Suatu Kali Seperjalanan dengan Mas Nasirun
Oleh: Hairus Salim HS*
Perupa Nasirun (1965-2026) adalah manusia yang unik. Unik dalam pengertian tidak seperti orang kebanyakan. Di antaranya, ia tidak memiliki dan tidak menggunakan telpon genggam pribadi, sesuatu yang amat langka sekarang ini. Tentu saja ia bisa beli, yang ter-up date dan termahal sekali pun. Tapi itu tadi, ia tidak merasa perlu memiliki dan bermain gadget. Ia tidak ada dalam peta sosial-media teman-teman dan jaringannya.
Saya sudah lama mendengar dan tahu hal ini. Tapi saya baru merasakan ‘apa arti’-nya tidak ber-HP itu dan pengaruhnya ketika tiga tahun yang silam saya membersamainya dalam perjalanan ke Belanda untuk menghadiri Pameran Story and Tension, yang menjadi bagian dari Festival Voices of Archipelago di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda. Kami bersama-sama terbang dari Yogya-Jakarta-Abu Dhabi-Roma-Amsterdam dan kemudian tinggal di apartemen yang sama hampir semingguan.
Awalnya ketika menunggu pesawat di New Jogja International Airport Yogya dan Sukarno-Hatta, Cengkareng, saya merasa biasa saja, tapi ketika transit di Abu Dhabi yang lebih agak lama, saya baru merasa bahwa dalam beberapa kali kumpul sebenarnya kami telah ‘mengasingkannya’. Kami sama duduk atau berjalan, dalam suatu tempat, tetapi sesungguhnya kami ‘tidak bersama.’ Kami semua asyik main hp, terutama ketika sudah ‘selesai’ ngobrolnya. Atau mulai asyik selfie, berkabar ke keluarga, dan teman-teman, posting status story, memotret hal yang dianggap menarik, dan lain-lain. Dan Nasirun pun seperti ‘raib’ dari lingkaran, tersingkir, sendirian.

Tapi ia membawa sebuah buku sketsa yang tebal. Ia lalu asyik mencoret-coret. Sketsa dalam hal ini bukanlah coretan untuk mengonsep sebuah lukisan atau desain bangunan; gambar awal, lukisan cepat, atau rancangan kasar yang dibuat dengan garis-garis besar untuk merekam ide sebelum membuat karya yang lebih lengkap. Sketsa di sini adalah goresan yang dibuat secara spontan in situ, on the spot, dengan cepat untuk menangkap momentum, mencatat peristiwa, dan kemudian merekam dan mendokumentasikannya. Pembuatan sketsa seperti ini dulu dilakukan ketika alat kamera masih terbatas, atau bahkan tidak ada, sebagaimana pernah dilakukan para pelukis kita di zaman perjuangan kemerdekaan.

Hal yang kedua inilah yang dilakukan Nasirun. Ia merekam hal-hal yang menarik yang singgah di depan matanya, tak terkecuali kami yang asyik main hp sendiri-sendiri, atau pun kejadian-kejadian yang ia alami. Jika kami tertarik sesuatu lalu memotretnya, dengan harapan nanti seusai acara atau ada waktu kosong dilihat dan diperhatikan lagi fotonya, maka Nasirun merekam melalui coretan-coretannya. Dengan cara itu, beda dengan kami yang melihat sekelabatan lalu ‘jret’ memotretnya, Nasirun akan mengamati lebih detil aspek-aspeknya, mulai bentuk, gerak, komposisi dll., lalu menurunkannya lewat coretan-coretannya. Dalam bahasa lain, dibanding kami yang memotret dengan HP, ia bekerja jauh lebih reflektif dalam hal ini.

Karena mencari ongkos tiket perjalanan yang murah, kami transit di Roma, tapi ternyata itu membuat kami tergesa-gesa sekali. Apalagi ditambah keliru masuk jalur dan antre panjang di imigrasi. Sehingga kami harus berlari untuk mengejar waktu, karena itu tak sempat lagi memotret-motret keadaan. Tapi rupanya Nasirun merekam adegan kami berlari itu dalam coretan-coretannya seketika setelah ia duduk di bangku pesawat.

Karena tidak bisa tidur, ia melukis para penumpang yang tidur, pramugari yang sedang menyuguhkan makanan (nah ini menarik, karena kalau memfoto tentu terlarang, kecuali pakai izin), penumpang yang mendengarkan musik via headset, orang antre toilet dll,. Untuk mengingat no apartemen, ia lukis pintu dan no kamarnya: 133 dengan angka Arab. Ini sangat penting sebab kalau lupa bisa bahaya. Ketika di pesawat ia membuat sketsa diri sedang berdoa, dilengkapi teks Arabnya.
Demikianlah, ia beruntung karena tidak menggunakan HP, karena dengan itu, ia justru bisa duduk tenang, merenung, dan mengerjakan sesuatu dengan lebih reflektif. Jika semula kami –atau ‘saya’ terutama—merasa mengasingkannya, sekarang justru saya-lah yang merasa diasingkan.


Tentu ada sedikit repotnya juga. Karena dia tidak bawa HP, dia tidak boleh jauh dari kami, agar tidak terpisah, karena nanti repot kalau mau dikontak. Lalu sebagai perupa top dan lumayan tajir, Nasirun juga bawa cukup banyak uang cash, tapi masalahnya di beberapa toko dan café di Belanda, pembayaran umumnya sudah menggunakan uang elektronik. Uang kontannya pun jadi sedikit nganggur. Sedangkan ia tak punya HP, alias juga tak punya e-banking.
Menjelang pulang dan berpisah, Nasirun menunjukkan coretan-coretannya itu kepada saya, dan memperbolehkan saya untuk memotretnya. Coretan itu dimulai dengan doa perjalanan yang ia tulis versi Arabnya, ketika transit dengan berbagai hal seperti merokok di ruang khusus, ngobrol dengan orang asing di ruang tunggu, bolak-balik lihat jadwal keberangkatan, keadaan dan suasana perjalanan, dan juga adegan teman-teman yang telah mengasingkannya, serta keadaan di apartemen. Saya kaget dengan goresan-goresan sketsa yang ia buat, intensitas dan rinciannya, keasyikannya ketika membuat, dll. Sebab semula saya mengira ia saat itu membawa buku dan asyik membacanya.
Tidak mempunyai HP itu bukan hanya menjadi ciri seorang Nasirun, tapi juga telah membentuk kepribadiannya. Tindakan itu bisa dikatakan bersifat spiritual. Nasirun tidak membutuhkan promosi diri, flexing atau pamer atas pencapaian ekonomi dan sosial. Ia tidak perlu menekan tombol ‘like’ pada status teman, meski ia benar-benar suka atau sekadar menyenangkan si teman saja. Ia juga tidak perlu terseret pada perdebatan pro dan kontra, apakah itu soal dukungan politik, pandangan terhadap suatu peristiwa kontroversial, dan lainnya. Meski tentu tidak seekstrem Sidharta atau Ibrahim bin Adham dalam tradisi Islam, tidak mempunyai dan menggunakan HP, dalam konteks modern sekarang, juga seperti sebuah penarikan diri terhadap kehidupan umum. Kehidupan dunia yang hingar bingar. Dengan itu, ia terbebas dari pembicaraan tentang intrik-intrik persaingan dan kecemburuan yang menghinggapi dunia kesenian khususnya maupun dunia umumnya.
Belakangan ketika mengingat-ingat beberapa kali perjumpaan dan terlibat obrolan dengan Mas Nasirun, saya menyadari bahwa hampir bisa dikatakan ia (kami) tak pernah membicarakan gosip-gosip di dunia seniman atau pun juga isyu-isyu di dunia politik. Itu bukan berarti dia a-sosial ataupun a-politis, ia justru terkenal sangat sosial dan punya perhatian pada masalah politik dengan caranya sendiri. Ia tidak membicarakan hal-hal yang saat itu sedang aktual, entah itu politik, sosial, maupun budaya, karena ia bebas dari dunia infiltirasi sosial-media yang memproduksi isu-isu itu sesaat, untuk segera menggantikannya dengan isyu-isyu lain yang lebih baru. Dengan itu, ia lebih banyak mengobrolkan hal-hal yang lebih substantif dan mendalam, entah itu soal kesenian, tokoh seniman dengan pencarian dan pencapaiannya, spiritualitas, dan lain-lain. Dan dengan semua itu, ia jelas bebas dan merdeka dari stress, apalagi depresi, ketika menyaksikan dan menjalani keadaan. Hidupnya pun banyak diisi dengan senyum dan tawa.
Begitulah sedikit kesanku tentang Mas Nasirun
—
Hairus Salim HS, Budayan & Direktur LKIS Yogya




