Musik Klasik Bukan Antek Asing: Sebuah Catatan Ananda Sukarlan dari Lampung & Samarinda
Oleh Ananda Sukarlan*
Sebagai seorang komponis dan pianis klasik yang mendalami tradisi Bach, Tchaikovsky dan Debussy, saya percaya bahwa musik bukan hanya hiburan dan hiasan kehidupan tetapi esensi kehidupan itu sendiri — bahasa universal yang melampaui batasan geografi, budaya, dan waktu. Selama bertahun-tahun tampil baik untuk penonton berjumlah besar, konser daring tanpa penonton langsung (terutama selama pandemi) dan ruang musik intim, saya telah menyaksikan bagaimana seni dan musik mempersatukan kita semua. Namun, justru di pelosok yang belum terjamah, bahkan mendengar musik klasik pun belum pernah, jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan, pengenalan kekuatan kreatif ini memiliki arti penting yang mendalam. Di sinilah, jauh dari sorotan dan simfoni metropolis, seni dan musik dapat menjembatani kesenjangan, menumbuhkan ketahanan, dan memperkaya kehidupan dengan cara yang transformatif dan esensial.
Seni dan musik berfungsi sebagai alat vital untuk pelestarian dan revitalisasi budaya. Budaya kini menjadi sangat penting sebagai benteng terakhir pertahanan identitas ke-Indonesiaan kita, setelah kita kehilangan kedaulatan dalam bidang-bidang lain : data pribadi warga Republik Indonesia kini sudah ditransfer ke Amerika sejak 19 Februari 2026, dan langit Indonesia pun kini dinegosiasikan untuk pesawat Amerika melalui “blanket overflight”. Ibaratnya kita mengaku punya rumah atau apartemen, tapi semua orang Amerika berhak masuk lewat pintu rumah kita dan melihat semua barang, kekayaan dan kehidupan kita. Belum lagi dari segi industri kita mengimpor banyak sekali bahan pangan yang sebetulnya bisa kita budidayakan di negeri sendiri.
Itu sebabnya saya berkeinginan mengunjungi berbagai kota yang belum “terjamah” musik klasik di Indonesia, baik melalui Kompetisi Piano Nusantara Plus yang telah berlangsung 3 tahun, maupun lewat berbagai masterclasses dan seminar yang sebetulnya adalah temu muka karena para penonton saya persilahkan untuk bertanya apa saja. Terakhir ini saya ke Bandar Lampung (15-16 April) dan Samarinda (17-19 April), dan nanti setelah saya balik ke Indonesia (saya juga tinggal di Spanyol, rumah kedua saya) bulan Juni nanti saya akan lanjutkan di pulau Jawa, dimulai dari Salatiga, Yogyakarta dan beberapa tempat di Jawa Tengah.
Masyarakat adat seringkali memiliki tradisi lisan yang kaya, tarian berirama, dan penceritaan visual yang diturunkan dari generasi ke generasi. Memperkenalkan bentuk-bentuk seni eksternal, baik itu struktur indah sonata Mozart atau ekspresi abstrak lukisan modern, tidak melemahkan berbagai tradisi kita, melainkan memperkayanya. Kebalikannya juga terjadi : ingat bahwa musik Claude Debussy (1862-1918) pasca Paris Expo 1889 terbentuk dari pengenalannya dengan gamelan Jawa. Tahun 1907 Pablo Picasso menerima sebuah “wahyu” ketika melihat seni Afrika di museum etnografi di Palais du Trocadéro. Penemuan seni Afrika oleh Picasso mempengaruhi lukisannya Les Demoiselles d’Avignon yang dilukisnya tepat setelah itu, serta banyak lukisan berikutnya.
Berkat inisiatif Amadeus Music Course di Lampung, serta Nusantara Youth Music Olympics (NYMO) di Samarinda, saya bahagia bisa mempertemukan dan “menjadi moderator” dialog antara yang lama / tradisional dan yang baru, yang “Barat” dan yang “Timur”, memungkinkan kelompok-kelompok terisolasi untuk menenun pengaruh global ke dalam tenunan mereka sendiri. Dua institusi swasta itu memang bergerak di pendidikan musik “Barat”, tapi saya tidak lelah dalam mengajak para guru dan muridnya untuk menggali nilai-nilai tradisi mereka. Kebetulan mereka bukan hanya mengundang saya untuk memberi masterclass dalam permainan instrumen, tapi juga dalam bentuk seminar santai. Amadeus (Lampung) menyebutnya “Ngobras” — Ngobrol dengan Ananda Sukarlan, dan NYMO di Samarinda dalam bentuk “A.I” — Ananda’s Insight ; dua judul acara yang cukup kreatif, walaupun intinya sama. Saya bukan hanya berbicara, tapi juga mendengarkan kegelisahan dan kegalauan seniman-seniman lokal. “Ngobras” diadakan di Rumah Kayu, sebuah tempat makan yang ikonik di Lampung, dan “A.I.” lebih konvensional : di ballroom Five Premiere Hotel di Samarinda. Penonton kebanyakan terdiri orang tua yang menginginkan pendidikan musik “di jalan yang benar” untuk anak-anaknya serta para guru musik.

Bersama penerima tamu di Hotel Marriott, Lampung.

Para peserta “Ngobras” (Ngobrol dengan Ananda Sukarlan) di Rumah Kayu, Lampung
Dalam proses kreatif saya sendiri, memadukan melodi rakyat dengan bentuk-bentuk klasik di banyak karya saya terutama “Rapsodia Nusantara” yang kini berjumlah 44 nomor telah menghidupkan kembali lagu-lagu yang terlupakan, bahkan “memaksa” saya untuk mempelajari banyak lagu yang belum pernah saya dengar dari berbagai daerah. Bagi mereka yang berada di daerah terpencil, akses ke instrumen dan partitur serta rekaman musik yang kini tersedia secara digital dapat memicu kebangkitan kembali warisan mereka, mencegah erosi budaya di tengah globalisasi.
Di luar pelestarian budaya, manfaat kognitif dan emosional dari seni dan musik sangat berharga di lingkungan yang terisolasi. Saya sendiri mengalaminya setiap hari: terlibat dengan musik mempertajam pikiran dan fokus, meningkatkan daya ingat, dan menjadi katarsis dari emosi yang tidak bisa saya ekspresikan baik dengan kata maupun tingkah laku. Di tempat-tempat di mana pendidikan formal musik dan seni mungkin terbatas, mendiskusikan kesenian dapat merangsang kreativitas dan pemikiran kritis. Bayangkan seorang anak suku Dayak mengambil biola untuk pertama kalinya—kedisiplinan latihan membangun kesabaran dan fokus, sementara meniti keindahan kurva-kurva melodi menawarkan penghiburan di tengah kesulitan hidup.

Bersama panitya masterclass & seminar di Samarinda.

aat tiba di bandara Balikpapan, Ananda Sukarlan bersama manajernya Chendra Panatan dengan penari tradisi penyambut di bandara.
Terapi seni juga menyediakan wadah ekspresi di komunitas yang bergumul dengan tantangan lingkungan atau isolasi sosial, mendorong kesejahteraan mental di mana sumber daya profesional langka. Selain itu, seni dan musik bertindak sebagai jembatan ke dunia yang lebih luas, memerangi keterasingan yang timbul akibat keterpencilan geografis. Di era konektivitas yang seringkali justru memicu perpecahan, inisiatif seperti grup musik keliling atau lokakarya seni daring dapat menghubungkan individu yang terisolasi dengan percakapan global.
Sebagai seorang musisi, saya telah membawa opera “Saidjah & Adinda” di hadapan penduduk Lebak yang menjadi lokasi cerita Multatuli tersebut, menghadirkan musik kamar ke audiens berbagai pedesaan, menyaksikan mata mereka berbinar dengan pengakuan akan emosi manusia yang sama — kegembiraan, kesedihan, kemenangan. Bagi masyarakat awam, paparan ini memberdayakan advokasi; hal itu membekali mereka untuk berbagi kisah mereka melalui seni, memperkuat suara-suara yang mungkin tetap tidak terdengar. Musik, khususnya, menyatukan tanpa kata-kata, menciptakan ikatan komunal yang memperkuat jalinan sosial yang terkikis oleh jarak. Kesimpulannya, memperkenalkan seni dan musik kepada masyarakat yang masih merasa asing bukanlah tindakan amal tetapi pengakuan akan kemanusiaan kita bersama. Hal ini tidak hanya memperkaya penerima tetapi juga lanskap artistik global, karena perspektif baru menanamkan vitalitas baru ke dalam tradisi klasik. Saat saya menceritakan betapa kuatnya ekspresi sebuah melodi kepada publik, saya menyatakan bahwa setiap nada memiliki kekuatan untuk menjangkau jiwa terjauh, menyelaraskan satu akord ke akord berikut. Mari kita berkomitmen pada simfoni inklusi ini, karena di tempat-tempat yang paling sunyi, resonansi terbesar menanti.
—-
*Komponis dan pianis klasik.





