Mendengar Banyumas Dari Dalam:Sebuah Pembacaan atas Balada Abdul Wachid B.S. dalam Kumpulan Balada Banyumas

Oleh : Talitha Salsabila*

Ada cara tertentu orang Banyumas memandang dunia: tidak dari atas, tidak dari kejauhan, tetapi dari samping, sambil duduk, dengan tawa yang tidak tergesa dan kejujuran yang tidak memerlukan izin. Cara pandang itulah yang menjadi napas kumpulan puisi Abdul Wachid B.S. bertajuk Balada Banyumas, yang diterbitkan secara berseri di borobudurwriters.id sepanjang Desember 2025. Rangkaian puisi itu bukan sekadar peta geografi atau inventaris tradisi. Ia adalah cara seorang penyair mendengar tanahnya sendiri, lalu mengubah apa yang didengar menjadi suara yang bertahan lama setelah angin berhenti.

Abdul Wachid B.S. adalah Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Ia lahir di Lamongan, tetapi Banyumas telah menjadi tanah yang ia hayati bertahun-tahun. Tanah yang ia pelajari bukan lewat buku semata, tetapi lewat bau embun di pagi Serayu, suara alu di dapur Sokaraja, langkah kaki peziarah di lereng Slamet. Balada Banyumas adalah buah dari penghayatan yang panjang itu.

Esai ini berargumen bahwa Balada Banyumas mencapai kekuatannya yang paling otentik justru ketika ia memilih menjadi sebuah cara mendengar, bukan sebuah cara menjelaskan. Tesis ini perlu dipertegas sejak awal: yang dipuji dalam kumpulan ini adalah kepercayaan penyair kepada objeknya sendiri, kemampuan membiarkan Banyumas berbicara tanpa tergesa-gesa disimpulkan. Yang dikritik adalah kecenderungan kumpulan ini untuk berdiri terlalu dekat dengan objeknya, sehingga jarak reflektif yang dibutuhkan untuk menguji dan mempersoalkan kadang absen. Dengan dua catatan itulah esai ini membaca Balada Banyumas secara serius.

 

Balada sebagai Cara Mendengar

Dalam epilognya, Abdul Wachid B.S. menjelaskan mengapa ia memilih bentuk balada. Ia menulis bahwa balada memberi ruang pada cerita untuk berjalan dengan napasnya sendiri, tanpa tergesa, tanpa harus segera disimpulkan. Pilihan bentuk ini bukan sembarangan. Balada adalah puisi naratif yang sudah lama akrab dengan rakyat; ia lahir dari tradisi lisan, dari nyanyian yang dibawakan di pinggir api unggun atau di beranda rumah ketika malam turun.

Kumpulan ini tidak menjadikan Banyumas sebagai objek yang perlu dijelaskan atau dieksotiskan. Sebaliknya, Banyumas dihadirkan sebagai subjek yang berbicara melalui tempat-tempatnya, tokoh-tokohnya, ritual-ritualnya, dan makanan-makanannya. Penyair menempatkan diri bukan sebagai ahli yang datang dari luar, tetapi sebagai saksi yang berjalan perlahan. Posisi inilah yang membuat puisi-puisi Balada Banyumas terasa dekat: tidak menggurui, tidak berjarak, tetapi juga tidak larut menjadi sekadar catatan perjalanan.

Ada pula keputusan estetik yang mencolok dalam kumpulan ini: hampir semua puisi menghadirkan alam sebagai entitas yang hidup dan bersuara. Gunung Slamet bukan hanya latar, ia adalah guru yang mendidik dengan diam-diam. Sungai Serayu bukan hanya aliran air, ia adalah pembawa gema doa dan saksi sejarah. Goa Lawa bukan hanya lubang di bukit, ia adalah rahim purba yang menyimpan ribuan kesunyian sebelum nama-nama manusia ditemukan.

 

Bumi yang Berbicara: Goa, Gunung, dan Sungai

Titik masuk pertama Balada Banyumas adalah “Balada Goa Lawa”, sebuah puisi panjang yang membawa pembaca ke perut bumi, ke tempat yang tidak mengenal matahari. Di tangan Abdul Wachid B.S., Goa Lawa menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar destinasi wisata. Puisi ini menutup dengan pernyataan yang membekas:

yang berani memasuki gelap / akan menemukan pintu / yang tak mungkin dibuat oleh terang.

Motif peziarah yang masuk ke dalam kegelapan dan keluar dengan keteguhan baru ini menjadi satu dari beberapa motif yang berulang dalam kumpulan ini. Di “Balada Jalur Ziarah Lereng Utara Slamet,” para peziarah berjalan perlahan di bawah kabut dan diiringi doa alam yang tidak terucap. Di “Balada Gunung Slamet,” puncak digambarkan sebagai mihrab yang tak boleh disentuh dengan kepala tegak.

Jika Goa Lawa dan Gunung Slamet mewakili dunia vertikal, yaitu kedalaman dan ketinggian, maka Sungai Serayu dan Kali Klawing mewakili dunia horizontal: aliran, pergerakan, dan kehadiran yang terus-menerus. Dalam “Balada Nyadran Larung Serayu,” sungai menjadi panggung ritual di mana perahu sesaji dilepas ke arus sebagai ungkapan syukur. “Balada Sendang Panguripan” dan “Balada Syaikh Maulana Rumaini” menambah dimensi lain pada tema air: air sebagai penyucian, tempat kaum putihan dan kaum abangan datang berdampingan.

 

Para Wali, Para Adipati, dan Cahaya yang Mereka Tanam

Separuh lebih puisi dalam Balada Banyumas menghadirkan tokoh-tokoh sejarah dan leluhur spiritual Banyumas. Tokoh-tokoh seperti Syaikh Makdum Wali, Syaikh Maulana Rumaini, Syaikh Jambu Karang, K.H. Abdul Malik, dan Habib Hamid Sokaraja dihadirkan bukan sebagai patung sejarah yang dingin, tetapi sebagai manusia hidup yang langkahnya masih terasa di tanah Banyumas hingga hari ini.

“Balada Syaikh Makdum Wali” adalah salah satu puisi yang paling indah dalam kumpulan ini. Syaikh Makdum Wali digambarkan tiba di Banyumas membawa:

hanya air bagi yang haus / dan cahaya bagi yang tersesat / ia tidak datang dengan tentara atau kekuasaan / tetapi dengan kesederhanaan yang lebih kuat dari pedang mana pun

Setiap segmen puisi ini membangun suasana yang berbeda: senja, rembulan, lantunan dzikir, lampu minyak yang gemetar bukan karena angin tetapi karena ketenteraman yang datang bersama sang wali.

Tokoh Adipati Wirasaba hadir dalam dimensi yang berbeda: bukan wali suci, tetapi pemimpin yang mati karena fitnah dan kesalahpahaman. Puisi ini memiliki tensi dramatis yang paling tinggi dalam kumpulan ini. Dua utusan Sultan Pajang berlomba melawan waktu: satu membawa maut, satu membawa ampun. Yang membawa ampun tiba terlambat, satu hembusan angin. Tragedi Adipati Wirasaba adalah peringatan bahwa sebuah kata yang salah dapat membunuh seorang yang setia. Puisi ini terasa seperti balada dalam pengertian yang paling klasik: epis, dramatis, menyayat.

“Balada Jenderal Soedirman” membawa kumpulan ini ke dalam dimensi perjuangan kemerdekaan. Soedirman digambarkan bukan semata sebagai panglima perang, tetapi sebagai seorang hamba yang membawa amanah menembus malam. Tandu yang membawanya melewati belantara menjadi simbol perjalanan rohani: ia bergerak dalam kelemahan tubuh namun memimpin dengan cahaya yang membuat langit menunduk hormat.

 

Ritual, Adat, dan Kebijaksanaan Sehari-hari

“Balada Nyadran Banyumas” membuka dengan gambar yang sangat konkret dan indah: pematang yang lembut oleh angin, aroma kenanga yang menuntun langkah, bau tanah yang baru disapu embun. Nyadran adalah tradisi ziarah ke makam leluhur yang dilakukan menjelang bulan Ramadan; di Banyumas, tradisi ini dikerjakan dengan dialek dan cara yang khas. Puisi ini tidak menjelaskan tradisi itu secara informatif, tetapi menghadirkannya secara sensoris, sehingga pembaca seolah-olah ikut berjalan di antara nisan dan bau tanah basah.

“Balada Jaro Rojab” dan “Balada Sedekah Bumi Baritan” melanjutkan eksplorasi ritual ini. Keduanya menghadirkan bagaimana komunitas Banyumas merawat hubungan antara manusia, tanah, dan leluhur melalui ritus tahunan yang diwariskan turun-temurun. Puisi-puisi ini tidak sekadar mendokumentasikan upacara, tetapi menangkap jiwa yang menghidupinya: rasa syukur yang sunyi, doa yang tidak memerlukan panggung, dan persatuan yang lahir dari ingatan bersama.

“Balada Blaka Suta” mengangkat nilai Banyumas yang paling dikenal: keterusterangan yang tidak memerlukan topeng. Puisi ini menampilkan karakter Bagus Mangun yang berdiri di hadapan orang banyak dan mengucap niat serta tekad tanpa tirai. Namun Abdul Wachid B.S. tidak membuat blaka suta tampak kasar, ia memperlihatkan bahwa keterusterangan adalah jembatan yang menghubungkan hati ke hati.

kejujuran mengalir seperti air / menembus gelap menjadi dasar persaudaraan sejati

 

Makanan sebagai Filsafat: Mendoan, Gethuk Goreng, dan Nasi Penggel

Salah satu keberanian estetik yang paling menarik dari Balada Banyumas adalah keputusan untuk menjadikan makanan sebagai subjek puisi yang setara dengan tokoh-tokoh besar sejarah. “Balada Mendoan” dan “Balada Gethuk Goreng Sokaraja” membuktikan bahwa seorang penyair yang sungguh-sungguh menghayati sebuah tempat tidak akan melewatkan makanan rakyatnya.

Dalam puisi “Balada Mendoan,” Abdul Wachid B.S. membangun filosofi dari sepotong makanan: mendoan yang lembut mengajar kita luwes, tegas memberi, hangat tanpa menuntut. “Balada Gethuk Goreng Sokaraja” lebih gelap dan lebih dramatis; singkong yang direbus menjadi metafora perjalanan hidup orang kecil. Ada baris-baris berbahasa Jawa ngapak yang muncul di tengah puisi ini, memberikan suara asli Banyumas yang tidak bisa digantikan oleh bahasa Indonesia mana pun:

malam, dapur, bau minyak / lan tangan sing terus kerja / senajan Walanda wis liwat / senajan wektu uga liwat

Dengan demikian, makanan dalam Balada Banyumas bukan sekadar latar budaya, tetapi bagian integral dari cara Banyumas memahami hidup, persaudaraan, dan hubungan manusia dengan tanah yang menghidupinya.

 

Puisi Profetik dan Spiritualitas Islam dalam Balada Banyumas

Mereka yang sudah mengenal karya-karya Abdul Wachid B.S. sebelumnya akan menemukan benang merah yang jelas: ia adalah penyair yang selama ini mengembangkan puisi profetik, puisi yang tidak semata mengungkapkan keindahan, tetapi juga mengandung kesadaran spiritual dan tanggung jawab terhadap kebenaran. Dimensi profetik ini hadir dengan konsisten dalam Balada Banyumas.

Spiritualitas dalam Balada Banyumas bukan spiritualitas yang eksklusif atau dogmatis. Ia tumbuh dari penghormatan terhadap semua jejak kebaikan yang pernah ditanam di tanah Banyumas, dari wali yang datang dari Persia membawa nur sampai perempuan tua yang menggoreng gethuk di dapur kecil dengan kesabaran yang tidak memerlukan nama. Dalam pandangan Abdul Wachid B.S., keduanya adalah manifestasi dari cahaya yang sama: cahaya yang ditanam orang-orang baik di tanah yang mereka cintai.

 

Bahasa dan Teknik Balada

Selain tema dan spiritualitas, yang perlu diperiksa adalah bagaimana puisi-puisi ini dibangun secara teknis. Abdul Wachid B.S. memodifikasi bentuk balada klasik menjadi puisi modern yang lebih lentur: ia mempertahankan napas naratif balada, tetapi melepaskan keterikatan pada skema rima yang kaku. Hasilnya adalah larik-larik yang mengalir seperti tutur lisan, dengan ritme yang bersandar pada perulangan frasa dan jeda alami, bukan pada tekanan suku kata yang terukur ketat.

Repetisi motif bekerja sebagai tulang punggung struktural kumpulan ini. Cahaya, air, jalan, dan ziarah berulang dari satu puisi ke puisi lain bukan sebagai klise, melainkan sebagai penanda kohesi tematik: bahwa seluruh kumpulan sesungguhnya adalah satu narasi besar tentang bagaimana sebuah komunitas merawat ingatan dan meneruskan nilai. Enjambemen digunakan dengan sadar untuk menciptakan efek kesinambungan antara larik, seolah kalimat selalu melimpah ke baris berikutnya seperti air yang tidak bisa ditahan oleh batas.

Sisipan bahasa Banyumasan atau ngapak bukan sekadar ornamen etnik. Dalam “Balada Gethuk Goreng Sokaraja”, frasa-frasa seperti “lan tangan sing terus kerja” dan “senajan Walanda wis liwat” memberi bobot bunyi yang berbeda dari bahasa Indonesia di sekitarnya:

lebih keras konsonannya, lebih pendek nadanya, lebih dekat ke tanah. Efek ini tidak bisa digantikan oleh terjemahan. Diksi Banyumasan menciptakan apa yang bisa disebut tubuh budaya dalam puisi: pembaca tidak hanya memahami makna, tetapi juga merasakan suara dan tekstur komunitas yang hidup di baliknya.

Epilog sebagai Pengakuan: Mendengar Banyumas

Penutup Balada Banyumas bukanlah puisi, tetapi esai yang ditulis oleh Abdul Wachid B.S. sendiri dengan judul “Mendengar Banyumas: Balada, Tanah, dan Suara yang Tersisa”. Dalam epilog itu, ia mengaku bahwa ia tidak datang ke Banyumas dengan membawa peta konsep atau daftar istilah budaya. Ia datang dengan langkah pelan, seperti orang yang menepi di pinggir jalan desa, lalu memilih duduk dan mendengarkan. Pernyataan ini adalah kunci untuk memahami seluruh kumpulan ini: Balada Banyumas adalah hasil mendengarkan, bukan hasil menjelaskan.

Inilah yang membedakannya dari banyak karya sastra yang mengangkat tema budaya lokal: ia tidak buru-buru menyimpulkan, tidak tergesa mendefinisikan, tidak mengklaim lebih dari yang didengarnya. Banyumas dalam kumpulan ini selalu lebih luas dari apa yang tampak di permukaan.

Batas-Batas Keindahan: Membaca Kritis Balada Banyumas

Setelah mengikuti perjalanan panjang Balada Banyumas dari satu puisi ke puisi berikutnya, ada beberapa catatan kritis yang perlu dikemukakan dengan jujur, bukan untuk mengurangi nilai kumpulan ini, tetapi justru untuk menempatkannya secara adil dalam lanskap puisi Indonesia kontemporer.

Pertama, kumpulan ini hampir seluruhnya bergerak dalam mode apresiatif. Banyumas dipandang dengan kelembutan yang konsisten, hampir tanpa tegangan. Ini memang bagian dari pilihan estetik yang disengaja, dan itu sah. Namun seorang pembaca yang kritis mungkin bertanya: di mana Banyumas yang bermasalah? Di mana konflik antara modernisasi dan tradisi yang sesungguhnya sedang berlangsung di Purwokerto hari ini? Romantisasi budaya yang terlalu dominan bisa menjadi bumerang, ia memperindah, tetapi juga menyederhanakan.

Kedua, tidak semua puisi dalam kumpulan ini menunjukkan tingkat kekuatan yang sama. Beberapa puisi tentang tokoh-tokoh wali terasa berulang dalam struktur dan moodnya: seorang tokoh suci tiba, membawa cahaya atau nur, lalu kampung menjadi tenteram. Pola ini terlihat misalnya pada “Balada Syaikh Makdum Wali”, “Balada Syaikh Jambu Karang”, dan

“Balada Syaikh Maulana Rumaini”, yang ketiga-tiganya bergerak dalam busur emosi yang serupa, yakni kedatangan, penerimaan masyarakat, dan penabutan cahaya spiritual. Tidak ada konflik dramatis, tidak ada ketegangan antara nilai yang bertabrakan. Bandingkan dengan tensi yang terasa jauh lebih kuat dalam puisi Adipati Wirasaba atau Balada Gethuk Goreng. Konsistensi kualitas tidak selalu dijaga di seluruh kumpulan. Ada puisi-puisi yang lebih terasa sebagai penanda kehadiran sebuah nama dalam atlas budaya Banyumas daripada sebagai eksplorasi puitis yang sungguh-sungguh.

Ketiga, nilai Blaka Suta, yaitu keterusterangan khas Banyumas yang dirayakan dalam kumpulan ini, justru tidak sepenuhnya hadir dalam cara kumpulan ini memandang dirinya sendiri. Epilog yang ditulis oleh penyair terasa lebih seperti pengantar niat yang halus daripada pertanggungjawaban estetik yang terbuka. Kumpulan ini bisa menjadi lebih kuat jika penyair juga berani menguji batas-batas pilihannya sendiri dengan suara yang sama lantangnya dengan yang ia gunakan ketika merayakan Banyumas.

Catatan-catatan ini tidak melemahkan Balada Banyumas. Justru sebaliknya: ia adalah tanda bahwa kumpulan ini cukup serius untuk dibaca secara serius.

 

Posisi Balada Banyumas dalam Puisi Indonesia Kontemporer

Dalam peta puisi Indonesia kontemporer, Balada Banyumas memilih jalur yang tidak banyak ditempuh: jalur naratif, kultural, dan spiritual. Di saat banyak puisi kontemporer bergerak ke arah yang sangat personal, eksperimental, atau fragmentaris, kumpulan ini dengan sadar berpijak pada tradisi lisan, ingatan kolektif, dan kesadaran komunal. Pilihan itu bukan mundur dari modernitas, melainkan tawaran bahwa puisi bisa menjadi cara merawat identitas tanpa harus mengurung diri dalam nostalgia.

Di tengah kecenderungan puisi Indonesia kontemporer yang kerap asyik dengan dirinya sendiri, bermain-main dengan tekstur kata tanpa kedalaman makna, atau sebaliknya terlalu berat oleh muatan ideologis yang kaku, Balada Banyumas menawarkan sesuatu yang berbeda: kejujuran yang tenang. Kumpulan ini tidak berteriak, tidak minta perhatian dengan cara yang dramatis. Ia seperti seorang sesepuh yang duduk di beranda dan mulai bercerita dengan suara rendah. Namun siapa pun yang mau mendekat dan mendengarkan akan menemukan bahwa cerita itu dalam, bahwa setiap kalimatnya menyimpan lebih dari satu lapisan makna.

Dalam pengertian itulah Balada Banyumas layak mendapat tempat tersendiri: bukan sebagai puisi yang paling eksperimental, tetapi sebagai puisi yang paling setia kepada tanahnya sendiri.

 

Penutup: Puisi yang Seperti Tanah

Balada Banyumas adalah kumpulan puisi yang bekerja seperti tanah: ia menampung, menyimpan, dan menghidupkan. Bahasa yang digunakan bersih dan mengalir; metafora-metaforanya lahir dari alam yang sesungguhnya diamati dan dihayati, bukan dari kamus kiasan yang dipinjam dari tradisi lain.

Esai ini berargumen bahwa kekuatan terbesar Balada Banyumas terletak bukan pada apa yang ia jelaskan, tetapi pada apa yang dibiarkan berbicara sendiri. Pilihan itu menuntut kepercayaan pada pembaca dan kepercayaan pada tanah yang didengarnya. Dalam konteks itulah keterbatasan-keterbatasannya pun menjadi wajar, sebab mendengar, seperti halnya mencintai, selalu hadir bersama kemauan untuk tidak terlalu cepat mengkritisi apa yang didengar.

Abdul Wachid B.S. telah memberikan kepada sastra Indonesia sebuah dokumentasi puitis yang berharga tentang Banyumas: tentang tanahnya, sungainya, gunung-gunungnya, wali-walinya, pahlawan-pahlawannya, tradisi-tradisinya, makanan-makanannya, dan cara pandang orang-orangnya. Namun lebih dari sekadar dokumentasi, ia telah menciptakan sebuah monumen suara yang akan terus bergema lama setelah tanaman singkong di ladang-ladang Sokaraja berganti musim.

Banyumas berbicara melalui puisi-puisi ini. Dan puisi-puisi ini akan terus berbicara kepada siapa pun yang mau menunduk dan mendengar, seperti peziarah yang masuk ke dalam Goa Lawa dan keluar dengan membawa sebentuk keteguhan yang hanya bisa diperoleh dari tempat yang menyembunyikan diri di dalam sunyi yang paling tua.

 

*Talitha Salsabila adalah mahasiswa Program Studi Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus Pegiat Sastra, Bahasa, dan Budaya Indonesia (SABUDAYA). Esai ini ditulis sebagai refleksi atas pembacaan seri Balada Banyumas karya Prof. Abdul Wachid B.S. yang diterbitkan di borobudurwriters.id sepanjang Desember 2025.