Nawa Natya: Geometri Spiritual dan Habitas Laku dalam Tubuh Ogoh-ogoh

Oleh Farida Rahmasani*

Rabu malam, 18 Maret 2026, Pura Banguntapan beralih di luar pakem kebiasaan sebuah ruang ritual. Riuh penonton dibawah pendar lampu, Jogja Cakra Fest 2026 merepresentasikan kebudayaan bukanlah benda museum yang statis. Kebudayaan mampu bermigrasi, beradaptasi dan bersinggungan dengan ruang – ruang baru. Setelah tahun lalu menggetarkan Malioboro, kehadiran ogoh-ogoh tahun ini membawa misi yang lebih dalam: sebuah dekonstruksi melalui konsep Nawa Natya.

Penggunaan struktur dan proporsi yang sengaja dideformasi, hingga detail ornamen pada ogoh-ogoh di Jogja Cakra Fest 2026 berfungsi sebagai sasmita, yaitu sistem tanda yang mengirimkan pesan tersembunyi. Pemilihan ukuran yang masif pada ogoh-ogoh memiliki tujuan agar figur tersebut dapat sepenuhnya mencuri atensi dan menciptakan impresi intimidatif. Masyarakat seolah dipaksa untuk sadar dan terhentak seperti pada lagu lawas ogoh-ogoh mecaling yang berkiasan agar manusia menyadari eksistensi hal-hal negatif di sekitarnya. 

Terdapat kerja sunyi yang jarang tersorot di balik gemuruh ogoh-ogoh dan antusiasme penonton. Panitia, tokoh masyarakat, hingga aparat kepolisian bergerak dalam koordinasi yang nyaris tak terlihat. Mereka menjaga agar peristiwa kultural ini tetap berlangsung aman dan tertib. Kehadiran mereka menjadi bagian dari ekosistem yang memungkinkan budaya hadir secara utuh di ruang publik. Peristiwa tersebut mengelaborasi kegiatan budaya tidak berhenti pada fungsi representasional sebagai ajang pamer karya.  Keberadaannya berubah menjadi ruang pertemuan nilai dimana kebebasan berekspresi beradaptasi dengan tanggung jawab kolektif untuk merawat harmoni sosial, perwujudan nyata dari prinsip “desa kala patra”. Sejatinya, budaya bergerak sebagai wujud etis yang mengikat individu dengan lingkungannya, menuntut kita untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan tempat (desa), waktu (kala), dan situasi (patra) yang sedang dihadapi.

Malam itu sebuah ‘Order Jiwa’ terbangun ketika ‘rasa’ menjadi jembatan penghubung antara manusia dengan dimensi spiritual. Kesembilan dimensi dari konsep Jogja Cakra Fest 2026 mencakup keseimbangan presisi antara buana alit (diri manusia) dan buana agung (alam semesta), sebagai pengingat bahwa saat keselarasan terhadap ruang, waktu, dan keadaan itu luruh, maka keutuhan koneksi dengan Sang Pencipta pun akan runtuh.

Jogja Cakra Fest 2026. Foto: Farida Rahmasani.

Akar Purifikasi di Balik Jogja Cakra Fest

Ogoh-ogoh umumnya diketahui sebagai patung raksasa ekspresi kebudayaan Bali dalam merepresentasikan butha kala atau kekuatan jahat. Figurnya tidak selalu dirancang dengan bentuk saklek butha kala, ‘makhluk mitologi’ seperti yang dikenal saat ini. Estetikanya berkembang mengikuti apa yang familiar pada kala itu. Ogoh-ogoh pada tahun 1980, beberapa wujudnya dirancang bertema motor chopper, tengkorak, hingga kadal. Figur-figur raksasa dengan anatomi yang dilebihkan-lebihkan, gestur, serta wajah yang garang,  merupakan perwujudan simbolik dari sisi gelap kehidupan manusia. 

Jika menilik sejarahnya, ogoh-ogoh sebenarnya merupakan budaya yang tergolong baru. Manifestasi rupa raksasa ini mulai muncul pada era 80-an di wilayah Bali kota, sementara di wilayah Bali Selatan seperti Klungkung, kehadirannya baru tercatat sekitar tahun 2015. Sebaliknya, tradisi ini tidak bersifat universal, masyarakat Bali Aga justru melarang keberadaan ogoh-ogoh dalam praktik ritual mereka.

Sebelum dekade 80-an, masyarakat Hindu Bali menjalankan ritual pengerupukan secara mandiri di lingkungan desa dan rumah masing-masing dengan suasana yang lebih intim. Penyucian di pelataran rumah bermula dari pelaksanaan caru, menyalakan api atau obor pada daun kelapa kering. Suasana sakral kian menebal saat aroma dari rajangan rempah campuran jeringau, mesoyi, dan bawang merah, berpadu dengan riuh bunyi-bunyian dari kentungan dan cengceng.

Methethek menjadi istilah dari keriuhan arak-arakan obor dan kentungan warga saat menyusuri sudut-sudut banjar atau keliling desa. Arak-arakan ini menjadi instrumen penyadar yang mengusik kesunyian di tengah malam yang hening. Cahaya dan suara pada ritual merupakan medium pemanggil sekaligus pembersih energi negatif yang telah terhimpun sepanjang tahun. Prosesi ini menjadi momen penting untuk meluruhkan sisa-sisa kegelapan masa lalu, sebuah upaya purifikasi sebelum akhirnya melangkah masuk ke hari yang suci dengan jiwa yang baru saat Nyepi.

Pada ritus pengerupukan, purifikasi menjadi puncak tempat segala yang fana menemui titik leburnya. Festival pertunjukan profan seperti Jogja Cakra Fest 2026, prosesi pemusnahan berpijak dalam bentuk simbolis karena kebutuhannya untuk dipajang kembali sebagai tontonan. Menilik relung ritualnya, hal tersebut tetap dianggap sah melalui formalitas tirta pralina (percikan air suci) dan perusakan sedikit bagian tubuhnya sebelum nantinya benar-benar dibakar. 

Jika dulu pengerupukan sempat diwarnai adu kekuatan fisik antar pengarak, kini bergeser menjadi adu visual yang kaya pesan sosial seperti di Jogja Cakra Fest 2026. Misalnya, figur tikus sebagai representasi korupsi dan keserakahan manusia. Tema tersebut digunakan sebab konflik dan kegelisahan yang diusungnya berada sangat dekat dengan denyut keseharian masyarakat. Penggunaan teknologi modern hingga lampu sorot telah menggantikan obor sebagai bentuk adaptasi zaman yang tetap dianggap sah. Tujuan utamanya menyampaikan keresahan masyarakat (sasmita) sekaligus melakukan pembersihan diri sebelum memasuki Nyepi.

Mahasiswa dan Adaptasi Desa Kala Patra

Kehadiran tujuh peserta lintas kampus dan komunitas, KMHD UGM, KMHD UNY, KMHD Universitas Sanata Dharma, PMHD Banguntapan, Keluarga Puri Kanoman, KMHSY, hingga Komunitas Dharmika, mencerminkan napas desa kala patra berdenyut di Yogyakarta. Hal tersebut membuat ogoh-ogoh tidak tampil dalam skala kolosal layaknya di tanah Bali. Keterbatasan jalanan yang relatif sempit, hingga carut marut kabel listrik, memaksa para mahasiswa beradaptasi dengan kondisi ruang yang ada. Prosesi tetap terlaksana karena keabsahan ritual letaknya berada pada geraknya, bukan pada megahnya rupa.

Detail rupa ogoh-ogoh yang menggabungkan nilai tradisi dengan sentuhan narasi kontemporer. Foto: Farida Rahmasani.

Sebagaimana yang terekam pada dokumentasi, ogoh-ogoh di manifestasikan ke dalam sebuah rupa yang mengandung daya hidup. Cahaya dan bayangan yang jatuh di atas figur raksasa tersebut ialah metafora dari pertarungan antara kegelapan dan terang dalam diri manusia. Keberadaan figur ogoh-ogoh di Yogyakarta menjadi testimoni bahwa ruang spiritual dapat diciptakan di mana pun, selama ada ‘rasa’ yang menghubungkan manusia dengan dimensi yang lebih tinggi.

Habitus akan nilai tradisi memungkinkan para pemuda tetap berpijak pada kearifan lokal sembari tetap adaptif terhadap perubahan global. Semangat gotong royong berubah menjadi bentuk ibadah sosial yang melewati sekat keyakinan. Kekuatan fisik dan adrenalin yang memuncak saat para mahasiswa memanggul beban ogoh-ogoh yang berat selama berjam-jam, luruh oleh antusiasme dalam merayakan hari suci. Momentum ini memberi daya tahan meski material penyusun ogoh-ogoh terasa begitu masif. Seluruh prosesi tersebut mengukuhkan lahirnya entitas ‘Hindu-Jogja’ yang terbuka, perpaduan antara kemurnian adat dan sikap hidup yang terbuka ketika spiritualitas eksis sebagai perekat hubungan antar manusia.

Ketangguhan adaptasi merupakan pengejawantahan dari prinsip desa kala patra. Para pemuda menyadari bahwa tradisi harus senantiasa selaras dengan tempat (desa) yakni ruang publik Yogyakarta yang multikultural, waktu (kala) yang menuntut relevansi di tengah moderasi zaman, serta situasi (patra) yang mengharuskan kelenturan strategi dalam keterbatasan fisik ruang kota. Kacamata ini membuat Jogja Cakra Fest 2026 menembus replikasi budaya Bali. Sebuah  laku dinamis yang mencitrakan keabsahan sebuah ritual tidak terletak pada kemegahan rupa, namun pada ketulusan gerak yang mampu menyesuaikan diri dengan denyut lingkungan sekitarnya.

Habitus dan Cara Tradisi Bekerja

Meminjam kacamata Pierre Bourdieu, perayaan Jogja Cakra Fest 2026 di Yogyakarta membentuk penanda habitus bahwa nilai tradisi telah menyatu dalam tubuh para pemuda Hindu. Selayaknya panggung perjumpaan, ruang tersebut menjadi pengalaman bagi para pemuda Hindu sebagai warga urban di Yogyakarta. Habitus nilai tradisi tersebut bersifat adaptif yang membuka ranah tradisi untuk bergerak meninggalkan kebakuan masa lalu. 

Penciptaan ogoh-ogoh menjadikan memori kolektif pemuda Hindu kembali bersuara. Jejak memori membentuk cara melihat, merasakan, sekaligus bertindak. Pada kerangka Pierre Bourdieu, proses itu dapat dibaca sebagai kerja habitus, sistem disposisi yang secara tidak sadar menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Pengalaman hidup di Yogyakarta, persinggungan dengan napas multikultural, serta dinamika kehidupan mahasiswa menyusupkan lapisan baru yang berkelindan dengan ingatan kolektif. Pertemuan ini tampak pada wujud ogoh-ogoh sebagai rupa yang tidak berhenti pada aspek estetis, namun juga rekaman dari proses reproduksi sosial yang tengah berlangsung. 

Kegiatan gotong royong yang menyertai penciptaan ogoh-ogoh ditafsirkan sebagai bentuk kapital budaya yang memuat nilai kolektivitas dan etika kebersamaan. Akar gotong-royong berangkat dari kesadaran komunal masyarakat yang menempatkan relasi sosial sebagai fondasi kehidupan. Keterlibatan mahasiswa Hindu di Yogyakarta menyingkap tabir reproduksi habitus yang berlangsung secara kontekstual. Yang muncul bukan peniruan Bali, namun penciptaan identitas ‘Hindu-Jogja’ yang terbuka dan inklusif. Identitas tersebut terbaca pada pilihan bentuk, material, serta ekspresi visual ogoh-ogoh yang beradaptasi dengan ruang Jogja. Tradisi tidak dipertahankan sebagai bentuk tetap, tetapi dihidupkan melalui kebersaman yang terus berubah mengikuti pengalaman sosial yang melingkupinya.

Melalui Jogja Cakra Fest 2026, budaya ialah energi yang terus bergerak secara kontinu. Menjaga tradisi berarti berani memaknainya kembali agar tetap relevan dengan perkembang zaman. Bagi generasi muda, ogoh-ogoh merupakan simbol bahwa di tengah perubahan zaman, keseimbangan antara manusia-alam-dimensi spiritual harus tetap diperjuangkan secara kolektif.

—-
*Farida Rahmasani, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.