Foto Tony Doludea

Resi Durna dan Masalah Ketidakadilan Moral

Oleh Tony Doludea*

Pada suatu pagi di mercapada, Durna hilir mudik di jalan hanya berbalut secarik kain sambil terus memanggil-manggil nama Bratasena. Drona mengungkapkan penyesalan mendalam atas perintah yang mencelakakan muridnya sendiri.

Beberapa waktu sebelumnya, Sengkuni nayaka praja Negara Astina, patih yang diutus Prabu Duryudana datang ke Padepokan Sokalima. Prabu Duryudana ingin tahu apakah Drona berpihak kepada Kurawa atau Pandawa. 

Drona terperangah mendengar itu, lalu minta waktu untuk merenung. Tidak lama kemudian, Drona menyatakan berpihak kepada Kurawa dan sanggup melaksanakan tugas. 

Maka Durna harus mengambil langkah-langkah tegas dan mendasar untuk melemahkan kekuatan Pandawa. Bratasena harus disirnakan dari muka bumi. Maka ia akan apus karma (menipu) Bratasena, sehingga putra kedua Pandudewanata itu akan menjemput ajalnya sendiri.

Padahal dalam lubuk hati, Drona sangat sayang kepada Pandawa. Namun, karena selama ini ia telah mendapat jabatan serta kemakmuran atas kebaikan hati Duryudana. Aswatama, anak tunggalnya itupun bahkan diangkat sebagai anggota keluarga Kurawa sehingga banyak mendapatkan kenikmatan. 

Namun Sengkuni menangkap gelagat penolakan Drona. Sengkuni langsung tegas, bila Drona tidak bersedia pasti akan dicopot dari jabatan, dipereteli fasilitasnya, dijatuhi hukuman bahkan dieksekusi. Sengkuni sempat membisiki Drona bahwa bonus sedang menanti. 

Tidak lama berselang Bratasena datang, kesatria Jodipati tersebut ingin mendalami ilmu sangkan paraning dumadi dari sang guru.

Drona menjelaskan bahwa untuk memperoleh ajaran itu, Bratasena harus memenuhi syarat. Yaitu mengambil perwita sari mahening suci. Air suci itu ada di Hutan Tikbrasara, di kaki Gunung Reksamuka. 

Tanpa banyak bicara, Bratasena mohon restu dan pamit untuk menggeledah hutan demi mendapatkan syarat tersebut. 

Betapa masgul hati Drona setelah Bratasena pergi. Ia tahu muridnya itu pasti mati. Hutan Tikbrasana merupakan neraka bagi semua makhluk. Siapa pun yang masuk ke alas tersebut akan sirna marga layu (mati). Drona menangis. 

Dalam dunia pewayangan, Resi Drona diceritakan sebagai orang yang berwatak tinggi hati, sombong, congkak, bengis dan banyak bicara. Tetapi sangat cakap, cerdik, pandai dan sakti, serta sangat mahir dalam berperang. Drona kemudian dipercaya menjadi guru anak-anak Pandawa dan Korawa. Ia mempunyai pusaka sakti yaitu keris Cundamanik dan panah Sangkali yang kemudian diberikan kepada Arjuna.

Resi Drona sering digambarkan bermata kriyipan (tajam licik), berhidung mungkal gerang, seperti batu asah yang sudah aus. Bermulut gusen, kelihatan gusinya. Berdagu mengerut dan berjenggot. Berkain bentuk rapekan pendeta dengan cindai dan berselop. Hanya tangan belakangnya yang bisa digerakkan. Tangan yang lainnya memegang tasbih. 

********

Moralitas itu menyangkut prinsip, norma, patokan serta penilaian, yang digunakan oleh suatu masyarakat tertentu sebagai dasar mengenai benar atau salah, serta baik atau buruk sikap, perilaku, karakter seorang manusia dalam menjalani kehidupan.

Moral terkait erat dengan tujuan hidup manusia, yaitu bukan hanya untuk mempertahankan dan melanjutkan hidup semata. Namun untuk mencapai hidup yang berhasil, baik, bernilai, bermakna dan bahagia.

Secara personal, moral merupakan kebijaksanaan, yaitu kesadaran dalam memperhatikan dan mengaharahkan diri ke hidup yang lebih bermutu. Kebijaksanaan ini kemudian menjadi suatu kebiasaan yang telah mendarah daging di dalam diri seseorang. Telah terbiasa untuk mengarahkan dirinya sendiri menuju kepada hidup yang penuh makna. 

Hidup bermoral adalah hidup seseorang yang menghadirkan ketenteraman dan rasa hormat pada komunitas dan masyarakat sekitarnya. Suatu kehidupan yang sungguh selaras dengan kodrat manusia sebagai bagian dari keselarasan alam semesta raya. Manusia yang dapat menjaga keselarasan tersebut dengan demikian menghadirkan keselamatan masyarakat.

Moralitas itu bagi Immanuel Kant (1724-1804) berkaitan dengan hal baik dan buruk. 

Namun bukan tentang yang baik begitu saja, tetapi baik yang mutlak. Kant mengandaikan kebaikan mutlak dan ini hanya ada dalam kehendak baik. Maksudnya, apabila seseorang berkendak baik dan kehendak baiknya itu tidak bersandar pada hal lain di luar dirinya, selain kehendak baiknya itu saja, maka ia baik. 

Bagi Kant kehendak baik itu adalah mau melakukan kewajiban. Seseorang berkehendak baik apabila ia menghendaki melakukan kewajibannya, di tengah segala macam dorongan dan tarikan indrawi dan alamiah. Maka ukuran moralitas seseorang bukan pada hasil perbuatannya. Karena hasil perbuatan baik itu, meskipun baik tidak dapat membuktikan adanya kehendak baik pada diri seseorang.

Kewajiban merupakan hal wajib, mutlak, tanpa syarat dan bersifat universal, yang tidak ditentukan oleh sesuatu pun yang empiris. Kewajiban ini oleh Kant disebut impreatif kategoris, Imperatif kategoris ini adalah keharusan begitu saja, niscaya dan tanpa kekecualian. Imperatif atau perintah ini mengharuskan orang untuk melakukan apa yang wajib, tanpa syarat dan mutlak.

Imperatif kategoris adalah perintah “Bertindaklah secara moral!” Kekhasan moralitas ini, yaitu tidak bergantung pada maksud atau tujuan baik atau suatu keadaan yang baik. Namun berlaku di mana saja, kapan saja dan dalam keadaan apapun juga. Perintah ini merupakan suatu keharusan yang objektif dan oleh sebab itu bersifat rasional.

Di sini Kant berusaha memastikan bahwa kehendak baik seseorang untuk melakukan kewajiban itu berdasarkan pada kebebasan, otonomi dan rasionalitas, yang memang merupakan ciri khas manusia. Karena menyadari kewajiban sebagai keharusan dan melakukannya itulah kehendak otonom. Maksudnya, manusia melalui rasio praktisnya menyadari imperatif kategoris untuk bertindak moral itu sebagai suatu kewajiban yang harus.  

Sesungguhnya Kant ingin mengatakan bahwa orang yang bermoral adalah ia yang bertindak sesuai dengan patokan hidup, yang berasal dari kehendak otonomnya sendiri. Ia memilih secara rasional apa yang diyakini sebagai yang sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawabnya. 

Dengan demikian Kant menyangkal bahwa moralitas manusia itu dibentuk dan ditentukan oleh hal-hal di luar dari imperatif kategoris tersebut, apakah itu keadaan personal, psikologis, budaya, sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Meskipun Kant tidak menolak kondisi-kondisi tersebut.

Lepas dari cara pembuktian yang sangat ruwet, tetap saja pandangan Kant ini langsung disambut dengan krtitikan tajam. Bahwa moralitas semacam itu tidak realistis, karena bersifat formal dan transendental. Meskipun Kant ingin sekali menekankan otonomi atau kebebasan sebagai nilai tertinggi dan syarat atau dasar moralitas bagi manusia. Maksudnya, Kant tidak dapat mengungkapkan tentang tindakan apa yang harus dilakukan secara nyata oleh seseorang, walaupun ia sudah memiliki kehendak baik itu. 

Kemudian Bernard Williams (1929-2003) dan Thomas Nagel masih ingin menggali persoalan penting dalam pandangan moral seperti itu. Yaitu, apakah penilaian, keputusan dan tindakan moral seseorang memang sedikit pun tidak dipengaruhi, dibentuk, dibangun bahkan ditentukan oleh hal yang berada di luar jangkauan kendali sadarnya, yang bersifat acak dan kebetulan saja (luck). Masalah ini dikenal dengan istilah Moral Luck.

Dengan kata lain, apakah otonomi dan kesadaran moral Kantian itu memang dapat ditemukan dalam diri seseorang atau itu hanya suatu pengandaian yang ilusif belaka.  Karena moralitas semacam itu menghantar orang untuk sampai pada kesimpulan bahwa tidaklah tepat jika menilai baik atau buruk tindakan seseorang berdasarkan pada hasil tindakannya, yaitu hal yang berada di luar jangkauan kendalinya. Karena tindakan moralnya itu bersumber hanya dari otonomi dan kesadarannya.

Nagel menilai bahwa masalah Moral Luck ini sebagai suatu paradoks antara apakah moralitas seseorang tidak dipengaruhi sama sekali oleh luck, dengan bahwa luck itu sungguh memainkan peran penting dalam menentukan dan menilai moralitas seseorang.

Nagel mengusulkan bahwa intuisi atau rasionalitas merupakan hal yang tepat dan menduduki tempat di jantung pemahaman moralitas. Namun ia juga menyetujui bahwa luck itu tidak dapat diabaikan sama sekali sebagai hal yang memberi pengaruh pada tindakan dan penilaian moral seseorang. Misalnya, seorang budak yang hanya mengikuti perintah tuannya, ia tidak memiliki kebebasan atau orang yang kehilangan pengetahuan dan kesadaran akibat penyakit (amnesia atau Alzheimer) atau kehilangan kebiasaan baik karena suatu peristiwa traumatis telah menghantamnya.

Thomas Nagel mengajukan taksonomi Moral Luck yang meliputi constitutive, circumstantial, causal dan resultant.

Constitutive Luck adalah kecenderungan, kapasitas, watak dan perangai bawaan yang tidak dapat dihindari. Sehingga ini dianggap terlepas dan di luar jangkauan kendali dari tindakan sadar seseorang. Misalnya iri, setiap orang memiliki rasa iri terhadap orang lain dan ini di luar jangkauan kendali sadarnya. Namun orang tetap dinilai atas perasaannya itu, bahkan apabila itu tidak terungkap dalam tindakan. Demikian juga dengan perasaan yang baik dan positif lainnya.

Constitutive Luck mempengaruhi keputusan yang diambil oleh seseorang untuk bertindak. Misalnya kemarahan, merupakan gabungan masalah genetis dan bagaimana cara ia telah dididik oleh orang tuanya. Tidakan seseorang dipengaruhi oleh banyak hal yang dimilikinya, yang berada di luar jangkauan kendali sadarnya.

Circumstantial Luck adalah berbagai macam masalah dan situasi yang dihadapi langsung oleh seseorang. Misalnya, seorang prajurit kamp konsentrasi di masa Nazi. Ia kemudian diadili berdasarkan tindakannya selama dalam situasi yang berada di luar jangkauan kendali sadarnya itu. Sementara seorang perwira, sebelum kamp konsentrasi dijalankan, lalu tugaskan ke luar negeri. Apakah orang ini harus bertanggung jawab sama seperti penjaga kamp kosentrasi itu atau ia harus dibebaskan?

Causal Luck adalah segala hal yang diakibatkan oleh tindakan seseorang sebelumnya. Tindakan yang dibuat berdasarkan pada watak bawaan (Constitutive Luck) dan keadaan (Circumstantial Luck) yang berada di luar jangkauan kendali sadarnya. 

Resultant Luck adalah akibat atau hasil dari tindakan seseorang. Maksudnya hasil atau akibat dan dampak serta konsekuensi dari tindakan seseorang itu berada di luar jangkauan kendali sadarnya, yang kemudian dinilai baik atau buruk.

Persolaan moral selama ini hanya membahas tentang apa yang telah dilakukan dan akibat dari tindakan seseorang itu, tanpa harus banyak mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi dan menentukan tindakannya yang berada di luar jangkauan kendali sadarnya.

Apakah ada perbedaan kedudukan moral seseorang dari tindakan yang disadari dan dikendalikan sepenuhnya dengan tindakan yang berada di luar jangkauan kendali dan kesadarannya?

**********

Drona menangis, meraung-raung. Ia menyesali perintahnya kepada murid yang sangat ia kasihi itu. Sesungguhnya hatinya tidak ingin seperti itu. Ia merasa telah menjerumuskan muridnya. 

Bahkan untuk menebus kesalahannya, Drona berusaha gantung diri. Namun apa daya, upaya itu gagal karena tali untuk menjerat lehernya itu kepanjangan. Kemudian panik hilir mudik melantur sepanjang jalan tanpa mengenakan busana. Ia merasa telah berbuat sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya sebagai guru.

Bhagawan Drona waktu muda bernama Bambang Kumbayana, putra Resi Baratmadya dari Hargajembangan, dengan Dewi Kumbini. Ia mempunyai saudara bernama Arya Kumbayaka dan Dewi Kumbayani. 

Diceritakan bahwa ketika dalam perjalanannya mencari Sucitra, ia tidak dapat menyeberang sungai. Lalu ditolong oleh seekor kuda terbang jelmaan Dewi Wilutama, yang dikutuk oleh dewa. Kutukan itu akan berakhir apabila ada seorang yang mencintainya dengan tulus. Karena pertolongannya, maka Kumbayana menepati janjinya untuk mencintai kuda betina itu. 

Namun karena terbawa nafsu, Kumbayana bersetubuh dengan kuda Wilutama hingga mengandung. Kemudian lahirlah Bambang Aswatama, seorang putra berwajah tampan tetapi mempunyai kaki seperti kuda.

Kemudian Kumbayana tiba di Pancala. Saat itu Sucitra adalah raja negara Pancala dengan nama Drupada. Saat bersama-sama menjadi murid Resi Baratwadya, mereka berdua sangat akrab, makan sepiring dan minum semangkuk berdua. Sampai-sampai, ketika Sucitra akan pulang ke negerinya, ia sempat berjanji akan memberikan sebagian tanah negara kepada Drona. 

Namun saat Drona masuk kraton dan menyapa sahabatnya itu dengan kerinduan dan memaksakan kehendaknya untuk memeluknya. Drupada justru menyambutnya dengan raut muka dingin, muram dan tiada keakraban. 

Drona terperangah tidak menyangka akan disambut dengan sikap dan kata-kata yang menyakitkan. Drupada menuduh Drona sengaja mempermalukan dirinya dengan mengaku sebagai sahabat karibnya di hadapan para pungawanya.

Patih Gandamanah, pengawal raja itupun naik pitam. Tanpa menunggu perintah diseretnya pendeta muda itu keluar Kraton. Ia dihajar habis-habisan hingga tak sadar lalu dibuang ke hutan belantara.

Drona sadar terbangun hanya berdua dengan anaknya yang masih kecil. Anaknya itu tengah kelaparan. Perih sekali tubuhnya. Kakinya terasa sakit dan sulit digerakkan. Perutnya terasa tidak enak dan lapar sekali.

Namun, rasa sakit di sekujur tubuhnya tidak sesakit rasa ngilu hatinya. Sakit sekali karena telah terluka, dilukai oleh saudaranya sendiri. Drona benar-benar merasa terlecehkan, terhina dan ternistakan. Kebencian dan rasa dendam terhadap Drupada menyusup sampai ke tulang sumsum.

Sembari menangis sepanjang jalan, Aswatama yang biasa diigendongnya, berusaha menuntunnya. Anaknya yang masih sedemikian kecil itu telah mengerti arti mencintai orang tua. Di sepanjang jalan mereka tidak berjumpa orang. Orang-orang menyingkir ketakutan, karena menganggap mereka penjahat yang sedang di hukum raja. 

Dalam kesakitan luar-dalam seperi itu, ia berjalan siang malam. Drona berjalan menggendong semua dendam, menyusuri jalan penderitaan, memilih tempat terpencil jauh dari keramaian.  

Tiba di sebuah sendang, Aswatama membantu ayahnya itu membersihkan darah disekujur tubuhnya yang sudah mengering. Wajah Drona rusak, hidungnya bengkok, matanya buta sebelah, tangan kanannya remuk akibat plintiran. Penganiayaan itu membekaskan cacat di raga Drona. 

Aswatama memandangnya penuh kesedihan. Ia tidak menangis lagi, air matanya telah kering.  Hatinya hancur. Drona merasa lebih menderita melihat penderitaan anak satu-satunya harapan hidupnya.

Namun Drona tidak mati. Hingga kemudian tiba di negara Astinapura dan ditolong oleh Sangkuni. Nasibnya terselamatkan oleh ilmunya yang tinggi, dan diterima serta dipercaya oleh Bhagawan Bisma sebagai guru besar ilmu peperangan, mendidik anak-anak keturunan Sentanu. 

Sebagai guru Kurawa dan Pandawa, Drona berlaku adil, semua dilatih dengan ilmu yang sama. Sehingga kemampuan mereka setara, terutama dalam kepandaian memanah. Dalam hati memang Drona mencintai Pandawa, tetapi hidupnya berada dalam jaminan para Kurawa. 

Dalam perang Bharatayuddha, setelah gugurnya Bisma, Resi Drona diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa. Ia sangat mahir dalam siasat perang dan selalu tepat menentukan formasi perang. 

Resi Drona gugur di medan pertempuran oleh tebasan pedang Drestadyumna, putra Prabu Drupada. Kematian Resi Drona itu diakibatkan oleh dendam Prabu Ekalaya, raja negara Parangggelung, yang arwahnya merasuki tubuh Drestadyumena. Namun juga karena taktik perang Pandawa sebagai muslihat untuk menghadapi kesaktian dan kedigjayaan sang resi.

*********

Orang banyak menyebutnya Pandhita Dorna. Sebagian memanggilnya Durna. Tapi sesungguhnya ia adalah Resi Drona. Seorang sakti, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya mengajarkan semua ilmu yang perolehnya. Baik itu ilmu baik maupun ilmu jahat.

Tapi Drona adalah guru sejati, ia mengajarkan banyak ilmu, dari ilmu ksatria, ilmu suci, menelisik rahasia alam, sampai ilmu kelam milik para penjahat.

Waktu mudanya, Bambang Kumbayana memberontak karena kehidupan tidak berpihak padanya dan tidak memberinya harapan. Ia terkungkung oleh ganasnya alam Atasangin. Ia terusir oleh kesombongannya. Ia tertipu oleh nafsunya sendiri. Ia terbelenggu oleh tanggung jawab cinta kepada sang anak. Ia dikhianati oleh sahabatnya. Ia terpenjara oleh nikmatnya kehidupan istana Astina. Ia merasa bersalah kepada murid Ekalaya, yang bukan muridnya. Ia kecewa atas dirinya.

Tapi Drona adalah seorang bijak yang mau berbagi dan mengajarkan segala kemarahan, kekecewaan dan semua kekeliruannya.

Empat peristiwa penting yang telah mengubah diri Drona. Saat diusir oleh ayahnya sendiri dari tempat kelahirannya. Saat tahu bahwa ia telah menanamkan benih yang membuatnya harus belajar mencintai seorang anak. Saat dikhianati oleh sahabatnya. Dan saat menyadari bahwa anaknya yang menjadi semangat hidupnya selama ini, memilih berpihak pada Kurawa.

Tapi Drona adalah seorang bijak yang mau berbagi dan mengajarkan segala perubahan-perubahan dalam dirinya.

Bima mungkin tidak pernah tahu bahwa ilmu sejati yang dimilikinya itu adalah juga buah dari kerasnya Drona mendidik dan membiarkannya ditempa segala rupa kepedihan dan penderitaan. Sama halnya yang terjadi dengan Arjuna, yang bisa jadi tidak pernah tahu, bagaimana ia dapat menimba ilmu pada belasan resi dan memiliki belasan pusaka, adalah juga buah dari petunjuk dan segala ‘tipu muslihat’ Drona.

Dan dari segala apa yang telah dilakukannya itu, Drona membiarkan orang menghujat dirinya dan bahkan tidak sempat memahaminya.

Moralitas ternyata tidak sesederhana pandangan Kant yang ruwet, kering dan gawang itu. Namun juga, jauh lebih rumit dari taksonomi Motal Luck yang diajukan oleh Thomas Nagel. Meski apabila keduanya pun digabungkan secara paradoksal. 

Moralitas ternyata mengandung ketidakadilan. Karena berbicara moralitas itu selalu menyisakan bertumpuk kesalahpahaman di masing-masing pihak. Meskipun ini tidak berarti bahwa seseorang secara moral tidak dapat diandalkan dan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. Namun ia sendiri harus tetap berpegang kokoh pada kebaikan dan keadilan, dan dituntut untuk menghormati dan bersikap adil kepada sesamanya, Walau semuanya ini nampaknya tidak mungkin.

Resi Drona menjalani hidup dengan tekun dan tegar. Hidup yang penuh warna bijak, cerdik, ngemong, kebapakan, kekeliruan, kekecewaan, congkak, benci, dendam, amarah dan kebengisan. Dan disalahpahami serta dihujat. Apakah refleksi dan renungan moral itu boleh berjalan sampai dan menyentuh misteri kehidupan, seperti Resi Drona ini? 

Yang menyadarkan batapa kecilnya manusia itu, bahwa ia tidak dapat mengendalikan dengan sadar dan secara bebas segala hal, bahkan gerak-gerik desiran hatinya sendiri. Bahwa manusia itu memang berdiri sendiri, namun tidak dapat dilepaskan sama sekali dari keselarasan rajutan rumit semesta alam raya, yang tidak dapat ia kendalikan. Apalagi hanya sekelumit pembentukan dan penilaian serta pertanggungjawaban tindakan moralnya sendiri. 

 

*Penulis adalah Peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia.

——————

Kepustakaan

Amrih, Pitoyo. Resi Durna, Sang Guru Sejati. Diva Press, Yogyakarta, 2010.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Kanisius, Yogyakarta, 1980.
Hartman. Robert J. In Defense of Moral Luck. Routledge, New York, 2017.
Kant, Immanuel. Groundwork of the Metaphysics of Morals. Cambridge University Press, Cambridge, 2012.
Statman, Daniel. Moral Luck. State University of New York Press, Albany, 1993.
Suseno, Franz Magnis. 13 Tokoh Etika. Kanisius, Yogyakarta, 2007.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *