Dramaturgi Jolenan: Dari Tanah ke Panggung Ingatan, Kemetul Merundingkan Warisan dan Masa Depan
Oleh: Eko Yuds*
Warga Desa Kemetul mengawali Jumat pagi, 17 Juli 2026, dengan mujahadah yang dipimpin Gus Fuad, salah satu tokoh agama setempat. Rangkaian salat Dhuha, zikir, tahlil, dan doa berlangsung dalam suasana khidmat. Di antara lantunan doa itu tersimpan harapan akan keselamatan, kemaslahatan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi seluruh warga desa. Pagi tersebut mempertemukan dua hal yang sering dipisahkan secara tergesa-gesa: spiritualitas dan kebudayaan. Jolenan tidak hanya disusun dari hasil bumi, kesenian, kostum, serta arak-arakan. Ia terlebih dahulu dibangun melalui doa, kesadaran kolektif, dan keyakinan bahwa kehidupan desa bergantung pada hubungan yang baik antara manusia, alam, Tuhan, serta sesamanya.

Setiap warga yang hadir membawa nasi tumpeng dari rumah. Tumpeng-tumpeng itu ditempatkan di tengah pertemuan, lalu dinikmati bersama setelah mujahadah selesai. Hidangan tersebut bukan sekadar makanan, melainkan pernyataan sosial tentang rasa syukur, sedekah, dan kesediaan untuk membagikan rezeki. Di sekitar tumpeng, batas usia, kedudukan, dan peran sosial sejenak mencair. Doa memperoleh tubuhnya melalui tindakan berbagi. Kesejahteraan tidak lagi hanya diukur dari banyaknya harta yang dimiliki seseorang, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk duduk bersama, menyediakan makanan, merawat hubungan, dan memastikan bahwa tidak seorang pun merasa sendirian.
Mujahadah dan makan bersama merupakan bagian dari rangkaian pra-puncak Jolenan atau Sedekah Bumi yang melibatkan masyarakat Desa Kemetul secara luas. Tahapan ini memperlihatkan proses kebudayaan sebelum hasil bumi, kesenian, dan karya warga tampil dalam arak-arakan utama. Pada titik inilah Jolenan dapat dibaca sebagai sebuah dramaturgi sosial. Istilah dramaturgi tidak dimaksudkan untuk merendahkan tradisi menjadi tontonan atau sandiwara palsu. Sebaliknya, dramaturgi membantu melihat bahwa setiap perayaan memiliki panggung depan, ruang belakang, pelaku, peran, simbol, alur, penonton, serta nilai yang hendak dikomunikasikan.
Panggung depan Jolenan tampak melalui arak-arakan hasil bumi, kostum kreatif, pertunjukan Reog, figur-figur ogo-ogo, pameran UMKM, ritual di sendang, dan penyambutan tamu. Namun, panggung tersebut hanya mungkin berdiri karena terdapat kerja panjang di belakangnya: petani menanam dan memanen, pemuda membangun figur arak-arakan, perempuan mengolah makanan dan menerima tamu, seniman berlatih, tokoh agama memimpin doa, keluarga menyediakan kebutuhan teknis, serta warga berunding mengenai bentuk perayaan. Dengan demikian, Dramaturgi Jolenan bukan hanya persoalan tentang apa yang tampak di jalan desa. Ia juga berbicara tentang siapa yang bekerja sebelum tirai perayaan dibuka, siapa yang memperoleh ruang untuk berbicara, siapa yang hanya terlihat sebagai tenaga pelaksana, dan siapa yang berhak menentukan cerita yang disampaikan kepada publik.

Delegasi Kuil Mii-dera dan Yayasan Sakuranesia tiba di Desa Kemetul sekitar pukul 14.30 WIB untuk menyaksikan rangkaian pra-puncak tersebut. Kepala Pendeta Kuil Mii-dera, Toshihiko Fuke, memimpin rombongan yang terdiri atas tujuh orang dari Jepang. Tomomi Sakura Ijuin, Tofik, Ken Ito, dan Miu Kido turut hadir bersama tim Sakuranesia. Para tamu datang ketika perayaan belum sepenuhnya dipoles menjadi pertunjukan. Mereka memasuki jalan kampung, halaman rumah, tempat pembuatan karya, kawasan pertanian, dan sendang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Pertemuan itu berlangsung hingga menjelang petang dan berkembang menjadi percakapan mengenai rasa syukur, alam, tradisi, serta masa depan kehidupan bersama.

Kehadiran para tamu mengubah susunan dramaturgi Jolenan. Mereka mula-mula datang sebagai penonton, tetapi perlahan menjadi peserta percakapan. Warga tidak hanya memperlihatkan benda atau pertunjukan, melainkan menjelaskan proses, makna, dan pengalaman yang melatarbelakanginya. Sebaliknya, pertanyaan para tamu mendorong warga untuk melihat kembali kebiasaan yang selama ini dianggap biasa. Dalam perjumpaan semacam itu, panggung budaya bukan ruang satu arah. Masyarakat Kemetul bukan objek yang hanya diamati, sedangkan rombongan Jepang bukan penonton pasif yang sekadar mengambil gambar. Keduanya memasuki proses saling membaca. Warga menjelaskan dirinya kepada orang lain, tetapi pada saat yang sama juga sedang menafsirkan kembali dirinya sendiri.
Jolenan menempatkan hasil pertanian sebagai pusat perhatian masyarakat, bukan sekadar sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Padi, sayuran, buah-buahan, dan hasil kebun disusun menjadi jolen dengan bentuk yang menarik, kemudian dibawa dalam prosesi menuju balai desa. Doa menyertai hasil panen sebagai ungkapan syukur atas tanah, air, musim, dan tenaga manusia yang memungkinkan pangan tumbuh. Meela Nazary, pendamping budaya, menjelaskan bahwa jolen melambangkan rasa syukur, persatuan, dan harapan akan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Dalam Dramaturgi Jolenan, hasil bumi menjadi lebih dari sekadar dekorasi panggung. Ia merupakan pemeran utama yang membawa riwayat panjang. Sebutir padi menghadirkan tanah yang diolah, air yang dialirkan, musim yang tidak selalu dapat diperkirakan, tubuh petani yang bekerja, serta keluarga yang menopang proses pertanian. Ketika beras hadir dalam kemasan, sayuran tersusun di pasar, dan air mengalir melalui keran, riwayat tersebut kerap menghilang dari perhatian. Jolenan membawanya kembali ke tengah masyarakat. Pangan yang sehari-hari dianggap biasa diangkat ke ruang publik agar orang mengingat bahwa setiap konsumsi bergantung pada alam, pekerjaan orang lain, dan jaringan sosial yang sering tidak terlihat.
Puncak arak-arakan membawa hasil bumi menuju balai desa dengan iringan seni, kostum, dan kegembiraan warga. Masyarakat kemudian memperebutkan hasil bumi sebagai bagian dari kemeriahan serta keyakinan terhadap berkah yang dibagikan bersama. Kelompok kesenian tampil, warga mengenakan kostum-kostum kreatif, sedangkan pelaku UMKM memamerkan produk lokal. Jalan desa pun berubah menjadi panggung rakyat. Di sana pertanian, kreativitas, perdagangan, spiritualitas, dan kegembiraan tampil dalam satu kesatuan. Akan tetapi, panggung tersebut tidak sepenuhnya mengikuti naskah yang kaku. Kerumunan bergerak, anak-anak berlarian, penonton bergeser, suara musik saling bersahutan, dan interaksi spontan bermunculan.
Improvisasi itulah yang menandakan bahwa Jolenan masih hidup. Tradisi yang hidup tidak berjalan seperti benda museum yang steril. Ia bergerak mengikuti tubuh masyarakat, menerima gangguan, menyesuaikan keadaan, dan membentuk makna melalui kejadian-kejadian yang tidak seluruhnya direncanakan. Rombongan Jepang kemudian mengunjungi sejumlah kawasan permukiman untuk melihat pembuatan figur arak-arakan yang oleh warga disebut ogo-ogo. Figur berbentuk ayam dan laba-laba dibangun secara gotong royong melalui rangka, bahan-bahan sederhana, keterampilan tangan, dan imajinasi warga.
Para pemuda memperlihatkan bagian konstruksi yang sedang dikerjakan, sedangkan warga yang lebih tua menjelaskan filosofi setiap bentuk. Ayam dan laba-laba tidak hadir semata-mata untuk menciptakan tontonan visual, tetapi membawa pesan mengenai kerja keras, kewaspadaan, tanggung jawab, ketekunan, dan hubungan manusia dengan kehidupan di sekelilingnya. Proses tersebut memperlihatkan ruang belakang Dramaturgi Jolenan. Di sanalah pengetahuan diwariskan bukan melalui ceramah panjang, melainkan melalui pekerjaan bersama. Generasi muda belajar ketika memegang bambu, menyusun rangka, mendengarkan penjelasan orang yang lebih tua, memperdebatkan bentuk, lalu menciptakan tafsir baru.
Kebudayaan dengan demikian tidak diteruskan sebagai barang jadi. Ia diwariskan melalui keterlibatan, perbedaan pendapat, percakapan, kegagalan teknis, perbaikan, dan penciptaan kembali. Tradisi bertahan bukan karena selalu diulang dengan bentuk yang sama, melainkan karena masyarakat terus menemukan alasan untuk mengerjakannya bersama. Pertunjukan Reog membawa rombongan memasuki suasana yang lebih riuh. Musik memenuhi lapangan, sementara anak-anak dan orang dewasa berdatangan dari berbagai arah. Ruang yang semula disiapkan bagi para tamu sempat dipenuhi masyarakat. Namun, warga kemudian bergeser dan memberikan tempat di bagian depan. Keputusan spontan tersebut menunjukkan keramahan yang tidak lahir dari aturan protokoler. Tidak ada aba-aba resmi, tetapi tubuh sosial masyarakat membaca keadaan dan menyesuaikan diri. Dalam dramaturgi kehidupan sehari-hari, tindakan kecil semacam itu sering lebih kuat daripada pidato panjang tentang keramahan.
Sendang Desa Kemetul menjadi salah satu ruang perjumpaan yang paling kuat secara visual dan simbolis. Warga dan tamu berdiri bersama di tepi air. Ahmad Khasuna dan Mbah Jan memimpin doa sebelum ember-ember berisi benih ikan dipindahkan mendekati sumber air. Benih ikan kemudian dilepaskan perlahan di tengah kawasan pertanian yang bergantung pada keberadaan air. Dalam panggung Jolenan, sendang bukan latar dekoratif. Air merupakan kebutuhan material bagi sawah, permukiman, hewan, tumbuhan, dan keberlangsungan hidup desa. Karena itu, doa di tepi sendang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab ekologis.
Pelepasan benih ikan menyampaikan pesan tentang pengembalian kehidupan kepada alam. Namun, makna itu akan kehilangan kekuatannya apabila berhenti ketika kamera dimatikan dan seremoni selesai. Kebersihan sendang membutuhkan perawatan yang konsisten. Kesesuaian jenis ikan perlu diperhatikan. Kondisi dan kualitas air harus dipantau bersama. Kerusakan sumber air akan memengaruhi pertanian, mengurangi hasil bumi, dan perlahan mengubah dasar material yang melahirkan Jolenan. Pelestarian budaya karena itu tidak cukup dilakukan dengan menjaga prosesi, kostum, simbol, dan pertunjukan. Perawatan lingkungan harus menjadi bagian dari naskah utama perayaan, bukan sekadar catatan tambahan di belakang panggung.
Dramaturgi Jolenan juga memperlihatkan bahwa sebuah tradisi selalu memilih apa yang hendak ditampilkan dan apa yang berpotensi disembunyikan. Panggung perayaan cenderung menampilkan keharmonisan, kemeriahan, keindahan, dan kebersamaan. Namun, di belakang citra tersebut mungkin terdapat perubahan pertanian, persoalan air, pembagian kerja yang tidak seimbang, keterbatasan anggaran, perbedaan pandangan antargenerasi, serta kecemasan mengenai masa depan tradisi. Karena itu, membaca Jolenan sebagai dramaturgi tidak berarti menuduh masyarakat sedang berpura-pura. Pembacaan tersebut justru mengajak publik melihat tradisi secara lebih utuh: keindahan panggungnya sekaligus kerja, ketegangan, perundingan, dan pilihan yang memungkinkan panggung itu berdiri.
Erving Goffman menggunakan dramaturgi untuk menjelaskan bagaimana manusia menghadirkan dirinya di hadapan orang lain. Dalam konteks Jolenan, kerangka tersebut membantu melihat bagaimana masyarakat Kemetul menampilkan identitasnya kepada warga sendiri, generasi muda, media, pemerintah, pengunjung, dan tamu internasional. Namun, masyarakat Kemetul bukan sekadar aktor yang menjalankan naskah warisan secara mekanis. Mereka sekaligus penulis, sutradara, penata panggung, penjaga properti, penafsir simbol, dan pemilik pertunjukan. Mereka memiliki hak untuk mengubah bentuk, menolak penyederhanaan, mengoreksi penafsiran dari luar, dan menentukan masa depan perayaan.
Paul Ricoeur memandang ingatan bukan sebagai salinan masa lalu yang sepenuhnya netral. Ingatan dapat mengalami keterputusan, penyederhanaan, bahkan manipulasi. Pandangan tersebut mengingatkan bahwa masyarakat tidak cukup hanya mengulang cerita lama. Warisan perlu diperiksa melalui kesaksian, pengalaman, dan pencatatan sejarah. Jolenan dalam kerangka itu menjadi panggung ingatan. Di atasnya, masyarakat bukan hanya memperagakan masa lalu, tetapi juga memilih masa lalu mana yang hendak diingat. Pertanyaan pentingnya adalah: pengalaman siapa yang tampil di panggung utama, pekerjaan siapa yang tetap berada di belakang, suara siapa yang didengar, dan cerita siapa yang belum memperoleh tempat?
Cerita lisan para sesepuh dapat direkam. Foto-foto lama dapat dihimpun. Perubahan bentuk jolen, arak-arakan, pertunjukan, pola pertanian, dan kondisi sendang dapat dicatat secara berkala. Pengalaman petani, perempuan, pemuda, seniman, tokoh agama, pedagang, serta keluarga-keluarga yang bekerja di balik perayaan perlu ditempatkan sebagai bagian dari sejarah bersama. Perbedaan kesaksian tidak harus dihapus demi menghasilkan satu cerita resmi yang tampak rapi. Keragaman ingatan justru menunjukkan bahwa tradisi dibangun melalui banyak pengalaman. Dokumentasi berbasis komunitas dapat mencegah sejarah Jolenan hanya ditentukan oleh narator dari luar atau oleh pihak yang paling berkuasa mengendalikan panggung.
Toshihiko Fuke melihat adanya kedekatan antara Jolenan dan sejumlah tradisi yang dikenal masyarakat Jepang, meskipun bentuk dan tata caranya berbeda. Ia menyampaikan kegembiraannya karena dapat menyaksikan kehidupan budaya masyarakat Kemetul secara langsung. Kedekatan tersebut tidak harus dicari melalui simbol yang identik, sejarah yang sama, atau keyakinan yang serupa. Ruang percakapan dapat tumbuh melalui penghormatan terhadap alam, tradisi musiman, rasa syukur, kerja kolektif, dan kebersamaan. Namun, perbedaan tetap harus dipelihara agar dialog tidak berubah menjadi penyederhanaan atau penyeragaman.
Hans-Georg Gadamer memahami tradisi sebagai percakapan antara cakrawala masa lalu dan pengalaman manusia pada masa kini. Pemahaman bukan penerimaan buta terhadap warisan yang dianggap telah selesai. Ia merupakan proses bertanya, menafsirkan, menguji, dan mempertemukan pengalaman yang berbeda. Kunjungan delegasi Jepang membuka kesempatan bagi masyarakat Kemetul untuk menjelaskan Jolenan. Namun, penjelasan itu juga memaksa masyarakat memilih bahasa, simbol, dan kisah yang dianggap paling mewakili dirinya. Dalam proses tersebut, perjumpaan dengan orang lain menjadi cermin untuk melihat kembali tradisi sendiri.
Dramaturgi Jolenan dengan demikian mempertemukan setidaknya tiga cakrawala: warisan agraris dari masa lalu, kebutuhan masyarakat Kemetul pada masa kini, dan bayangan tentang masa depan yang hendak dibangun. Ketiganya tidak selalu berjalan harmonis. Mereka perlu terus dirundingkan. Jolen dapat mempertahankan hasil bumi sebagai unsur utama, sementara generasi muda mengembangkan bentuk, kostum, dokumentasi digital, dan cara penyampaian baru. Pameran UMKM dapat memperluas manfaat ekonomi, tetapi masyarakat perlu menetapkan batas agar perayaan tidak berubah menjadi pasar yang kehilangan jiwa.
Kehadiran tamu internasional dan media dapat memperluas jaringan, tetapi perhatian dari luar tidak boleh mengambil alih kepemilikan narasi masyarakat. Popularitas dapat membawa peluang promosi dan penguatan ekonomi, tetapi juga menghadirkan risiko: simbol disederhanakan, prosesi diatur hanya untuk kepentingan kamera, dan bagian-bagian yang dianggap kurang menarik dihilangkan dari cerita. Ketika kamera hadir, panggung budaya dapat berubah. Warga mungkin memilih sudut yang paling indah, menata ulang prosesi, atau menonjolkan simbol yang mudah dipahami pengunjung. Penyesuaian semacam itu tidak selalu keliru. Persoalan muncul ketika kebutuhan penonton mulai menentukan seluruh isi pertunjukan dan mendorong masyarakat menjauh dari pengalaman yang menjadi akar tradisi.
Masyarakat pemilik tradisi harus tetap memegang hak untuk menentukan bagaimana Jolenan ditampilkan, didokumentasikan, dikembangkan, dan diwariskan. Manfaat ekonomi maupun sosial harus kembali kepada petani, pelaku kesenian, pembuat jolen, perempuan, pemuda, pelaku UMKM, serta pihak-pihak yang selama ini bekerja di balik perayaan. Kerja kolektif tersebut perlu dibaca secara jujur. Gotong royong tidak selalu berarti bahwa seluruh orang telah memperoleh peran, kewenangan, dan manfaat yang sama. Perempuan mungkin memegang pekerjaan penting dalam pengolahan makanan dan penerimaan tamu, tetapi belum tentu dilibatkan secara setara dalam pengambilan keputusan. Pemuda mungkin membangun figur arak-arakan, tetapi belum tentu diberi ruang untuk mempertanyakan atau menafsirkan simbol.
Dramaturgi Jolenan akan menjadi lebih adil apabila mereka yang bekerja di belakang panggung juga memiliki suara dalam menentukan arah pertunjukan. Tradisi tidak cukup diwariskan kepada generasi muda sebagai tugas untuk dilaksanakan. Mereka harus diberi kesempatan untuk bertanya, mengkritik, mencipta, dan mengambil keputusan. Dokumentasi budaya berbasis komunitas dapat menjadi langkah pertama untuk memperkuat keberlanjutan Jolenan. Arsip tersebut dapat memuat kesaksian sesepuh, pengalaman petani, kerja perempuan, kreativitas pemuda, perubahan bentuk perayaan, serta pergeseran kondisi sosial dan lingkungan desa.
Perawatan sendang dan persawahan dapat menjadi langkah kedua melalui pemantauan air, kebersihan lingkungan, serta pencatatan perubahan kondisi pertanian. Dengan demikian, simbol syukur terhadap tanah dan air memiliki padanan konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Tata kelola perayaan yang terbuka dapat menjadi langkah ketiga. Pelaku seni, petani, tokoh agama, perempuan, pemuda, pelaku UMKM, dan kelompok warga perlu memiliki ruang untuk menentukan arah kegiatan. Anggaran, manfaat ekonomi, pembagian peran, dokumentasi, dan kerja sama dengan pihak luar harus dibicarakan secara transparan. Ketiga langkah tersebut—arsip komunitas, perawatan ekologis, dan tata kelola partisipatif—akan membuat Dramaturgi Jolenan tidak berhenti pada kemegahan panggung. Ia menjadi metode bagi masyarakat untuk memelihara ingatan, merawat lingkungan, memperkuat pendidikan budaya, dan membangun keadilan sosial.
Rangkaian kunjungan berakhir dengan penyajian nasi tumpeng bersama Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo, pertukaran cenderamata, dan percakapan dalam suasana yang lebih cair. Hidangan bersama mempertemukan warga dan tamu dalam hubungan yang lebih akrab daripada seremoni formal. Senyum dan gestur sederhana membantu menjembatani keterbatasan bahasa. Nyanyian “Sayonara” mengiringi perpisahan menjelang petang, meskipun tidak seluruh lirik dilafalkan dengan tepat. Kesalahan kecil itu justru melahirkan tawa. Kedekatan ternyata tidak selalu membutuhkan komunikasi yang sempurna.
Pada bagian akhir inilah batas antara aktor dan penonton kembali mencair. Tamu bukan lagi sekadar pihak yang menyaksikan. Warga bukan lagi sekadar pihak yang ditonton. Keduanya berbagi makanan, tawa, kecanggungan, rasa ingin tahu, dan pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat direncanakan. Jolenan Desa Kemetul pada akhirnya bukan hanya perayaan panen, arak-arakan hasil bumi, pertunjukan kesenian, atau penyambutan tamu internasional. Ia merupakan panggung tempat masyarakat menjelaskan dirinya, mengingat sumber kehidupannya, memperbarui hubungan sosial, menguji warisan, dan merundingkan masa depan.
Di atas panggung itu, masa lalu tidak harus dibekukan menjadi benda yang tidak boleh disentuh. Perubahan juga tidak harus diterima tanpa arah. Masyarakat Kemetul memiliki hak untuk menjaga, mengoreksi, mengembangkan, dan menceritakan tradisinya melalui bahasa mereka sendiri. Kekuatan Dramaturgi Jolenan terletak pada hubungan antara yang tampak dan yang tidak tampak: antara hasil bumi yang diarak dan tangan yang menanamnya; antara pertunjukan yang meriah dan kerja panjang yang mempersiapkannya; antara doa yang diucapkan dan tanggung jawab ekologis yang harus dijalankan; antara tamu yang menyaksikan dan warga yang menentukan makna.
Sendang Kemetul pada sore itu memantulkan lebih dari langit, pepohonan, dan wajah para tamu yang berdiri di tepinya. Air yang mengalir mengingatkan bahwa kehidupan selalu bergantung pada sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikuasai. Hasil bumi yang diarak mengingatkan bahwa pangan lahir dari tanah, musim, tenaga, kesabaran, dan hubungan antarmanusia. Doa dan kegembiraan warga mempertemukan rasa syukur dengan keberanian menghadapi perubahan. Selama masyarakat masih menjadi pemilik cerita, penulis naskah, pelaku, dan penentu arah panggungnya sendiri, Jolenan tidak akan berhenti sebagai tontonan masa lalu.
Ia akan terus menjadi panggung ingatan—tempat sebuah desa memandang akar kehidupannya, membaca perubahan zaman, dan menyusun masa depan tanpa kehilangan tanah yang membuatnya tetap berpijak.
—
*Eko Yuds, Teaterawan.




