Puisi-Puisi Badaruddin Amir

BIOGRAFI RUMPUT

dari mana memperoleh keyakinan untuk tumbuh
sehelai rumput yang hidup di atas batu, kekasih
batu gitu keras tak terhunjam akar ke permukaan bumi
hanya embun yang memberinya minum melepas dahaga
yang ditikamkan matahari di atas sana

dari mana memperoleh kepercayaan gitu kukuh
bila pada akhirnya terik matahari adalah bencana, kekasih
pagi hari gitu bangun terusik oleh gerah matahari di luar
musim hanya embun yang menyelimutinya malam hari dengan
keyakinan yang meninabobokkannya pada mimpi-mimpi bianglala

tapi tidak setiap rumput yang tumbuh di atas batu
harus menyerah pada pautan waktu karena kau tahu, kekasih
diriku adalah sehelai rumput yang tumbhuh di luar musim
yang bergiming pada batu dan terik matahari apalagi embun
yang sudah lama tak memberi minum padaku
sepanjang tahun

 

RIWAYAT HUJAN

telah tercatat pada daun-daun gugur menguning
telah tercatat pada cahaya-cahaya telaga bening
riwat hujan di negeriku yang turun semusim

antara gerimis senjahari dan badai yang menderu
tersimpan resia musim yang terkepik di ketiak waktu
bianglalapun turun menghubungkan bumi dan langitmu

kalau kau langit biru yang mencatat riwayat hujan
kalau kau bumi yang mengekalkan musim jadi kenangan
kalau kau kuterima takdir daun-daunku merabuk jadi impian

dan hujan di luar teruslah tumpah mencatat riwayatmu !

 

RIWAYAT AIR

air yang mengalir di sungai
dari hulu ke muara katamu
awalnya adalah air dari dalam tanah
ia bengitu cinta pada langit dan berdoa
agar matahari mengurainya jadi uap
lalu menerbangkannya ke langit menjadi awan
menjadi mendung karena ia amat senang
pada ketinggian

ia lupa pada asal dan gravitasi
bahwa bumi adalah tempat untuk kembali
saat gelegar guntur mengagetkannya
jutaan butir air berguguran lepas dari pelukan awan
terhisap gravitasi bumi yang segera menguburnya
ke dalam tanah

kini air kembali ke tanah meresap ke dalam pori-pori bumi
yang gugur tanpa tahu diri akan terusir selamanya
ke laut melalui sungai-sungai bening
sebelum matahari menghukumnya
mengisapnya lagi ke langit
dan menjatuhkannya berulang kali

 

KESENANGAN MEMBACA ANGIN

tidak setiap musim ada angin berkesiur begitu kencangnya
tapi aku terlanjur kesenangan membaca angin, maka kubaca
angin sepoi yang datang sebagai topan melanda kampung
dan kubaca atap rumah beterbangan sebagai layangan

wahai, alangkah dahsyat membaca angin kencang takdir-Mu
yang berkesiur di atas jalan raya kehidupan dan nasibku
mimpiku adalah iradat yang Kau tuliskan dalam catatan-Mu
sebagai kawula aku membacanya dari awal dengan keyakinanku

maka takdirpun kuterima sebagai buku terbuka, dan kubaca
nasibku dalam lembarannya yang putih tak beraksara
tapi demi angin aku tak ingin membacanya sebagai topan
karena kuyakin Kau Mahabijaksana lagi Maha memberi ampun

maka biarkan aku hanyut dalam kesiur angin kecil takdir-Mu
menapak jalan berliku yang terbentang di hadapanku !

 

MENYEBERANG MEMBATAN

apa yang membuatmu ragu menyeberang jembatan
besi-besi bersilangan yang menyanggah di bawahnya
telah bersumpah tak berhianat pada pejalan yang lalulalang
tapi usia yang sudah tua memang bukan jaminan
tatkala gemerutuk tulang-tulangnya mulai terdengar
dan ketika itu kau-pejalan- sudah berada di tengah jembatan

maka niat untuk sampai ke seberangpun kau batalkan
dan mungkin sekali awal penyeberangan juga kau sesalkan
karena penyesalan tak pernah datang lebih cepat dari kejadian
tapi lihatlah hanya ada satu pilihan bagi pejalan
: pulang atau meneruskan tualang !

dan ketika kau jadi ragu pada keyakinan untuk memilih
pulang atau meneruskan tualangmu sampai keseberang
gemerutuk tulang-tulang jembatan telah meruntuhkan keyakinan
sesaat sebelum seluruh jembatan roboh padahal kau
belum lagi sampai pada salah satu tepiannya

 

MENINGGALKAN STASIUN

sudahlah kita berangkat saja meninggalkan stasiun
dengan lampu yang masih lelap di pagi hari
dan laron yang berkaparan di lantai ruang tunggu
karena kereta yang kita pesan tak akan datang juga
meski stasiun sudah meranggas di usianya yang renta

para petualang yang lain juga dalam gegas
telah meninggalkan jejak membekas di emperan stasiun
ada luka di bekas telapak kakinya tapi mereka tak peduli
karena keinginan untuk sampai lebih menguasai hati
dari duduk meramalkan nasib: menunggu yang tak pasti !

sudahlah kita berangkat saja dengan jalan kaki
meninggalkan jejak yang membekas di stasiun tua ini
karena mungkin sebentar lagi serombongan kereta mati
dengan serine meraung-raung akan menjemput kita di sini
dan kita tak bisa mengelak saat mereka mengusung kita
dengan tandu lalu melarikan kita ke sebuah bukit tanah merah
: di sini tempat pemakaman orang-orang tak bernama !

sudahlah kita berangkat saja diam-diam
sebelum satu persatu di antara kita terkapar
jadi laron yang mati kelaparan di ruangan tunggu
stasiun tua ini

 

ELEGI BULAN JUNI

aku menyanyi dan kau menari
kita mengisyaratkan cinta pada bulan juni
saat seseorang datang menabuh kendang
hampir semua tak dapat lagi dikenang

aku meringis dan kau menangis
kita berduka mengenang bulan juni
saat seseorang membawa setangan
kitapun sama tertegun

aku tertawa dan kau mengakak
sambil berteriak mengira semua orang pekak
inilah bulan juni, kita kenangkan bulan juni
nyanyian duka dan cinta tersembunyi

 

LUNATIC

berbaring di bawah gerimis
menyaksikan langit beranjak gelap
terasa padang tempat kami berumah
menjelma menjadi lukisan abstrak

kami memanggilmu turun dari langit
bukan sebagai nabi pembawa sabda
tapi sebagai teman dalam wujud nyata
sebagai sahabat si gila

aku menyanyi dan si gila yang lain menari
bersama menggapai-gapai sunyi
: inilah sembahyang kami
sembahyang sih pada bumi

saat kau datang dalam telanjang
mengajari kami bagaimana mengabdi
kami sudah lupa gerak dan kata-kata
kami terus menyanyi, menyanyi dan menari
tanpa suara dan gerakan lagi

malam pun memperdalam hening !

 

*Badaruddin Amir lahir di Barru pada 4 Mei 1962. Menulis esei, puisi, dan cerpen di beberapa media, memenangi berbagai lomba menulis puisi dan cerpen baik di tingkat propinsi maupun tingkat nasional. Kumpulan puisinya berjudul “Aku Menjelma Adam” (Saji Sastra Indonesia, 2002), kumpulan cerpennya “Latopajoko & Anjing Kasmaran” (Akar Indonesia, 2007), “Laki-Laki yang Tidak Memakai Batu Cincin” (FAM Publishing, 2015), dan “Risalah” (Gora Pustaka, 2019), sedang kumpulan esainya berjudul “Karya Sastra Sebagai Bola Ajaib” (Nala Cipta Litera, 2008). Karya-karyanya yang lain baik esai, cerpen maupun puisi termuat dalam enam puluhan antologi bersama. November 2005 Badaruddin Amir menerima anugrah seni bidang sastra “Celebes Award” dari Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan, Desember 2017 menerima penghargaan “Acarya Sastra” dari Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan Desember 2019 dinobatkan sebagai “Promising Writers” pada Banjarbaru’s Rainy day Literary Festival 2019. Aktif sebagai pengawas SMP dan jurnalis pada majalah Dunia Pendidikan yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *