan budaya dengan politik, tapi mungkin kita bisa berpolitik dengan berbudaya.”Kritik dan kecaman telah diarahkan secara gencar dari segala arah kepada Documenta, Ruangrupa dan Taring Padi. 

Terakhir kali sebuah kelompok, bukan seorang kurator, ditunjuk sebagai kurator Dokumenta tahun 1968 mendapat kritik habis-habisan. Sejak saat itu Documenta selalu dijalankan oleh satu atau dua orang. Hal yang tak perlu dilakukan telah dilakukan oleh ruangrupa dan Taring Padi: mengaku kilat dan meminta maaf. “People’s Justice” ditutup kain hitam—kemudian diturunkan.

Tapi serangan tidak berhenti. 

Rentetan kritik dari politisi dan media menyiratkan pameran ini sebagai hal yang memalukan secara nasional, menyerukan kontrol negara yang lebih besar pada edisi pameran di masa depan dan menuntut pengunduran diri Schormann. Pihak penyelenggara juga mengumumkan, terlepas dari kebebasan artistik, ruangrupa harus meninjau keseluruhan pameran untuk konten offensive dengan dukungan dari Anne Frank Center di Frankfurt—dengan kata lain: sensor!

Terselubung dalam rasa malu nasional Holocoust, Documenta ini semakin diselimuti oleh posisi pro-Israel yang tajam, yang menurut banyak orang menghalangi perspektif Palestina yang sah. Kecaman tentang kurasi yang sangat terdesentralisasi, dengan adanya insiden skandal Taring Padi, yang menurut para kritikus, menunjukkan ketidakmampuan kurator. “Sebuah pameran hanya berhasil jika karya individu diketahui oleh seorang kurator yang menempatkannya dalam hubungan yang penuh makna dan berfungsi satu sama lain. Documenta kali ini membuat dialog nyata antar kebudayaan menjadi sangat sulit di masa depan.”

Menteri Kebudayaan dan Media Jerman Claudia Roth menyerukan potensi restrukturisasi perombakan penyelenggara pameran sehingga pemerintah federal mengawasi acara tersebut untuk memastikan tidak ada lagi karya anti-Semit yang muncul. Claudia mengatakan penarikan pemerintah Federal dari Dewan Pengawas Documenta pada 2018 adalah kesalahan serius. Pemerintah Federal telah menjauhkan diri dari skandal saat ini, dengan Kanselir Jerman Olaf Dcholz mengkonfirmasi bahwa ia tidak akan memghadiri Documenta kali ini. Seorang juru bicara mengatakan bahwa Kanselir Olaf Scholz menganggap karya yang diturunkan di Kassel itu memang karya yang menjijikkan.

Toh tidak semua mengecam. Jörg Sperling, ketua badan pendukung acara, Documenta Forum, mengundurkan diri setelah mengkritik penghapusan “People’s Justice” karya Taring Padi. Menurut Amos Goldberg, Profesor di the Hebrew University: antisemitisme telah menjadi alat untuk membungkam kritik apa pun terhadap politik Israel, dan telah menjadi alat untuk membungkam kebebasan berbicara (dan berekspresi). “Kami diizinkan menyebut negara mana pun rasis—kecuali Israel. Ituah standar ganda!”

Di luar pameran, ada pendukung penurunan “People’s Justice” dan ada yang menentangnya. Taring Padi dan ruangrupa telah dikecam oleh Kedutaan Israel di Jerman, media dan bahkan oleh pemerintah Jerman. Sampai sekarang Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel. Pemerintah Indonesia, melalui kedutaan besar Indonesia di Jerman, mestinya melakukan pembelaan kepada Taring Padi dan ruangrupa. 

Belum terlambat.

*Jendoel Hadi Santosa, pelukis cat air. Tinggal di Malang.