Cermin dan Jalan Pulang: Membaca Suluk Wujil sebagai Perjalanan Kesadaran dalam Tradisi Tasawuf Jawa
Oleh Abdul Wachid B.S.*
1. Jeda yang Membuka Jalan Pulang
Di tengah kehidupan yang serba cepat, manusia modern sering tampak berhasil, tetapi diam-diam rapuh. Segala sesuatu terasa dekat dalam genggaman: informasi, hiburan, bahkan relasi. Namun justru di situlah paradoks itu tumbuh perlahan. Ketika dunia semakin mudah dijangkau, batin justru semakin sulit dipahami.
Ada kelelahan yang tidak selalu terlihat. Bukan kelelahan fisik, melainkan keletihan yang lebih sunyi, yang muncul di sela-sela rutinitas, di antara target yang tercapai, atau bahkan di puncak keberhasilan. Seseorang bisa menyelesaikan banyak hal dalam sehari, tetapi tetap merasa ada sesuatu yang tertinggal. Bukan karena kurang, melainkan karena tidak tahu lagi apa yang sebenarnya dicari.
Pada momen ini, pertanyaan tentang makna hidup tidak lagi bersifat filosofis semata. Ia berubah menjadi pengalaman yang hidup. Ia datang tanpa diundang, kadang saat malam terlalu hening, kadang justru ketika keramaian terasa asing. Apa sebenarnya yang sedang dijalani? Untuk apa semua ini bergerak?
Viktor Frankl, dalam Man’s Search for Meaning, menegaskan bahwa krisis utama manusia modern bukanlah kekurangan materi, melainkan kehilangan makna hidup (Frankl, 1959/2006). Ketika hidup tidak lagi dipahami sebagai perjalanan yang memiliki arah, aktivitas sehari-hari perlahan berubah menjadi gerak tanpa tujuan. Kita berjalan, tetapi tidak benar-benar menuju.
Cara hidup modern justru memperparah situasi ini. Segala sesuatu dipercepat: waktu dipadatkan, perhatian diperebutkan, dan kesadaran dipenuhi oleh arus informasi yang tidak pernah berhenti. Dalam kondisi seperti ini, manusia bukan hanya kehilangan arah; ia bahkan kehilangan kesempatan untuk menyadari bahwa dirinya sedang tersesat. Tidak ada jeda untuk bertanya, apalagi untuk mendengar dirinya sendiri.
Dalam horison yang lebih luas, Seyyed Hossein Nasr, dalam Knowledge and the Sacred, melihat krisis ini sebagai akibat dari tercerabutnya dimensi spiritual dalam peradaban modern (Nasr, 1989). Manusia semakin menguasai dunia luar, tetapi perlahan menjauh dari pusat batinnya sendiri. Kehidupan menjadi penuh, tetapi tidak padat makna. Ada kelimpahan, tetapi tidak ada kedalaman.
Pada keadaan ini, tidak mengherankan jika banyak orang merasa hidupnya berjalan, tetapi tidak bergerak ke mana-mana. Seperti menempuh jalan panjang tanpa arah yang jelas. Atau lebih sunyi lagi, tidak pernah benar-benar berhenti untuk menanyakan ke mana arah itu seharusnya.
Kegelisahan kemudian hadir, sering tanpa nama. Ia muncul sebagai jenuh yang tak terjelaskan, sebagai kelelahan yang tidak sepenuhnya fisik. Namun justru di situlah maknanya mulai terbuka. Kegelisahan bukan sekadar gangguan; ia adalah tanda. Tanda bahwa ada sesuatu dalam diri manusia yang belum selesai. Bahwa kehidupan yang dijalani belum sepenuhnya dipahami.
Namun tanda itu mengarah ke mana?
Sering kali, dunia modern tidak memberi ruang bagi pertanyaan semacam ini. Ia lebih cepat menawarkan pengalihan: kesibukan baru, hiburan baru, distraksi yang tak habis-habis. Ketika gelisah datang, manusia diajak untuk menjauh darinya, bukan mendekatinya. Seolah-olah ketenangan dapat diisi dari luar. Padahal, semakin dihindari, kegelisahan itu justru semakin mengendap, menjadi sunyi yang tidak terucap.
Barangkali yang kita hindari bukanlah kegelisahan itu sendiri, melainkan pertanyaan yang dibawanya.
Sebab di balik kegelisahan, sering tersembunyi dorongan yang lebih dalam: keinginan untuk kembali. Kembali ke sesuatu yang pernah dikenal, tetapi kini terasa jauh. Kembali ke pusat yang sebenarnya tidak pernah hilang, hanya tertutup oleh lapisan-lapisan kesibukan dan keterikatan.
Lalu, jika memang ada “kembali”, ke manakah arah itu sebenarnya? Apakah ia berada di suatu tempat yang harus dicapai? Ataukah ia tersembunyi dalam kesadaran yang belum sepenuhnya kita pahami?
Pertanyaan ini membuka kemungkinan yang lebih halus, bahwa perjalanan yang selama ini kita bayangkan sebagai gerak menuju luar, mungkin justru merupakan gerak ke dalam. Bahwa arah hidup tidak selalu ditentukan oleh jarak, melainkan oleh kedalaman kesadaran.
Maka, ketika seseorang berbicara tentang perjalanan menuju suatu tempat yang suci, apakah itu benar-benar perjalanan ruang? Ataukah ia sebenarnya sedang menunjuk pada sesuatu yang lebih sunyi, lebih dekat, tetapi justru sering terlewatkan?
Dalam ruang seperti ini, kita tidak perlu tergesa-gesa mencari jawaban. Yang lebih penting adalah keberanian untuk tinggal sejenak dalam pertanyaan itu. Membiarkannya bekerja perlahan dalam batin. Sebab mungkin, di sanalah awal dari sebuah perjalanan dimulai; bukan dari kepastian, melainkan dari kegelisahan yang jujur.
Dan dari kegelisahan itulah, suluk menemukan pintunya.
2. Suluk Wujil sebagai Teks Perjalanan Batin
Setelah kegelisahan dikenali sebagai pintu, pertanyaan berikutnya muncul dengan lebih tenang: jika memang ada jalan pulang, bagaimana manusia mengenali arahnya? Pada tahap ini, pengalaman batin tidak lagi berhenti sebagai rasa, tetapi mulai mencari bentuk: mencari bahasa yang dapat menuntunnya memahami dirinya sendiri.
Di sinilah sastra, khususnya sastra sufistik, mengambil peran yang tidak tergantikan. Ia tidak sekadar bercerita, tetapi menyusun pengalaman batin dalam bentuk yang dapat direnungkan. Bukan untuk memberi jawaban instan, melainkan untuk menghadirkan arah: pelan, simbolik, dan sering kali tersembunyi.
Dalam khazanah Jawa, salah satu teks yang menempati posisi penting dalam tradisi ini adalah Suluk Wujil. Teks ini tidak hadir sebagai narasi biasa. Ia tidak menawarkan alur cerita yang lengkap, tokoh yang berkembang secara dramatik, atau konflik yang diselesaikan secara linear. Justru sebaliknya, ia bergerak dalam lapisan makna, menyimpan ajaran dalam simbol, dan menuntut pembacanya untuk tidak sekadar membaca, tetapi mengalami.
Di balik teks ini, hadir sosok Sunan Bonang, salah satu Wali Songo, yang dikenal tidak hanya sebagai penyebar Islam, tetapi juga sebagai penyusun ajaran melalui medium budaya dan sastra. Dalam tradisi tasawuf Jawa, penyampaian ajaran memang tidak selalu dilakukan secara langsung. Ia sering dibungkus dalam tembang, suluk, atau simbol-simbol keseharian, agar lebih dekat dengan pengalaman manusia, sekaligus membuka ruang tafsir yang lebih dalam.
Namun, yang menarik dari Suluk Wujil bukan hanya siapa yang menulisnya, melainkan bagaimana teks ini membangun relasi antara pencari dan pembimbing.
Tokoh Wujil tidak tampil sebagai sosok yang sempurna. Ia justru hadir sebagai manusia yang sedang mencari. Ada keterbatasan dalam dirinya, ada kebingungan, bahkan ada ketidaktahuan yang jujur. Dalam konteks ini, Wujil bukan sekadar tokoh dalam teks: ia adalah cermin. Cermin bagi siapa pun yang pernah merasa belum sampai, belum paham, atau belum menemukan arah yang pasti dalam hidupnya.
Di hadapan Wujil, hadir sosok guru. Bukan sebagai penguasa pengetahuan yang memaksakan kebenaran, tetapi sebagai pembimbing kesadaran. Ia tidak sekadar memberi jawaban, melainkan mengarahkan cara melihat. Ia tidak memindahkan pengetahuan, tetapi menata cara memahami.
Relasi ini penting. Sebab dalam tradisi tasawuf, perjalanan batin tidak dapat ditempuh sendirian tanpa arah. Ada tahapan, ada jebakan, ada kemungkinan salah paham yang justru menjauhkan dari tujuan. Guru, dalam hal ini, bukan sekadar pengajar: ia adalah penunjuk jalan. Ia membantu pencari mengenali apa yang selama ini luput dari kesadarannya.
Di sinilah Suluk Wujil mulai memperlihatkan hakikatnya.
Teks ini bukan sekadar cerita tentang seseorang bernama Wujil. Ia adalah peta kesadaran. Setiap bagian tidak hanya menyampaikan sesuatu, ia mengarahkan pembaca pada tahap tertentu dalam perjalanan batin. Simbol-simbol yang muncul bukan hiasan bahasa, melainkan penanda jalan. Ia mengajak pembaca untuk tidak berhenti pada makna literal, tetapi masuk ke lapisan yang lebih dalam: lapisan di mana pengalaman dan kesadaran bertemu.
Maka, membaca Suluk Wujil tidak cukup dengan memahami kata-katanya. Ia menuntut kehadiran batin. Ia meminta pembaca untuk perlahan menyadari: di manakah posisi dirinya dalam perjalanan itu? Apakah masih berada pada tahap bertanya? Ataukah sudah mulai mengenali arah?
Dalam kesadaran ini, teks tidak lagi berada di luar diri. Ia mulai bekerja dari dalam. Wujil tidak lagi sekadar tokoh, tetapi menjadi representasi diri yang sedang berjalan. Guru tidak lagi sekadar figur dalam teks, tetapi menjadi suara kesadaran yang perlahan menuntun.
Dan mungkin, tanpa disadari, pembaca telah bergeser dari sekadar merasa gelisah menuju sesuatu yang lebih jernih: mulai mengenali bahwa perjalanan itu ada; dan arah itu, meski belum sepenuhnya jelas, perlahan mulai terasa.
3. Tahap Pertama: Dekonstruksi Makna Mekah (Suluk 61–62)
Dalam perjalanan batin, pertanyaan tidak lagi berhenti pada “apa yang dicari”, tetapi bergeser menjadi “di mana pencarian itu diarahkan.” Di sinilah teks Suluk Wujil mulai bekerja secara lebih halus; bukan dengan memberi jawaban, melainkan dengan membongkar arah yang selama ini dianggap pasti.
“Samana ‘ngling Molana Maghribi / singgih pakanira awangsula / nora’na ing Mekah rekeh / ing Mekah kulon iku / Mekah tiron wastanireki / watu ingkang kinarya / pangadhepanipun / Nabi Ibrahim akarya…”
(Beginilah kata Maulana Maghribi: sebaiknya engkau kembali, sebab apa yang engkau cari itu tidak ada di Mekah. Mekah yang ada di barat itu hanyalah Mekah tiruan. Di sana hanya terdapat batu yang dijadikan arah (kiblat) oleh Nabi Ibrahim). (Pupuh 61)
Dalam bagian yang sering dirujuk sebagai Suluk 61–62, makna Mekah tidak dihadirkan sebagai ruang geografis yang harus ditempuh, melainkan sebagai simbol yang harus dipahami. Perjalanan yang semula dibayangkan sebagai gerak menuju suatu tempat, perlahan dipertanyakan ulang: apakah benar yang dicari itu berada di luar?
Dalam lapisan kesadaran ini, dekonstruksi berlangsung secara perlahan dan nyaris tak terdengar. Mekah sebagai pusat lahiriah tidak ditolak, tetapi dilampaui. Ia tetap ada sebagai simbol penting, namun tidak lagi menjadi tujuan tunggal. Sebab jika tujuan itu semata-mata ruang, maka siapa pun yang sampai secara fisik seharusnya telah selesai dalam pencarian. Kenyataannya tidak demikian.
Pertanyaan pun muncul, dan mengusik: mengapa manusia cenderung mencari Tuhan di luar dirinya?
Barangkali karena yang tampak lebih mudah dipercaya daripada yang tersembunyi. Ruang dapat dilihat, jarak dapat diukur, perjalanan dapat direncanakan. Sementara batin, ia tidak memiliki peta yang pasti. Ia sunyi, tidak kasatmata, dan sering kali membingungkan. Maka manusia memilih yang konkret, meskipun belum tentu yang esensial.
Di sinilah pengalaman manusia menjadi cermin. Tidak sedikit yang telah menempuh perjalanan jauh, secara fisik maupun simbolik, namun masih membawa kegelisahan yang sama. Seolah-olah yang berubah hanyalah tempat, bukan kesadaran. Perjalanan menjadi perpindahan, bukan transformasi.
“Nora’na weruh ing Mekah iki / alit mila teka ing awayah / mangsa tekaeng parane / yen ana sangunipun / tekeng Mekah tur dadi Wali / sangunipun alarang / dahat dening ewuh / dudu srepi dudu dinar / sangunipun kang sura legaweng pati / sabar lila ing dunya.”
Tidak ada orang yang benar-benar mengetahui Mekah yang sejati, meskipun ia berangkat sejak muda hingga tua, belum tentu ia sampai pada tujuannya. Jika seseorang memiliki bekal yang cukup, ia dapat sampai ke Mekah dan menjadi wali. Namun bekal itu sangat berat dan sulit diperoleh. Bukan berupa emas atau harta, melainkan keberanian menghadapi kematian, kesabaran, dan keikhlasan dalam melepaskan dunia. (Pupuh 62)
Pemikiran ini sejalan dengan refleksi Seyyed Hossein Nasr, yang dalam Knowledge and the Sacred mengingatkan bahwa krisis manusia modern berakar pada keterputusan dari pusat spiritual dalam dirinya sendiri (Nasr, 1989). Ketika orientasi hidup sepenuhnya diarahkan ke luar, maka pencarian pun kehilangan kedalaman. Yang dikejar adalah jarak, bukan makna.
Namun Suluk Wujil tidak berhenti pada kritik. Ia justru membuka kemungkinan lain, bahwa yang selama ini dipahami sebagai tujuan eksternal, sebenarnya adalah isyarat menuju ruang internal. Mekah, dalam pengertian ini, menjadi lambang pusat kesadaran, bukan sekadar titik geografis.
Maka perjalanan pun bergeser makna. Ia tidak lagi tentang berangkat dan tiba, tetapi tentang menyadari. Tentang bagaimana manusia mulai menoleh ke dalam, dan perlahan memahami bahwa yang dicari mungkin tidak pernah benar-benar jauh.
Akan tetapi, pergeseran ini tidak mudah. Sebab ia menuntut perubahan cara melihat. Dunia yang selama ini dianggap sebagai arah utama harus dipertanyakan kembali. Dan itu berarti memasuki wilayah yang tidak selalu nyaman; wilayah di mana kepastian mulai goyah, dan pencarian menjadi lebih jujur.
Di sinilah fase “mencari” benar-benar dimulai.
Bukan lagi mencari sesuatu yang sudah dibayangkan sebelumnya, tetapi membuka diri terhadap kemungkinan bahwa selama ini arah pencarian itu sendiri yang keliru. Bahwa Tuhan tidak harus ditemukan di kejauhan, tetapi disadari dalam kedekatan yang sering diabaikan.
Dan mungkin, justru karena terlalu dekat, manusia tidak pernah benar-benar melihatnya.
4. Tahap Kedua: Pembalikan Realitas (Suluk 63–64)
Ada satu momen dalam perjalanan batin yang tidak selalu disadari sebagai kemajuan. Ia justru terasa seperti kehilangan pegangan. Apa yang selama ini tampak jelas, tiba-tiba menjadi kabur. Apa yang dulu diyakini sebagai arah, perlahan kehilangan kepastiannya. Pada ambang ini, Suluk Wujil membuka pengalaman yang tidak segera dapat diterima oleh kebiasaan indra: realitas dapat terbalik.
Masjid ing Mekah tulya ngideri / Ka’batullah punika ‘neng tengah / gumantung tanpa cecanthel / dinulu sakung ruhur / langit katon ing ngandhap iki / dinulu saking ngandhap / bumi aneng ruhur / tinon kulon katon wetan / tinon wetan katon kulon iku singgih / tingalnya awalesan //
Mesjid gi Mekah seperti mengelilingi Kabatullah yang berada di tengah-tengah. Singgasana ini menggantung di atas tanpa pengait. Dan jika orang melihatnya dari atas, orang akan melihat langit di bawah. Apabila orang melihatnya dari bawah, maka tampak bumi di atasnya. Jika orang melihatnya ke barat, ia akan melihat timur, dan jika melihat timur, maka akan terlihat barat. Ini sungguh penglihatan yang terbalik. (Pupuh 63)
Dalam Suluk 63–64, dunia tidak lagi berdiri sebagaimana biasanya. Yang atas seolah menjadi bawah, yang dekat terasa jauh, dan yang pasti berubah menjadi meragukan. Ini bukan sekadar permainan bahasa simbolik, melainkan pengalaman kesadaran yang mulai retak dari kebiasaan lama. Sebuah fase di mana indra tidak lagi cukup untuk memastikan kebenaran.
Manusia, sejak awal, dibentuk untuk percaya pada apa yang tampak. Penglihatan, pendengaran, sentuhan; semuanya menjadi dasar bagi cara kita memahami dunia. Namun, ketika perjalanan batin memasuki kedalaman tertentu, fondasi ini mulai goyah. Bukan karena indra itu salah, tetapi karena ia terbatas.
Al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, pernah menyinggung bahwa pengetahuan indrawi hanyalah lapisan awal dari kesadaran manusia. Ia dapat menipu jika tidak ditopang oleh kejernihan batin (Al-Ghazali, 1983). Apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya. Apa yang terasa nyata bisa saja hanya bayangan dari sesuatu yang lebih dalam.
Di sinilah pembalikan mulai terjadi. Bukan dunia yang berubah, tetapi cara melihatnya. Kesadaran dipaksa untuk keluar dari kebiasaan lama: kebiasaan yang terlalu cepat menyimpulkan, terlalu yakin pada yang tampak, dan terlalu bergantung pada kepastian luar.
Namun perubahan ini tidak menghadirkan ketenangan seketika. Justru sebaliknya: ia melahirkan kegamangan. Ketika arah luar tidak lagi bisa dipercaya, ke mana manusia harus kembali?
Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban instan. Ia bekerja seperti gema dalam ruang batin, berulang tanpa segera menemukan titik henti. Sebab yang sedang diuji bukan sekadar pengetahuan, melainkan kepercayaan terhadap cara mengetahui itu sendiri.
Dalam pengalaman sehari-hari, kondisi ini sering muncul sebagai keraguan yang tidak nyaman. Seseorang mulai mempertanyakan hal-hal yang dulu dianggap pasti: pilihan hidup, nilai yang dipegang, bahkan cara memahami kebenaran. Dunia terasa sama, tetapi maknanya berubah. Seolah-olah ada lapisan yang terkelupas, memperlihatkan sesuatu yang belum siap sepenuhnya dipahami.
René Descartes pernah memulai filsafatnya dari keraguan, methodic doubt, sebagai jalan untuk menemukan kepastian yang lebih mendasar. Segala sesuatu diragukan, bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk disaring hingga tersisa yang benar-benar tak tergoyahkan (Descartes, 1637). Dalam konteks suluk, keraguan ini bukan sekadar metode intelektual, ia pengalaman eksistensial.
Apa yang terjadi dalam Suluk Wujil sejalan dengan gerak ini, tetapi melampauinya. Keraguan tidak berhenti pada pikiran, melainkan merambah ke seluruh cara berada manusia. Ia mengganggu rasa aman, sekaligus membuka kemungkinan baru: bahwa kebenaran tidak selalu berada di permukaan.
Pembalikan realitas, dengan demikian, bukan kehancuran makna, melainkan awal dari penyadaran. Ia memaksa manusia untuk tidak lagi bersandar sepenuhnya pada apa yang tampak. Ia mengajak untuk berhenti sejenak, menahan diri dari kesimpulan, dan memberi ruang bagi sesuatu yang lebih dalam untuk muncul.
Fase ini tidak nyaman. Tetapi justru di situlah nilainya.
Sebab hanya ketika kepastian lama mulai runtuh, kesadaran memiliki kesempatan untuk dibangun kembali; bukan di atas kebiasaan, melainkan di atas kejernihan yang perlahan ditemukan.
Tinon Kidul katon lor angrawit / tinon lor katon kidul asineng / pepeloking mrak samine / Ka’batullah puniku / lamun ana sembahyang siji / anging kawrat satunggal / yen roro tetelu / anging samono ambanya / yadyan wong salaksa kawrat iku singgih / tungkep rat pan kawawa //
Jika orang melihat ke selatan, yang tampak ialah utara yang indah. Dan jika melihat ke utara, nampak selatan, gemerlapan seperti mata pada bulu burung merak. Ka’bah itu apabila ada seorang yang bersembahyang maka hanya ada ruang yang cukup untuk satu orang saja. Jika ada dua orang atau tiga orang, maka ruang itu juga hanya cukup untuk dua atau tiga orang itu. Akan tetapi jika terdapat sepuluh ribu orang yang bersembahyang di sana, maka Ka’bah dapat menampung mereka itu semua. Bahkan seandainya seluruh dunia akan bersembahyang di sana, pun akan tertampung juga. (Pupuh 64)
Dari sini, perjalanan tidak lagi sekadar mencari. Ia mulai berubah menjadi kesediaan untuk meragukan.
5. Tahap Ketiga: Mati Sebelum Mati (Suluk 70–72)
Ada satu ambang yang tidak bisa dilewati hanya dengan berpikir. Ia menuntut sesuatu yang lebih dalam: sesuatu yang menyentuh inti keberadaan manusia itu sendiri. Setelah kesadaran mulai meragukan apa yang selama ini dianggap pasti, perjalanan batin tidak berhenti pada keraguan. Ia bergerak lebih jauh, memasuki wilayah yang jauh lebih sunyi: melepaskan diri.
Dalam Suluk 70–72, Suluk Wujil menghadirkan ajaran yang menjadi inti tasawuf: “mati sebelum mati.” Ungkapan ini tidak menunjuk pada kematian fisik, melainkan pada kematian ego: lapisan diri yang selama ini merasa sebagai pusat, pengendali, dan pemilik segalanya. Ego tidak selalu tampak kasar; ia bisa hadir dalam bentuk halus: keinginan diakui, rasa memiliki, bahkan keyakinan bahwa diri ini adalah sesuatu yang tetap.
Namun justru karena ia begitu dekat, ia sulit dikenali.
Manusia terbiasa hidup dengan “aku” sebagai poros. Segala sesuatu diukur dari kepentingannya, dinilai dari sudut pandangnya, dan diarahkan untuk memenuhi keinginannya. Ketika perjalanan batin mulai menuntut pengosongan, yang dihadapi bukan sekadar perubahan sikap, tetapi pembongkaran pusat itu sendiri.
Mengapa yang paling sulit bagi manusia adalah melepaskan dirinya sendiri?
Karena yang dilepaskan bukan sesuatu di luar, melainkan yang selama ini dianggap sebagai diri. Melepaskan harta mungkin berat, tetapi masih mungkin dilakukan. Melepaskan kedudukan terasa menyakitkan, tetapi masih dapat dinegosiasikan. Namun melepaskan “aku”, itulah yang hampir tidak terbayangkan.
Al-Ghazali, menegaskan bahwa inti dari tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) adalah membersihkan hati dari sifat-sifat yang mengikat manusia pada dirinya sendiri: kesombongan, riya’, cinta berlebihan pada dunia, dan keterikatan pada kehendak pribadi (Ibid.). Proses ini bukan sekadar moralitas, tetapi transformasi eksistensial: pergeseran dari “aku yang menghendaki” menjadi “aku yang diserahkan.”
Pada fase ini, perjalanan tidak lagi bergerak dalam ranah pemahaman, melainkan dalam pengosongan diri. Ia menjadi pengalaman yang menguji kejujuran batin. Sebab selama ego masih menjadi pusat, bahkan pencarian spiritual pun bisa berubah menjadi bentuk lain dari keakuan: ingin dianggap lebih suci, lebih tahu, atau lebih dekat.
Maka, pengosongan diri menjadi keharusan. Bukan untuk meniadakan eksistensi, tetapi untuk menata ulang orientasi. Ego tidak dihancurkan sebagai struktur, ia dilepaskan sebagai pusat kendali. Yang semula penuh dengan kehendak diri, perlahan dibersihkan agar mampu menerima sesuatu yang lebih luas.
Dalam bahasa tasawuf, inilah awal dari manunggal kehendak, bukan dalam arti menyatu secara ontologis, namun selaras secara kesadaran. Kehendak manusia tidak lagi berdiri sendiri, melainkan bergerak dalam keterarahan kepada Yang Maha Menghendaki.
Namun, proses ini tidak dramatis. Ia berlangsung perlahan, sering kali tanpa disadari. Dalam keseharian, ia tampak sebagai kemampuan untuk menahan diri, menerima tanpa reaksi berlebihan, atau merelakan sesuatu tanpa perlawanan batin yang keras. Kecil, tetapi menentukan.
Di sinilah letak kedalaman suluk. Ia tidak selalu terlihat sebagai peristiwa besar, suluk sebagai perubahan halus dalam cara manusia berada.
Melepaskan diri bukan berarti kehilangan, melainkan membuka ruang.
Ruang bagi kesadaran yang tidak lagi sempit oleh kepentingan pribadi. Ruang bagi kehadiran yang tidak dipenuhi oleh suara “aku.” Dan dalam ruang itulah, perjalanan mulai menemukan kejernihannya.
Dari meragukan, kini bergerak menuju melepaskan.
Sebab hanya yang berani melepaskan dirinya, yang mampu melangkah lebih jauh tanpa membawa beban yang tidak lagi diperlukan.
6. Tahap Keempat: Cermin dan Identitas (Suluk 74–84)
Setelah sesuatu dalam diri mulai dilepaskan, muncul ruang yang sebelumnya tidak terlihat. Ruang itu tenang, tetapi tidak kosong. Ia justru menjadi tempat di mana manusia mulai berhadapan dengan dirinya secara lebih jernih. Bukan lagi diri yang dibentuk oleh kebiasaan atau keinginan, melainkan diri yang perlahan menampakkan wajahnya apa adanya.
Dalam Suluk 74–84, Suluk Wujil menghadirkan simbol yang sederhana, tetapi dalam: cermin.
Cermin tidak menciptakan apa pun. Ia hanya memantulkan. Namun justru karena itu, ia menyimpan pertanyaan yang tidak mudah dijawab: apakah yang terlihat di dalamnya benar-benar diri, atau hanya bayangan yang selama ini kita kenali sebagai diri?
Simbol ini membawa kita pada pengalaman yang halus. Ketika seseorang berdiri di depan cermin, ia melihat sesuatu yang tampak akrab. Wajah, ekspresi, gerak, semuanya terasa milik sendiri. Tetapi, jika diperhatikan lebih dalam, yang tampak itu hanyalah pantulan. Ia tidak memiliki substansi. Ia hadir karena ada sesuatu yang dipantulkan, dan lenyap ketika pantulan itu tidak lagi terjadi.
Di sinilah Suluk Wujil mulai menggeser pemahaman tentang identitas.
Apa yang selama ini disebut sebagai “aku” mungkin tidak sepenuhnya tetap. Ia bisa jadi adalah kumpulan pantulan: dari pengalaman, ingatan, peran sosial, dan cara orang lain melihat kita. Semua itu membentuk bayangan yang terasa utuh, padahal terus berubah tanpa disadari.
Refleksi pun mengemuka, perlahan, tetapi mengikat: Siapakah diri yang kita lihat selama ini?
Pertanyaan ini tidak meminta definisi, ia merupa kehadiran. Ia mengajak untuk mengamati tanpa segera menyimpulkan. Sebab semakin cepat kita memberi nama, semakin jauh kita dari kemungkinan melihat dengan jernih.
Ibn Arabi, dalam berbagai karyanya tentang metafisika tasawuf, menggambarkan realitas sebagai rangkaian tajalli: penampakan yang terus-menerus dari Yang Maha Ada dalam bentuk-bentuk yang beragam (Ibn Arabi, 1982). Dalam kerangka ini, manusia bukan entitas yang berdiri sendiri secara mutlak, melainkan cermin yang memantulkan aspek-aspek dari realitas yang lebih luas. Apa yang kita sebut sebagai identitas, dengan demikian, tidak sepenuhnya otonom. Ia adalah peristiwa pemantulan.
Pemahaman ini tidak dimaksudkan untuk mengaburkan diri, tetapi untuk melonggarkan keterikatan pada gambaran yang terlalu kaku. Ketika identitas dipahami sebagai sesuatu yang tetap dan mutlak, manusia cenderung mempertahankannya dengan keras. Tetapi ketika ia dilihat sebagai bayangan yang terus bergerak, muncul kemungkinan untuk melihat tanpa harus menggenggam.
Simbol cermin juga mengandung relasi yang lebih dalam: antara yang memantulkan dan yang dipantulkan. Dalam pengalaman biasa, keduanya tampak terpisah. Ada subjek yang melihat, dan objek yang dilihat. Namun dalam kedalaman kesadaran, batas ini mulai menipis. Yang melihat dan yang dilihat perlahan saling berkelindan. Bukan berarti keduanya lenyap, tetapi jaraknya berubah.
Dualitas yang selama ini dianggap tegas, aku dan engkau, dalam dan luar, subjek dan objek, mulai kehilangan kekakuannya. Kesadaran bergerak ke arah yang lebih halus, di mana perbedaan tidak lagi menjadi batas mutlak, melainkan bagian dari satu kesatuan yang lebih luas.
Dalam kesadaran ini, kedekatan tidak lagi dipahami sebagai jarak yang dipersempit, tetapi sebagai kesadaran yang diperdalam.
Manusia tidak perlu pergi ke mana-mana untuk menemukan dirinya. Ia hanya perlu melihat (benar-benar melihat), tanpa bayangan yang menutupi. Dan dalam penglihatan yang jernih itu, ia mungkin mulai menyadari bahwa diri yang selama ini dianggap tetap, sebenarnya hanyalah pantulan yang menunggu dipahami.
Dari melepaskan, perjalanan kini bergerak menuju melihat.
Melihat, bukan dengan indra semata, tetapi dengan kesadaran yang tidak lagi terikat pada bayangan.
7. Tahap Kelima: Nafi–Itsbat dan Tauhid (Suluk 85–87)
Ketika kesadaran mulai mampu melihat tanpa terjebak pada bayangan, perjalanan memasuki wilayah yang lebih dalam; wilayah di mana bahasa mulai terbatas, dan makna tidak lagi sepenuhnya bisa dijelaskan. Di sinilah Suluk Wujil mengantar pembacanya pada inti yang paling sunyi: tauhid, bukan sebagai konsep, melainkan sebagai pengalaman kesadaran.
Dalam Suluk 85–87, ajaran itu dirumuskan melalui kalimat yang tampak sederhana, tetapi mengandung kedalaman yang tak habis dijangkau: La ilaha illa Allah. Sebuah pernyataan yang menegaskan, sekaligus meniadakan. Tidak ada Tuhan, kecuali Allah.
Di dalamnya terdapat dua gerak yang saling terkait: nafi (peniadaan) dan itsbat (penegasan).
Yang pertama menolak segala sesuatu yang dianggap sebagai pusat: segala yang disembah, diandalkan, atau dijadikan sandaran makna. Yang kedua menegaskan satu-satunya realitas yang tidak tergantikan. Namun gerak ini bukan sekadar struktur bahasa. Ia adalah proses batin.
Manusia, tanpa disadari, sering membangun “tuhan-tuhan kecil” dalam hidupnya, hal-hal yang menjadi pusat orientasi: kekuasaan, pengetahuan, citra diri, bahkan keyakinan yang dibekukan. Semua itu memberi rasa pasti, tetapi sekaligus menutup kemungkinan melihat yang lebih hakiki.
Pada fase ini, nafi bekerja. Ia membongkar, meniadakan, membersihkan. Bukan untuk menghancurkan, nafi justru untuk membuka ruang. Segala yang bukan pusat dilepaskan dari posisinya. Segala yang selama ini dianggap mutlak, perlahan dikembalikan pada keterbatasannya.
Namun, peniadaan saja tidak cukup. Ia harus diikuti oleh itsbat: penegasan yang tidak lagi bergantung pada konstruksi manusia, melainkan pada kesadaran akan Yang Maha Ada. Bukan sebagai objek yang dipahami, tetapi sebagai realitas yang disadari kehadirannya.
Refleksi pun menjadi semakin dalam: Apakah Tuhan bisa dipahami, atau hanya bisa disadari?
Pertanyaan ini tidak meminta jawaban konseptual. Sebab setiap upaya memahami Tuhan secara penuh melalui logika akan selalu berhadapan dengan keterbatasan. Pikiran bekerja dengan kategori, batas, dan definisi. Sementara Yang Ilahi melampaui semuanya.
Ibn Arabi, dalam Futuhat al-Makkiyah, mengemukakan bahwa Tuhan adalah realitas yang sekaligus “tampak” dan “tersembunyi,” hadir dalam segala sesuatu tetapi tidak terbatas oleh apa pun (Ibn Arabi, 1982). Dalam kerangka ini, Tuhan tidak dapat dipahami sebagai objek di luar manusia, karena setiap pemahaman akan selalu dibentuk oleh batasan subjek yang memahami.
Maka tauhid, dalam kedalaman ini, bukan sekadar keyakinan bahwa Tuhan itu satu. Ia adalah kesadaran bahwa tidak ada yang benar-benar memiliki keberadaan mandiri selain Dia. Segala yang tampak ada, ada dalam keterhubungan yang tidak terpisah dari sumbernya.
Di sinilah nafi–itsbat menjadi pengalaman yang hidup. Peniadaan membersihkan kesadaran dari ilusi kemandirian. Penegasan menghadirkan kesadaran akan kehadiran yang meliputi segalanya.
Perjalanan pun berubah sifat. Ia tidak lagi tentang mencari, meragukan, atau bahkan melepaskan. Ia menjadi pemahaman yang tidak sepenuhnya bisa diucapkan, tetapi dapat dirasakan sebagai kejelasan yang tenang.
Dalam kejelasan itu, manusia tidak lagi berdiri sebagai pusat. Ia menjadi bagian dari kesadaran yang lebih luas: kesadaran yang tidak memisahkan antara yang memahami dan yang dipahami, tetapi menyatukannya dalam satu arah yang sama.
Dari melihat diri, perjalanan kini bergerak menuju memahami hakikat.
Bukan memahami dalam arti menguasai, tetapi dalam arti menyadari, bahwa yang dicari sejak awal tidak pernah benar-benar terpisah.
8. Tahap Keenam: Kritik terhadap Formalisme (Suluk 88, 102)
Setelah kesadaran memasuki kedalaman tertentu, muncul satu lapisan lain yang tidak kalah penting: kemampuan untuk melihat kembali dunia dengan kejernihan yang baru. Bukan sekadar memahami, tetapi juga menilai. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membedakan antara yang hidup dan yang hanya tampak hidup.
Dalam Suluk 88 dan 102, Suluk Wujil menyampaikan kritik yang terasa tajam, tetapi tetap tenang. Ia tidak menyerang agama, melainkan cara manusia memahaminya. Kritik itu diarahkan pada satu kecenderungan yang terus berulang: berhentinya ilmu pada lafaz.
Kata-kata diucapkan dengan fasih. Istilah-istilah diperdebatkan dengan penuh semangat. Dalil disusun dengan rapi. Namun di balik semua itu, sesuatu yang lebih esensial justru terlewatkan: makna.
Mengapa manusia lebih sibuk membela kata daripada memahami makna?
Pertanyaan ini terasa sederhana, tetapi menyentuh akar persoalan. Kata memberi rasa pasti. Ia bisa dihafal, diulang, dan dipertahankan. Sementara makna menuntut sesuatu yang lebih dalam: keheningan, perenungan, dan kesediaan untuk berubah. Kata dapat dimiliki, tetapi makna harus dialami.
Di sinilah bentuk mengambil alih kesadaran. Agama dipraktikkan sebagai rangkaian bentuk yang lengkap, tetapi sering kali terpisah dari kesadaran yang seharusnya menyertainya. Ritual dijalankan, tetapi tidak selalu dipahami. Diskusi berlangsung, tetapi tidak selalu mendalam.
Fenomena ini tidak hanya milik masa lalu. Ia justru semakin terasa dalam kehidupan modern, ketika informasi keagamaan tersebar begitu cepat. Siapa pun dapat berbicara, mengutip, bahkan berdebat, tanpa harus melalui proses pematangan batin yang panjang. Akibatnya, agama mudah berubah menjadi ruang kompetisi: siapa yang paling benar, siapa yang paling kuat argumennya.
Erich Fromm, dalam To Have or To Be?, mengingatkan bahwa manusia modern cenderung memosisikan pengetahuan sebagai sesuatu yang “dimiliki,” bukan “dihayati” (Fromm, 1976). Dalam kerangka ini, mengetahui ajaran agama sering dipahami sebagai memiliki kumpulan konsep, bukan sebagai proses menjadi. Pengetahuan menjadi identitas, bukan transformasi.
Ketika kecenderungan ini masuk ke dalam wilayah spiritual, yang terjadi adalah pemisahan halus antara bentuk dan substansi. Kata-kata tetap ada, tetapi kehilangan daya hidupnya. Ia menjadi benar secara struktur, tetapi kosong secara pengalaman.
Suluk Wujil tidak menolak kata. Ia justru menggunakannya dengan penuh kesadaran. Namun, ia mengingatkan bahwa kata hanyalah pintu, bukan tujuan. Ia harus dilampaui agar makna dapat ditemukan.
Dalam pengalaman sehari-hari, kita bisa melihat bagaimana perdebatan sering berakhir tanpa perubahan apa pun. Argumen ditukar, posisi dipertahankan, tetapi tidak ada yang benar-benar mendengar. Seolah-olah yang dicari bukan pemahaman, melainkan kemenangan.
Dalam wilayah makna yang mulai mengeras ini, kesadaran kritis menjadi pintu untuk menghidupkan kembali substansi yang hilang. Bukan untuk meruntuhkan keyakinan, tetapi untuk menghidupkannya kembali. Untuk bertanya: apakah yang kita pegang selama ini benar-benar kita pahami, atau hanya kita ulangi?
Kesadaran ini tidak selalu nyaman. Ia bisa mengguncang rasa pasti yang selama ini memberi keamanan. Tetapi, justru di situlah letak nilainya. Ia membuka kemungkinan untuk kembali pada esensi; pada makna yang tidak bisa dipertahankan hanya dengan kata-kata.
Perjalanan batin, pada akhirnya, tidak berhenti pada pemahaman yang benar. Ia menuntut kejujuran untuk melihat ketika pemahaman itu mulai mengeras menjadi bentuk yang kosong.
Dari memahami, kesadaran kini bergerak menuju kritis.
Bukan kritis yang menolak, tetapi kritis yang menghidupkan kembali makna yang hampir hilang di balik kata.
9. Tahap Ketujuh: Metafora dan Bahasa Simbolik (Suluk 103)
Setelah kesadaran belajar membedakan antara bentuk dan makna, perjalanan tidak berhenti pada sikap kritis. Ia bergerak lebih halus, menuju cara memahami yang tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada logika, tetapi pada rasa. Di sinilah Suluk Wujil menghadirkan sesuatu yang bagi sebagian pembaca terasa ganjil: bahasa simbolik.
Dalam Suluk 103, muncul berbagai metafora yang tampak sederhana, bahkan aneh: ayam, bambu, kuda, dan benda-benda keseharian lainnya. Jika dibaca secara literal, semuanya bisa terasa tidak berhubungan. Seolah-olah teks ini berbicara tentang hal-hal biasa yang tidak memiliki kedalaman spiritual.
Namun justru di situlah letak pintunya.
Simbol tidak bekerja seperti konsep. Ia tidak menjelaskan secara langsung, namun mengisyaratkan. Ia tidak memberi definisi, tetapi membuka kemungkinan pemahaman. Maka, ketika simbol dihadapi dengan logika semata, ia akan terasa membingungkan. Tetapi, ketika didekati dengan rasa, ia mulai berbicara dengan caranya sendiri.
Mengapa bahasa seperti ini diperlukan? Karena ada wilayah pengalaman yang tidak bisa dijangkau oleh bahasa yang lurus dan analitis. Logika bekerja dengan kejelasan batas: benar atau salah, ini atau itu. Sementara, pengalaman batin sering kali berada di antara: tidak sepenuhnya bisa dipisahkan, tidak sepenuhnya bisa dirumuskan.
Dalam lapisan makna ini, metafora menjadi jembatan.
Ia menghubungkan yang tampak dengan yang tersembunyi. Ia menggunakan hal yang dekat untuk menunjuk pada sesuatu yang jauh, atau justru sangat dekat tetapi tidak terlihat. Ayam bukan sekadar ayam. Bambu bukan sekadar bambu. Kuda bukan sekadar kuda. Masing-masing membawa lapisan makna yang hanya terbuka ketika pembaca bersedia merasakan, bukan sekadar memahami.
Pendekatan ini memiliki resonansi kuat dengan tradisi sufistik yang lebih luas. Jalaluddin Rumi, dalam The Mathnawi, sering menggunakan kisah-kisah sederhana dan metafora sehari-hari untuk menyampaikan pengalaman spiritual yang mendalam. Baginya, bahasa puitik bukan hiasan, melainkan kebutuhan. Ia menjadi cara untuk menyampaikan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara langsung (Rumi, 1926).
Dalam kerangka ini, puisi bukan sekadar keindahan kata, tetapi metode pengetahuan.
Ia tidak menggantikan logika, tetapi melengkapinya. Ia membuka ruang bagi intuisi, bagi kepekaan, bagi pengalaman yang tidak bisa dipaksa menjadi konsep. Membaca simbol, dengan demikian, bukan aktivitas intelektual semata, tetapi keterlibatan batin.
Di sinilah pembaca diuji, dengan cara yang berbeda. Bukan lagi diuji melalui kemampuan berpikir kritis, melainkan melalui kesediaan untuk merasakan. Untuk membiarkan makna bekerja perlahan, tanpa tergesa-gesa ditangkap. Untuk menerima bahwa tidak semua harus segera dimengerti.
Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman semacam ini sebenarnya tidak asing. Ada momen-momen ketika seseorang memahami sesuatu tanpa bisa menjelaskannya sepenuhnya. Ada kejelasan yang hadir tanpa argumentasi panjang. Ada rasa yang lebih dulu tahu, sebelum pikiran menyusul.
Suluk Wujil mengajak kita masuk ke wilayah itu. Wilayah di mana bahasa tidak lagi menjadi alat untuk menguasai makna, tetapi menjadi ruang untuk mengalaminya. Di mana simbol bukan teka-teki yang harus dipecahkan, tetapi pintu yang harus dilalui.
Dari kesadaran kritis, perjalanan kini bergerak menuju kesadaran puitik.
Sebuah kesadaran yang tidak tergesa-gesa memahami, tetapi bersedia tinggal sejenak dalam rasa, hingga makna perlahan menampakkan dirinya.
10. Puncak: Sampai ke “Mekah” (Suluk 104)
Perjalanan yang panjang itu tiba pada satu titik yang tidak selalu tampak sebagai “tiba.” Tidak ada peristiwa besar, tidak ada tanda yang mencolok. Yang ada justru keheningan yang utuh: sebuah kesadaran yang tidak lagi bergerak ke mana-mana, karena tidak merasa perlu pergi.
Dalam Suluk 104, Suluk Wujil menghadirkan puncak itu dengan cara yang sangat sederhana: sampai, tanpa benar-benar berjalan.
Apa yang sebelumnya dibayangkan sebagai tujuan yang jauh, perlahan terbuka sebagai sesuatu yang dekat. Bahkan terlalu dekat, hingga selama ini terlewatkan. Mekah, dalam pengalaman ini, bukan lagi ruang yang harus ditempuh, melainkan kesadaran yang harus disadari.
Perjalanan terjauh ternyata tidak memerlukan langkah. Kalimat ini bukan penolakan terhadap perjalanan lahiriah, tetapi penyingkapan terhadap dimensi lain yang lebih halus. Sebab, selama kesadaran masih mengira bahwa tujuan berada di luar, maka gerak akan terus berlangsung. Tetapi, ketika arah itu berbalik ke dalam, perjalanan menemukan bentuknya yang berbeda: diam yang hidup.
Dalam diam itu, sesuatu menjadi jelas tanpa harus dijelaskan. Tidak ada lagi dorongan untuk mencari, karena yang dicari telah hadir. Tidak ada lagi kebutuhan untuk memastikan, karena kesadaran telah menemukan pijakannya sendiri.
Pengalaman ini tidak selalu bisa diuraikan dengan bahasa yang runtut. Ia lebih mirip pengenalan yang tiba-tiba, tetapi sebenarnya telah lama dipersiapkan oleh seluruh perjalanan sebelumnya. Seperti seseorang yang akhirnya menyadari bahwa rumah yang selama ini dicari, tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Dalam tradisi tasawuf, momen ini sering dipahami sebagai hadirnya kesadaran akan kedekatan yang sejati. Bukan kedekatan dalam arti jarak, tetapi dalam arti keberadaan. Tidak ada pemisahan yang harus dijembatani, karena sejak awal tidak pernah ada jarak yang sesungguhnya.
Namun, kesadaran ini tidak membuat manusia terlepas dari kehidupan. Justru sebaliknya: ia kembali ke kehidupan dengan cara yang berbeda. Aktivitas tetap berlangsung, relasi tetap dijalani, dunia tetap dihadapi. Tetapi, pusatnya telah berubah.
Yang semula gelisah, sekarang tenang; bukan karena semua pertanyaan terjawab, tetapi karena tidak lagi dikejar untuk segera dijawab. Yang semula mencari, kini hadir; bukan karena telah menemukan sesuatu yang baru, tetapi karena menyadari apa yang sejak awal telah ada.
Pada puncak kesadaran ini, suluk tidak berakhir. Ia justru menemukan bentuknya yang paling jernih: hidup itu sendiri.
Setiap langkah, setiap napas, setiap peristiwa; semuanya menjadi bagian dari kesadaran yang utuh. Tidak ada lagi pemisahan antara perjalanan dan tujuan. Keduanya menyatu dalam pengalaman yang sama.
Dan, di sanalah makna itu hadir sepenuhnya. Bukan sebagai konsep, bukan sebagai simbol, tetapi sebagai kesadaran yang tidak lagi mencari penegasan. Sampai. Tanpa pergi.
11. Penutup: Suluk Wujil dan Manusia Modern
Pada akhirnya, perjalanan ini tidak benar-benar berjarak dari kehidupan kita sekarang. Apa yang dibaca dalam Suluk Wujil bukan kisah masa lalu yang selesai, ia cermin yang diam-diam memantulkan keadaan manusia hari ini.
Kita mungkin tidak menyebut diri sebagai Wujil. Tidak pula hidup dalam konteks yang sama. Namun, jika diperhatikan lebih jernih, pengalaman yang dilalui tokoh itu tidak asing. Kebingungan, pencarian, keraguan, keinginan untuk memahami sesuatu yang lebih dalam; semuanya hadir, meski dalam bentuk yang berbeda.
Barangkali manusia modern adalah Wujil dengan wajah baru.
Ia hidup di tengah kelimpahan, tetapi tetap bertanya. Ia bergerak cepat, tetapi tidak selalu tahu ke mana. Ia memiliki banyak pengetahuan, tetapi masih merasakan ada yang belum selesai dalam dirinya. Dan di balik semua itu, ada satu hal yang terus berulang: kehilangan arah.
Namun kini, kehilangan itu tidak lagi harus dipahami sebagai kegagalan.
Perjalanan yang telah dilalui melalui pembacaan ini menunjukkan sesuatu yang lebih halus: bahwa kehilangan arah justru bisa menjadi titik awal. Sebuah celah kecil di mana kesadaran mulai bekerja. Sebuah jeda yang membuka kemungkinan untuk melihat kembali: bukan dunia, tetapi diri sendiri.
Sebab selama arah dianggap sudah jelas, manusia jarang bertanya. Ia berjalan, mengikuti, dan melanjutkan. Tetapi, ketika arah itu goyah, ketika kepastian mulai retak, muncul ruang untuk merenung. Dan, di situlah sesuatu yang baru dapat tumbuh.
Bukan sesuatu yang asing, melainkan sesuatu yang selama ini tertutup.
Dalam ruang hening ini, keheningan menjadi penting. Bukan sebagai pelarian dari dunia, tetapi sebagai cara untuk mendengarkan kembali. Mendengarkan apa yang selama ini tertimbun oleh kesibukan, oleh suara yang terlalu ramai, oleh keinginan yang terus bergerak tanpa jeda.
Keheningan tidak memberi jawaban secara langsung. Ia hanya membuka ruang.
Namun justru dalam ruang itulah, kesadaran perlahan menemukan arah yang tidak dipaksakan. Arah yang tidak berasal dari luar, tetapi muncul dari kedalaman yang sebelumnya terabaikan.
Dan mungkin, di sanalah inti dari seluruh perjalanan ini. Bahwa yang dicari selama ini tidak benar-benar jauh. Ia tidak tersembunyi di tempat yang harus dicapai dengan usaha yang luar biasa. Ia hadir, tetapi menunggu untuk disadari.
Mungkin yang kita cari selama ini tidak jauh. Hanya saja kita belum benar-benar diam untuk melihatnya. ***
—–
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Abu Hamid. 2005. Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Arabi, Ibn. 1980. Fusus al-Hikam. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi.
Arabi, Ibn. 1982. Futuhat al-Makkiyah. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi.
Bonang, Sunan. Suluk Wujil. Transliterasi oleh Poerbatjaraka dalam De Geheime Leer van Soenan Bonang, Djawa, 1938. Versi terjemahan bebas oleh Susanto, Hadi. 2017. Suluk Wujil dalam Terjemahan Bebas. WordPress.
Frankl, Viktor E. 1959/2006. Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.
Fromm, Erich. 1976. To Have or To Be? New Rork: Harper & Row.
Nasr, Seyyed Hossein. 1989. Knowledge and the Sacred. New York: Crossroad.
Rumi, Jalaluddin. 2004. The Masnavi. Oxford: Oxford University Press.
—
*Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto.





