Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS
SAJAK
1
aku sapi, katamu,
dua tali di hidungku
lalu dua gembala
menarik-ulur, dan
menggebah
: cambuk sedia
di tubuhku. aku memang
sapi? tanyamu
ingin jawaban
2
sekiranya aku kecewa
bukan karena kau salah
tapi aku tak ahli untuk marah
dan percaya; tinggi aku
memanjakanmu!
3
kelak saatbya air mata
hanya sepeeti hujan
di musim kering
jadi sekadar basah
namun saat aku sudah tiada
adakah lagi hujan dari matamu
yang tak lagu bisa menyesal
dan purapura?
4
air mengalir dari mataku ini
bukan sebab tak kuat natapmu
dengan mata api hingga pisau
yang tercipta dari mulutmu
menancap
tanpa aku mampu beekelit
selain pasrah-diam
yang kusesali kenapa dulu
aku selalu gagal memahami
jiwaku: “mengapa aku lemah?”
17 Juli 202
INI BUKAN 98
ini bukan lagi 98!
ia sudah lepas kaos, pamflet,
bendera, atau yelyel
bahkan teriakan menggaung
di sepanjang jalan
maupun di depan istana & dewan
semua itu masa silam, katanya pelan
atributatribut masa lalu itu
sudah ia buang – simpan di almari rongsok; teronggok
kemudian dihabisi rayap
bersama bukubuku revolusi
ia telah mengganti semua itu dengan
pakaian licin meruap aroma parfum
tanpa buku di tangan, sebab sudah
diganti dengan ipad atau halaman
berisi uang
“masa lalu bilik pengap-gelap, kaki
kursi di ujung jari kaki, mata tertutup hingga
kedua bibir yang bau darah; interogasi
yang tak hentihenti,” batinnya
o itu kelam, tak kuizinkan datang lagi
sekarang. mata lelaki itu sudah benderang
tahu perempuan gairah ataupun perawan
yang memburu uang. ia paham merek
kendaraan yang pantas untuk mengelilingi
kota ini, berlibur atau hiburan di tempat
yang patut. “bukankah aku tak lak lagi
aktkfis, berpakaian kaos dan jins robek?”
ia kini sudah terbang
kertaskertas dan janji
sebagai sayapnya…
19 Juni 2026
LELAKI BERAROMA KAYU PUTIH
setiap perjalanan bukan makanan sebagai bekal kecuali tubuhnya
diboreh minyak kayu putih. aroma itu yang sentiasa menguar hingga
ke kafe, mall, atau saat ia menonton cerita di layar lebar. seorang
pembunuh bayaran untuk pemerintah namun melanggar misi yang dibebankan
pimpinan
lalu ia diburu setelah keluar dari tempat persembunyian di tengah laut, sebuah
bangunan yang tak terpakai, dulu adalah mercusuar; — jauh dari hantaman
badai ataupun topan laut — di situ, bertahuntahun ditemani seekor anjing
serupa tujuh pemuda yang bersembunyi dari perburuan raja zalim
“mason, seharusnya setelah kuhapus datamu menjadi manusia umum, bukan seorang
pembunuh bayaran, kau mati di tempat perlindungan itu. kau abadi menunggu
tempat itu,” ujar teman lamanya yang juga sudah menepi dari keriuhan jalan,
dentuman senjata, suara pukulan atau tendangan
tapi, kau keluar dari persembunyian. memasuki kota, dan kamera rekam yang
dipasang di tiap sudut. waktu itu, kutahu, kau ingin menyelamatkan Jessie,
perempuan kecil, yang tibatiba masuk dalam kesulitanmu. antara
menyelamatkan diri dan melindungi orang yang datang padamu,
sehingga kau kembali bertualang
antara dibunuh atau membunuh
akhirnya pengembaraan kembali dibuka. pintupintu yang dipasang di segala
arah terbuka untuk dimasuki maupun ditinggalkan. senjata yang sudah lama
diistirahatkan, dibangunkan lagi…
tapi, tahukah? seperti aroma kayu putih maka setiap ia melangkah akan selalu ditandai, mata
dari jutaan kamera yang terpasang sembunyi akan pula mengendus dan menyebar:
“ia adalah lelaki beraroma kayu putih. masuk ke tiap cerita di layar lebar.”
10 Februari 2026
—
*Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan Indonesia asal Lampung. Pada 2025, 3 bukunya terbit yakni Kitab Puisi Esai Elegi Galian Tambang, Kumpulan Puisi Satu Ciuman, Dua Pelukan (Januari 2025), dan Menungguku Tiba (Juni 2025).
Kemudian Kenduri Sumatera (Januari 2026), dan kumpulan esai Noel di Jalur Whoosh, dan Catatan Lain (Februari 2026), dan Buku Puisi 68 (Lampung Literature, Juni 2026).
Beberapa buku puisinya dinobatkan sebagai buku pilihan Hari Puisi Indonesia, Rainy Days, 5 Besar Badan Bahasa Kemendikbud RI, dan 5 Besar Majalah Tempo.
Puisi “79” sebagai juara I Lomba Cipta Puisi Tingkat Asean (2024), dan puisi “Wadas, Apakah Kita Masih Satu Tanah Air” juara II Lomba Cipta Puisi Esai Asean di Sabah, Malaysia (2025).***




