Ketika “Sikilku Iso Muni” Mengingatkan Kita pada Hilangnya Lagu Anak
Oleh Mukhlis Anton Nugroho*
Ada satu hal yang terasa menempel setelah menonton Na Willa: bunyi. Bukan semata bunyi kereta, bukan pula bunyi kota kecil yang jadi latar kisah itu, melainkan bunyi langkah Dul setelah hidupnya berubah. Dari situ lalu lahir lagu Sikilku Iso Muni, sebuah lagu yang, bagi saya, sangat penting bukan hanya untuk film itu sendiri, tetapi juga untuk percakapan yang lebih besar tentang dunia anak-anak Indonesia hari ini. Yang membuat lagu ini menarik justru konteks kemunculannya. Ia lahir dari peristiwa yang pahit. Dul kehilangan kaki setelah tertabrak kereta. Secara konvensional, adegan seperti itu biasanya akan dibungkus dengan musik yang muram, lambat, dan mengajak penonton tenggelam dalam belas kasihan. Namun Na Willa mengambil jalan lain. Lagu yang muncul justru terasa ringan, lincah, bahkan sedikit jenaka. Film ini seperti sengaja menggeser cara kita merasakan tragedi, dari rasa iba menuju rasa hormat pada daya tahan seorang anak.
Pilihan semacam ini tidak sederhana. Ia menunjukkan bahwa musik dalam film bukan sekadar tempelan suasana. Dalam kajian film, Claudia Gorbman pernah menjelaskan bahwa musik bekerja sebagai penuntun emosi penonton, bahkan sering kali membantu kita memahami makna sebuah adegan jauh lebih dalam daripada dialog. Dalam kasus Sikilku Iso Muni, lagu itu bukan hadir untuk menutupi luka Dul, melainkan untuk mengubah cara luka itu dibaca. Kehilangan tidak dibunyikan sebagai akhir. Ia dibunyikan sebagai awal dari cara baru untuk menjalani hidup.
Musik yang Mengubah Luka
Di situlah letak kekuatan adegan tersebut. Film ini memakai ironi musikal dengan sangat cerdas. Yang tragis dibunyikan secara ceria. Yang menyakitkan justru dinyanyikan dengan irama yang bergerak. Pilihan itu bukan berarti film menyepelekan trauma. Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa anak-anak sering memiliki cara yang berbeda untuk mengolah pengalaman pahit. Mereka tidak selalu berbicara tentang luka dengan bahasa yang berat. Kadang mereka mengubahnya menjadi permainan, bunyi, atau nyanyian.
Kalau memakai kacamata Vygotsky, hal ini terasa masuk akal. Bagi Vygotsky, dunia anak adalah dunia yang sangat kuat ditopang oleh permainan dan imajinasi. Dalam permainan, anak bukan sedang lari dari kenyataan, tetapi sedang belajar menata kenyataan agar bisa dipahami dan dijalani. Dengan begitu, Sikilku Iso Muni bukan hanya lagu yang enak didengar, melainkan cara seorang anak menegosiasikan perubahan besar dalam hidupnya. Dul tidak berkoar-koar tentang nasib. Ia tidak berpidato tentang kehilangan. Ia menemukan bunyi pada kaki palsunya, lalu dari bunyi itu lahirlah irama, dan dari irama lahirlah keberanian.
Yang lebih penting lagi, film ini tidak menjadikan Dul semata-mata objek rasa kasihan. Ini penting, sebab banyak karya tentang disabilitas sering jatuh ke dua lubang yang sama, yaitu terlalu mengasihani atau terlalu mengagungkan. Na Willa tampaknya berusaha menghindari keduanya. Dul tetap hadir sebagai anak kecil dengan humor, rasa malu, semangat bermain, dan relasinya sendiri dengan sahabatnya. Ia bukan simbol penderitaan, tetapi manusia kecil yang sedang beradaptasi. Kalau meminjam Stuart Hall, representasi seperti ini penting karena media selalu membentuk cara kita memandang seseorang. Ketika film memilih menghadirkan Dul sebagai subjek yang tetap utuh, penonton pun didorong untuk melihatnya dengan empati, bukan iba.
Di sini, musik memainkan fungsi yang sangat besar. Lagu itu seperti menjembatani tubuh yang terluka dengan dunia yang masih harus dijalani. Bunyi kaki palsu yang mungkin semula terasa janggal, berubah menjadi bagian dari identitas baru. Yang sebelumnya dapat dibaca sebagai kekurangan, diubah menjadi sumber ritme. Dan justru karena itu, emosi penonton bekerja lebih dalam. Penonton tidak hanya diajak sedih, tetapi juga diajak mengerti bahwa daya hidup kadang lahir dari kemampuan manusia mengubah luka menjadi bunyi yang bisa ditanggung.
Ketika Lagu Anak Kehilangan Rumah
Namun, bagi saya, arti terpenting dari Sikilku Iso Muni justru terletak di luar filmnya. Lagu ini terasa seperti pengingat atas satu ruang kosong yang lama dibiarkan menganga dalam budaya populer kita, yaitu ruang bagi lagu anak yang sungguh berbicara dari dunia anak. Sudah cukup lama kita merasakan krisis lagu anak di Indonesia. Anak-anak memang masih bernyanyi, tetapi semakin jarang mereka bernyanyi dari pengalaman mereka sendiri. Yang sering terdengar justru lagu-lagu dewasa yang dipindahkan begitu saja ke telinga anak, seperti lagu tentang putus cinta, pengkhianatan, kecurigaan, atau asmara yang terlalu dini. Anak-anak hafal melodinya, tetapi tidak memiliki dunianya. Mereka bisa menyanyikan kata-katanya, tetapi tidak sungguh hidup di dalam maknanya.
Inilah ironi kita hari ini. Yang hilang bukan suara anak, melainkan rumah bagi suara itu. Dulu kita pernah mengenal ekosistem lagu anak yang cukup sehat. Ada lagu-lagu yang sederhana, lagu dolanan yang akrab dan dekat dengan pengalaman sehari-hari, tetapi juga punya mutu musikal. Anak-anak menyanyi tentang alam, tubuh, keluarga, permainan, sekolah, rasa ingin tahu, bahkan rasa takut dengan bahasa yang sesuai dengan tinggi tubuh mereka. Sekarang, ruang itu menyusut. Industri hiburan kita tampak lebih sibuk mengejar viralitas ketimbang membangun imajinasi masa kanak-kanak.
Karena itu, Sikilku Iso Muni terasa penting. Lagu ini menunjukkan bahwa lagu anak tidak harus selalu didaktis, kaku, dan berisi nasihat yang terlalu lurus. Lagu anak juga tidak harus steril dari pengalaman pahit. Justru di situ letak kekuatannya; ia bisa berbicara tentang kehilangan, tubuh yang berubah, dan luka, tetapi tetap memakai sudut pandang anak. Ia tidak menggurui dari atas. Ia menemani dari dekat. Ini pelajaran yang patut dicatat oleh para pembuat musik, film, dan konten anak di Indonesia. Dunia anak bukan dunia yang dangkal. Anak-anak juga mengenal takut, bingung, malu, kehilangan, bahkan duka. Bedanya, mereka mengolah semua itu dengan bahasa yang berbeda dari orang dewasa. Maka, karya untuk mereka pun tidak bisa ditulis dengan cara malas. Ia harus lahir dari kesediaan mendengar cara mereka memandang dunia.
Di situlah Na Willa memberi harapan kecil. Film ini mengingatkan bahwa jika dunia anak dihormati, maka musik yang lahir darinya juga bisa bermartabat. Sikilku Iso Muni bukan hanya soundtrack yang enak didengar. Ia adalah tanda bahwa lagu anak Indonesia sebenarnya belum mati. Ia hanya terlalu lama ditinggalkan. Dan mungkin, dari bunyi langkah Dul yang terdengar ganjil tetapi jujur itu, kita diingatkan lagi pada sesuatu yang sederhana; masa kanak-kanak seharusnya punya suara sendiri. Bukan suara orang dewasa yang diperkecil, bukan emosi pasar yang dibungkus lucu, melainkan suara yang sungguh lahir dari pengalaman anak. Suara yang bisa tertawa di tengah luka. Suara yang bisa mengubah kehilangan menjadi irama. Suara yang, kalau mau kita rawat lagi, mungkin akan membantu anak-anak Indonesia tumbuh dengan dunia batin yang lebih sehat.
*Mukhlis Anton Nugroho. Mahasiswa Program Doktoral Pengkajian Seni Musik, Institut Seni Indonesia Surakarta.





