Memahami Subtext dan Analogi Lawan Catur Terjemahan W.S. Rendra

Oleh Edy Susanto

1

Lakon The Games of Chess karya Kenneth Sawyer Goodman, (selanjutnya disingkat dengan inisial TGoC dan KSG) dialihbahasakan W.S. Rendra menjadi Lawan Catur (selanjutnya disingkat dengan inisial LC), bukan Permainan Catur, sebagaimana makna leksikal. Penulis kira W.S. Rendra memiliki pertimbangan sendiri dalam menerjemahkan lakon tersebut, karena bagi W.S. Rendra, memaknai “sebuah ruangan tertentu, dan ada dua orang yang sedang bermain catur, serta keduanya saling berhadapan, lalu di tengah mereka, terdapat papan catur; dan bukan ‘catur’ sebagai nama suatu permainan atau olah raga, yang harus ‘dilawan,’ melainkan orang yang duduk di hadapan, dan posisinya berada di sebelah papan catur itulah, yang harus “dilawan.” Mengingat Rendra, seorang seniman, tidak heran, jika dirinya terbiasa dengan gaya bahasa metafora, simbolik, personifikasi dan asosiasi, dalam mengistilahkan ‘sesuatu,’ sehingga terjemahan yang dipilih: LC, dan sekali lagi: bukan Permainan Catur, tentu sangat dapat dimengerti. Rendra tertarik menerjemahkan TGoC, disebabkan lakon tersebut bertema politik dan kekuasaan, yang merupakan tema favorit, yang hampir selalu mendominasi lakon-lakon yang ditulisnya, atau diterjemahkannya, yang biasanya segera disesuaikan dengan konteks politik di Indonesia, terutama pada rezim penguasa Orde Baru, dengan sub tema hegemoni penguasa atas rakyat. Rendra sendiri secara nyata, pernah mengalami pemberangusan atas karya-karyanya, khususnya pada pergelaran teater dan pembacaan puisi yang bertema politik dan kekuasaan, bahkan gara-gara hal itu, ia dijebloskan ke dalam penjara oleh rezim Orde Baru.

Buku The Games of Chess karya Kenneth Sawyer Goodman

Lakon LC sebagaimana lakon-lakon yang lain, baik lakon karya pengarang Indonesia maupun karya pengarang asing, bersifat universal dan memenuhi asas ‘di sini’ dan ‘sekarang.’1 Persoalan lain lagi yang menjadi pertimbangan Rendra, dalam pemilihan nama karakter. Nama karakter dalam lakon aslinya Alexis Alexandrovitch, Boris Ivanovitch Shamrayeff, Constanine, dan Footman, 2 yang merupakan nama-nama orang Rusia, kemudian oleh Rendra diubah menjadi Samuel Glaspell, Oscar Yakob, Antonio, dan Verka, yang sekilas mirip nama-nama orang Spanyol, bahkan Rendra menyelipkan kata salam ‘bois nastardas’ yang diucapkan oleh karakater Samuel Glaspell maupun Oscar Yakob, yang adalah salam orang Spanyol3 yang artinya ‘langsung pada intinya.’ Pemberian nama-nama mirip orang Spanyol pada karya-karya lakonnya maupun terjemahan, sangat dapat dimengerti, karena ia terpengaruh, oleh lakon-lakon, seperti: karya Fritz Hochwalder, dialihbahasakan oleh Rendra menjadi Paraguay Tercinta4 pada 1961; yang mana nama-nama karakter lakon itu mengadopsi nama-nama orang Spanyol, walau latar tempatnya Amerika Latin; Mastodon dan Burung Kondor5 yang ditulisnya pada 1973, meski latar tempat Amerika Latin, namun khusus untuk nama-nama karakter, ada pengaruh dari nama-nama Spanyol, sebab salah satu negara di Amerika Latin itu, lama dijajah oleh Spanyol. Keterpengaruhan Rendra bisa jadi karena ia belajar dari Montserrat, sebuah lakon karya Immanuel Robles,6 alih bahasa Asrul Sani, yang dari segi cerita ada keterkaitan dengan Spanyol. Ketiga lakon tersebut, memiliki kemiripan dalam hal tema: politik dan kekuasaan, sub tema hegemoni penguasa atas rakyat, dengan premis hegemoni kekuasaan yang bertendensi otoriter terhadap rakyat; sejalan dengan lakon LC, karya KSG. Hanya patut disayangkan, lakon LC, tahun berapa tepatnya lakon itu, pertama kali diterjemahkan, kemudian dipentaskan oleh Rendra, dan tempat pentasnya, semua serba tidak diketahui secara pasti; tetapi menurut pengakuan Arifin C Noer, lakon LC dimainkan oleh dirinya dan Rendra, dengan sutradara Rendra pada sekitar 1960-an.7

Foto Kenneth Sawyer Goodman

Sesuatu yang kelihatan “sepele’ tetapi penting untuk diperhatikan adalah soal nama pengarang lakon LC, pada versi terjemahan W.S. Rendra yang sempat tersebar luas, dalam lakon itu tertulis nama pengarang Kenneth Arthur,8 ada pula yang menulis William Kenneth,9 dan bukan KSG. Hal ini tentu saja cukup membingungkan, dari titik mana datangnya kesalahan pencantuman nama pengarang tersebut mulai terjadi. Penulis, jelas tidak yakin, seorang Rendra tidak mengetahui jika lakon hasil terjemahannya itu sering dipentaskan oleh pelbagai kelompok teater di Indonesia. Kalaupun disebut saja, Rendra mengetahuinya, tetapi dia tidak pernah mengoreksi kesalahan pencantuman nama pengarangnya itu; maka yang menjadi pertanyaan, mengapa Rendra melakukan pembiaran seperti itu? Bila demikian kasusnya, penulis dapat berkesimpulan, bahwa kesalahan awal memang ada pada Rendra, dalam hal ini Rendra telah lalai sebagai penerjemah; atau jangan-jangan – ini praduga yang muncul tiba-tiba – lakon LC yang telah terlanjur tersebar luas itu, bukanlah hasil terjemahan Rendra? Maka jika pencantuman nama pengarang saja dapat salah, bukankah kesalahan yang sama dapat terjadi pada pencantuman nama penerjemah? Terlepas dari hal itu kelalaian yang sudah menahun, tentu saja menjadi sangat penting dan harus segera dilakukan upaya pengoreksian total terhadap kesalahan maupun kelalaian yang sudah terjadi. Kedepan, sangat perlu adanya ketelitian dari masing-masing pihak, sehingga hal semacam itu tidak terulang kembali. Kita boleh sepaham, dengan keyakinan dalam karya seni “pengarang sudah mati,” namun selain sebagai salah satu upaya untuk mengapresiasi dan menghargai pengarang yang sebenarnya, pengetahuan akan pengarang, bagaimana pun akan tetap dapat memberikan signifikansi dan relevansinya.

Beberapa faktor yang memotivasi lakon LC10 karya KSG alihbahasa W.S. Rendra banyak dipentaskan oleh kelompok teater amatir, termasuk teater sekolah/kampus, bahkan hampir di setiap Perguruan Tinggi Seni, lakon tersebut dijadikan sebagai mata kuliah praktik wajib Program Studi Seni Teater.11 Penyebab lakon LC ini sering dipentakan, dikarenakan: pertama, struktur lakon hanya terdiri dari satu babak, dengan beberapa adegan. Tipe lakon satu babak, sebagaimana yang telah mentradisi, hanya menghadirkan satu topik kejadian, tempat, dan waktu peristiwa (ingat trilogi Aristoteles);12 kedua, dramatis personae13 lakon ini hanya terdiri atas empat tokoh: SG, OY, Antonio dan Verka; ketiga, struktur, unsur-unsur, nilai-nilai dramatik, serta konflik lakon, sangat mengandung kejelasan; keempat, dialog-dialog para tokoh sangat terasa lugas dan bernas, di ‘tangan’ Rendra ini, dan hampir seluruh dialog tokoh-tokohnya terasa sangat penting, sehingga tidak alasan bagi kita melakukan pengeditan; kelima, skenografi cukup ringkas dan sederhana, sehingga mudah mewujudkannya di atas panggung; keenam, lakon ini bermazhab realisme, dan bergenre tragedi, yang identik dengan adanya suspense dan surprise; ketujuh, lakon ini sebetulnya dibaca saja sudah menarik (semacam closed drama), apalagi jika dipentaskan; dan kedelapan, tema dan premis LC, adalah hegemoni kekuasaan, yang cenderung status quo dan mengatasnamakan stabilitas nasional. Indonesia pernah mengalami hal semacam itu tatkala rezim Orde Baru berkuasa.

Foto W.S. Rendra diruang kerjanya

Sebagaimana judul artikel ini “Memahami Subtext dan Analogi Lawan Catur Terjemahan W.S. Rendra ” maka penulis akan membahasnya dari segi lain yakni pendekatan subteks (subtext) yang artinya ‘maksud tersembunyi’ atau maksud secara ‘tersurat’ (implisit) dan analogi induktif. Analogi induktif adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan terhadap gejala khusus dengan membandingkan atau mengumpamakan suatu objek yang sudah teridentifikasi secara jelas, terhadap objek yang dianalogikan sampai dengan kesimpulan yang berlaku umum (Alghadari, 2018:1).

Lakon LC bercerita tentang SG sebagai seorang Menteri Urusan Kepolisian yang bertanggung jawab akan keamanan negara, dirinya merasa sangat perlu bermain

catur, sebab permainan itu dapat mengasah otaknya, termasuk bagaimana cara mengatur strategi, terutama ketika harus menghadapi ‘para pemberontak’ terhadap pemerintah, seperti OY itu. Hari itu SG sedang bermain catur dengan Antonio, bawahannya, sambil menunggu kedatangan OY. Tidak lama Verka, ajudan SG menghadap, melaporkan bahwa OY sudah tiba dan sedang menunggu di ruang sekretaris. Verka juga melaporkan bahwa Antonio sudah merekomendasi OY untuk tidak digeledah dan setelah itu Verka keluar ruangan. Tidak digeledahnya OY karena segala yang menyangkut riwayat hidupnya sudah dipelajari secara seksma oleh SG.

SG kemudian mengatakan kepada Antonio bahwa permainan catur waktunya tinggal sepuluh menit lagi. Tidak berlangsung lama, Verka menghadap dan kali ini bersama OY. SG menyambut kedatangan OY dengan menyapa terlebih dulu, dan akhirnya mereka saling bertegur sapa. Verka dan Antonio izin pamit keluar, dan papan catur bekas permainan mereka tetap dibiarkan begitu saja di dalam ruangan itu. Verka dan Antonio diminta oleh SG untuk menunggu di taman sambil mencari inspirasi karena nanti setelah pertemuannya dengan OY, permainan catur akan dilanjutkan kembali.

Foto W.S. Rendra 

Maka tinggallah berdua dalam ruangan itu, OY dan SG. Suasana lumayan ‘kikuk,’ karena OY adalah tipe orang yang serius, penuh menyelidik, pemalu, dan pendiam; sedang SG tipe seorang yang serius, tenang dan tegas, terus menginterogasi OY secara halus, dengan berbagai pertanyaan, agar suasana terasa ‘cair.’ SG perlu diacungi jempol sebagai seorang yang benar-benar pemberani, ketika sedang menghadapi OY, seorang pemberontak berkelas, ‘membawa pistol,’ sementara SG tidak membawa pistol, tangan kosong.

OY tampak terus menyelidik, mencoba mengitari seluruh isi ruangan. Namun SG segera meyakinkan, bahwa di luar ruangan tidak ada orang-orang yang mengintai,bahkan SG menyuruh OY, untuk mengunci pintu ruangan kantor tersebut.

SG tahu bahwa OY membawa pistol, disembunyikan dalam saku celananya, sehingga SG menyuruhnya untuk memperlihatkan pistolnya. Saat SG mendekati bel, OY menegur keras sambil menodongkan pistolnya ke arah SG, supaya SG tidak memencet bel tersebut. Untuk mencairkan suasana dan mengalihkan perhatian, SG mengajak OY untuk bermain catur. Ternyata OY tidak berminat unuk bermain catur. OY merasa yakin, dirinya dapat segera membunuh SG, sehingga ia berpesan pada SG untuk berdoa. SG menolak untuk berdoa, dan sebaliknya, SG menyindir OY, yang masih belum berani juga, untuk segera bunuh diri.

Foto W.S. Rendra

Guna mempertegas bahwa dirinya tidak punya cita-cita politik dan bukan seorang yang fanatik, OY bercerita tentang riwayat pribadinya secara panjang lebar. Bahwa dirinya adalah anak seorang petani, rakyat jelata, sedangkan SG adalah anak bangsawan. OY sangat merasakan zaman itu hingga ia dewasa bertindak sangat kejam, menindas rakyat. Maka itu OY bergabung dengan partai revolusioner untuk melawan pemerintah. SG tidak mau kalah, ia membalikkan cerita bahwa si bangsawan itu adalah OY dan si petani itu adalah SG. OY merasa cerita itu bohong maka ia mengancam SG dengan menodongkan pistolnya, tetapi SG tetap meyakinkan pada OY dengan cerita itu dan bahwa cerita itu benar, tidak bohong. OY berbalik pikiran, ia sadar bahwa ia telah dibohongi oleh SG, maka itu ia siap menembak SG.

SG merasa dirinya akan mati di tangan OY; namun dalam perkembangan pikirannya, OY ternyata ragu untuk menembak SG, karena baginya, kemungkinan cerita itu benar.

Kesempatan itu, digunakan SG dengan sebaik-baiknya untuk mengajak OY, mati bunuh diri bersama, dan ternyata ajakannya itu berhasil. Sebab OY juga tidak setuju bila cara bunuh diri bersama dilakukan dengan saling menembakkan diri dengan pistol. SG menawarkan ide bunuh diri bersama, dengan cara meminum racun. OY ternyata setuju dengan cara itu.

Foto W.S. Rendra bersama Gus Dur dan Setiawan Djodi

SG kemudian memperlihatkan sebuah cincin pada OY. Menurut SG, apabila pada cincin itu ditekan per-nya, maka akan keluar semacam tepung racun, yang hebat di bawah akiknya. Lalu di antara mereka harus diundi terlebih dulu. Bila undian jatuh pada salah satu di antara mereka, maka yang terkena undian, melakukan bunuh diri dengan menembakkan pistol, dan satunya lagi yang tidak terkena undian, melakukan bunuh diri dengan meminum racun. OY tiba-tiba marah dan menuduh semua cerita serta penawaran bunuh diri dengan meminum racun adalah bohong belaka. Tetapi SG tetap pada idenya semula, ia menuangkan racun ke dalam gelasnya, dan meminumnya lebih dulu, supaya OY percaya. Maka OY pun ikut menenggak racun, yang sudah dituangkan ke dalam gelas.

Setelah meminum racun itu, tiba-tiba tangan OY, tidak dapat digerakkan. Ini membuktikan, bahwa racun itu bekerja cukup cepat. Efeknya kepala OY juga terasa pusing. SG mengakui, bahwa seluruh cerita sebelumnya itu, adalah dusta belaka. SG, ternyata tidak apa-apa tetap sehat meski ia meminum racun. Tubuh OY agak lunglai, dan ia mencari kesempatan untuk mengambil pistol untuk membunuh SG, tetapi gagal, SG keburu merebutnya. OY dengan tubuh sempoyongan mencoba untuk berjalan. Ketika OY hendak menerkam SG, tiba-tiba tubuh OY terjatuh sendiri, tepat di dekat kursi. SG dengan sepuas-puasnya menyebut OY sebagai teroris. SG mengakui, bahwa senjata utama dirinya adalah otak, bukan pistol. Akhirnya OY tewas di tangan SG, setelah meminum racun. Maka ketika Antonio masuk ruangan, SG kembali mengajaknya untuk bermain catur lagi.

Menyimak dari sinopsis di atas, dan diperdetail dengan dialog yang terdapat pada lakon LC, bahwa lakon tersebut adalah lakon sebabak dengan tujuh adegan. Tujuh adegan itu terbagi ke dalam dua bagian, yakni adegan satu hingga adegan empat mengetengahkan “Persiapan SG dalam Menghadapi Permainan Catur dengan OY” dan adegan lima hingga adegan tujuh adalah “Permainan Catur SG dengan OY antara Kalah dan Menang.” Istilah ‘permainan catur’ yang dimaksud di sini adalah permainan catur secara imajiner. Permainan catur secara nyata atau ‘harafiah’-nya adalah ketika SG bermain catur dengan Antonio.

Membaca adegan satu hingga adegan empat, jelas terbaca pada dialog-dialog antara SG dengan Antonio, jika mereka sedang bermain catur. Secara tafsir subteks, sangat sarat makna, yang dapat digali dari dialog mereka berdua di dalam ruangan kerja SG. 1) Permainan catur sudah menjadi pedoman dan filosofi hidup seorang SG; 2) Strategi permainan catur, dengan pergerakan buah-buah caturnya (‘pion,’ ‘benteng,’ ‘kuda,’ ‘gajah,’ ‘ratu,’ dan ‘raja’) di atas papan catur, yang dapat saling menyerang dan ‘mesekakmat’ digunakan SG untuk mendukung tugas dinasnya di bidang keamanan negara; 3) Permainan caturnya dengan Antonio, tidak lain adalah bekal untuk mendukung dan memperkuat konsep strateginya dalam menghadapi OY kelak; dengan kata lain, segala konsep strategi yang terlihat pada pergerakan buah-buah catur sudah diisikan ke dalam otak SG, sehingga ia dalam posisi sangat siap dalam menghadapi OY kelak; 4) Papan catur dengan pergerakan buah-buah catur yang ada di atasnya, yang dimainkan oleh SG dengan Antonio, diimajinasikan oleh SG sebagai perwujudan dari dialog-dialog yang dilontarkan serta gestur dan mimik yang diperlihatkan oleh SG maupun OY kelak; 5) Riwayat hidup OY secara lengkap dari masa kanak-kanak hingga dewasa sudah dipelajari secara mendalam oleh SG, atau dengan kata lain ‘kartu’ OY sudah ada di ‘tangan’ SG, maka dengan begitu akan cukup mudah untuk ‘melumpuhkan’ OY; 6) Pendidikan, jabatan, dan pangkat SG lebih tinggi, termasuk pula pengalaman di lapangan jauh lebih luas, dan SG seorang yang ahli dalam strategi; tentu ia akan memenangkan perdebatan saat berhadapan dengan OY; dan 7) Memiliki anak buah yang loyal pada atasan dan lokasi pertemuan dengan OY di kantor kerja SG, dengan kata lain, OY masuk ke atau berada di ‘kandang macan.’ sehingga sulit untuk OY nanti, dapat keluar dengan selamat. Jadi pada adegan satu hingga adegan empat yang baru saja dibahas di atas merupakan “Persiapan SG dalam Menghadapi Permainan Catur dengan OY”

Foto W.S. Rendra semasa remaja

Sedangkan secara analogi, dalam adegan satu hingga adegan empat lakon LC, ada beberapa pemahaman: 1) Judul “Persiapan SG dalam Menghadapi Permainan Catur dengan OY” maksudnya pertemuan dan perseteruan SG dengan OY kelak, dianalogikan seperti permainan catur yang sedang dilakukan oleh SG dengan Antonio; 2) SG menganalogikan dirinya sendiri sebagai buah catur ‘raja’ dari kelompok putih dan OY dari buah catur ‘raja’ kelompok hitam yang mana di hadapan SG dan OY tidak kelihatan (imajiner) ada buah-buah catur lain, seperti ‘raja,’ ‘ratu,’ ‘gajah,’ ‘kuda,’ dan ‘benteng.’ baik dari kelompok putih maupun kelompok hitam; seperti permainan catur saat itu yang sedang dijalaninya bersama Antonio; dan 3) Ruangan kantor SG dianalogikan sebagai papan catur yang memiliki enam puluh empat kotak persegi empat warna putih dan hitam, dengan delapan kotak di setiap sisi, dan luas papan catur itu delapan kali delapan sentimeter; dan 4) Orang-orang yang ada di kantor SG (bawahan SG) dianalogikan sebagai buah-buah catur dari kelompok putih, semisal SG (‘raja’), Antonio (‘ratu’), Verka (‘pion’) dan yang lain karena hanya disinggung dalam dialog saja, tidak muncul di atas panggung (in absentia)14 dan yang pasti seluruh bawahan SG yang ada di kantornya masing-masing ada yang dianalogikan selevel buah catur ‘gajah,’ ‘kuda,’ dan ‘benteng.’ Setiap buah catur memiliki ‘karakter’-nya masing-masing.

Sementara adegan lima hingga adegan tujuh adalah “Permainan Catur SG dengan OY antara Kalah dan Menang.” Secara tafsir subteks, mengandung banyak pengertian pula, antara lain: 1) SG merasa penasaran, sehingga menguatkan hatinya untuk bertemu dan melihat rupa wajah OY secara langsung; 2) SG ingin mengomfirmasi dan mengroscek adanya kemiripan antara riwayat hidup secara lengkap OY yang dipelajarinya dengan gaya, penampilan, sifat dalam tindakan dan ucapan OY ketika berhadapan dengannya; 3) SG meyakinkan OY bahwa di dalam ruangan itu tidak ada orang lain, kecuali dirinya dan OY, sehingga aman; 4) Permainan catur yang sudah mengakar dalam dirinya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup dan strategi dalam kesibukan tugas sehari-harinya, maka tidak disia-siakan olehnya untuk menerapkannya dalam berhadapan dengan OY; 5) Target SG dalam pertemuan dan perseteruan tersebut adalah membunuh atau ‘mesekamat’ OY sebagaimana dalam permainan catur; 6) SG ingin mengomfirmasi bahwa OY dalam

pertemuannya dengannya tidak dapat bermain catur secara ‘harafiah’ maupun secara ‘imajiner’; 7) SG ingin menyindir OY bahwa dirinya akan ‘mesekakmat’ OY dalam pertemuan itu; dan 8) SG ingin memberitahukan pada OY bahwa setelah “permainan catur secara imajinernya” dengan OY akan berlanjut dengan permainan catur secara harafiah dengan Antonio.

Sementara secara analogi, pada adegan lima hingga adegan tujuh dalam lakon LC, juga mengandung beberapa pemahaman: 1) Judul “Permainan catur SG dengan OY antara Kalah dan Menang” maksudnya permainan catur secara imajiner bukan pengertian permainan catur secara harafiah seperti yang dilakukan SG bersama Antonio; 2) SG menganalogikan dirinya sendiri sebagai buah catur ‘raja’ dari kelompok putih dan OY dari buah catur ‘raja’ kelompok hitam yang mana di hadapan SG dan OY tidak kelihatan (imajiner) ada buah-buah catur lain, seperti ‘raja,’ ‘ratu,’ ‘gajah,’ ‘kuda,’ dan ‘benteng.’ baik dari kelompok putih maupun kelompok hitam; seperti permainan catur saat itu yang sedang dijalaninya bersama Antonio; dan 3) Ruangan kantor SG dianalogikan sebagai papan catur yang memiliki enam puluh empat kotak persegi empat warna putih dan hitam, dengan delapan kotak di setiap sisi, dan luas papan catur itu delapan kali delapan sentimeter (sama seperti yang telah disinggung pada bagian di atas); dan penganalogian itu terlihat pada papan catur yang masih tergeletak begitu saja dalam ruangan itu yang ditinggalkan dengan sengaja oleh SG dan Antonio habis digunakan untuk bermain catur sebelumnya; dan 4) SG dan OY saling menggerakkan buah-buah caturnya secara ‘imajiner,’ saling bertahan, saling menyerang, saling memakan, dan akhirnya buah catur di antara keduanya, baik buah catur milik SG maupun OY hanya tinggal beberapa gelintir saja yang tertinggal di atas papan catur; dianalogikan SG pada menit-menit terakhir tinggal memiliki buah catur ‘benteng’ putih satu bersama ‘raja’ putih sementara pihak OY hanya tinggal ‘raja’ hitam saja satu-satunya. Setelah terus ‘raja’ dan ‘benteng’ putih menggiring ‘raja’ hitam ke pojok di mana pergerakan ‘raja’ hitam sudah sangat terbatas, maka di situlah ‘benteng’ ‘mesekatmat’ ‘raja’ hitam. SG akhirnya dalam permainan catur itu keluar sebagai pemenang.

Foto W.S. Rendra dalam sebuah pertunjukan

3

Beberapa hal menarik perlu diketengahkan di sini. Penulis menganalisis dengan menerjemahkan pemikiran yang ada dalam otak SG yang berkaitan dengan permainan catur baik dari segi analogi maupun subteks; baik saat bermain catur secara harafiah dengan Antonio maupun saat bermain catur secara imajiner dengan OY. Sedangkan SG menganalisis dengan menerjemahkan pemikiran yang ada dalam otak OY, baik ketika dirinya sedang bermain catur secara harafiah dengan Antonio maupun pada saat ia bermain catur secara imajiner dengan OY. Ketika SG bermain catur harafiah dengan Antonio, dalam pandangan SG, Antonio itu sudah diumpamakan sebagai OY yang kelak akan dihadapinya setelah permainan catur dengan Antonio selesai. Pergerakan buah-buah catur di atas papan catur saat bermain catur dengan Antonio diumpamakan oleh SG sebagai loncatan-loncatan pemikiran OY, yang divisualkan dalam wujud ucapan dan gerak-gerik (gestur dan mimik) tubuh OY. Sementara OY sendiri tidak mengetahui bahwa ucapan dan gerak-geriknya itu bagi SG diumpamakan sebagai pergerakan buah-buah catur dalam permainan catur; dan OY juga tidak tahu bahwa perseteruannya dengan SG sebagai pertandingan catur. Dan terbukti memang, OY tidak bisa bermain catur.

Sebetulnya jika SG mau, OY dengan cepat dapat langsung ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara yang ada di kantornya atau dibunuh secara cepat. Hal ini sangat memungkinkan, karena OY terbukti bertindak subversif, pengikut gerakan partai revolusioner yang menentang pemerintah. OY datang ke kantor SG seorang diri tanpa anak buah atau kawan-kawannya, sedangkan di kantor SG banyak anak buah SG. Tetapi SG tidak ingin melakukan hal itu mengingat ia telah mempertimbangkan secara matang, terutama karena persentuhannya dengan dunia catur, ia mendalami filosofi catur dan menguasai strategi permainan catur. Permainan catur sudah melekat dalam diri SG dan lagi pula ia adalah tipe orang yang memegang prinsip adanya proses. Proses membutuhkan tahapan-tahapan sebagaimana dalam struktur dramatik aristotelean, ada eksposisi, komplikasi, klimaks, resolusi dan konklusi. Sekaligus apa yang dilakukan SG dalam menghadapi OY juga sebagaimana ciri-ciri drama berbentuk tragedi dan bermazhab realisme, tahapan-tahapan dialog dan gerak-gerik tubuh menunjukkan hal itu.

SG sudah sangat siap dalam menghadapi OY, dan strategi permainan catur seperti apa yang akan diterapkan untuk menghadapi OY semua sudah ada di dalam otak SG. Apalagi meski belum bertemu tatap muka secara langsung sebelumnya, tetapi riwayat hidup secara lengkap dari OY sudah dikantongi SG dan dipelajari dengan seksama oleh SG. Meski tidak menampik dalam pertemuannya dengan OY muncul perubahan-perubahan pemikiran dan strategi. Kelebihan SG adalah pembawaan yang tenang, meski bahaya mengancam, pandai mengelabui dengan merekaya cerita, sehingga lawan bicara terpengaruh, lebih mengandalkan sisi pertahanan ketimbang sering menyerang, tetapi tegas. Sedangkan yang dilakukan OY sebaliknya, pembawaan berapi-api, lebih banyak menyerang, tetapi jiwa dan mentalnya labil. Tetapi kedunya sama-sama memiliki percaya diri penuh.

Konflik antara SG dan OY sebetulnya merepresentasikan kaum bangsawan dengan kaum rakyat jelata dalam hal ini kaum petani yang terjadi pada abad kisah nyata yang pernah terjadi di Rusia, permulaan abad ke-19, menjelang PD I (1914-1918), saat terjadinya revolusi di Rusia, dan terbentuknya revolusioner Jerman. Negara-negara yang terlibat dalam PD I antara lain: Rusia, Jerman dan Sekutu, termasuk Amerika. Keadaan Rusia dan masyarakatnya pada zaman itu, masih terbelakang, yang kemudian terbagi dalam dua golongan, yaitu tuan tanah (bangsawan) dan petani (rakyat jelata). Rusia saat itu masih negara agraris. Sebagian penduduknya merupakan petani miskin, yang harus tunduk kepada tuan tanah, bahkan menjadi budak dari tuan tanah. Status petani sebagai budak tuan tanah ini diatur dalam Undang-Undang Perbudakan Rusia, yang disahkan oleh Tsar Alexis I pada 1646. Hal inilah, salah satu yang menyebabkan terjadinya revolusi Rusia sehingga banyak muncul partai-partai yang pro revolusioner.15

Karakter SG sendiri juga sebetulnya representasi dari pengarangnya, KSG, selain sebagai seniman teater, sutradara dan penulis lakon TGoC, pernah menjadi pengusaha kayu membantu usaha orang tuanya; berpendidikan tinggi sampai tingkat universitas, dan ia adalah Letnan Militer Angkatan Laut Amerika, hobi bermain catur untuk mendukung strateginya dalam tugas dinas di angkatannya. Artinya penulisan lakon TGoC merupakan ‘kolaborasi’ pengalaman empiris hidupnya dan dalam tugasnya di matra Angkatan Laut Amerika serta melihat Amerika sebagai sekutu yang

terlibat dalam PD I (1914-1918), yang melibatkan Jerman, Inggris dan Rusia, serta gejolak politik yang terjadi Rusia pertentangan antara kaum tani dan bangsawan dan munculnya partai revolusioner di Rusia. Lakon TGoC ditulis KSG pada 1913 (terjadinya PD I) saat berusia 31 tahun (KSG lahir pada 1883). Meninggal dunia pada 1918 dalam usia 35 tahun.

Lakon LC alih Bahasa W.S Rendra meski bahasanya lugas dan bernas, tetapi jika menyutradarainya terutama dalam mise en scene-nya tidak berani bereksplorasi, maka akan terjebak dalam kemonotonan sehingga membosankan, sebab penonton akan melihat pertunjukan teater itu hanya pertunjukan obrolan-obrolan dari para tokohnya saja di atas panggung. Jika sudah begitu mendingan atau lebih baik dibaca saja, karena lakon ini juga bisa dikategorikan sebagai closed drama, bukan karena ia agak sulit untuk dipanggungkan, tetapi lebih dikarenakan bahasanya yang lugas dan bernas tadi.

*Edy Susanto adalah dosen prodi Teater IKJ.

———————–

  1. Sesungguhnya berasal dari istilah Latin, Hit et Nunc atau Here and Now (bahasa Inggris), bagian dari eksistensialisme, salah satu doktrin filsafat, yang sangat menekankan kebebasan manusia sekaligus tanggung jawab setiap individu. Pementasan yang terjadi sekarang, sama yang terjadi pada puluhan atau ratusan tahun lalu, meskipun peristiwanya terjadi puluhan bahkan ratusan tahun lampau, terjadi di daerah atau tempat, di sini. Bukan terjadi di lokasi atau daerah, seperti ada dalam naskah drama (Susanto & Sena Gumira Ajidarma, 2020:xi) Bahkan Rendra untuk lebih mempertegas prinsip ‘di sini dan sekarang’ lakon karya pengarang asing itu ia adaptasi ke budaya Indonesia, baik nama-nama tokoh, setting, dan peristiwanya. Lihat lakon Where the Cross Is Made karya Eugene O’neil diadaptasi Rendra menjadi Tanda Silang dan The Boor karya Anton Chekhov menjadi Orang Kasar Kena Pikat.”
  2. Lakon The Games of Chess karya Kenneth Sawyer Goodman, pertama kali diproduksi oleh B. Iden Payne di bawah naungan Chicago Society di Fine Arts Theater, 18 November 1913, halaman 7, tetapi diterbitkan menjadi buku baru pada 1914.
  3.  Yang agak menjadi heran, Rendra menuliskan nama provinsi atau negara bagian Brudenburg (ini pun kesalahan tulis, mestinya Brandenburg) sebuah nama negara bagian di Jerman bukan di Spanyol, juga ada nama Jenderal Markais (mungkin ini nama Spanyol), sedangkan di lakon aslinya tertulis Jenderal Makaroff, sebuah nama Rusia (lihat hal. 11, lakon stensilan LC).
  4. Tokoh-tokoh dalam drama ini: Don Pedro de Miura (Jend. Spanyol) dimainkan oleh Arifin C Noer, lawan main Arifin adalah Rendra sekaligus sebagai sutradara. Pentas teater ini dimainkan di Gedung PPBI Yogyakarta.
  5.  Tiga nama penting tokoh dalam drama ini: Jose Karosta, Juan Frederico, dan Max Carlos.
  6. Naskah drama ini pertama kali selesai ditulis Immanuel Robles, pada 1948 dan diterjemahkan Asrul Sani untuk kepentingan pementasan, dan untuk pertama kalinya Montserrat dimainkan oleh para mahasiswa ATNI pada 1961 di Gedung Kesenian Jakarta.
  7. Buku acara Pementasan karya agung Sophocles Oidipus, Bengkel Teater Rendra, Balai Sidang Jakarta, 24-28 Juli 1987.
  8. Dikutip dalam kolom Seni & Budaya, Teater, Tentang Lawan Catur diterbitkan oleh Moh. Syafari Firdaus pada 19 Mei 2009 dalam https://dauzsy.wordpress.com/2009/05/19/tentang-lawan-catur/
  9. Penulis pribadi pernah melihat sebuah naskah drama stensilan dengan tulisan nama pengarang tertera William Kenneth.
  10. Pernah dipentaskan oleh Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film) Yogyakarta pada 2 Mei 1972. Bahkan naskah drama Lawan Catur karya Kenneth Sawyer Goodman alih bahasa W.S. Rendra ada yang mengadaptasi ulang berdasarkan versi tersebut, dengan judul Musuk Politik, pada 2011, penulis Pedje dan sudah pernah dipentaskan.
  11. Penulis menyaksikan sendiri, naskah drama ini sering dipentaskan oleh mahasiswa-mahasiswa Program Studi Seni Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta, semester dua maupun semester tiga dan Ujian Akhir Semester mereka.
  12. Kesatuan waktu artinya peristiwa terjadi berturut-turut selama 24 jam tanpa suatu selingan dan kesatuan kejadian artinya membatasi rentetan peristiwa yang berjalan erat, tidak menyimpang dari pokoknya. Sering disebut kesatuan ide. Kesatuan kejadian terutama ditujukan kepada tema dan plot (Harymawan, 1988:20-21).”
  13. Frasa Latin untuk ‘person of the play’ digunakan untuk mengumpulkan ke karakter yang diwakili dalam sebuah karya dramatis (atau, dengan ekstensi, sebuah karya narasi). Frasa ini adalah tajuk konvensional untuk daftar karakter yang diterbitkan dalam teks drama atau program teater (https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-”
    “dengan-dramatis-personae/155469).
  14. Istilah dalam bahasa Latin yang secara harfiah berarti “dengan ketidakhadiran”. Dalam istilah hukum, pengadilan in absentia adalah sebagai upaya mengadili seseorang dan menghukumnya tanpa dihadiri oleh terdakwa tersebut.https://id.wikipedia.org/wiki/In_absentia.
  15. Dikutip dari sanjaya.com, Senin, 08 Juni 2015/adidevi66.blogspot.com

 

Daftar Pustaka 

1. 63 Esai Wiratmo Soekito, penyusun Sena Gumira Ajidarma & Edi Susanto, IKJ press dan DKJ, Jakarta, 2020.

2. Lakon stensilan Lawan Catur karya Kenneth Sawyer Goodman (tanpa tahun terbit)

3. Lakon stensilan The Games of Chess karya Kenneth Sawyer Goodman (penerjemah tidak diketahui) terbitan New York, Vaughan dan Gomme, MCMXIV

4. Dramaturgi, RMA. Harymawan, Rosda Bandung, 1988.

5. Buklet Pementasan Oidipus Sang Raja, Bengkel Teater Rendra, Sutradara Rendra, Balai Sidang Jakarta 24-28 Mei 1978

Sumber Internet 

1. sanjaya.com, Senin, 08 Juni 2015/adidevi66.blogspot.com

2. https://id.wikipedia.org/wiki/In_absentia.

3. https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-dramatis-personae/155469

4. https://dauzsy.wordpress.com/2009/05/19/tentang-lawan-catur

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *