Puisi-puisi Talitha Salsabila
Di Antara Sunyi yang Tidak Selesai
Jam dinding berdetak tanpa jarum,
menghitung sesuatu yang tak pernah benar-benar ada.
Waktu seperti berhenti di sela napas,
menyisakan gema yang tak sempat pulang.
Debu beterbangan dalam cahaya senja,
menari pelan seperti ingatan yang enggan reda.
Ia jatuh satu-satu, diam,
seperti rahasia yang tak pernah sempat diucapkan.
Di atas meja, secangkir kopi menguap,
asapnya melingkar seperti pertanyaan yang kehilangan arah.
Kupandangi permukaannya yang gelap,
dan menemukan bayangku sendiri retak di dalamnya.
Daun pintu berderit pelan,
seolah memanggil nama yang telah lama pergi.
Namun angin hanya singgah sebentar,
meninggalkan dingin yang lebih jujur dari kata-kata.
Kursi kosong di hadapanku
menjadi ruang yang terlalu penuh oleh kenangan.
Tak ada yang duduk di sana,
namun hatiku tak pernah benar-benar sendiri.
Setiap bayangan yang merambat di dinding
adalah luka yang belajar berjalan tanpa suara.
Ia tak lagi berdarah,
tapi tetap terasa setiap kali malam jatuh.
Di antara sunyi yang tidak selesai ini,
aku menulis dengan tinta dari gelap yang kupelihara.
Huruf-huruf gugur sebelum sempat dimaknai,
seperti doa yang ragu untuk sampai.
Ketika malam benar-benar menutup segala,
aku sadar,
yang tidak selesai itu bukan sunyi,
aku yang masih tinggal di dalamnya.
Hujan yang Mengingat Namamu
Hujan turun seperti tirai yang runtuh,
menyapu atap seng dengan irama yang patah.
Setiap butirnya adalah mata yang mencari,
menuliskan namamu di atas aspal yang basah.
Di luar jendela, daun-daun menggelepar,
seperti kupu-kupu yang kehilangan arah pulang.
Genang air memantulkan cahaya lampu jalan,
redup, dan di sana wajahmu perlahan datang.
Aku mendengar suaramu di setiap rintik,
bukan tawa.
Yang tersisa hanya gema yang berat.
Ia jatuh pelan ke dalam dadaku,
mengisi ruang yang tak pernah benar-benar hilang.
Hujan mengingat namamu dengan caranya sendiri,
kasar namun jujur hingga ke tulang.
Ia meresap tanpa izin ke dalam diamku,
lalu berdiam di sana lebih lama dari yang seharusnya.
Pohon-pohon menunduk dalam hening,
seolah memahami sesuatu yang tak terucap.
Akar mereka menyimpan rahasia yang basah,
tentang kehilangan yang tak pernah lengkap.
Dan di sini, di bawah langit yang runtuh perlahan,
aku berdiri tanpa kata, tanpa arah.
Membiarkan hujan menyebut namamu berulang,
hingga ingatan menjadi satu-satunya yang tersisa,
dan fajar datang tanpa benar-benar menghapusnya.
Tubuh yang Menyimpan Luka Diam-Diam
Di bawah kulit, urat-urat biru mengalir pelan,
membawa sesuatu yang tak lagi ingin disebut darah.
Ada yang tertahan di sana,
mengendap seperti kata-kata yang gagal dilahirkan.
Memar bersembunyi di balik lengan baju,
ungu, seperti senja yang kehilangan cahaya pulang.
Ia tidak pernah benar-benar hilang,
hanya berpindah tempat,
menemukan cara lain untuk tetap tinggal.
Tulang rusukku menjadi rak-rak retak,
menyimpan serpihan dari suara yang pernah dilemparkan.
Setiap napas harus belajar berjalan hati-hati,
melewati celah yang nyaris runtuh,
agar tidak mengingatkan tubuh pada sakit yang sama.
Di punggung, terbentang peta tanpa arah,
bekas jahitan yang tak selesai menjelaskan apa-apa.
Benangnya menarik setiap kali hujan datang,
seolah langit tahu di mana luka disembunyikan.
Jantungku berdetak tidak untuk waktu,
ia hanya terus mengingat.
Kadang ia terlalu keras memanggil sesuatu yang hilang,
kadang ia memilih diam,
membiarkan sunyi menggantikan denyutnya.
Mataku adalah jendela yang belajar menutup,
menyimpan cerita yang tak ingin diketahui siapa pun.
Bukan karena tidak ada yang bisa dilihat,
tetapi karena terlalu banyak yang harus dilupakan.
Tubuh ini berjalan seperti tanah yang diam,
menyimpan lebih banyak dari yang tampak di permukaan.
Di dalamnya, luka-luka tumbuh tanpa suara,
menjadi akar yang saling melilit,
mencengkeram hingga ke bagian paling dalam,
tanpa pernah meminta untuk disembuhkan.
Langit Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Meski malam menutup wajahnya dengan kain hitam,
selalu ada celah di ujung timur yang tetap bernapas.
Cahaya bersembunyi di sana,
menunggu waktu untuk kembali disebut pagi.
Langit tidak pernah benar-benar pergi,
ia hanya berganti rupa tanpa banyak suara.
Dari biru yang luas menjadi kelabu yang diam,
lalu turun perlahan ke dalam matamu
yang enggan menatapnya terlalu lama.
Awan-awan yang kau lihat hanyalah tirai tipis,
tak pernah cukup untuk menutupi yang sebenarnya.
Di baliknya, ada lukisan lama yang terus hidup,
garis-garisnya tak pernah selesai,
warnanya tak pernah benar-benar pudar.
Senja selalu menemukan cara untuk pulang,
menyelinap di sela-sela jari yang terbuka.
Ia menjatuhkan cahaya seperti emas yang cair,
menyentuh rumput, jalan, dan wajah-wajah yang lewat,
seolah ingin mengingatkan bahwa sesuatu masih bertahan.
Bahkan ketika badai menutup seluruh cakrawala,
dan hujan membuat dunia tampak kabur,
langit tidak hilang.
Ia memilih diam di balik riuh yang jatuh,
menjadi saksi tanpa suara di atas kepala yang tertunduk.
Di genangan air setelah ribut,
wajahnya kembali tampak, tenang dan utuh.
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa,
seperti segala gaduh hanyalah lewat sementara.
Langit tidak pernah benar-benar pergi,
ia hanya berubah menjadi bentuk yang lain.
Kadang ia menyempit di ujung jalan yang jauh,
kadang ia melebar menjadi ruang tanpa batas.
Dan pada akhirnya,
ia menetap di dalam dadamu sendiri,
menjadi luas yang tak bisa kau tinggalkan.
Aku Belajar Pulang Tanpa Rumah
Di saku celanaku, aku membawa sebuah kunci,
tanpa gembok, tanpa pintu, tanpa dinding yang mengenalnya.
Ia hanya dingin dan diam,
seperti sesuatu yang pernah penting,
lalu kehilangan alamatnya.
Langit-langitku adalah ranting-ranting pohon,
berderit pelan ketika angin singgah sebentar.
Lantainya aspal yang masih menyimpan hangat,
jejak matahari yang pergi tanpa pamit,
meninggalkan malam sebagai satu-satunya penutup.
Aku belajar mengukur jarak dengan telapak kaki,
membiarkan jalan menghafal langkahku sedikit demi sedikit.
Setiap kapalan menjadi penanda yang tak tertulis,
tentang tempat-tempat yang pernah kusebut pulang,
lalu kulepaskan tanpa sempat berpamitan.
Di halte bus yang sepi, aku duduk bersila,
menyandarkan kepala pada tiang besi yang dingin.
Tidak ada yang menanyakan tujuanku,
dan untuk pertama kalinya,
aku tidak merasa harus menjawab ke mana aku pergi.
Aroma masakan ibu tinggal bayang yang tipis,
menghilang bersama arah angin yang tak bisa kutahan.
Aku menyimpan meja makan di dalam ingatan,
kakinya goyah, taplaknya mulai pudar,
namun setiap malam aku tetap menyusun piring kosong,
seolah ada yang akan datang dan mengisi diam itu.
Pulang, bagiku, bukan lagi tentang pagar atau alamat.
Ia adalah saat langkah berhenti mencari,
dan dada tidak lagi menolak kenyataan.
Semua jalan perlahan berubah menjadi lorong,
dan aku belajar berjalan tanpa bertanya ujungnya.
Aku belajar pulang tanpa rumah,
membawa langit sebagai atap yang tak pernah menutupku.
Debu menempel di kakiku sebagai saksi,
bahwa aku pernah berjalan dengan rindu yang utuh.
Dan di setiap langkah yang tersisa,
aku mengerti,
pulang bukan tempat,
aku harus menciptakannya sendiri.
Bayang-Bayang yang Tertinggal di Pagi Hari
Bayang-bayang itu menempel di atas daun talas,
membeku dalam embun yang terlalu berat untuk menguap.
Ia tidak jatuh, tidak hilang,
hanya diam,
seolah waktu memilih berhenti di sana.
Di kasur, lekuk tubuhmu masih tersisa,
sebuah ruang yang enggan kembali rata.
Sprei putih menyimpan bentuk yang samar,
seperti sesuatu yang pernah hadir sepenuhnya,
lalu pergi tanpa benar-benar pergi.
Di dinding kamar, bayangan jarimu merambat,
menjadi cabang-cabang yang kering dan rapuh.
Ia menjalar pelan di antara cat yang mengelupas,
meninggalkan jejak yang tak bisa disebut luka,
namun cukup untuk terus diingat.
Matahari naik tanpa ragu,
membawa terang yang seharusnya menghapus segalanya.
Jalanan kembali bernapas,
warna-warna kembali menemukan bentuknya,
tetapi bayanganmu tetap tinggal.
Ia bersembunyi di sudut langit-langit,
tenang seperti sesuatu yang tidak ingin ditemukan.
Tidak bergerak, tidak memudar,
hanya menunggu waktu yang tidak pernah datang.
Aku menutup jendela rapat-rapat,
berharap cahaya tidak mengenal namamu.
Namun bayangan itu berpindah tanpa suara,
masuk ke dalam kelopak mataku,
menjadi titik-titik gelap yang tak bisa kuusir.
Setiap kedipan adalah pertemuan singkat,
antara terang yang kupaksakan
dan sisa yang tidak mau hilang.
Aku membuka mata,
dan kau masih ada di sana, dalam bentuk yang lain.
Pagi bukanlah awal yang bersih,
ia hanya tampak demikian dari kejauhan.
Di dekatnya, selalu ada noda yang tertinggal,
bekas dari sesuatu yang belum selesai.
Dan bayanganmu adalah salah satunya,
tinta yang mengering di atas hari yang baru,
menolak larut,
menolak dilupakan,
seolah ia tahu
aku belum benar-benar siap kehilangannya.
Doa yang Tidak Pernah Sampai ke Langit
Aku menggulung doa menjadi perahu dari kertas minyak,
lalu menenggelamkannya di kubangan lumpur hitam.
Setiap huruf yang kutulis larut tanpa arah,
menjadi tinta yang kabur di telapak tanah yang dingin.
Di atas meja, dupa terbakar terbalik,
asapnya tidak naik.
Ia jatuh perlahan ke lantai.
Ia membentuk lingkaran abu di sela ubin retak,
seperti peta yang kehilangan seluruh arah pulang.
Lidahku terasa hangus saat menyebut nama-Mu,
kata-kata suci berubah menjadi arang yang pahit.
Ia tersangkut di kerongkongan seperti duri yang tak selesai,
setiap upaya bicara justru melukai dari dalam.
Aku melemparkan doaku ke sumur yang kering,
mendengar batu jatuh tanpa menemukan dasar.
Tidak ada riak, tidak ada gema, tidak ada jawaban,
hanya ruang kosong yang menelan semuanya sekaligus.
Langit terlalu jauh untuk mendengar,
atau mungkin telinganya sudah tidak lagi mengenalku.
Doaku menjadi layang-layang putus di tengah badai,
terbawa angin ke arah yang tidak pernah kupilihkan.
Aku mencoba mengumpulkan serpihannya kembali,
doa yang robek di semak-semak waktu.
Kusembunyikan dalam botol kaca bekas cahaya,
lalu menguburnya di bawah akar pohon jambu yang diam.
Mungkin akar-akar itu akan mengingatnya,
lebih baik daripada langit yang terlalu sibuk.
Dan di antara tanah yang menutup perlahan,
aku belajar bahwa tidak semua panggilan harus sampai,
dan tidak semua harap harus kembali utuh.
Kepada Waktu yang Tidak Mau Menunggu
Jarum jam adalah gunting tajam di tanganmu,
mengiris perlahan kulit punggung tanganku setiap detik.
Luka-luka itu tidak berdarah,
tetapi cukup dalam untuk tidak pernah benar-benar hilang.
Pasir dalam kaca arloji bukanlah pasir,
ia serpihan halus dari sesuatu yang pernah utuh.
Ia jatuh satu per satu tanpa suara,
mengikis dasar waktu yang tak pernah bisa kupegang.
Aku berlari mengejar bayanganmu di ujung lorong,
namun setiap pintu selalu tertutup sebelum sempat kusinggahi.
Udara berdebu menjadi satu-satunya saksi,
bahwa aku hampir sampai, tetapi tidak pernah benar-benar tiba.
Waktu berlari tanpa jejak di atas embun beku,
meninggalkan bekas yang menghilang bahkan sebelum disentuh.
Segalanya bergerak terlalu cepat untuk dipahami,
termasuk diriku yang terus tertinggal di belakangnya.
Di bangku taman, aku menemukan arlojimu yang tertinggal,
jarumnya berputar tanpa arah yang kukenal.
Ia tidak menunjukkan masa depan atau masa kini,
hanya sisa-sisa waktu yang tidak sempat dipilih.
Aku seperti patung dari tanah liat yang dibiarkan mengeras,
retak di setiap sudut yang pernah kau sentuh.
Sementara kau terus bergerak seperti arus yang tak peduli,
tanpa pernah menoleh untuk memastikan aku masih di sana.
Dan pada akhirnya aku mengerti,
waktu tidak pernah benar-benar pergi atau tinggal,
ia hanya berjalan,
sementara aku terus mencoba belajar mengejarnya tanpa pernah selesai.
Sisa Cahaya di Ujung Malam
Di ujung malam, cahaya menyisakan dirinya
seperti puntung rokok di asbak kaca yang retak.
Api kecil itu berdenyut pelan,
seperti jantung yang terlalu lelah untuk terus bertahan,
jingga pucat yang menggantung di antara abu-abu.
Lilin di atas meja makan telah tenggelam
dalam genangan yang telah membeku kembali.
Sumbunya menghitam dan miring,
seperti sesuatu yang pernah berdiri tegak,
lalu menyerah pada beratnya sendiri.
Lampu jalan di luar jendela berkedip perlahan,
seperti mata tua yang menahan kantuk panjang.
Cahayanya memecah hujan gerimis menjadi garis-garis tipis,
yang jatuh ke aspal seperti benang emas yang putus di tengah jalan.
Sisa cahaya ini adalah napas terakhir dari siang yang runtuh,
tertinggal di sudut-sudut ruang yang tidak sempat gelap sempurna.
Aku mengumpulkannya dengan hati-hati,
seolah ia masih bisa diselamatkan dari kepunahan.
Namun ketika kusentuh, ia berubah menjadi dingin,
seperti abu yang lupa pernah menjadi api.
Fajar datang dari timur tanpa suara,
perlahan merobek langit yang masih ragu untuk selesai.
Ia tidak menunggu perpisahan,
hanya mengambil kembali semua yang pernah dipinjamkan.
Dan cahaya itu pun padam di hadapanku,
menjadi asap tipis yang tidak lagi punya bentuk.
Di dalam gelap yang tersisa,
aku masih merasakan hangatnya menempel di kulitku,
seperti ingatan tentang sesuatu yang pernah hidup,
namun tidak pernah benar-benar bisa ditahan.
Perempuan yang Menjahit Kesunyian
Ia duduk di kursi goyang dengan satu kaki yang patah,
di ruang yang tidak pernah benar-benar selesai.
Di tangannya, jarum dari tulang ikan bandeng,
menusuk kain beludru berwarna malam yang terlalu pekat.
Benang yang ia gunakan adalah rambutnya sendiri yang memutih,
dipintal perlahan dengan air mata yang telah kehilangan rasa asin.
Setiap simpul adalah ingatan yang tidak jadi hilang,
setiap tarikan adalah usaha untuk menahan sesuatu agar tetap ada.
Di pangkuannya, kesunyian tergeletak seperti kain sobek,
robek di bagian yang tak sempat disebutkan siapa pun.
Ia menjahitnya dengan sabar, tusukan demi tusukan,
seolah luka bisa dijadikan sesuatu yang utuh kembali.
Setiap jarum masuk, terdengar bunyi kecil yang rapuh,
seperti dunia yang menahan napas agar tidak pecah.
Ia menambal sunyi dengan sisa kegelapan yang ia kumpulkan,
dari sudut-sudut ruangan yang tidak pernah benar-benar diterangi.
Di ujung jarinya, kapalan kecil terbentuk tanpa keluhan,
bekas dari upaya yang tidak selalu berhasil.
Namun ia terus menyulam,
menjahit mulut-mulut yang tak sempat berkata,
dan menutup celah di antara detak jam dan diam yang panjang.
Ketika fajar menyelinap pelan di bawah pintu,
ia berhenti tanpa benar-benar selesai.
Kesunyian itu ia lipat rapi,
ia sembunyikan di balik tirai yang berat.
Karena baginya, kesunyian bukan untuk dihilangkan,
ia menjaganya tetap utuh.
Agar dunia tidak pecah oleh terlalu banyak suara,
meskipun di bawah cahaya,
benang-benang putih itu tetap tampak,
mengikat ruang dengan cara yang tidak semua orang bisa mengerti.
*Talitha Salsabila adalah penulis yang aktif di Komunitas Sastra, Bahasa, dan Budaya Indonesia (SABUDAYA), serta mahasiswa Informatika di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Di tengah kesehariannya yang dekat dengan logika dan sistem, ia menulis puisi sebagai cara memahami hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan mudah.
Tulisan-tulisannya banyak berangkat dari pengalaman batin yang sederhana, seperti rasa sepi, kehilangan, ingatan, dan perjalanan mencari makna diri. Ia sering menggunakan hal-hal yang dekat, seperti hujan, cahaya, tubuh, dan ruang, untuk menyampaikan sesuatu yang lebih dalam tanpa harus terasa rumit.
Puisi dan esai karya Talitha Salsabila pernah dimuat di skspliterary.com, kemenag.go.id, dan borobudurwriters.id.
Bagi Talitha, menulis adalah proses yang pelan. Kadang hanya untuk mengingat, kadang untuk menerima, dan kadang untuk tetap bertahan. Ia tidak selalu mencari jawaban dalam puisinya, tetapi berusaha jujur pada apa yang dirasakan.
Melalui karyanya, ia ingin menghadirkan sesuatu yang bisa dirasakan bersama. Tidak harus dipahami sepenuhnya, tetapi cukup dekat untuk dikenali.




