Realisme Tragik Dardanella dan Sejarah Teater Realis Kita

Oleh: Seno Joko Suyono*

Naskah dr Samsi yang ditulis Anjar Asmara dan dimainkan Dardanella pertama kali pada akhir Januari tahun 1931 di Medan (yang di dramatic readingkan mahasiswa-mahasiswa teater IKJ pada Sabtu, 28 Juni untuk menyambut 100 tahun Dardanella)  boleh dibilang merupakah bibit bagi munculnya naskah naskah realisme Indonesia. Naskah ini seratus persen  mengangkat kisah masyarakat urban (perkotaan) pribumi Batavia saat itu. Naskah ini  bukan saduran dari kisah-kisah 1001 Malam atau adapatasi film-film bisu Amerika yang populer seperti Monte Christo, The Three Muskeeter, Sheik of Arabia, Prince of Baghdad dan sebagainya yang tahun-tahun sebelumnya sering dipentaskan oleh Dardanella mengikuti kultur tontonan  Stambul yang digemari masyarakat saat itu.

Di tahun 1930 itu bisa disebut titik bersejarah bagi Dardanella. Pendiri Dardanella Vladimir Klimanof alias Piedro  tahun 1930 tersebut agaknya mulai tertarik mengubah haluan orientasi kelompoknya  tidak sekedar kelompok yang menampilkan hiburan, nyanyian-nyanyian dan pementasan yang penuh adegan anggar-anggaran .Tapi juga mementaskan  naskah-naskah realis, terutama yang bernuansa tragedi. Di tahun  1929, sebelum mementaskan dr Samsi, Dardanella sudah mementaskan Annie van Mendut karya jurnalis dan tokoh pergerakan pendidikan Semarang R Soedarmo. R Soedarmo adalah pendiri sekolah Mardi Siswa. Naskah ini menceritakan seorang pemuda Indonesia yang menempuh pendidikan di Belanda dan kemudian menikah di Belanda, namun tatkala kembali ke Indonesia ia  kurang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sebagai seorang pendidik, agaknya R Soedarmo ingin melakukan kritik terhadap intelektual-intelektual pribumi lulusan Belanda namun kemudian tatkala balik gagasan-gagasannya kurang membumi.

Ketertarikan Piedro untuk mengangkat persoalan-persoalan kelas menengah urban Indonesia ini agaknya mendapat dukungan yang sangat kuat tatkala Anjar Asmara menggabungkan diri dengan Dardanella pada tahun 1930. Anjar Asmara adalah jurnalis yang telah malang melintang bekerja di media-media di Sumatra Barat dan Batavia. Di Batavia, ia memimpin Majalah Doenia Film & Sport. Di majalah itu, Anjar banyak menulis pementasan-pementasan Dardanella, dan membuat profil aktor-aktor Dardanella seperti Tan Tjeng Bok, Ferry Kok Astaman, Devi Dja, Fifi Young, Miss Riboet 2. Tatkala Anjar bergabung dengan Dardanella dan menjadi tangan kanan Piedro, ia makin banyak menulis secara serius  mengenai  potensi kekuatan teater realis Indonesia untuk dinikmati kalangan urban Indonesia. Ia aktif melakukan  kritik terhadap genre Stambul yang dianggapnya melenakan dan jatuh hanya kepada taraf lelucon hiburan. Ia berpendapat tontonan Stambul tak mendidik intelektualitas masyarakat. Ia mengingikan tonil Melayu dapat berkembang lebih jauh dari Stambul.  Anjar menginginkan pentas-pentas Dardanella selanjutnya, mampu mempertinggi derajat tonil Melayu.     Bisa dikatakan, Anjar Asmara adalah salah seorang penulis pertama Indonesia yang memikirkan  masa depan teater realis di Indonesia.

Banyak pengamat yang mengatakan naskah dr Samsi  sedikit banyak bersinggungan dengan ide-ide nasionalisme. Naskah dr Samsi adalah naskah yang dibuat setelah Sumpah Pemuda dicanangkan. Bukan tidak mungkin gelora Sumpah Pemuda juga ditangkap oleh para aktivis pergerakan kesenian. Semenjak 1931, dr Samsi konsisten dipentaskan Dardanella ke berbagai daerah dengan jangkauan penonton yang luas menggunakan bahasa Indonesia yang dipahami semua lapisan masyarakat. Tema cerita dr Samsi yang mengangkat setting modern dan sama sekali tak melibatkan karakter tokoh Belanda juga dipandang sedikit-banyak membantu menyebarkan kultur modern dalam masyarakat Indonesia. Namun bila kita periksa naskah dr Samsi ini sama sekali tidak ada dialog-dialog yang verbal mengritik  kolonialisme atau berbicara tentang kondisi pergerakan Indonesia. Naskah ini memang bukan naskah politik. Naskah ini naskah melodrama yang berbicara tentang kehidupan aktual perkotaan. Naskah ini mengangkat persoalan yang menimpa seorang dokter bernama Samsi akibat perbuatan  menghamili seorang perempuan bernama Sukaesih saat ia menjadi mahasiswa kedokteran .

Saat sang dokter  sudah bekerja di rumah sakit  dan sudah menikah resmi, Sukaesih meninggalkan bayi haram  hasil hubungan gelap itu ke rumah sakit itu. Di saat yang sama bayi hasil pernikahan resmi dr Samsi dengan Raden Ayu tengah sakit keras dan dirawat di rumah sakit . Dr Samsi membuat kesalahan fatal, saat bayinya wafat,  ia menerima ide Leo, asistennya agar menukar bayi wafat dengan orok bayi yang ditinggalkan seorang perempuan (Sukaesih)di rumah sakit. Agar Raden Ayu tidak sedih, dr Samsi melakukan hal yang melanggar etika kedokteran itu. Ia membohongi sang istri dengan memberikan bayi sehat yang bukan bayi mereka sendiri. Jadilah pasangan dr Samsi-Raden Ayu membesarkan anak yang bukan anak mereka.

Betapapun drama ini sama sekali bukan drama perlawanan, tapi drama ini  menempatkan profesi karakter-karakter utamanya adalah posisi yang sangat tinggi di masyarakat Hindia Belanda saat itu yaitu dokter dan ahli hukum. Di sini seolah ditekankan profesi dokter dan ahli hukum adalah profesi yang normal dalam kehidupan  sehari-hari bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia artinya sederajat dan selevel dengan masyarakat penjajah. Adalah menarik membandingkan karakter-karakter di Annie van  Mendut dan dr Samsi. Keduanya memiliki tokoh utama pemuda Indonesia lulusan hukum Belanda. Dalam Annie van Mendut, Andogo belajar hukum di Belanda. Sementara dalam dr Samsi,  Sugiat belajar hukum di Belanda. Di naskah Annie van Mendut, Andogo dianggap terlalu bersikap Eropa setelah pulang. Sementara di dr Samsi, Sugiat ditampilkan cemerlang  dengan memenangkan kasus seorang oerempuan yang dituduh membunuh. Perempuan itu tak diketahuinya ternyata ibunya sendiri: Sukaesih.

Kedua naskah ini dalam perjalanannya kemudian diangkat ke dalam film. Ini menunjukkan bahwa kedua naskah ini cukup populer dalam masyarakat.  Film dr Samsi disutradarai oleh Ratna Asmara yang merupakan istri Andjar Asmara dan juga anggota Dardanella. Ratna boleh disebut sebagai sutradara perempuan pertama Indonesia. Film dr Samsi muncul tahun 1952. Beberapa tahun lalu kemendikbud melakukan restorasi terhadap film ini. Kondisi awal pita film yang rusak dapat teratasi dan kita dapat menonton lagi film ini yang mungkin hasil restorasinya disimpan di sinematek.

Bila kita amati, baik dalam film dan naskah drama, motor cerita penentu sesungguhnya adalah sosok antagonis Leo. Sosok Leo menjadi pangkal ketegangan persoalan. Sosok Leo dalam film penampilannya perlente mengenakan jas, tapi acak-acakan dan selalu mabuk. Kita melihat di layar perak sosok Leo menerobos masuk saat di rumah Dokter Samsi diadakan pesta untuk Sugiat (adegan pesta ini tak ada dalam naskah asli). Leo meneguk brendi berkali-kali dan berdiri sempoyongan menatap para tamu. Tensi dramatik memang menurut saya bermula saat Leo datang ke rumah Dokter Samsi dan mengancamnya. Tensi terus menanjak sampai di rumah Leo terjadi perkelahian antara Leo dan Dokter Samsi hingga menyebabkan Leo tewas.Dalam adaptasi film, sampai akhir Sukaesih tidak ingin Sugiat mengetahui bahwa dirinya adalah anak Sukaesih dan Dokter Samsi. Sementara itu, di ending naskah asli, Dokter Samsi membuka rahasia kepada Sugiat, yang terheran-heran melihat bapaknya ada di rumah Sukaesih. “Sugiat, kau jangan heran melihat aku di sini, sebab aku sedang menyambangi ibumu. Sukaesih, inilah anakmu, anak kita, Sugiat, inilah ibumu yang sebenarnya, ibu yang melahirkan kau ke dunia.

***

Adalah menarik di masa kini memahami ulang naskah-naskah realis  Dardanella. Hal ini penting, karena dengannya kita membaca lebih utuh perkembangan naskah-naskah realis Indonesia. Naskah realis yang ditulis Piedro maupun Andjar Asmara  kemudian dipentaskan Dardanella keliling Indonesia di tahun 1930-an, bukan hanya dr Samsi.  Dari tulisan-tulisan para pengkaji teater Indonesia yang sering menulis sejarah teater Indonesia di masa-masa sebelum kemerdekaan dari Boen S Oemarjati, Jacob Sumardjo, Saini K.M  sampai Jaap Erkelen, kita bisa mencatat naskah-naskah realis Andjar Asmara atau Piedro untuk Dardanella di antaranya adalah:   Fatimma, Rentjong Aceh, Singa Minangkabau, Maharani, Halida, Mrs X, Mama Tjang, Si Bongkok, Perantaian 99, North of Borneo, Tjabi Minggola, Tandak Boeta, Sitti Soendari, Donker Glodok, Medan 1890-1930 (Suara dari Kubur).

Sampai saat ini  persoalannya belum terkumpul naskah-naskah Andjar Asmara dan Piedro itu dalam sebuah buku. Hingga kita tak bisa menyelami sampai sejauh mana realisme tragik yang dipergulatkan Andjar Asmara ke dalam karakter-karakter tokohnya. Apakah hanya sekedar melodrama psikologis biasa atau ada yang lebih jauh ke dalam. Problem-problem urban apa dalam kebudayaan perkotaan modern saat itu yang sering diajukan dalam naskah-naskah Dardanella, apakah hanya sekedar masalah domestik rumah tangga, masalah kawin-cerai atau ada yang lainnya. Sampai seberapa jauh identitas keIndonesiaan merasuk dalam naskah-naskah realis mereka?

 Dari kajian-kajian peneliti di atas sedikit banyak kita diinfokan tema yang disajikan dalam naskah naskah itu. Tjang misalnyaseperti diungkapkan Jaap Erkelens  berkisah tentang seorang nyonya tua peranakan Tionghoa yang tengah mengalami sakit parah. Ia memiliki dua putra bernama Pradja dan Resno. Dua anak itu dilahirkan sebelum ia menikah resmi. Dua putra itu membuat perkawinan resminya menjadi kacau balau. Kehidupan kedua putranya yang penuh persoalan makin membut hidup Tjang sengsara. Pradja sampai  pernah masuk ke  pengadilan  gara-gara aktivitas negatifnya. Tjang demikian kecewa terhadap tindakan-tindakan anaknya. Apalagi saat Pradja sampai membunuh anak adiknya, Resno. Dirumah sakit, menjelang kematnya. Mama Tjang sampai matanya buta. Adapun Fatimma menceritan seorang penari pura di Bali yang tidak diizinkan menikah dengan pilihannya. Tampak drama-drama realis Dardanella banyak berkaitan dengan tragedi keluarga dan tragedi cinta. Tokoh-tokoh perempuan sering menjadi pusat konflik moral.

Satu yang mengundang tanya adalah bertema apakah naskah Perantaian 99 ? Adakah ini berkaitan dengan kritik terhadap pertambangan di era kolonial? . Perantaian 99  termasuk naskah yang dipentaskan Dardanella di tahun 1929 sebelum naskah dr Samsi. Konon berkaitan dengan para narapidan yang oleh pemerintah kolonial dihukum dengan dipekerjakan sebagai buruh di  pertambangan batu bara Ombiln Sawah Lunto. Para narapidana yang bekerja di Sawah Lunto sering disebut sebagai orang rantai karena kedua pergelangan kaki mereka dipasangi rantai besi untuk membatasi langkah mereka. Angka 99 di judul naskah syahdan berkaitan dengan nomer narapidana.  Bila benar naskah ini bertema hal demikian, jelas naskah ini sangat berkaitan dengan kolonialisme. Tapi bila benar naskah ini merupakan kritik terahdap kolonialisme   mengapa jarang sekali disebut dalam sejarah teater kita? Ataukah saat dipentaskan Dardanella dulu hanya bertolak dari gagasaan saja dan memang tidak ada teks tertulisnya ? Mengapa naskah Bebasari karya Rustam Effendi yang ditulis tahun 1925 lebih banyak dikenal sebagai naskah yang anti kolonialis ?

Adalah menarik juga  misalnya membandingkan naskah-naskah realis Dardanella  dengan naskah-naskah Kwee Tek Hoay. Piedro bersahabat dengan Kwee Tek Hoay . Dardanella  juga pernah mementaskan naskah Bunga Ros dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay. Untuk peringatan 100 tahun Dardanella ini, DKJ dengan sutradara Irfan Hakim juga mementaskan naskah Mait  Idoep karya Kwee Tek Hoay. Naskah Mait Idoep adalah naskah yang secara khusus ditulis Kwee Tek Hoay untuk dipentaskan oleh Dardanella. Dan itu dipentaskan Dardanella di tahun 1931. Kwee Tek Hoay sendiri adalah jurnalis dan penulis naskah serta prosa yang jauh lebih senior daripada Andjar Asmara. Naskah drama pertama Kwee Tek Hoay: Allah Yang Palsu ditulis Kwee tahun 1919. Realisme yang diangkat Kwee mayoritas adalah realitas persoalan-persoalan yang ada dalam masyarakat keturunan Tionghoa. Dari mulai persoalan keluarga sampai permasalahan dalam organisasi-organisasi derma  di kalangan masyarakat peranakan Cina di perkotaan  diangkat oleh Kwee Tek Hoay. Bahkan Kwee Tek Hoay bisa dianggap salah seorang penulis Indonesia yang melakukan studi terhadap gagasan-gagasan teater realisme Ibsen. Pada tahun 1926, setahun sebelum dia menulis Bunga Ros dari Tjikembang,dia melakukan studi terhadap naskah terkenal Ibsen: An Enemy of the People atau Musuh Masyarakat dan bertolak dari situ ia menulis naskah berjudul: Korbannya Kok-Eng. Naskah ini merupakan kritik Kwee Tek Hoay yang mengecam kesalahan-kesalahan para pemimpin Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) , perkumpulan terkenal umat Tionghoa yang mendirikan dan mengurus  sekolah-sekolah Tionghoa.  Bisa disebut adaptasi Kwee Tek Hoay atas naskah Ibsen tersebut jauh mendahului Armyn Pane. Pada tahun 1943, Armyn Pane diketahui mempelajari naskah Ibsen: A Doll’s House (Rumah Boneka) dan kemudian mengadaptasinya menjadi naskah berjudul Ratna. Membanding realisme yang ditawarkan Kwee Tek Hoay dan realisme yang ditawarkan oleh Andjar Asmara tentu membuat kita bisa menangkap isyu-isyu yang ada di kalangan pribumi urban dan masyarakat Tionghoa peranakan urban saat itu.

Bahwa penting membaca sejarah ulang naskah-naskah realis Dardanella adalah karena generasi teater Indonesia kemudian pada awal-awal paska kemerdekaan  jarang sekali menampilkan pentas-pentas  naskah-naskah realis Dardanella .Tatkala  ATNI berdiri di tahun 1955 di bawah pengaruh Usmar Ismail dan kemudian Asrul Sani kurikulumnya lebih banyak mengarahkan mahasiswa pada drama modern Barat. Sejauh saya  baca dari buku-buku  sejarah teater dan juga saat pernah mendapat kesempatan mewawancari Tatik Maliyati -untuk pembuatan buku tentangnya, tak pernah  disebut mahasiswa-mahasiswa ATNI pernah mementaskan atau menafsrkan ulang naskah-naskah realis produksi Dardanella. ATNI langsug mengarahkan realisme ke realisme  naskah-naskah terjemahan. Apakah mereka menganggap naskah-naskah realis Dardanella rendah mutunya? Sehingga tak layak dipentaskan atau dipelajari? Apakah sebelum melakukan studi dan melakukan penerjemahan-penerjemahan  naskah Tennese William, Arthur Miller, Anton Checkov, Tolstoy, Ibsen,  dan sebagainya tak layak atau membuang-buang waktu  saja bila lebih dahulu memahami sejarah teater realis Dardanella ?

Naskah-naskah realis Dardanella kurang diingat dalam sejarah teater Indonesia mungkin  karena Dardanella kemudia dicap sebagai  sebuah kelompok yang  lebih menunjukkan “misi-misi” kesenian Indonesia di luar. Dardanella adalah kelompok yang seperti banyak dicatat buku, merupakan satu-satunya kelompo kesenian kita yang mampu  melakukan pentas keliling di Asia, Eropa dan Amerika. Dardanella dianggap mempopulerkan seni pertunjukan tari ke dunia. Untuk keliling ke luar ini, Dardanella lebih menunjukkan pertunjukan-pertunjukan yang berbasis tari dengan tajuk Royal Balinesse Dancer atau Royal Javanesse  Dancer.  Pementasan-pementasan realisme  mulai berkurang saat Dardanella memutuskan untuk keliling Eropa dan Amerika dengan membawa gamelan.  Tatkala keliling Asia Tenggara dengan tajuk Tour D’Orient  naskah seperti dr Samsi masih dipentaskan di Singapura.  .

Pada tour keliling Eropa dan Amerika ini Dardanella terlihat memposisikan diri berbeda dengan sebelumnya. Di pentas-pentas luar, keindonesian melalui sosok Dewi Dja  ditampilkan sebagai sesuatu yang mistik, eksotik dan turistik. Piedro adalah seorang yang memiliki kemampuan membaca pasar seni Eropa. Kebutuhan masyarakat Eropa saat itu untuk melihat kebudayaan timur yang anggun, misterius dan rahasia agaknya ditangkap dan ingin dipenuhi hasratnya oleh Piedro.  Salah satu yang luar biasa dan belum banyak ditulis lengkap  dalam buku-buku adalah bagaimana Piedro dapat memperoleh impresario-impresario yang mau mengontrak pementasan-pementasan mereka di Eropa dan Amerika . Kepergian Dardanella keliling Eropa dan Amerika sama sekali tidak didanai oleh pemerintah Belanda. Pertunjukan-pertunjukan Dardanella di Eropa dan Amerika seperti kita ketahui adalah pertunjukan-pertunjukan bertiket atau berbayar. Untuk keliling dan bertahan hidup di Eropa mereka hanya mengandalkan pemasukan tiket. Apabila di suatu tempat, penonton cukup banyak maka mereka menunggu kontrak-kontrak baru yang akan memanggungkan mereka di tempat lain.  Bagaimana sistem hubungan dan pembagian keuntungan mereka dengan para impresario di Eropa. Bagaimana mereka mendapatkan gedung-gedung pertunjukan cukup untuk pentas-pentas mereka  di Eropa dan Amerika. Itu yang tak banyak kita ketahui. Namun satu hal: touring-touring Dardanella ke Eropa dan Amerika menunjukkan tingkat kerja keproduseran Dardanella berada di level yang sangat professional dan perlu dipelajari di masa kini.

Di masa kini,  tak pernah ada kelompok-kelompok teater atau tari kita yang melakukan pertunjukan keliling di Eropa atau Amerika selama berbulan-bulan dan bertahan dengan hanya mengandalkan penjualan tiket seperti Dardanella. Rata-rata sekarang, pementasan teaterawan atau koreografer kita di luar, adalah karena undangan festival di luar– dengan dana keberangkatan  dari pihak festival. Atau dari dana-dana grant yang didapat setelah apply mereka dikurasi dan diterima.   Atau  keikut sertaan  mereka ke acara-acara kesenian di luar, dana keberangkatan dan beaya hidup di sana didapat dari meminta bantuan dana  dari pemerintah atau berhasil mendapat hibah bantuan dana pertunjukan di luar yang ditawarkan progam-progam pemerintah . Tidak ada seperti Dardanella, beaya sendiri dan keliling kota ke kota Eropa dari hasil penjualan tiket. Teater Koma pun, teater yang paling profesional masa kini dan memiliki semangat Dardanella , belum pernah melakukan hal demikian  . Dalam istilah sekarang Dardanella mungkin kelompok yang sudah  mampu melaksanakan prinsip-prinsip industri  ekonomi kreatif.  Studi tentang Dardanella , di 100 tahun perayaannya  – untuk membaca sejarah teater Indonesia makin menjadi penting.

*Seno Joko Suyono, Penulis, tinggal di Bekasi.