Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

TUBUHKU MASIH MEMBUKA KITAB

Tubuhku kini adalah kitab

yang kubuka dengan napas.

 

Halaman pertama tidak bertuliskan apa-apa.

 

Hanya dada yang bergerak,

seperti pintu yang masih mengenali

tangan yang mengetuknya.

 

Sesuatu datang,

lalu pergi,

tanpa pernah mengucapkan namanya.

 

Darah berjalan di bawah kulit.

Ke mana?

Ia tidak tahu.

 

Atau mungkin akulah

yang terlalu lama mengira

bahwa aku tahu ke mana tubuhku pergi.

 

Dulu aku membawa tubuhku

dari pagi ke malam,

dari rumah ke jalan,

dari satu hari

ke hari berikutnya.

 

Sekarang tubuh membawaku

ke suatu tempat

yang tidak ada di dalam peta.

 

Tempat itu tidak jauh.

Ia berada di antara

satu tarikan napas

dan napas berikutnya.

 

Di sana

malam-malam panjang,

pagi yang tergesa,

makanan yang berlebihan,

lelah yang selalu kutunda

duduk bersama

seperti orang-orang

yang pernah saling mengenal

tetapi lupa nama masing-masing.

 

Ada rindu

yang kehilangan wajah.

 

Ada nama

yang lebih tua daripada suara

yang pernah memanggilnya.

 

Ada doa

yang tidak naik ke langit.

 

Ia tinggal di dada,

seperti benih

yang menunggu musim

yang tidak dijanjikan.

 

Apakah ini derita atau rahmat?

Aku bertanya kepada tubuh.

 

Tubuh tidak menjawab.

Pertanyaan itu tidak membuka jawaban.

 

Ia membuka aku,

seperti tanah membuka dirinya

kepada hujan

tanpa bertanya

siapa yang akan memetik hasilnya.

 

Sebelum tidur

aku mendengar jantung.

Ketukan. Jeda. Ketukan.

 

Di antara dua ketukan

aku tidak tahu

apakah waktu sedang berjalan

atau sedang menunggu

agar aku menyadari

bahwa aku berada di dalamnya.

 

Di dapur aku menuang air dari teko

Kuminum perlahan.

Sesaat air bukan lagi air.

 

Ia menjadi waktu

yang melewati tubuh

seperti seseorang

melewati sebuah rumah

tanpa mengambil apa pun.

 

Tetapi tubuh mengingat.

Tubuh tidak memiliki arsip

selain bekas yang dibawanya.

 

Tak semua halaman

ingin menjadi tulisan.

 

Sebagian menjadi darah.

Sebagian menjadi napas.

Sebagian menjadi ruang kosong

di antara dua kata

yang tak sempat diucapkan.

 

Pagi datang.

 

Bukan dari luar.

Ia tumbuh

di mata yang baru terbuka.

 

Keran. Piring.

Pintu. Langkah.

 

Dunia kembali

kepada benda-benda kecilnya,

seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Aku menyentuh dada.

Ketukan itu masih ada.

Siapa yang mengetuk?

Aku?

Waktu?

 

Atau sesuatu

yang menggunakan tubuhku

untuk mengingatkan

bahwa hidup tidak pernah

sepenuhnya menjadi milikku?

 

Aku tidak menjawab.

Aku mendengar.

 

Dan untuk pertama kalinya

aku merasa

tubuh bukan rumahku.

 

Ia adalah tanah

yang sementara dipercayakan

kepadaku.

 

Di dalamnya

hari-hari datang dan pergi,

seperti burung

yang tidak pernah membawa

alamat pulang.

 

Hari masuk

melalui pintu-pintu kecil:

napas, darah,

detak, rasa sakit,

dan secangkir air

yang diminum perlahan.

 

Aku menjalani semuanya

tanpa tahu

siapa yang menitipkan

hari ini kepadaku.

 

Mungkin amanah

bukan benda

yang dapat digenggam.

 

Mungkin ia adalah waktu

yang melewati tubuh

dan meminta

agar kita tidak berkata:

ini milikku.

 

Sebab apa yang kita sebut tubuh

akan kembali kepada tanah.

 

Apa yang kita sebut waktu

akan kembali kepada Yang Memilikinya.

 

Dan apa yang kita sebut hidup

mungkin hanyalah

sebuah halaman

yang dibuka sebentar

di antara dua keheningan.

 

Tubuhku masih membuka kitab.

 

Satu halaman

menjadi napas.

 

Satu napas

menjadi hari.

 

Dan hari,

sebelum sempat kuberi nama,

sudah berjalan meninggalkanku.

 

Aku memanggilnya.

 

Ia tidak menoleh.

Mungkin karena sejak awal

hari tidak pernah pergi.

 

Akulah

yang sedang menuju

ke tempat

dari mana semua hari

dikembalikan.

 

2025, 2026

 

WAKTU KECIL TANPA JAM

 

Detak itu hilang.

Bukan dari jantung,

tetapi dari telinga

yang terlalu lama

mengira tubuhnya sendiri

dapat didengar.

 

Aku mencarinya

di antara napas.

 

Yang kutemukan

bukan suara, tetapi jarak

antara datang dan pergi.

 

Jantung terus bekerja.

Di dalam dada

sebuah waktu kecil

bergerak tanpa jam.

 

Darah berjalan di bawah kulit,

membawa hari-hari

yang tidak pernah sempat

kucatat.

 

Aku bertanya:

ke mana pergi sesuatu

ketika ia tidak lagi terdengar?

Malam tidak menjawab.

 

Jam di dinding tetap bergerak.

Gelas di atas meja tetap bening.

 

Lampu tetap menyala

di atas benda-benda

yang tidak tahu

bahwa aku sedang mencari

sesuatu yang hilang.

 

Aku mengambil segelas air.

Meminumnya.

Sesaat air menjadi waktu:

dingin, singkat,

lalu lenyap di dalam tubuh.

 

Aku menunggu.

Tidak ada apa-apa.

Lalu sebuah ketukan

muncul dari dalam dada.

 

Bukan jawaban. Hanya tanda

bahwa sesuatu masih berlangsung.

 

Aku menyentuh dada.

Ada ketukan. Lalu ruang.

 

Aku mulai mengerti

bahwa hidup mungkin bukan

apa yang terdengar,

tetapi apa yang terjadi

di antara dua bunyi.

 

Dulu aku bertanya

kepada langit, kepada angin.

Kemudian kepada bulan.

 

Tetapi pagi selalu datang

tanpa membawa jawaban.

 

Keran menetes. Pintu terbuka.

Kursi tetap di tempatnya.

 

Cahaya berpindah

perlahan di lantai.

 

Dunia tidak berhenti

hanya karena satu detak

tersesat dari pendengaran.

 

Aku berjalan ke jendela.

 

Di luar,

seorang lelaki menyeberang jalan.

Sebuah sepeda lewat.

Daun bergerak.

 

Hari terus berlangsung

tanpa meminta, aku memahaminya.

 

Mungkin itulah waktu:

sesuatu yang selalu dekat,

tetapi tidak pernah dapat kita pegang.

 

Aku kembali ke kamar.

Duduk. Mendengar.

Napas masuk. Napas keluar.

Tubuh menerima keduanya

tanpa bertanya

dari mana datangnya

dan ke mana perginya.

 

Detak yang tersesat

mungkin bukan detak.

Mungkin aku yang terlalu sibuk

memberi nama kepada setiap kehilangan.

 

Cinta. Rindu.

Kesepian. Kehilangan.

Sementara tubuh

tidak mengenal nama-nama itu.

 

Ia hanya menjalankan

apa yang harus dijalankannya:

bernapas, berdarah, berdetak,

dan menunggu.

 

Malam semakin dalam.

Aku tidak lagi mencari.

 

Aku mendengar jam di dinding.

Satu bunyi.

Kemudian bunyi berikutnya.

 

Di antaranya

ada aku,

berdiri sebentar di dalam waktu

yang tidak pernah berhenti

untuk mengenalku.

 

Dan ketika detak itu kembali,

aku tidak tahu

apakah ia benar-benar kembali

atau aku yang akhirnya

belajar mendengarnya.

 

Aku menyentuh dada.

Tidak ada jawaban.

 

Hanya hidup

yang masih berlangsung.

 

2025, 2026

 

AKU HANYA MENDENGARKAN

 

Tubuh ini tiba-tiba diam.

 

Aku memanggilnya

ketika bangun pagi.

 

Tidak ada jawaban.

Hanya kaki

yang bergerak lebih lambat

menuju kamar mandi.

 

Keran kubuka.

Air jatuh ke telapak tangan.

Aku membasuh wajah.

 

Cermin di depanku

mengembalikan seorang lelaki

yang masih kukenal,

meski pagi itu

wajahnya seperti datang

dari tempat yang jauh.

 

Aku menyentuh dada. Menunggu.

Tidak ada tanda yang dapat kubaca.

 

Dulu kukira tubuh

selalu memberi tahu

apa yang terjadi:

lapar, lelah, haus, gembira.

 

Sekarang sebuah nyeri

datang tanpa mengetuk.

Ia tinggal di suatu tempat

yang tidak dapat kutunjuk.

 

Aku berjalan, ke meja makan.

Piring ada di sana.

Segelas air. Kursi.

Semua benda

tetap pada tempatnya.

 

Hanya tubuhku yang tiba-tiba

seperti kehilangan

cara untuk menjelaskan dirinya.

 

Aku duduk.

Memandang tangan sendiri.

 

Tangan ini

telah membuka pintu,

menulis, mengangkat gelas,

menyentuh wajah,

menyalami banyak orang.

 

Hari-hari berjalan

melalui tangan ini

tanpa pernah kuhitung.

 

Kini aku bertanya:

berapa lama sebuah tubuh

dapat diajak menanggung hidup?

Tidak ada yang menjawab.

 

Jam dinding terus bergerak.

Aku mendengar bunyi jarumnya

menyusuri waktu. Tik. Tik. Tik.

Tubuhku diam. Jam tidak.

 

Aku berzikir.

Bukan untuk memaksa sakit pergi.

Aku hanya ingin duduk sebentar

bersama tubuhku sendiri.

 

Satu tarikan napas. Satu pelepasan.

Lalu napas berikutnya.

 

Di antara keduanya

ada ruang kecil

yang selama ini

tidak pernah kuperhatikan.

 

Aku tinggal di sana

beberapa saat.

 

Keran masih menetes

di kamar mandi.

 

Pintu masih terbuka.

 

Cahaya pagi

bergerak di lantai.

 

Tidak ada sesuatu yang berubah di luar.

Tetapi tubuh telah mengubah

cara aku melihat benda-benda itu.

 

Aku mulai memperhatikan

betapa sederhana, hidup bekerja:

 

air masuk ke mulut,

udara masuk ke paru-paru,

darah bergerak,

jantung berdetak.

 

Semua berlangsung

tanpa perintahku.

 

Aku hanya ikut

di dalamnya.

 

Mungkin selama ini aku terlalu sibuk

menggunakan tubuh

untuk mencapai apa yang kuinginkan.

 

Aku lupa

bahwa tubuh bukan mesin

yang harus selalu patuh.

 

Ia mempunyai diamnya sendiri.

Ia mempunyai batasnya sendiri.

 

Dan ketika ia berhenti bicara,

barangkali yang perlu kulakukan

bukan mencari suara

di tempat yang jauh.

 

Aku cukup duduk. Mendengar napas.

Mendengar detak. Mendengar jam.

 

Di luar jendela

seorang anak berlari.

Seseorang menyapu halaman.

Motor lewat.

 

Pagi terus bergerak.

Tubuhku masih diam.

 

Namun di dalam diam itu

aku mulai mendengar

sesuatu yang sederhana: aku hidup.

Bukan sebagai rencana.

Bukan sebagai pekerjaan.

Bukan sebagai nama.

 

Hanya sebagai napas

yang datang, dan pergi

tanpa pernah meminta

izin kepadaku.

 

Aku menutup mata.

Berzikir sekali lagi.

Lalu membuka mata.

Cermin masih di sana.

 

Wajahku masih di sana.

Tubuhku masih diam.

Untuk pertama kalinya

aku tidak meminta ia berbicara.

 

Aku hanya mendengarkan.

 

2025, 2026

*Abdul Wachid.B.S. Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.