Pos

Kolektor sebagai Produsen Makna: Membaca EZ Halim dan Amrus Natalsya

Oleh Syakieb Sungkar* Cara seorang kolektor mengoleksi dapat dipahami sebagai suatu disiplin pengetahuan tersendiri, sebagai bentuk epistemologi praksis: pengetahuan yang lahir dari pengalaman berulang, afeksi, intuisi, kegagalan, dan keterlibatan jangka panjang dengan karya seni. Dalam memilih karya, cara mengkurasi seorang kolektor sering kali tidak sepenuhnya dapat dirumuskan secara verbal, namun hasilnya sangat presisi dalam praktik. […]

Kesiur Cinta: Bahasa, Sunyi, dan Etika Ketidakhadiran dalam Puisi Timur Sinar Suprabana

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Kesiur Cinta: Metafora yang Sunyi Puisi cinta, dalam kebiasaan baca yang umum, kerap dipahami sebagai wilayah luapan emosi. Ia diharapkan menyuarakan kegembiraan, kehilangan, cemburu, atau rindu dengan nada yang tegas, bahkan kadang berlebih. Cinta diasumsikan mesti hadir sebagai peristiwa yang terasa: menyala, menggelegak, dan mudah dikenali. Dalam kerangka semacam […]

Menjadi Penyair Badai: Anatomi Sastra Vivere Pericoloso

Oleh Gus Nas Jogja* Secara etimologis dan historis, Bung Karno mempopulerkan frasa ini dari bahasa Italia untuk menggambarkan revolusi Indonesia yang belum selesai. Namun, secara filosofis, anatomi dari vivere pericoloso berakar jauh pada pemikiran Friedrich Nietzsche tentang Amor Fati. Hidup yang berbahaya bukanlah hidup yang konyol; ia adalah hidup yang menyadari bahwa stabilitas hanyalah ilusi […]

Dunia Ahmad Syubbanuddin Alwy: Spiritualitas, Sejarah, dan Eksistensi dalam Puisi Modern Indonesia

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Pendahuluan Di jagat sastra Indonesia modern, nama Ahmad Syubbanuddin Alwy berdiri sebagai fenomena yang menautkan sejarah, spiritualitas, dan pengalaman eksistensial dalam suatu harmoni puisi yang jarang kita temui. Ia bukan hanya penyair lokal yang menulis tentang kota asalnya, Cirebon, melainkan seorang pengembara batin yang merentang kesadaran manusia ke dalam […]

Acep Zamzam Noor dan Puisi sebagai Jalan Tarekat Kultural

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Posisi Acep dalam Peta Sastra Indonesia Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 28 Februari 1960, dan merupakan putra sulung dari KH Ilyas Ruhiat, seorang kiai ternama di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Pengaruh lingkungan pesantren sangat kuat dalam kehidupan awalnya, dengan praktik tarekat dan zikir harian, sehingga […]

Syair Braen: Dari Doa Ritual menuju Etika Sosial dan Tasawuf Komunal

Oleh Abdul Wachid B.S.* Syair Braen: Doa, Perempuan, dan Ingatan Kolektif Jawa-Islam Syair Braen tidak dapat dipahami hanya sebagai teks atau pertunjukan. Ia adalah ingatan yang dilagukan. Ia hidup dalam tubuh orang-orang desa, dalam suara perempuan, dan dalam situasi-situasi genting ketika hidup berhadapan langsung dengan batasnya: kematian, sakit, kehilangan, dan harapan yang digantungkan sepenuhnya kepada […]

Sistem Desentralisasi sebagai Product-Market Fit yang Belum Sesuai untuk Indonesia

Oleh Kelvin William Judul: MENCARI INDONESIA Jilid 5: Ketimpangan, Ketidakadilan, & Masyarakat Pinggiran Penulis: Riwanto Tirtosudarmo Penerbit: Media Nusa Creative Publishing, Malang Cetakan: I, 2025 Tebal: x–xxiv + 390 halaman Dalam dunia entrepeneuership, istilah product-market fit merujuk pada kondisi ketika sebuah produk benar-benar menemukan pasarnya, yakni dibutuhkan, digunakan, dan diapresiasi oleh penggunanya. Konsep ini sesungguhnya […]

Pertarungan di Ruang Putar

Oleh Tonny Trimarsanto*   Saat itu, saya tidak terlalu ingat persis tahunnya, namun maaf saya tetap ingin ceritakan suasananya, soal kegudahan yang belum terjawab. Suatu hari, saya dikontak oleh penyelenggara Q Film Festival. Mereka ingin memutar filem saya, yang bertema minoritas gender. Dengan senang hati, saya menyampaikan kesediaan untuk diputar dalam program festival mereka. Sejak […]

Ngalah, Ngalih, Ngelih, Ngantuk

Arsitektur Kesadaran dalam Perjalanan Menuju Kosong Oleh: Gus Nas Jogja* Mukadimah: Empat Gerbang Menuju Jati Diri Dalam jagad pemikiran Jawa, eksistensi manusia tidak dipahami melalui *diktum Cartesian* _“Cogito Ergo Sum”_ yang maknanya “Aku berpikir maka aku ada”, melainkan melalui sebuah laku rasa yang dinamis dan melingkar. Hidup adalah sebuah orkestra perpindahan energi yang dirangkum dalam […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA KENDHIT DAN LURIK LELUHUR Pagi itu, embun masih menempel di pucuk kelor dan bambu halaman. Aku membuka peti tua warisan Bapak, pada malam yang didekap mimpi oleh suara azan yang tak sempat dijawab. Dalam peti itu, kendhit tua tergulung rapi seperti ular tanah yang lama berpuasa dalam doa. Dan lurik kusam terlipat bisu seperti […]