Ketika Tari Menjadi Pengetahuan

Oleh: Purnawan Andra*

Purnawan Andra

Di dunia sastra, kita mengenal Pramoedya Ananta Toer bukan hanya melalui novel-novelnya, tetapi juga melalui cara berpikirnya tentang sejarah, kolonialisme, dan kemanusiaan. Dalam dunia film, Andrei Tarkovsky meninggalkan jejak bukan semata lewat Stalker atau Nostalghia, melainkan juga melalui Sculpting in Time, sebuah buku yang mengubah cara orang memahami sinema.

Demikian pula Suka Hardjana dalam musik, YB Mangunwijaya dalam arsitektur hingga Eugenio Barba dalam teater, karya artistik berjalan beriringan dengan karya intelektual. Seniman tidak hanya mencipta, tetapi juga membangun percakapan tentang penciptaannya.

Namun harus diakui, tradisi semacam itu masih terasa langka dalam dunia tari Indonesia, untuk tidak hanya menyebut nama Sardono W Kusumo, Sal Murgiyanto, belakangan Nungki Kusumastuti dan lainnya.

Kita memiliki banyak koreografer berbakat, festival yang terus bertambah, panggung yang semakin beragam, bahkan perhatian negara terhadap pemajuan kebudayaan yang, harus diakui, semakin besar. Namun, jika ditanya berapa banyak buku yang ditulis langsung oleh koreografer mengenai proses berpikir, metodologi penciptaan, atau pergulatan artistiknya, jawabannya masih sedikit. Dunia tari kita kaya pertunjukan, tetapi belum cukup kaya tradisi refleksi.

Dalam konteks itulah Jejak Garam di Kulit Gunung: Ekodramaturgi Eko karya Eko Supriyanto menjadi penting. Buku ini bukan sekadar dokumentasi perjalanan seorang koreografer, melainkan sebuah upaya mengubah pengalaman artistik menjadi pengetahuan yang dapat dibaca, diperdebatkan, dan diwariskan.

Catatan Tubuh

Sebagaimana dinyatakan dalam buku ini, yang ditawarkan bukan sekadar catatan karya, melainkan catatan tubuh yang terus belajar melalui pengalaman. Pendekatan autoetnografi praktik yang dipilih Eko memperlihatkan bahwa tubuh bukan hanya medium ekspresi, melainkan juga sumber pengetahuan. Di sinilah letak sumbangan buku ini.

Selama ini kita cenderung memahami tari sebagai seni gerak. Penilaian kita berhenti pada keindahan koreografi, kualitas teknik, atau keberhasilan pertunjukan. Padahal sebelum sebuah tubuh bergerak di atas panggung, terdapat proses panjang yang jauh lebih kompleks.

Mulai dari mengamati ruang hidup masyarakat, mendengarkan cerita, membaca perubahan lingkungan, menguji kemungkinan gerak, mengalami kegagalan, lalu merevisi kembali seluruh proses penciptaan. Gerak yang kita saksikan sesungguhnya hanyalah ujung dari perjalanan intelektual yang panjang. Sayangnya, perjalanan itu jarang menjadi bagian dari percakapan publik.

Kita terbiasa mengapresiasi hasil akhir, tetapi kurang memberi perhatian pada bagaimana pengetahuan artistik dibentuk. Festival selesai ketika tepuk tangan usai. Dokumentasi berhenti pada rekaman video. Setelah itu, karya perlahan menghilang bersama ingatan penontonnya. Yang tersisa hanyalah arsip visual, sementara proses berpikir yang melahirkannya ikut lenyap.

Padahal seni tidak pernah hanya menghasilkan karya. Seni juga menghasilkan cara memahami dunia.

Ketika Eko hidup bersama masyarakat pesisir, bekerja bersama komunitas, atau menjadikan lanskap sebagai bagian dari koreografi, sesungguhnya ia tidak sedang mencari gerak-gerak baru. Ia sedang menyusun cara baru membaca hubungan antara tubuh, manusia, dan lingkungan. Dari pengalaman itulah lahir gagasan mengenai care-based choreography, ecological rehearsal, maupun ekodramaturgi yang menjadi benang merah buku ini.

Yang menarik, Eko tidak memandang ekologi sekadar isu lingkungan. Ekologi dipahami sebagai praktik merawat relasi. Koreografi tidak lagi berhenti pada penataan tubuh, tetapi menjadi cara membangun hubungan dengan ruang, sejarah, komunitas, dan alam. Dengan demikian, tari berubah dari sekadar pertunjukan menjadi praktik pengetahuan.

Perubahan Paradigma

Pandangan ini sesungguhnya menawarkan kritik yang lebih luas terhadap cara kita memandang seni pertunjukan. Selama bertahun-tahun, dunia tari Indonesia lebih sibuk berbicara tentang pelestarian dibandingkan produksi pengetahuan. Kata-kata seperti tradisi, pewarisan, regenerasi, atau pakem jauh lebih akrab daripada metodologi, argumentasi, atau epistemologi. Akibatnya, tradisi sering diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dijaga bentuknya, bukan sebagai pengetahuan yang harus terus dipertanyakan, ditafsirkan ulang, dan dikembangkan.

Eko justru bergerak ke arah sebaliknya. Melalui gagasan revisiting, requestioning, dan reinterpreting, ia memperlihatkan bahwa tradisi tetap hidup bukan karena dibekukan, melainkan karena terus diajak berdialog. Tradisi bukan museum yang dijaga dari perubahan, tetapi ruang percakapan yang selalu membuka kemungkinan makna baru.

Di sinilah buku ini melampaui fungsi sebuah dokumentasi. Ia sedang mengusulkan perubahan paradigma. Seorang koreografer tidak cukup dipahami sebagai pencipta pertunjukan. Ia juga merupakan produsen pengetahuan.

Pergeseran ini penting karena menyangkut masa depan ekosistem tari kita sendiri. Selama ini energi dunia tari lebih banyak dihabiskan untuk memproduksi pertunjukan, mulai dari latihan, produksi, festival, tur, hingga laporan kegiatan. Semua itu tentu penting.

Tapi setelah panggung dibongkar, berapa banyak pengetahuan yang benar-benar tertinggal? Berapa banyak metodologi penciptaan yang didokumentasikan? Berapa banyak proses artistik yang kemudian menjadi bahan diskusi, kritik, atau pengembangan bagi generasi berikutnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru masih jarang diajukan.

Akibatnya, dunia tari Indonesia terus menghasilkan karya-karya baru, tetapi sering kali belum berhasil membangun akumulasi pengetahuan yang sebanding. Setiap generasi seolah memulai kembali pencariannya sendiri karena sedikit sekali jejak pemikiran yang diwariskan secara sistematis. Kita memiliki banyak repertoar, tetapi belum cukup banyak percakapan.

Tentu buku ini bukan tanpa kelemahan. Di beberapa bagian, pembahasan konsep-konsep seperti care-based choreographyatau ecological rehearsal terasa lebih reflektif daripada analitis. Pembaca umum mungkin menginginkan penjelasan yang lebih konkret mengenai bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi keputusan artistik dalam setiap karya. Namun kekurangan itu tidak mengurangi arti penting buku ini sebagai upaya membangun tradisi berpikir dari dalam praktik artistik itu sendiri.

Barangkali di situlah relevansi terbesar Jejak Garam di Kulit Gunung. Buku ini mengingatkan bahwa masa depan tari Indonesia tidak cukup ditentukan oleh banyaknya panggung, festival, atau pertunjukan yang berhasil diselenggarakan. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan dunia tari menjadikan setiap proses penciptaan sebagai sumber pengetahuan yang dapat dibaca ulang, diperdebatkan, dikembangkan, bahkan disanggah oleh generasi berikutnya.

Sebab karya yang berhenti di panggung hanya akan menjadi kenangan. Sebaliknya, karya yang berubah menjadi pengetahuan akan terus hidup melampaui penciptanya. Dan mungkin, warisan paling penting yang dapat ditinggalkan seorang koreografer bukan hanya rangkaian gerak yang pernah dipentaskan, tapi cara berpikir yang memungkinkan lahirnya gerak-gerak baru di masa depan.

Judul Buku              : Jejak Garam di Kulit Gunung – Ekodramaturgi Eko

Penulis                      : Eko Supriyanto

Pengantar                : Saras Dewi

Editor`                       : Renee Sari Wulan

Penerbit                    : Yayasan Art Music Today Yogyakarta

Cetakan                    : Pertama (Juni 2026)

Deskripsi Buku       : xxv + 256 hlm.

ISBN                          : 978-634-96820-2-2

*Purnawan Andra, alumus Jurusan Tari ISI Surakarta, bekerja di Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan