Dwihandono Ahmad

Mooi Indië?

(Tanggapan atas tulisan Chabib Duta Hapsoro)

Oleh: Dwihandono Ahmad

Menarik sekali rasanya membaca tulisan dari Bung Chabib mengenai otonomi seni dan khususnya vonisnya terhadap lukisan Mooi Indië sebagai …produk budaya dan kebijakan seni yang orientalis. Saya kira persoalan otonomi sudah sedikit dibeberkan oleh Bung Syarif pada tulisannya yang tak kalah menggelitik akal pikiran jadi saya tanggapi persoalan Mooi Indië 

Saya sangat mengapresiasi upaya-upaya untuk memeriksa historiografi seni rupa Indonesia seperti yang dilakukan oleh Aminudin TH Siregar dan juga Bung Chabib. Saya dukung sepenuhnya dan titip pesan kepada Bung Chabib jangan sampai terlampau reduksionis dan politis dalam membaca Mooi Indië seperti narasi-narasi para sesepuh terdahulu (baca: Sudjojono, Sudarmadji dan Kusnadi). Memang mustahil untuk benar-benar tanpa bias, mengingat semua orang punya latar belakang, kecenderungan, dan haluan politiknya masing-masing (termasuk sejarawan). 

Jika kita hendak menyematkan sebuah intensi politis (sebut saja agenda kolonisasi misalnya) pada lukisan-lukisan yang dikelompokkan sebagai Mooi Indië, jujur saya bingung harus mulai dari mana. Masalahnya, Mooi Indië sebagai sebuah babak dalam sejarah seni rupa Indonesia bukanlah gerakan yang dimotori oleh isme-isme untuk menentukan arah haluannya. Sebagai sebuah fenomena budaya, istilah Mooi Indië sendiri tercatat sudah muncul pada judul puisi karya P.C. Boutens di tahun 1919, kemudian hadir di kritik tajam dari Sudjojono, menjadi latar belakang di penulisan sejarah Claire Holt, hingga pada akhirnya menjadi label bagi sejumlah seniman yang ‘dikelompokkan’ oleh Ruud Spruit pada tahun 1990-an.

Agaknya kita harus teliti dan berhati-hati bung dalam membaca babak yang satu ini. Sebagai sebuah produk budaya visual, lukisan Mooi Indië tidak bernafaskan sebuah semangat ideologi yang menunggal: ada yang didominasi unsur estetis dan komposisi, ada yang didorong oleh kebutuhan ilmu pengetahuan ilmiah, ada yang sarat dengan identitas geografis asal si pelukis, dan tentu sayangnya, ada pula yang hendak menggambarkan masyarakat di Hindia Timur sebagai eksotis. Secara teknik penggayaan, ada yang lebih condong ke suasana romantik, ada yang ekspresif, dan ada pula yang berupaya tetap realis apa adanya. Satu-satunya kesamaan hanyalah objek yang digambarkan lebih didominasi oleh pemandangan alam.

Kepopuleran lukisan pemandangan kala itu juga berkaitan erat dengan posisinya sebagai sebuah teknologi budaya visual. Maklum, hal ini tak lepas dari pilihan selera masyarakat di awal abad 20 akan sarana dokumentasi yang penuh warna ketimbang foto hitam putih atau citra-citra bersaturasi rendah. Apakah ada tarik-menarik dari permintaan pasar? Tentu saja ada. Namun bukan berarti persoalan yang ekonomis membuktikan yang eksotis.

Lukisan Wakidi misalnya, tidak terbuai dengan nuansa dramatis seperti pada karya-karya Raden Saleh. Alam tampak hening dan tenang dan para perempuan Minang dilukis berbusana dan apa adanya. Sulit rasanya untuk membaca niatan sang seniman sebagai upaya untuk menggambarkan yang eksotis, yang oriental. Yang tampak adalah keinginan untuk mencurahkan identitas diri sang seniman dengan bentang alam tanah kelahirannya. Hal ini tak jauh berbeda dengan apa yang telah muncul pada abad 19 di Inggris, Perancis dan Rusia, baik pada pelukis-pelukis mazhab Norwich, Barbizon, ataupun para Peredvizhniki. Saya pikir dorongan untuk beridentitas macam ini adalah pilihan yang wajar bagi tiap seniman dan bukan monopoli orang-orang Barat atau Timur saja.

Lukisan Wakidi, Balai Desa di Minangkabau

Lukisan Wakidi, Balai Desa di Minangkabau (1950-1954), cat minyak pada kanvas, 55 x 80 cm

Untuk mengabaikan penderitaan masyarakat di bawah kekuasaan kolonial adalah satu hal, namun untuk mengusung identitas diri melalui bentang geografis tanah kelahiran adalah hal yang lain. Dan keduanya, Bung Chabib yang saya hormati, tidaklah harus menjadi oposisi biner. Bahkan di tahun 70-an, Sudjojono pun juga melukis sejumlah lukisan pemandangan yang tak kalah eloknya dengan karya-karya Mooi Indië. Tentu bukan berarti bapak seni lukis modern ini mengabaikan kekerasan dan tragedi yang terjadi di pertengahan tahun 60-an.

Lukisan S. Sudjojono, Pemandangan

Lukisan S. Sudjojono, Pemandangan (1972), cat minyak pada kanvas 90 x 180 cm

Soal visual lukisan macam Mooi Indië yang terus berlangsung hingga abad 20 (bahkan jauh sesudah kemerdekaan Indonesia), saya juga jadi bertanya-tanya… mungkinkah ada dorongan lain selain sekedar daya tarik eksotis nan turistik bagi mata orang-orang Barat? Saya tidak ingin terlalu sembrono untuk bilang bahwa lukisan pemandangan adalah pelumas bagi kapitalisme untuk mengundang investasi bagi turisme, baik itu yang dibuat di awal abad 20 maupun abad 21.

Bung Chabib yang pernah lama tinggal di Bandung tentu tahu betul banyaknya lukisan pemandangan yang dijual di Jalan Braga. Pasti juga Bung Chabib kenal dengan situs-situs alam yang dimaknai secara simbolik oleh masyarakatnya, seperti Gunung Tangkuban Perahu. Hal serupa, saya kira juga berlaku untuk Gunung Bromo dan Gunung Merapi. Ini bukan fenomena spesifik Indonesia saja mengingat Gunung Ararat misalnya, juga memiliki makna simbolis bagi orang-orang Armenia. Sekiranya Bung Chabib tertarik untuk mengungkap pengetahuan lokal di balik minat seniman dan apresiator terhadap citra dari situs-situs alam tersebut, saya dengan sukacita tak sabar untuk membaca. 

G. Bashindzhagian, Ararat (1912)

Lukisan G. Bashindzhagian, Ararat (1912), cat minyak pada kanvas, 133 x 266 cm

Barangkali kita bisa merefleksikan secara kritis soal lukisan pemandangan di abad 21 ini dan syukur-syukur kemudian bisa menghasilkan sebuah pisau bedah untuk memisahkan; antara yang turistik dengan yang simbolik, antara yang kolonial dengan yang kultural, dan antara politisasi dengan mistifikasi. ***

__________________________

*Dwihandono Ahmad (lahir 1989) lulus dari FSRD ITB pada tahun 2012. Pada tahun 2014-2016 aktif di Ruang Gerilya, Bandung, dan pada tahun 2017, bersama Adhisuryo menulis dan menjadi editor bagi buku Liplap: 35 Artists under 35 y/o. Sempat melanjutkan pendidikan di program pascasarjana ITB, sejak awal 2021 aktif membuat program di Gelanggang Olah Rasa, Bandung.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *