Romo Sindhunata: Menulis adalah lelaku

Foto hitam putih almarhum sastrawan Pramoedya Ananta Toer itu dipasang di Bentara Budaya, Yogyakarta, mulai tanggal 17 Mei lalu (sampai 22 Mei). Pramoedya tampak bersinglet kaos putih, berkaca mata menghadapi sebuah mesin tik besar. Ia tampak serius mengetik. Ia terlihat berada dalam sebuah ruangan sederhana.

Foto Pramoedya Ananta Toer sedang serius mengetik

Foto itu dijepret oleh Romo Sindhunata di tahun 1977. Saat itu dalam usianya yang masih muda 25 tahun, belum ditahbiskan sebagai imam, baru menjadi wartawan  Kompas, Sindhunata, sedikit dari wartawan Indonesia yang  diizinkan oleh aparat militer untuk berkunjung ke Pulau Buru menemui tahanan-tahanan yang dianggap oleh Orde Baru terlibat dalam gerakan kiri 1965. Dalam foto lain Sindhunata terlihat tengah mewawancarai Pramoedya. Ia duduk di samping Pram dan tengah menulis di notes. Pram tampak memperhatikan apa yang ditulis  Sindhunata. Yang menarik bila kita perhatikan jari jemari tangan kiri Sindhunata mengapit sebatang rokok.  

Romo Sindhunata

Foto Sindhunata terlihat tengah mewawancarai Pramoedya

Romo Sindhunata

Foto Romo Sindhunata semasa menjadi wartawan Kompas

Di samping dua foto, juga ditampilkan sebuah kliping berita dari Kompas tanggal 7 Desember 1977,  yang ditulis oleh  Sindhunata berjudul: Adam Malik: Penglepasan Tahanan G-30-S Karena Alasan Kemanusiaan. Dalam berita itu,  Sindhunata menyiarkan pernyataan Adam Malik yang kala itu menjabat Ketua DPR/MPR Republik Indonesia tatkala di DPR menerima Badan Kontak Eksponen Angkatan 66 yang bertanya mengenai alasan pemerintah membebaskan para tahanan yang dianggap komunis di Pulau Buru dan penjara lainnya. Menurut Adam Malik, sebagaimana ditulis Sindhu – pemerintah melepas tahanan karena sampai sekarang tidak ada undang-undang yang mengharuskan penahanan seterusnya. Sindhu mengutip pernyataan Adam Malik secara langsung:”Kalau dulu semua orang dibunuh dan mati tentu tidak ada soal. Tapi bila setelah ditahan dan diperiksa ternyata tidak ada alasan lagi untuk menahan mereka mengapa mereka tidak kita lepaskan?” 

Romo Sindhu

kliping berita dari Kompas tanggal 7 Desember 1977

Foto dan kliping Kompas tersebut dipasang di Bentara Budaya, Yogya sebagai bagian dari:  Pameran Literasi Lelaku Nulis 70 tahun Sindhunata. Pameran itu diadakan untuk merayakan ulang tahun ke 70 Sindhunata. Sindhunata lahir 12 Mei 1952. Dia ditahbiskan sebagai imam Katolik dari Sarikat Jesuit pada tahun 1984. Romo Sindhunata dikenal sebagai penulis  tangguh dan sangat produktif. Ia menulis buku-buku bertema dari filsafat, religi,  sepakbola, feature-feature human interest mengenai sosok-sosok rakyat kecil sampai novel sastra. Pameran ini tapi seolah hendak menegaskan bahwa basis dari dunia kepenulisan Sindhu yang demikian kaya  adalah jurnalisme.  

 

Publikasi Pameran Literasi Romo Sindhu di Bentara Budaya, Yogya

Pameran Literasi Romo Sindhu di Bentara Budaya, Yogya

Dalam pameran ini dipamerkan berbagai buku yang pernah ditulisnya dari : Anak Bajang Menggiring Angin yang diterbitkan Gramedia tahun 1983,  Air Kata-Kata, Mata Air Bulan Putri Cina, Bayang-Bayang ratu Adil dan sebagainya. Citra Romo Sindhu adalah seorang penulis yang tak terpisahkan dengan kearifan yang bertolak dari pandangan-pandangan Jawa. Namun semua tahu dasar filsafat kritis kontinental Romo Sindhu sangat kuat. Bukuya: Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam rangka Sekolah Frankkfurt terbitan Gramedia tahun 1983 boleh disebut adalah sebuah buku utuh  di Indonesia yang memberikan informasi pertama mengenai gerakan pemikiran Frankfurt School. Buku ini di tahun 80-an  seolah menjadi buku wajib bagi kalangan peminat ilmu sosial. Apalagi bagi para mahasiswa filsafat, membawa buku ini seolah membanggakan. Akibat buku ini terbukalah cakrawala mahasiswa dan peminat ilmu sosial akan para intelektual Jerman yang bergabung dalam mazhab teori kritis Frankfurt School. Setelah buku Sindhunata terbit, mulailah kemudian muncul buku-buku selanjutnya dari penulis lain seperti Fransisco Budi Hardiman mengenai pemikir teori kritis lainnya dari Jurgen habermas, Herbert Marcuse  sampai Theodor W Adorno. Romo Sindhu mampu mengolah teori-teori barat dalam filsafat dan teologi sebagai refleksi pembanding untuk kasus-kasus dan sejarah pemikiran di tanah air sendiri. Disertasinya di Munchen Jerman tentang teologi pengharapan Mesianistik masyarakat Jawa misal dibandingkan dengan  teologi pengharapan rohaniawan Jerman  Jurgen Moltman dan lain-lain.

Foto sampul buku Anak Bajang Menggiring Angin yang diterbitkan Gramedia tahun 1983

Foto sampul buku Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam rangka Sekolah Frankkfurt terbitan Gramedia tahun 1983

Cara Sindhunata menulis juga clear. Ia sangat mempertimbangkan kalimat dan alur penceritaan yang mengalir. Ia juga  memiliki kekuatan empati tinggi. Banyak tulisan Sindhu yang bisa menyentuh pembaca dan membuat pembaca bisa membayangkan situasi-situasi kemanusiaan yang dialami subyek yang ditulis Sindhu. Tulisan filsafat Sindhu juga lain. Ia tidak seperti banyak pendidik filsafat lain yang dalam menulis apapun kering, sering hanya mentah-mentah menerjemahkan buku-buku filsuf  dan tidak mempertimbangkan deskripsi suasana. Karena basisnya sebagai jurnalis Sindhu tidak membawa filsafat di awang-awang. Filsafat selalu ditempatkannya  dalam konteks yang tepat. Buku Kambing Hitam: Teori Rene Girard terbitan Gramedia 2006 adalah contoh menarik. Sindhu membedah  pemikiran Rene Girard. Girard adalah intelelektual Perancis yang tersohor melalui bukunya: Sacred and Violence. Girard dari kaca mata antropologi melihat bahwa pada pembentukan masyarakat selalu terdapat kekerasan yang  membutuhkan suatu kambing hitam. Menurut Girard hal ini tertanam sangat arkaik dalam awal lahirnya komunitas-komunitas manusia. Teori Rene Girard ini oleh Sindhu kemudian digunakan untuk memahami bagaimana dalam sejarah sosial kita sering masyarakat Tionghoa diposisikan sebagai kambing hitam.

Romo Sindhu

Foto sampul buku Kambing Hitam: Teori Rene Girard terbitan Gramedia 2006

Bagi Sindhu terlihat menulis adalah sebuah panggilan spiritual. Menulis adalah pemihakan. Semua yang ditulis Sindhu adalah bukan jenis tulisan pesanan tapi jenis yang awalnya digerakkan karena hati dan nalar kritis tersentuh. Kaki-kaki pemikiran Romo Sindhu teguh ditopang dua hal: yaitu  pemikiran filsuf kritis dan khazanah wong-wong cilik Jawa. Dua sumber mata air  pemikiran Sindhu  ini secara tepat digambarkan oleh perupa dan aktivis Alit Ambhara dalam pameran di bentara Budaya Yogja. Alit menampilkan dua poster grafis. Satu poster menampilkan gambar wajah-wajah filsuf-filsuf barat yang sangat menpegaruhi Romo Sindhu. Antara lain: Descartes, Imanuel kant, Hegel, Sigmund freud, Karl Marx, Max Horkheimer, Walter Benjamin,  Jurgen Habermas, Theodor w Adorno dan lain-lain. Satu poster menampilkan wajah wong-wong cilik dan sahabat-sahabat seniman Jawa Romo Sindhu seperti: Marwoto, Kirun, Manteb Sudarsono, Mbah Gimun, Darman Gondo, Pak Gepuk, Marto Pangrawit, Mbah gati dan lain-lain. Kedua poster ini oleh Alit diberi judul : Sindhu Sekoel. Yang merupakan plesetan dari Sindhu School.  

Romo Sindhu

Dua poster grafis ‘Sindhu Sekoel’ karya Alit Ambhara

Dua hari sebelum pameran di Bentara dibuka, pada hari Minggu, 15 Mei di Omah Petroek, Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman lebih dahulu diadakan perayaan ulang tahun Romo Sindhunata. Sebuah perayaan yang hangat dan penuh suka cita. Lima buku terbaru Sindhu diluncurkan yaitu: Jalan Hati Yesuit, Anak-anak Ignatius, Kontemplasi dalam Aksi, Sisi Sepasang Sayap, dan Anak Bajang Mengayun Bulan – novel kelanjutan Anak Bajang Menggiring Angin yang pernah dimuat bersambung di Kompas. Sebuah buku The Secrets of Sindhunata karya Simon H Rae, penulis asal Selandia Baru juga diluncurkan. 

Foto sampul buku Jalan Hati Yesuit

Foto sampul buku Anak Bajang Mengayun Bulan  

Mulai para petinggi wartawan Kompas dari Jakarta, pejabat, seniman mantan-mantan aktivis maupun kalangan dunia perbukuan berdatangan ke padepokan milik Sindhunata tersebut. Terlihat misalnya Sukardi Rinakit, Susi Pudjiastuti,  Oscar Motulloh, Jay Subiyakto, Lio Kurniawan,  Joko Pinurbo, Joko Pekik, Nasirun, Bambang Herras, Nchik Kres, Candra Gautama, Irwan Firdaus  dan lain-lain. Acara juga menampilkan hiburan “liar” yang menampilkan  pementasan Yogya Hiphop Foundation – hip hop berbahasa Jawa dengan vokalis Marzuki aka Kill The DJ. Kill The DJ sendiri banyak mengolah lagu-lagu yang liriknya diambil dari serat-serat Jawa seperti Serat Centhini atau juga sajak-sajak Jawa Romo Sindhu. 

Susi Pudjiastuti bersama Romo Sindhunata dan tamu lainnya

Penampilan Kill The DJ dalam perayaan hut Romo Sindhunata

Dalam kesempatan itu Romo Sindhunata menceritakan bagamana ia pertama menjadi wartawan Kompas. Dan bagaimana ia melakukan wawancara dengan Pramaoedya di Pulau Buru. Bagaimana Pram menitipkan berkas-berkas tulisannya untuk diselundupkan ke luar. Begitu dia bisa membawa ke Jakarta, berkas-berkas milik Pram itu ia berikan kepada peneliti  Australia David Jenkins untuk diolah menjadi tulisan. Dari Pram, Anak Bajang, Theodor W Adorno, Max Horkheimer, Rene Girard, sampai sepak bola. Semua diolah Romo Sindhunata dalam lelaku Sangkan Paraning Dumadi dan kepekaan sosial yang berpihak. Sebuah lelaku humanisme transedental. Dari Batu, arek  Malang ini pernah tinggal di  Jakarta, Jerman dan kemudian bermukim di Yogja sampai kini.  Selamat ulang Tahun Romo Sindhu. Tahes (sehat) selalu!          

*Laporan Nagajurna

BWCF2022