Puisi-puisi Ngadi Nugroho

PENA BERADA DI TANGAN TUHAN

Malam, saat lembaran awan dilipat, diletakkan di belakang punggung bulan. Sepasang mata saling mengikat. Mengeja seribu pintu. Bertanya; pintu mana yang kan dibuka dan dituju.

Gulungan surat cinta belum tersusun sempurna. Batas akhir cerita bukanlah sebuah koma. Malam pun menampakkan wajahnya yang gelap dan semakin hitam. Memang ada rembulan yang tengah merembang. Namun itu pun tak lebih sekadar menyeka daun-daun sekelebat–terang. Selanjutnya, di bagian yang lain, warna hitam terkapar di atas rerumputan. Tempat kita meletakkan tubuh yang kepayahan.

Langkah rupanya hanya perlu berjalan. Namun, entah, akankah kehendak seperti doa-doa yang dibungkus sebagai hadiah– kelak. Ataukah seperti kecipak riak. Di setiap layar mimpi yang karam, seolah ada lengan melingkar memeluk erat. Dia tahu, ada hati yang harus terluka dan tersayat.

Astana Kuntul Nglayang, 2023

 

SEBUAH MELANKOLIA

Hati ini terbuat dari lempung. Lempung yang diambil Tuhan diam-diam, diletakkan di rahim ibu yang putih. Seputih kafan. Dia menaruhnya pelan-pelan. Agar sisa keringat ayah tak memadamkan tungku pengapian.

Sebuah tembikar keluar dari tungku itu. Dibentuk dan diwarnai kehidupan semu. Terbanting pecah berantakan. Menjadi butiran-butiran debu. BibirNya bergetar, membisikkan ada yang keliru. Rupanya ayah pernah membisikkan tentang cinta. Dan ibu suka warna jingga. Rupanya benar-benar buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya.

Astana Kuntul Nglayang, 2023

 

SEORANG PEREMPUAN DALAM KESUNYIAN

Pejamkanlah
Istirahatkanlah
Matamu yang bening itu
Tentang malam-malam lalu
Ataupun malam ini
Dunia semakin ingar bingar
Awan di kejauhan seperti kepulan asap rokok, terlihat samar-samar
Sinar bulan berpendar tak hanya satu
Malam-malam dipenuhi sinar lelampu
Ya, istirahatkanlah matamu
Bawalah cinta itu dalam mimpimu
Yang bisa kau mengelak, bila sakitnya mulai meruncing
Nancap di hatimu selaksa beling
Sudahi dendammu
Toh, hati yang berdarah, tak mungkin mengaramkan kenangan itu
Dia yang telah menanam luka sehitam ini
Setiap hari, setiap hari
Kembalilah
Dari perjalananmu, di malam yang sepi begini
Ada yang menunggu cinta itu semurni air susu
Menumbuhkan anak-anakmu
Menghapus dendammu
Mereka berdoa dari jauh
Dengan bahasa rindu–ibu
Kembalilah pulang
Peluklah kami saat malam membisikkan kesunyian
Saat kami ditikam ketakutan

Astana Kuntul Nglayang, 2023

 

PUTUS CINTA

Engkau yang selalu duduk di ruang tamu. Berteman kata-kata perpisahan. Dua kekasih yang dulu satu persinggahan. Dalam sebuah rumah penuh kenangan.

Apa yang kekal selain kematian di ujung seberang. Namun selalu saja hal-hal kecil menenunkan ingatan yang panjang. Seperti putus cinta misalnya. Dan tiba-tiba engkau menjadi perenung ulung dan penikmat kopi senja. Dan tiba-tiba waktu pun selesai. Tanpa wasiat ataupun kata-kata.

Astana Kuntul Nglayang, 2023

 

SEBUAH KOTA HANYA DIAM

Sebuah kota hanya diam. Kemarau yang panjang. Roda-roda pedati ini membawa ke perbatasan. Menggulirkan mimpi yang pernah lenyap. Ringkik kuda menghantarkan kaki ini sampai pada ujung kata-kata perpisahan. Apabila setia masih ada, tunggulah aku di sana. Hingga tubuhku jatuh pada pelukmu. Saat sebuah kota hanya diam memotret kenangan itu–tanpa hujan jatuh di pipimu.

Astana Kuntul Nglayang, 2023

 

*Ngadi Nugroho. Lahir di Semarang, 28 Juni. Sekarang ini aktivitas sehari-hari di Kota KaliwunguSuka dengan sastra dan menulis khususnya sajak/puisi. Beberapa kali puisinya tayang di media online dan majalah juga antologi bersama. Bisa disapa lewat email : ng.adinugroho81@gmail.com