Pos

Utopia Pertunjukan: Ketika Seni Menolak Menjadi Sekadar Simulasi

Oleh Eko Yuds* Antara Tubuh Yang Hadir Dan Bayangan Yang Diproduksi Layer Apakah seni pertunjukan masa depan masih membutuhkan tubuh manusia, atau cukup layar, sensor, dan algoritma yang bergerak rapi seperti mesin kasir emosi. Dunia hari ini memproduksi pengalaman visual dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara waktu kontemplasi manusia justru semakin menyempit. Teknologi […]

Menyusuri Dunia Puisi Aslan Abidin: Dimensi dan Posisi dalam Perpuisian Indonesia

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Pendahuluan Membaca puisi-puisi Aslan Abidin sering kali terasa seperti memasuki sebuah kota pada jam-jam yang tidak dicatat dalam peta wisata. Ada senja yang basah, lorong-lorong sosial yang pengap, percakapan batin yang berlangsung setengah berbisik, setengah memberontak. Makassar hadir, tetapi tidak sebagai latar geografis semata. Ia menjelma pengalaman. Dari sanalah […]

“Surat Wasiat” dan Etika Ingatan: Membaca Agus R. Sarjono dari Puisi yang Mengikat Puisi-Puisinya

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Masuk Melalui Pertanyaan Estetik Ada satu pertanyaan yang selalu terasa mengganjal setiap kali kita berhadapan dengan penyair yang puisinya banyak, beragam, dan (yang terpenting) saling berbicara satu sama lain: bagaimana mungkin kita memilih satu puisi terbaik tanpa mengkhianati puisi-puisi yang lain? Pertanyaan ini bukan perkara selera, apalagi soal peringkat. […]

Politik Tubuh (Pasca Penutupan) Gang Dolly: Sebuah Utopia Menghapus Pelacuran?

Oleh  Afiyanti*   “Upaya meniadakan pelacuran sering dibingkai sebagai kemenangan moral, sebuah utopia yang dibangun atas keyakinan bahwa regulasi dapat membersihkan ruang sosial dari praktik yang dianggap ‘menyimpang’. Pelacuran diperlakukan sebagai masalah moral yang bisa dihapus melalui larangan, bukan sebagai konsekuensi dari sistem ekonomi politik yang tidak menyediakan alternatif hidup yang layak bagi pekerjanya.” Dokumenter […]

Melawan dengan Dapur: Etika Hidup Sunyi dalam Puisi Fajrul Alam

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Kesederhanaan sebagai Pilihan Estetik dan Etika Esai ini berangkat dari satu keyakinan yang sengaja saya letakkan di awal: kesederhanaan dalam puisi-puisi Fajrul Alam (Resep Bahagia, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Jejak Pustaka, 2025) bukanlah akibat dari keterbatasan estetik, melainkan hasil dari pilihan sadar: pilihan ideologis sekaligus etis. Di tengah iklim perpuisian […]

Menjadi Penyair Badai: Anatomi Sastra Vivere Pericoloso

Oleh Gus Nas Jogja* Secara etimologis dan historis, Bung Karno mempopulerkan frasa ini dari bahasa Italia untuk menggambarkan revolusi Indonesia yang belum selesai. Namun, secara filosofis, anatomi dari vivere pericoloso berakar jauh pada pemikiran Friedrich Nietzsche tentang Amor Fati. Hidup yang berbahaya bukanlah hidup yang konyol; ia adalah hidup yang menyadari bahwa stabilitas hanyalah ilusi […]

Acep Zamzam Noor dan Puisi sebagai Jalan Tarekat Kultural

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Posisi Acep dalam Peta Sastra Indonesia Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 28 Februari 1960, dan merupakan putra sulung dari KH Ilyas Ruhiat, seorang kiai ternama di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Pengaruh lingkungan pesantren sangat kuat dalam kehidupan awalnya, dengan praktik tarekat dan zikir harian, sehingga […]

Menjaga Bahasa Puisi: Antara Kebebasan Imajinasi dan Tanggung Jawab Makna

Oleh: Abdul Wachid B.S.*   1. Pendahuluan Dalam beberapa dekade terakhir, dunia perpuisian Indonesia memperlihatkan gejala yang menarik sekaligus mengkhawatirkan: semakin banyak puisi ditulis dengan gaya yang cenderung mengabaikan kejelasan makna. Kata-kata berjejal dalam deretan larik yang puitik secara bunyi, namun tak jarang kehilangan daya ungkap secara substansial. Bahasa seakan hanya menjadi parade metafora dan […]

Menyajikan Peta, Mengonstruksi Wacana

Oleh Indro Suprobo & Ons Untoro ——————– Sosialisme memiliki banyak sekali bentuk dan merupakan fenomena yang beragam. Meskipun demikian ia memiliki empat karakteristik fundamental. Pertama, sosialisme memiliki komitmen untuk menciptakan masyarakat yang egaliter. Kedua, sosialisme memiliki kepercayaan tentang kemungkinan dibangunnya sebuah sistem egalitarian alternatif yang didasar-kan pada nilai-nilai solidaritas dan kerjasama. Ketiga, sosialisme memiliki pandangan […]

Kebudayaan Sebagai Ruang Hidup

Oleh Mudji Sutrisno SJ.* 1. Kebudayaan merupakan tata acuan nilai-nilai hidup perjalanan bermartabat bagi anak-anak dari rahimnya, baik sebagai individu maupun komunitas. Anyaman nilai agar hidup bersama itu berharkat bagi masing-masing sebagai manusia, membuat jalan budaya menjadi jalan peradaban. Kebudayaan adalah juga ruang hidup ‘intuitif’, tempat cita rasa estetis yang merayakan dan memuliakan kehidupan dalam […]