Bukan Orang Madura, Tapi DiPercaya Membaca Jiwa Musik Madura: Kisah Di Balik Kèjhung Lintas Terop 2026
Oleh: Fitri Bima Asih*
Di balik keberhasilan tur Kèjhung Lintas Terop 2026, terdapat kolaborasi artistik yang telah terbangun melalui proses panjang antara koreografer Sri Cicik Handayani, S.Sn., M.Sn. dan komposer muda asal Trenggalek, Dimas Adinata Raharja, S.Sn., yang lebih dikenal dengan nama panggung Saminata.
Kolaborasi keduanya bermula pada tahun 2024 melalui karya tari kontemporer Nandhang, sebuah karya yang dipentaskan dalam ajang bergengsi Indonesia Dance Festival (IDF) 2024 di Yogyakarta. Dalam karya tersebut, Sri Cicik melihat potensi besar yang dimiliki Saminata sebagai komposer muda yang tidak hanya menguasai aspek musikal, tetapi juga memiliki kemampuan membaca gagasan koreografis secara mendalam.

Gambar 1.Pementasan Kèjhung Lintas Terop 2026 di Kabupaten Pasuruan, Sumber Pribadi, 16 Juni 2026
Kepercayaan tersebut tidak lahir tanpa alasan. Sebagai lulusan Program Studi Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Saminata dikenal memiliki ketertarikan yang kuat terhadap keragaman musik tradisional Nusantara. Ia tidak sekadar mempelajari bunyi sebagai elemen estetis, melainkan juga memahami konteks budaya, sejarah, serta fungsi sosial yang melatarbelakangi lahirnya sebuah tradisi musikal.
Karya Nandhang menjadi titik awal hubungan kreatif yang kemudian berkembang semakin erat. Setelah sukses dipresentasikan dalam Indonesia Dance Festival 2024, karya tersebut kembali memperoleh ruang apresiasi yang lebih luas ketika dipentaskan dalam ARTJOG 2025, salah satu perhelatan seni rupa dan seni pertunjukan paling bergengsi di Indonesia. Keberhasilan tersebut semakin memperkuat keyakinan Sri Cicik untuk terus melibatkan Saminata dalam berbagai proyek penciptaan berikutnya.
Salah satu hal yang membuat Sri Cicik tertarik terhadap cara kerja Saminata adalah keberaniannya memasuki wilayah-wilayah musikal yang belum pernah ia kuasai sebelumnya. Sebagai seorang etnomusikolog, Saminata memiliki kebiasaan melakukan studi lapangan secara mandiri terhadap berbagai instrumen tradisional di Nusantara. Ketertarikannya terhadap instrumen tiup tradisional menjadi salah satu aspek yang menonjol dalam proses kreatifnya.
Sebelum terlibat dalam proyek Kèjhung Lintas Terop, Saminata telah banyak mempelajari berbagai instrumen tiup tradisional dari sejumlah daerah. Pengalaman tersebut membuatnya tertantang untuk memahami saronen, instrumen tiup khas Madura yang memiliki karakter bunyi kuat, ekspresif, dan menjadi identitas penting dalam berbagai kesenian rakyat Madura.
Kemampuan Saminata dalam menyerap pengetahuan baru secara cepat menjadi faktor penting yang kemudian meyakinkan Sri Cicik untuk mengajaknya terlibat lebih jauh dalam penelitian artistik mengenai tradisi Madura. Dalam berbagai proses riset lapangan, Saminata menunjukkan kepekaan yang tinggi terhadap detail-detail musikal yang sering kali luput dari perhatian. Ia tidak hanya mempelajari teknik permainan saronen, tetapi juga berusaha memahami bagaimana instrumen tersebut berfungsi dalam membangun atmosfer sosial dan emosional dalam sebuah pertunjukan rakyat.
Pendekatan tersebut sejalan dengan metode penciptaan yang selama ini dikembangkan Sri Cicik, yakni menjadikan riset sebagai fondasi utama dalam proses berkarya. Pertemuan antara perspektif koreografi berbasis penelitian yang dimiliki Sri Cicik dengan pendekatan etnomusikologis yang dikembangkan Saminata melahirkan dialog artistik yang produktif dan berkelanjutan.

Gambar 2. Komposer Dimas Adinata Raharja dalam Kèjhung Lintas Terop 2026 di Kabupaten Bojonegoro, Sumber Pribadi, 19 Juni 2026
Dalam tur Kèjhung Lintas Terop 2026, yang berlangsung pada 11–21 Juni 2026 dan menyambangi Banyuwangi, Pasuruan, Bojonegoro, hingga Sumenep, peran Saminata menjadi semakin signifikan. Ia tidak hanya bertugas menyusun komposisi musik, tetapi juga terlibat dalam proses pembacaan budaya lokal di setiap daerah yang dikunjungi. Melalui pendekatan tersebut, musik yang dihadirkan tidak berfungsi sebagai pengiring semata, melainkan menjadi medium yang mempertemukan berbagai pengetahuan budaya dalam satu ruang pertunjukan.
Kemampuan adaptasi yang dimiliki Saminata menjadikannya sosok penting dalam perjalanan artistik Nèat Project. Ia mampu menerjemahkan hasil riset lapangan ke dalam bahasa musikal yang komunikatif tanpa kehilangan akar tradisinya. Di saat yang sama, ia juga berani menghadirkan pendekatan-pendekatan baru yang membuat karya tetap relevan dengan perkembangan seni pertunjukan kontemporer.
Bagi Sri Cicik Handayani, keberadaan Saminata bukan hanya sebagai komposer, melainkan sebagai mitra kreatif yang turut berkontribusi dalam membangun identitas artistik karya-karyanya. Sementara bagi Saminata, kolaborasi ini menjadi ruang pembelajaran yang memperkaya perspektifnya sebagai seniman muda yang terus mengeksplorasi kekayaan musik Nusantara.
Perjalanan dari Nandhang di Indonesia Dance Festival 2024, berlanjut ke ARTJOG 2025, hingga kemudian menempuh lintasan budaya dalam Kèjhung Lintas Terop 2026, menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin dapat melahirkan karya-karya yang tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga nilai pengetahuan. Sebuah perjalanan kreatif yang membuktikan bahwa tradisi akan terus hidup ketika diwariskan melalui proses belajar, riset, dan keberanian untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru.
—
*Fitri Bima Asih – Mahasiswa Program Pascasarjana Seni ISI Yogyakarta Jurusan Tata Kelola Seni




