Dari Bung Karno ke Megawati : Kisah Ayah dan Anak Penyiar

Oleh: leh Kim Young Soo*

Saya, Kim Young Soo, telah berkarier di dunia penyiaran selama kurang lebih tiga puluh tahun. Selama periode tersebut, saya bertugas sebagai Chief Producer (CP) di KBS (Korean Broadcasting System), satu-satunya badan penyiaran nasional Korea Selatan. Tanggung jawab saya adalah memproduksi program serta mengelola dan mengontrol seluruh siaran berbahasa asing untuk wilayah Asia Tenggara, termasuk siaran internasional bahasa Vietnam dan Indonesia. Karena terlibat langsung dalam produksi siaran bahasa Indonesia, suara saya mengudara setiap hari menyapa pendengar di Asia Tenggara—khususnya Indonesia—melalui gelombang pendek KBS Radio, internet, serta jaringan radio FM lokal.

Bak ungkapan, ‘baik salju maupun hujan yang turun, tiga ratus enam puluh lima hari sepanjang tahun tanpa menghiraukan kondisi apa pun’, suara saya selalu hadir menyapa para pendengar setiap hari. Tepat waktu dan tanpa sedetik pun terlambat, suara itu mengudara melalui frekuensi yang telah dijadwalkan. Lewat siaran ini, saya berkomitmen penuh untuk menyampaikan potret nyata mengenai masyarakat dan dinamika Korea Selatan saat ini secara akurat. Di sisi lain, saya juga terlibat dalam persaingan global yang sengit melawan badan penyiaran raksasa dari negara lain dalam ‘perang frekuensi yang tak kasat mata’. Ini adalah pertempuran di mana kekuatan daya pancar menentukan penguasaan ruang siar demi melindungi kepentingan nasional masing-masing. Oleh karena itu, selama tiga dekade berkarier di dunia penyiaran, saya mencurahkan seluruh daya upaya bertindak sebagai garda terdepan dalam menjaga dan mengutamakan kepentingan nasional Korea Selatan.

Perjalanan panjang di dunia penyiaran menorehkan begitu banyak kisah berharga dalam hidup saya. Sebagian besar mungkin telah terlupakan, namun ada satu kenangan yang tetap hidup dan terasa begitu dekat. Kisah itu bertaut erat dengan ayah angkat saya, almarhum Bapak Sudjarwo bin Kastaredja (1925–2013)—sebuah hubungan indah yang lahir dari kesamaan dunia kami, dunia penyiaran. Saya masih ingat betul ketika tinggal di rumah beliau di Jalan Antene 4, Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, selama tiga bulan pada awal 1980-an. Pak Sudjarwo adalah sosok senior angkatan pertama yang meletakkan fondasi penyiaran di tanah air, sekaligus menjabat sebagai Kepala Bagian Pemberitaan pertama di RRI (Radio Republik Indonesia). Pria kelahiran Surabaya yang besar di Gombong  ini memiliki keluarga yang hangat, mengayomi seorang istri, enam putri, dan seorang putra.

Selama menginap di rumah beliau, saya mulai mengikuti latihan penyiaran di RRI. Di antara anak-anak Pak Sudjarwo, saya adalah yang tertua. Hal itu secara otomatis membuat saya bertindak dan merasa seperti anak sulung di rumah tersebut. Setiap kali saya hendak bepergian, beliau selalu bertanya dengan sangat detail; mulai dari siapa yang akan saya temui, jam berapa saya akan pulang, hingga apa yang akan saya makan siang nanti. Lambat laun, saya pun mulai mendampingi Pak Sudjarwo menghadiri berbagai upacara dan acara keluarga besar beliau. Melalui momen-momen itulah, saya mendapatkan pengalaman berharga tentang tradisi hidup masyarakat Indonesia, khususnya suku Jawa, seperti prosesi khitanan, pernikahan, pemakaman, hingga selamatan.

Hampir setiap malam, ayah angkat saya mengajarkan aksara Jawa (Hanacaraka), falsafah nilai (aksiologi) suku Jawa, agama Islam, hingga sejarah besar Indonesia seperti kerajaan Mataram, Sriwijaya, dan Sailendra. Kami juga kerap berbincang mengenai masa depan bangsa dan negara Indonesia. Saya dan beliau sering berdiskusi semalam suntuk, mengupas berbagai hal secara mendalam dan luas. Di antara seluruh orang Indonesia yang pernah saya temui hingga hari ini, saya belum pernah menjumpai sosok yang memiliki wawasan seluas ayah angkat saya—baik tentang Indonesia, berbagai bidang keilmuan, maupun urusan dunia. Kala itu, puisi karya beliau bahkan sempat dikirimkan kepada ayah saya di Korea Selatan untuk digubah menjadi sebuah lagu. Sayang sekali, lembaran not baloknya kini telah hilang, namun saya masih ingat betul judul puisi tersebut, yaitu ‘Pantai Sanur’.

Kenangan menggelitik yang masih saya ingat adalah ketika suatu hari hujan, saya naik ke atas genteng untuk membetulkan atap rumah Pak Sudjarwo yang bocor di Jalan Antene, Kebayoran Baru. Tetangga yang melihat aksi saya itu tertawa heran dan bertanya siapa orang di atas genteng tersebut. Ibu angkat saya menjawab, ‘Ini anak saya dari Korea Selatan,’ yang seketika memicu gelak tawa semua orang di sana.

Sebagai tipikal wanita Sunda, Ibu Sudjarwo selalu menghidangkan lalapan setiap kali kami makan bersama. Karena setiap hari diberi sayur mentah, suatu hari saya protes, ‘Bu, saya bukan kambing,’ yang langsung membuat beliau terbahak. Selain makan di rumah, saya dan adik-adik juga suka berburu jajanan. Salah satu kegemaran kami adalah makan jagung bakar. Jika malam tiba, kami sengaja pergi ke sekitar Jalan Barito yang lokasinya dekat pemakaman umum. Di sana memang berjejer banyak penjual jagung bakar. Menyantap jagung bakar hangat di tengah malam Jakarta saat itu rasanya benar-benar nikmat.

Seiring waktu, kedekatan saya dengan Pak Sudjarwo menjadi semakin erat. Alamat email yang saya pakai sekarang, soekiman@hanmail.net, adalah bukti dari mendalamnya hubungan kami. Nama itu merupakan nama pemberian beliau. Kombinasinya sangat unik: ‘Soe’ dari ujung nama saya (Young Soo), ‘Ki’ dari marga Kim, dan ‘man’ yang berarti laki-laki.

Waktu menghadiahi nama tersebut, Pak Sudjarwo berpesan dengan serius bahwa saya harus tetap mempertahankan ejaan lama ‘oe’ dan tidak boleh menggantinya. Alasan beliau, nama ‘Soekiman’ banyak dimiliki oleh pejabat tinggi dan orang-orang terpandang di Indonesia. Saya sempat merasa bangga, sampai akhirnya lambat laun saya tahu, ternyata ada juga tukang becak di Jakarta yang bernama ‘Soekiman’.

Tiba saatnya saya harus kembali ke Korea Selatan setelah merampungkan pelatihan penyiaran di RRI Indonesia. Pak Sudjarwo mengantarkan saya hingga ke Bandara Halim Perdanakusuma. Di momen-momen terakhir sebelum berpisah, dengan air mata yang mengalir deras, beliau berpesan, ‘Selamat jalan anandaku.’ Kalimat itu membuat saya tidak kuasa menahan tangis. Sambil terisak, saya menyampaikan ucapan perpisahan, ‘Selamat tinggal ayahandaku, semoga tetap sehat walafiat.’ Kenangan manis sekaligus mengharukan di bandara itu menjadi salah satu penutup babak awal kedekatan kami yang tidak akan pernah saya lupakan.

Tugas sehari-hari Pak Sudjarwo sebagai jurnalis senior RRI adalah mengawal dan mengontrol jalannya warta berita. Sepanjang kariernya yang gemilang, ayah angkat saya ini pernah menorehkan momen emas yang sangat membanggakan. Tepat pada tahun 1965, beliau melaksanakan wawancara eksklusif dengan sang Proklamator sekaligus Presiden pertama RI, Bung Karno, langsung dari Istana Negara, Jakarta.

Namun, entah sebuah kebetulan atau memang sudah menjadi suratan takdir, jejak langkah ayah angkat saya itu terulang pada diri saya. Saya pun mendapatkan kesempatan langka untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Presiden Republik Indonesia saat itu, Ibu Megawati Soekarnoputri, yang merupakan putri kandung Bung Karno. Tepat 37 tahun setelah Pak Sudjarwo mewawancarai Presiden Soekarno, yaitu pada bulan Maret 2002, saya mewawancarai Presiden Megawati di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Seoul. Momen bersejarah itu terjadi sesaat setelah beliau menyelesaikan kunjungannya ke Korea Utara dan melanjutkan kunjungan resmi ke Korea Selatan.

Dalam sejarah penyiaran dunia, kisah di mana seorang ayah angkat dan anak angkatnya masing-masing mewawancarai dua generasi Presiden yang juga merupakan ayah dan anak kandung, mungkin menjadi peristiwa langka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hubungan paralel sejarah yang unik ini terasa begitu istimewa, sebuah momen melintasi waktu yang tampaknya tidak akan pernah terulang kembali.

Ayah angkat saya yang terhormat, Bapak Sudjarwo, kini telah beristirahat abadi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Kenangan bersamanya membawa saya kembali ke Indonesia pada bulan November 2023, saat saya dan seorang teman dijadwalkan mengisi ceramah di salah satu kampus di kota Bandung. Sebelum perjalanan ke Bandung dimulai, prioritas utama saya adalah menemui ibu angkat saya. Fisik beliau kini melemah dimakan usia, namun ingatan dan kasih sayangnya tidak memudar sedikit pun. Duduk di atas kursi roda, beliau menyambut saya kembali sebagai anak sulungnya. Air mata saya hampir menetes saat membungkukkan badan memberikan salam hormat tradisional Korea di hadapan beliau. Pertemuan penuh emosi itu kemudian kami lanjutkan dengan sebuah perjalanan bersama, menuju TMP Kalibata demi menengok tempat peristirahatan terakhir ayah angkat tercinta.

Sebagai seorang anak angkat, hati saya dipenuhi rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas perhatian yang diberikan kepada almarhum ayah saya. Tepat pada perayaan Hari Ulang Tahun RRI tanggal 11 September 2025, Direktur Utama RRI, Bapak Hendrasmo, didampingi oleh stafnya, telah berkenan mengunjungi tempat peristirahatan terakhir almarhum Bapak Sudjarwo di TMP Kalibata. Kehadiran beliau semua di sana sebagai bentuk penghormatan bagi salah satu pionir penyiaran Indonesia sungguh menjadi penyejuk hati bagi kami pihak keluarga.

Sepanjang hidup dan karier saya, saya selalu berupaya sekuat tenaga agar tidak menodai warisan berharga dari nama Sudjarwo. Dedikasi ini akan terus saya pertahankan dengan segenap kemampuan demi menjaga nama baik beliau di masa depan. ***

di kota Sokcho, Korea Selatan, 3 September  2026.

Catatan Tambahan

Kini, Ibunda beserta dua adik tercinta telah berpulang ke rahmatullah, menyusul ayah angkat saya, almarhum Bapak Sudjarwo bin Kastaredja, untuk hidup bahagia selamanya di surga.

  • Ibunda: Hj. Siti Hamsah binti Sulaiman (1939–2025)
  • Adik Perempuan: Esti Larasati (1962–2026)
  • Adik Laki-laki: Aris Kadarman bin Sudjarwo (1970–2026)

“Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, sejahterakanlah mereka, dan maafkanlah segala kesalahan mereka.”

Prof. Kim Young Soo, Ph.D. adalah seorang akademisi, profesor, dan penerjemah senior asal Korea Selatan yang mendedikasikan kariernya sebagai jembatan sastra dan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Dia dilahirkan pada tahun 1950 di Seoul, Korea Selatan. Dia berprofesi sebagai Akademisi, Profesor, dan Penerjemah Sastra.

Riwayat pendidikannya, seluruh jenjang pendidikan tinggi dia diselesaikan di kampus rumpun bahasa asing ternama di Korea Selatan, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS): Sarjana (S1) Jurusan Bahasa Malay-Indonesia; Magister (S2) Program Studi Kesusastraan Modern Indonesia, di mana dia secara khusus meneliti karya sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer; Doktor (S3) Jurusan Sastra Bandingan (Comparative Literature) dengan disertasi bertajuk “A Study on Chairil Anwar’s Poems with the Postcolonialistic View“.

Karier dan kontribusi sastra: Kim Young Soo aktif memfasilitasi hubungan bilateral kedua negara melalui jalur sastra, diplomasi, dan media. Penerjemah Lintas Negara: dia menjadi tokoh penerjemah karya esai untuk Komunitas SISAN di Korea Selatan, Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) dan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto di Indonesia.

Kim Young Soo telah menerjemahkan berbagai buku ke dalam bahasa Korea maupun bahasa Indonesia, di antaranya: Antologi penyair Korea Choi Jun yang berjudul Orang Suci, Pohon Kelapa; Kumpulan puisi karya Moon Changgil berjudul Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api (diterjemahkan bersama Nenden Lilis Aisyah dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia).

Jalur Diplomasi & Media: Kim Young Soo sempat dipercaya menjadi penerjemah resmi pada KTT Korea-Indonesia 1981 (Presiden Chun Doo Hwan dan Presiden Soeharto) serta KTT Korea-Malaysia 1998. Kim Young Soo juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Bahasa Indonesia di Radio Korea Internasional (KBS) dan melakukan wawancara eksklusif dengan Presiden B.J. Habibie.