“Selamat Datang di Kota Bangkalan” (Gugatan Seorang Anak Atas Kekerasaan dalam Rumah Tangga)

Oleh Afrizal Malna

Dari pertunjukan “Jek Nebenne!” Arung Wardhana Elhafifie

Arung Wardhana di depan rumah kos. Foto: Afrizal Malna

Arung Wardhana memilih tiga variabel yang diriset untuk mengungkap kekerasaan dalam rumah tangga (KDRT), dialaminya sebagai seorang anak yang dibesarkan di Bangkalan, Madura. Yaitu tukang pijat, penambang batu bara dan petani. Narasumber utama pertunjukan.

Sejak awal, pertunjukan ini menyasar ke arah teater biografis yang berkelindan dengan metode dokumentasi dan rekonstruksi sebagai performance lecture. Hampir dua tahun lamanya Arung mengumpulkan arsip dan pendataan di sekitar KDRT sebagai tema utama pertunjukan.

Material arsip berupa foto, video, teks, peralatan kerja, peralatan rumah tangga, dan benda keras yang digunakan dalam KDRT menjadi materi utama pertunjukan. Semua elemen ini dikemas menjadi video, audio, instalasi, slide dan galeri. Mereka semua adalah tubuh-pertunjukan yang memainkan peran dan fungsinya masing-masing. Pilihan medium ini berlanjut ke kerja pembagian ruang pertunjukan.

Rumah kos (tempat Arung menetap dan memproses pertunjukan) digunakan sebagai galeri untuk instalasi, foto maupun drawing yang dihasilkan selama latihan dilakukan. Rumah kos ini merupakan bangunan memanjang dengan 5 kamar yang disewakan sebagai kamar kos. Bangunan terletak di seberang pintu gerbang “Selamat Datang di Kota Bangkalan”, bersebelahan dengan Gardu Induk Listrik 150 kV, di Jl. KH. Munif, Genangkah, Burneh, Bangkalan. Halaman rumah kos digunakan sebagai area pertunjukan, layar pemutaran video, dan pameran foto yang didisplay sebagai jemuran dalam kantong-kantong plastik.

Kamera drone digunakan untuk memperlihatkan radius ruang pertunjukan hingga ke bentangan sawah di depan bangunan kos dan supermarket Alfa Mart, di seberang jalan. Jalan utama yang tidak pernah tidur dalam arus transportasi ke jembatan Suramadu yang melintasi Selat Madura menuju Surabaya. Sawah sebagai literasi masa kanak-kanak dan Alfa Mart sebagai literasi budaya konsumsi masa kini.

Dari materi dan pembagian ruang pertunjukan yang digunakan Arung, sudah memperlihatkan tingkat kerumitan untuk mengelola pertunjukan dan mewujudkannya menjadi apa yang kemudian disebutnya sebagai performance lecture. Final pertunjukan (sebagai karya virtual maupun dokumen digital) pada gilirannya ditentukan oleh penyutradaraan kamera melalui dua kamera digital dan satu kamera drone.

Tiga elemen utama pertunjukan, yaitu slide yang didesain oleh Ali Ibnu Anwar, video oleh Abi ML dan pameran oleh Hayat, merupakan tubuh utama pertunjukan yang fungsinya cukup vital. Konten pertunjukan bisa dianggap sudah eksis melalui tiga elemen ini sebagai “instalasi pertunjukan”. Dan kemudian musik oleh Yosua Nocholas Siahaan. Slide berfungsi sebagai alur dan konten pertunjukan, video berfungsi sebagai rekonstruksi KDRT, dan pameran sebagai rangkaian arsip biografis maupun foto-foto latihan.

Sutradara yang baper dan diblokir

Konsep performance lecture digunakan Arung melalui tatapan Ralph Lemon. Di Indonesia, konsep ini bisa dilihat melalui pertunjukan “Pinjam” karya Melati Suryodarmo (Dewan Kesenian Jakarta, 2016), sebagian besar performance art Irwan Ahmett, pertunjukan Teater Ghanta “Partitur 47:17 Side B” (Pekan Teater Nasional, Jakarta, 2018), maupun pertunjukan “Eniac” dari Fujiiyamaannette (Dewan Kesenian Jakarta, 2018).

Slide pertunjukan Arung Wardhana oleh Ali Ibnu Anwar

Performance lecture bekerja mirip teater propaganda yang mengangkut teknik orasi maupun presentasi. Dalam hal ini Arung bekerja sebagai sutradara yang hadir dalam “tubuh-narator”. Bekerja mengelola seluruh elemen pertunjukan dalam rajutan teks dan konteks, presentasi dan representasi untuk mendapatkan tubuh dan ruang barunya. Isu utama performance lecture dalam pertunjukan ini adalah reproduksi masalalu ke tubuh masakini; memori domestik dari KDRT dibongkar dan ditempatkan kembali di ruang publik menjadi memori publik. Keduanya berfungsi sebagai produksi pengetahuan dan estetika, memantulkan pembacaan dua wajah antara orang tua sebagai pelaku maupun korban KDRT dan anak yang menyaksikan KDRT dan membentuk ruang traumatik masa kanak-kanaknya.

Konsep performance lecture sebagai permainan tunggal dalam ruang pertunjukan, menghadapi masalah atau gangguan baru ketika Arung juga menggunakan tubuh arsip dan tubuh aktor (Fitrotul Khoiriyah dan Mochammad Danuar Indar Moslem) sebagai narator orgonik dalam pertunjukan. Gangguan ini menjadi intens ketika sutradara melanjutkan komunikasi dengan aktor-aktornya melalui komunikasi WA (whatsapp). Dan menjadi ekstrim ketika sutradara baper (jatuh cinta) pada salah seorang aktornya.

Situasi baper berlanjut ketika momen ini berkembang memicu “konflik” dalam tubuh pertunjukan. Sang aktor meninggalkan proses dan memblokir sutradara dari jaringan WA-nya. Konsep performance lecture memang tidak disiapkan untuk bisa menjawab datangnya masalah yang tidak terduga ini dan menjadi ancaman laten untuk gagalnya pertunjukan.

Apakah pertunjukan bergeser atau berubah dari tema KDRT menjadi tema baper ketika sutradara jatuh cinta pada aktornya?

Bagaimana nasib pertunjukan ketika aktor memblokir sutradara?

Bagaimana caranya menyelamatkan pertunjukan?

Pertunjukan. Foto: Afrizal Malna

Intervensi sebagai solusi dan warga internet

Arung menggunakan berbagai strategi untuk mengubah konflik menjadi gagasan. Arsip-arsip sang aktor yang diproduksi selama proses latihan dikumpulkan menjadi elemen baru pertunjukan: handuk, sabun, jepitan rambut, foto dan drawing yang pernah dibuat sang aktor. Elemen-elemen ini dijadikan materi baru sebagai potongan-potongan performance lecture yang diposting melalui akun @arungwardhanaelhafifie, dan bergerak dalam ruang warga internet melalui instagram.

Reaksi yang diperoleh melalui komunikasi WA dan instagram dikelola kembali dalam ruang nyata maupun sebagai input baru untuk pertunjukan. Salah satu hasil positif dari metode ini, adalah datangnya kembali sang aktor untuk menjadi bagian dari pertunjukan, dan munculnya elemen-elemen baru yang bisa mengubah anatomi maupun substansi pertunjukan.

Tubuh organik pertunjukan maupun struktur pertunjukan dengan sendirinya terguncang oleh pergi dan kedatangan kembali sang aktor dalam waktu yang genting, karena pertunjukan akan berlangsung dalam hitungan tiga hari ke depan. Guncangan yang ikut mengubah substansi pertunjukan. Konsekuensi dramaturgi dalam pertunjukan ikut bergeser karena peristiwa ini. Kembalinya sang aktor tidak lantas melanjutkan posisi aktor yang pernah ditinggalkan, melainkan diubah oleh Arung sebagai aktor yang merekonstruksi peran dan adegannya sendiri: Posisi aktor sebelum pergi diubah menjadi arsip, dan posisi aktor ketika datang kembali ditempatkan sebagai kerja rekonstruksi dalam medan representasi arsip.

Slide pertunjukan Arung Wardhana oleh Ali Ibnu Anwar

Arung kemudian menyebut metode ini sebagai “intervensi” ke tubuh pertunjukan, dan merupakan solusi dalam mengatasi masalah genting yang dihadapi pertunjukan. Metode intervensi kembali ditempuh ketika pertunjukan menghadapi berbagai masalah teknis pada saatnya: masalah kabel data antara proyektor video dan komputer, matinya jenset, matinya komputer sentral untuk streaming, jumlah kamera yang tidak lengkap dari yang dibutuhkan dan hujan. Pertunjukan “Jek Nebenne!” (Madura: “Jangan Macam-macam!”) berlangsung 20 Februari 2021, pukul 19.30 dan bisa disaksikan melalui link youtube.

Masalah teknis membuat pertunjukan baru bisa dilakukan menjelang pukul 9 malam, dan ikut berpengaruh dalam bagaimana penonton diposisikan. Masalah bagaimana aktor diposisikan kembali (karena konflik internal) dan bagaimana penonton diposisikan kembali (karena masalah teknologi pertunjukan), secara signifikan mendapatkan metode baru melalui intervensi yang dilakukan Arung ke dalam pertunjukannya sendiri.

Metode intervensi menjadi semacam “ghost-dramaturgi” yang ditempuh untuk mengatasi situasi genting yang dialami pertunjukan. Secara signifikan ia mengubah struktur pertunjukan, namun tidak menghancurkan metode awal dalam mewujudkan elemen-elemen pertunjukan.

Galeri pameran dalam pertunjukan. Foto: Afrizal Malna

Gugatan seorang anak atas KDRT

Dalam pertunjukan, imajinasi atas memori keluarga dibangun melalui nyanyian tradisi Jawa dalam menidurkan anak: “Tak Lelo Ledhung” dari Sa’unine (https://youtu.be/CruACpAEIrY), dan dilanjutkan dengan petikan gitar Yosua Nocholas Siahaan. Dunia Madura direpresentasi melalui tembang Madura yang dilantunkan mirip mantra. Ini merupakan pondasi awal untuk KDRT mendapatkan dinding primordialnya.

Melalui berbagai referensi, Arung melebarkan radius KDRT ke dalam kategori kekerasan suami atas istri, dan sebaliknya kekerasan istri atas suami. Dalam konteks budaya Madura, akar kekerasan ini direntang ke tradisi blater (jawara lokal) dengan batas era Cultuurstelsel masa Hindia Belanda (terutama dalam konteks industri garam Madura). Kemudian menggiringnya ke trauma seorang anak yang dibesarkan dalam masalalu KDRT, yaitu disorientasi identitas dalam diagram jumlah kegagalan maupun keributan yang dihadapi sang anak.

Pertunjukan yang berangkat dari riset KDRT dalam ranah biografis ini, memunculkan tatapan baru menjadi gugatan seorang anak atas KDRT yang dialaminya. Dan inilah metafor dari “Selamat datang di kota Bangkalan”. Arung menggunakan lagu “Selalu Mengalah” dari Seventeen yang direcover oleh Julia Vio (https://youtu.be/TK1nCKu8ORM) untuk membuka ruang lebih lebar dari KDRT ke radius masakini.

Slide pertunjukan Arung Wardhana tentang Blater oleh Ali Ibnu Anwar

Penonton di hadapan sutradara yang baper

Menurut Kamus Bahasa Gaul, arti kata “baper” adalah akronim dari bawa perasaan. (https://lektur.id/arti-baper/). istilah ini sering digunakan oleh sebagian besar anak muda untuk mengungkapkan suatu keadaan yang berkaitan dengan perasaan. Baik itu perasaan sedih, senang, hingga marah … Tidak jarang, istilah baper diungkapkan ketika seseorang mendapatkan rayuan atau kata-kata romantis dari pasangannya. Di sini, dapat diartikan bahwa seseorang tersebut luluh dan terbawa perasaan senang atau gembira saat mendengar kata-kata manis yang dilontarkan pasangan. Bukan hanya itu, istilah baper juga kerap diberikan pada seseorang yang tiba-tiba emosi atau marah hanya dengan suatu candaan sederhana dari teman (https://www.merdeka.com/jateng/mengenal-istilah-baper-ketahu-alasan-seseorang-mudah-terbawa-perasaan-kln.html).

Arung memberi ruang yang beresiko terhadap substansi pertunjukan, ketika ia memberi ruang yang signifikan dalam pertunjukan atas situasi sutradara yang baper terhadap salah seorang aktornya. Situasi baper ini bisa dibaca sebagai bertambahnya dinding pertunjukan dan menggeser intensitas atas tema KDRT pertunjukan. Sebagian penonton mungkin melihatnya persis seperti ini, karena sang aktor hadir sebagai tubuh-organik, sementara KDRT hadir sebagai tubuh-arsip, walau seluruh pelaku KDRT hadir dalam pertunjukan. Bahkan sebagian penonton mungkin menganggap: “tidak pantas mengungkapkan aib keluarga dan sutradara yang jatuh cinta ke dalam panggung pertunjukan”.

Apakah penonton boleh melakukan intervensi ke dalam pertunjukan?

Pertunjukan. Foto: Afrizal Malna

Untuk saya, situasi baper yang dialami sutradara merupakan bagian dari trauma identitas atas masalalu KDRT yang dialaminya. Bahwa baper bisa menjadi salah satu akar potensial dalam memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan untuk marah maupun untuk jatuh cinta. Baper berada dalam ruang pendek ketika memutuskan sesuatu yang terkesan gegabah. Tetapi tidak berarti baper itu dangkal. Mungkin baper adalah justru merupakan ruang dalam yang dibentuk oleh situasi ekstrim tertentu, dalam hal ini KDRT. Lembaga keluarga dan posisi ibu dalam pernikahan yang ditempatkan di bawah suami (sebagai kepala keluarga), menjadi akar kekerasan yang laten.

Galeri pameran, yang oleh Arung diberi nama sebagai “Galeri Bucin” (: budak cinta) dalam pertunjukan, merupakan hiperlink dari KDRT, dan sekaligus memantulkan metode rekonstruksi sebagai dekontruksi atas identitas yang traumatik.

Menjelang akhir pertunjukan, Arung menghadirkan video clip “Ill Still Have Me” dari Cynthia Nabozny (https://youtu.be/-MZgtCp8mtc). Fitrotul Khoiriyah, aktor yang merupakan pusat personifikasi dari situasi baper yang dialami sutradara, muncul dengan kostum sebagai replika atas kostum Cynthia dalam video clipnya. Ruang online dari video clip “Ill Still Have Me” dibocorkan menjadi ruang offline dalam pertunjukan Arung.

Galeri pameran dalam pertunjukan. Foto: @arungwardhanaelhaffifie

Permainan dua wajah dalam pertunjukan antara arsip sebagai “tubuh masalalu” dan produk-produk budaya masakini sebagai “tubuh masakini”, digunakan Arung untuk memantulkan radius tema maupun metode pertunjukan ke wilayah publik. Memproduksi pengetahuan sebagai pembacaan dua wajah di sekitar tema KDRT dan potensinya dalam membentuk ruang traumatik atas anak yang ikut mengalami KDRT.

Pertunjukan ini meninggalkan kerumitan pada penonton, dan juga pada seluruh tim pertunjukan (termasuk Arung sendiri), dalam menempatkan tema KDRT yang direntang sebagai akar kekerasan dalam rumah tangga, tradisi blater dalam kultur Madura, trauma dan disorientasi identitas, hantu-hantu kegagalan dan baper.

Kerumitan yang membuat penonton tidak nyaman. Namun juga memantulkan potensi sebagai cara membawa penonton untuk keluar dari kultur kekerasan yang terbentuk melalui lembaga-lembaga makna yang memiliki otoritas dalam memanipulasi kekerasaan sebagai bagian dari “pengabdian”, “kewajiban”, “kepatuhan”, “ketulusan” maupun “pengorbanan”.

Membongkar lembaga makna sebagai akar kekerasan, dan mungkin telah menjadi akar majemuk yang saling menjalin, ikut mempengaruhi struktur pertunjukan sebagai jaringan literasi yang saling membuka dan memakan dirinya sendiri. Molornya durasi pertunjukan dari rencana 1.30 jam menjadi dua jam lebih, memperlihatkan penyutradaraan waktu yang alot dalam mencairkan struktur pertunjukan.

Gerbang Kabupaten Bangkalan. sumber: youtube

Pertunjukan yang dihasilkan lewat kerja kolaborasi inter disiplin ini, dan sebagai karya Tugas Akhir (Program Studi Seni Program Magister, Institut Seni Surakarta) memberikan kontribusi khas untuk tumbuhnya teater biografis sebagai metode meretas tema-tema gelap, seperti kekerasan dalam rumah tangga. ***

*Penulis adalah Sastrawan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *