Buku Ajisaka Angejawa

Sastra Jawa Dilirik Sebelah Mata

Aming Aminoedhin Sastrawan

Oleh Aming Aminoedhin

Judul buku : Ajisaka Angejawa
                         Kumpulan Geguritan

Penulis: Widodo Basuki
Kata Penganta: Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd.
Sampul buku: Lukisan Ajisaka, karya Widodo Basuki
Penerbit: TanKali, Sidoarjo
Cetakan: I, Maret 2020
Tebal: xxix+66 halaman
ISBN: 978-623-7451-25-9

 

Sorotan atau tulisan tentang karya sastra Jawa kadang memang kurang diperhatikan media cetak koran/majalah berbahasa Indonesia, apa lagi media digital. Sepertinya hanya dilirik sebelah mata, atau mungkin dianggap kuno, dan tidak aktual. Padahal pengarang-pengarang sastra Jawa di Jawa Timur memang banyak yang hebat. Jika mau mencatat, dan hingga kini masih berkesan adalah Djajus Pete dengan buku cerkak-nya berjudul Kreteg Emas Jurang Gupit (2001). Cerita cekak, cerita pendeknya beda sekali dengan yang lain, agak absurd. Absurditasnya, jika harus disejajarkan dengan sastra Indonesia, semacam cerpennya Iwan Simatupang.  

Terbitnya buku kala itu atas prakarsa Yayasan Pinang Sirih dan Dewan Kesenian Jawa Timur.  Yayasan Pinang Sirih ini prakarsai wartawan Tempo Biro Surabaya kala itu, bernama Zed Abidin. Lantas dibedah di Graha Pena – Jawa Pos Surabaya. Nama-nama pengarang hebat  sastra Jawa lainnya: Suparto Brata, Esmiet, Poerwadi Atmodihardjo, Suripan Sadi Hutomo, JFX Hoery, Suharmono Kasijun, Anie Sumarno, dan banyak lagi. Belakangan banyak muncul yang lebih muda, antara lain: Sunarko Sudrun Budiman, Bonari Nabonenar, Keliek Eswe, Nono Warnono, Aming Aminoedhin, Herry Lamongan, Sumono Sandhyasmara, Sri Trinil Setyowati, Gampang Prawoto, R. Djoko Prakosa, dan Widodo Basuki. 

Nama yang saya sebut terakhir inilah yang kini masih tetap eksis berkarya. Sementara yang lain, sudah tidak begitu intens lagi menulis sastra Jawa. Entah ada apa dengan mereka tak menulis lagi? Menariknya lagi, Widodo Basuki, adalah karya bukunya itu dibedah melalui virtual/daring mengikuti jejak zamannya.

Meskipun hanya buku kumpulan geguritan, tapi tak ketinggalan ikut dibedah bukunya secara virtual. Buku itu berjudul Ajisaka Angejawa, karya penggurit peraih Hadiah Rancage tahun 2000, dari bukunya Layang Saka Paran (1999) berupa kumpulan guritan.

Pada masa pandemi ini, memang hampir semua kegiatan dilaksanakan melalui virtual, baik itu berupa seminar/webinar, juga pentas seni. Seperti musik, tari, baca cerpen-puisi, jaranan, nyanyi, dan entah apalagi. Begitu juga kegiatan bedah buku kumpulan geguritan Ajisaka Angejawa ini, diprakarsai oleh Bengkel Muda Surabaya (BMS) dan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), menyelenggarakan zoom meeting bedah buku, diskusi dan baca gurit yang ada dalam buku tersebut. Adapun pembaca guritnya adalah: Dr. Sri Setyowati, M.Pd. (Dosen Unesa- Surabaya), Ucik Fuadiyah, M.Pd, (Dosen Unnes – Semarang), R. Djoko Prakosa (Dosen STKW – Surabaya), Aming Aminoedhin (Presiden Penyair Jawa Timur), Titiek Indri Soewari (Penggurit PPSJS), dan Pipie Egbert (Penggurit PPSJS Surabaya). 

Sedangkan pembahasnya Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd. cerpenis yang Dosen Universitas Adi Buana Surabaya, dengan dimoderatori Riadi Ngasiran – pemerhati budaya Surabaya. Jadwal acaranya digelar Sabtu, 14 Agustus 2020 pukul 19.30 WIB yang lalu. Saat itu, tokoh yang ikut gabung berdiskusi, ada: Sirikit Syah, Eka Budiata, dan Yusuf Susilo Hartono

Selama ini sastra Jawa memang kurang diperhatikan, kata banyak orang, bahkan sastra Jawa serasa telah dipinggirkan sastra Indonesia yang menyeruak begitu hebat. Lajunya perkembangan agak lambat, tapi mesti pelan tetapi ada orang Jawa tetap gemar menulis dan membaca karya sastra Jawa. Ini terbukti majalah berbahasa Jawa, masih tetap terbit dari Surabaya, yaitu Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Sementara itu, di Jawa Timur sendiri, masyarakatnya sebahagian besar, atau lebih dari 70% menggunakan bahasa pergaulan (lingua-franca) bahasa Jawa.

Barangkali kerja kreatif ini perlu diapresiasi tinggi, sebab masih ada orang menulis sastra Jawa, di tengah gempuran sastra Indonesia yang begitu dahsyatnya itu. Menulis sastra Jawa identik dengan ngleluri, merawat bahasa dan budaya Jawa itu sendiri. Sebab sudah banyak keluarga Jawa, yang tidak pandai berbahasa Jawa. Bahkan hilang bahasa Jawanya. Wong Jawa ora Jawa, alias orang Jawa yang tak tahu kejawaaannya.

Adalah nama Widodo Basuki, baru-baru ini menerbitkan buku kumpulan geguritan/puisi Jawa berjudul Ajisaka Angejawa. Orang Jawa kelahiran Trenggalek, 18 Juli 1967 ini, berkerja sebagai wartawan yang sekaligus Redaktur Pelaksana Majalah Berbahasa Jawa, bernama Jaya Baya di Surabaya. Lulusan sarjana seni rupa dari Universitas Adi Buana Surabaya, dan juga STKW Surabaya ini, malah intens bergelut menekuni sastra Jawa. Meskipun ia tetap melukis bertema wayang yang sering digarapnya. Maka tidaklah salah apabila sampul buku guritannya ini juga dibuatnya sendiri. Sketsa-sketsa yang ada dalam buku juga coretan sketsa garapannya.

Ikut membaca guritan-guritan yang ada dalam Ajisaka Angejawa, barangkali akan banyak kita dapatkan pesan-pesan pesan religiusitas Islami yang ditawarkan penulisnya. Antara lain guritan berjudul: Swara Jang-krik Ing Masjid Nabawi, Ananing Konser Sukma Wengi, Gurit Majing, Pungkasaning Gong Tinabuh, Mbima Suci, Kelir Pabaratan, Ing Makam Sunan Giri, Udan Kapisan, Pinuji,  lan Adus Wengi.

Menurut Dr. Suharmono Kasijun. M.Pd, Dosen Universitas NU Surabaya (UNUSA), yang sekaligus ketua PPSJS, mengatakan bahwa kehadiran buku ini merupakan bukti kesetiaaan dan keseriusan Widodo Basuki dalam menekuni dunia puisi Jawa Modern. Waktu itu pula telah membuktikan kesetiaaan dan keseriusan penggurit yang pernah mendapatkan Hadiah Rancage tahun 2000 ini, sehingga bukunya dibedah secara virtual melalui kerja sama Bengkel Muda Surabaya dan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya.

Buku Ajisaka Angejawa, adalah kumpulan guritan Widodo Basuki yang kelima, sebe-lumnya telah menerbitkan berjudul Layang Saka Paran (1999) yang mengantarkan ia jadi peraih Hadiah Rancage, Medhitasi Alang-Alang (2004), Bun-Bun Tumetes (2010) dan Bocah Cilik Diuber Srengenge (2011).

Mengutip ulasan doktor sastra, Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd. yang banyak menulis cerita pendek ini, mengatakan bahwa, “Bagi Widodo Basuki guritan/puisi adalah kesaksian sejarah hidup sang penggurit/penyair. Semacam biografi yang ditulis dalam bentuk lirik. Disertakannya tahun penulisan memberi arah atau petunjuk terkait alur yang dilakoni. Pada tahap demikian liku-liku hidup juga tergambar, penyair menempatkan dirinya pada posisi yang mana. Jika sepanjang hidup orang terlibat baratayudha, dalam arti simbolik, pilihan untuk memihak tidak dapat dihindarkan. Kebenaran yang diperjuangkan selalu mendapat oposisi sepanjang sejarahnya. Nilai-nilai memang  berlaku universal, tapi tiap kebudayaan memiliki pijakan kontekstual. Pada tahap demikian penyair dituntut memiliki pijakan sebagai akar kultural. Sosok Ajisaka hadir bukan sebagai tubuh wadak, tetapi mewakili pijakan sebagai akar kultural.”

Jika dibaca beberapa guritannya memang tertulis bertiti-mangsa di kota suci Mekah, sebab Widodo Basuki pernah  umroh dan naik haji. Tidak salah jika tampak religius beberapa tulisan guritannya. Sebagian yang lain bertiti mangsa Sukolegok, alamat rumahnya. Bungurasih, alamat katornya; dan Tlaga Unesa adalah kantor istrinya. Serta Munjungan dan Trenggalek adalah asli kampung kelahirannya.

Buku Ajisaka Angejawa, adalah kumpulan guritan Widodo Basuki yang kelima, sebe-lumnya telah menerbitkan berjudul Layang Saka Paran (1999) yang mengantarkan ia jadi peraih Hadiah Rancage, Medhitasi Alang-Alang (2004), Bun-Bun Tumetes (2010) dan Bocah Cilik Diuber Srengenge (2011).

Widodo Basuki, penulis yang punya julukan Raja Gurit Jawa Timur ini, sebagai penggurit memang mempunyai kecermatan dalam mengolah kata dalam guritannya. Beberapa naskah guritnya yang temuat dalam buku kumpulan guritan ini cukup memberikan pencerahan bagi pembacanya. Tentunya, orang-orang yang paham akan bahasa Jawa. Beberapa guritan nyemoni (menyindir) bagi pembacanya, ditulis dalam sanepan yang apik dan menarik.

Kembali ke persoalan religiusitas karya guritannya, memang telah ia tulis dalam kata pengantar buku, “ Yang terpenting guritan/puisi ini meruapakan seperti layar yang menyam-bungkan hati penulis (Widodod Basuki) kepada sang Pencipta, Allah SWT.”

Barangkali saja, seharusnyalah kita (terutama: orang Jawa) bisa mengapresiasi tinggi, buku Ajisaka Angejawa, dengan mau ikut membeli bukunya. Setidaknya menghargai penulisnya yang masih setia mau menulis geguritan  (sastra Jawa) di tengah jarangnya orang menerbitkan buku sastra berbahasa Jawa. Dengan membaca buku ini, seakan kita akan ditelanjangi untuk mengaca diri yang ditawarkan lewat sanepan-sanepan Widodo Basuki. Selamat atas terbitan buku baru bergenre puisi Jawa yang langka ini. 

Sastra Jawa sepertinya memang dilirik sebelah mata, tapi para pengarangnya terus berkarya. Belakangan ini banyak karya sastra Jawa terus dicetak dan diterbitkan, sebut saja berupa cerkak: Djajus Pete berjudul Manuk-Manuk Mabur,  geguritan ada: buku Gendari Marang Drestarasta, karya Ucik Fuadhiyah,  Gurit Said  karya Yusuf Susilo Hartono, Owah Gingsire Kahanan karya Aming Aminoedhin, Mendut-Mendut karya R. Djoko Prakosa, Mabur Saka Swarga karaya Gampang Prawoto, dan banyak lagi.

*Penulis adalah Sastrawan