Pos

Kehangatan Rumah Jawa Kolonial dan Kopi Dingin

Oleh Lutfi Priambodo* Perjalanan menuju ruang dimensi waktu dan sejarah, membawa kehangatan di setiap sudut dan detailnya, warna yang dominan putih dan tiang tiang penyangga atau orang jawa menyebutnya sebagai “Saka” memberikan nuansa pengingat suatu era. Tertulis 1890 di suatu Rumah bergaya  Kolonial memberikan jawaban atas ingatan masa lalu bawa sejarah pernah terbentuk dan menjadi […]

Dari Jalanan ke Galeri: Membaca Pameran “Tidak Ada Makan Siang Hari Ini”

Oleh Saptaria An-Nisa Nirwikara* Street Art dan Ruang Publik Seni jalanan atau street art merupakan salah satu praktik seni yang ekosistemnya masih bertahan hingga sekarang. Praktik ini terus menarik perhatian anak muda dan telah lama digunakan sebagai medium untuk menyampaikan pesan maupun kritik. Street art tumbuh di ruang publik dan berinteraksi langsung dengan lingkungan kota […]

Kafka Memancing di Lombok

 Oleh Sigit Susanto*   “Bapak ini, bantulah ibu di dapur, cuci piring, cuci baju, ngepel. Ini kerjaannya mancing-mancing terus,” ucap Wiwit. “Tuung, tuuung, tuuung, tuuung, tuuung, tung, tung,” bunyi gendang-beleg yang diimitasi Reza menjadi musik pengiring pentas wayang. Begitulah sepotong kisah pagelaran superpendek yang dimainkan dalang Wiwit dan penabuh musik Reza. Pada sesi tanya jawab […]

Bumifilia Strategis: Mengadopsi Budaya Bunker Perang Iran Menuju Komunalisme Bawah Tanah ala Budaya Indonesia

Oleh Mochammad Sulton Sahara*   Di kedalaman 80 meter Pegunungan Zagros, fasilitas nuklir Fordow Iran bukan hanya lolos dari serangan hipersonik dan bom bunker buster; ia mengirim pesan sederhana tapi tegas: hidup di bawah tanah bisa menjadi bentuk kedaulatan. Dari sana lahir gagasan bumifilia strategis, kecintaan, atau setidaknya kenyamanan, pada ruang bawah tanah sebagai bagian wajar […]

Hegemoni Bahasa: 4×4=16

Oleh Kim Young Soo*   Kita selalu membicarakan hegemoni sesuatu bahasa terhadap bahasa lain, seperti hegemoni bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia. Namun begitu, kita belum pernah membicarakan hegemoni “bahasa gaul”, yang dipenuhi oleh singkatan yang hanya dipahami oleh orang tertentu, terhadap bahasa yang lain. Saya membincangkan perkara tersebut dengan rujukan khusus terhadap masyarakat dan masyarakat Indonesia. Apakah […]

Menulis Esai: Gaya, Praktik, dan Relevansi

Oleh Abdul Wachid B.S.*   Bahasa dan Gaya dalam Esai Bahasa adalah tubuh esai, sedangkan gaya adalah napasnya. Tanpa bahasa yang hidup, esai hanya menjadi catatan dingin yang hambar. Tetapi tanpa gaya yang khas, esai kehilangan identitas personal penulisnya. Oleh karena itu, bahasa dan gaya dalam esai selalu menuntut keseimbangan: antara kebebasan dengan ketepatan, antara […]

Menjelajah Esai: Teori, Ciri, Jenis, dan Kerangka

Oleh Abdul Wachid B.S.*   Pendahuluan Esai adalah salah satu bentuk tulisan yang unik, sekaligus sederhana dan kompleks. Sederhana karena ia tidak terikat oleh kaidah seketat karya ilmiah, namun kompleks karena menuntut kejujuran batin penulis sekaligus ketajaman berpikir. Dalam sejarah literasi, esai lahir sebagai ruang percobaan gagasan. Michel de Montaigne, tokoh yang dianggap sebagai perintis […]

Utopia Pertunjukan: Ketika Seni Menolak Menjadi Sekadar Simulasi

Oleh Eko Yuds* Antara Tubuh Yang Hadir Dan Bayangan Yang Diproduksi Layer Apakah seni pertunjukan masa depan masih membutuhkan tubuh manusia, atau cukup layar, sensor, dan algoritma yang bergerak rapi seperti mesin kasir emosi. Dunia hari ini memproduksi pengalaman visual dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara waktu kontemplasi manusia justru semakin menyempit. Teknologi […]

Menyusuri Dunia Puisi Aslan Abidin: Dimensi dan Posisi dalam Perpuisian Indonesia

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Pendahuluan Membaca puisi-puisi Aslan Abidin sering kali terasa seperti memasuki sebuah kota pada jam-jam yang tidak dicatat dalam peta wisata. Ada senja yang basah, lorong-lorong sosial yang pengap, percakapan batin yang berlangsung setengah berbisik, setengah memberontak. Makassar hadir, tetapi tidak sebagai latar geografis semata. Ia menjelma pengalaman. Dari sanalah […]

“Surat Wasiat” dan Etika Ingatan: Membaca Agus R. Sarjono dari Puisi yang Mengikat Puisi-Puisinya

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Masuk Melalui Pertanyaan Estetik Ada satu pertanyaan yang selalu terasa mengganjal setiap kali kita berhadapan dengan penyair yang puisinya banyak, beragam, dan (yang terpenting) saling berbicara satu sama lain: bagaimana mungkin kita memilih satu puisi terbaik tanpa mengkhianati puisi-puisi yang lain? Pertanyaan ini bukan perkara selera, apalagi soal peringkat. […]