Musik untuk Mencerdaskan, Musik untuk Perdamaian, dan Musik untuk Berlaga
Oleh: Ananda Sukarlan*
Sebuah catatan ulangtahun Ananda Sukarlan ke-58, menyongsong Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026
“Musik itu bahasa universal” adalah sebuah pernyataan yang sudah sangat kita kenal, dan sudah tidak bisa diperdebatkan lagi. Tentu ini merujuk kepada musik instrumental (tanpa teks / kata-kata yang memiliki bahasa tersendiri, yang membuatnya tidak lagi universal) seperti simfoni, rapsodia, sonata dll. Jika musik tersebut dinyanyikan, teksnya lah yang membuat batasan / halangan untuk dimengerti semua orang, bukan musik dan segala elemennya yaitu melodi, harmoni, sistem tangganada, ritme, tempo dll.
Dari 58 tahun saya hadir di planet tercinta ini, 40 tahun saya habiskan untuk menulis dan bermain musik, 30 tahun lebih di antaranya secara profesional. Saya mengamati bahwa musik saya (dan kebanyakan musik komponis lain) bisa digolongkan (atau lebih “kejam”nya lagi: “dikotak-kotakkan”) ke dalam berbagai tujuan musik itu sendiri.

Ananda Sukarlan di makam komponis Igor Stravinsky, Venesia, Juni 2026
Yang paling umum tentu saja musik itu untuk dimainkan di depan publik, atau direkam. Ini bisa dibilang 100% dari musik yang saya tulis memang untuk dimainkan baik oleh saya sendiri maupun teman-teman pemusik, apapun itu tujuannya : untuk menunjukkan virtuositas (baca: pamer teknik permainan), untuk menyentuh hati pendengar (ini seringkali justru musik yang bertempo lambat, meskipun tetap membutuhkan teknik permainan yang mumpuni), untuk berdiplomasi, atau semata-mata untuk menghibur. Kemudian ada musik yang ternyata lebih “berguna” untuk tujuan lain selain untuk dipertunjukkan. Hal ini belum banyak disadari oleh para awam / sekedar peminat musik, dan lebih untuk sang pemain instrumen / vokalis sendiri, yang akan saya jelaskan.
Kadang kami, para komponis, memikirkan teknik permainan yang spesifik sebagai titik tolak menuliskan musiknya. Ada seorang pedagog piano dari Perancis (yang ternyata komponis juga, walaupun saya agak segan menyebutnya sebagai komponis, dengan alasan berikut) yang memfokuskan diri kepada hal ini, tapi kemudian mengabaikan — sengaja atau tidak — aspek artistik dari karya yang ia buat. Namanya Charles-Louis Hanon (1819-1900). Sewaktu saya muda, mendengar nama “Hanon” langsung membuat saya malas berlatih piano. Saya ternyata tidak sendirian, dan sebetulnya saya ingin menyeret si bapak Hanon ini ke pengadilan karena ia bertanggung jawab membunuh minat, kebahagiaan bahkan karir banyak sekali pianis muda karena guru mereka mewajibkan untuk berlatih “musik”nya yang dikumpulkan menjadi buku “The Virtuoso Pianist in 60 Exercises”.
Belajar dari Hanon (bukan belajar “apa yang harus saya lakukan”, tapi “apa yang TIDAK BOLEH saya lakukan”), saya menuliskan karya-karya untuk anak saya Alicia saat ia masih mulai belajar piano, dan untuk menghindari supaya gurunya memberinya Hanon. Anak saya bukan hanya harus berlatih teknik, penjarian, posisi tangan & jari dsb., tapi juga harus menghubungkan musik dengan kehidupan sehari-hari seperti kebersamaan, kehilangan, cuaca dan berbagai emosi kita. Jika saya ingin dia berlatih bermain tangganada dengan rapih dan cepat, saya bikin musik tentang anjing pudel yang dengan kaki-kaki pendeknya berlari secara terkoordinasi. Dan kebetulan memang suatu hari kami jalan-jalan di taman, dan melihat seekor anjing pudel kecil yang harus berlari karena mengikuti sang “madame” yang menggiringnya (simak baik-baik: menggiring dengan dua “g”, bukan “mengiringi”, dengan kasih sayang).
Metode menyambungkan musik dengan kehidupan nyata inilah yang menurut saya jarang ditemui di metode belajar piano konvensional yang cenderung kaku dan membosankan. Metode ini pun terbukti berhasil menarik minat banyak sekolah musik di Spanyol dan negara-negara lain, bahkan kini karya-karya dalam buku tersebut menjadi repertoar wajib di berbagai kompetisi piano, termasuk di Indonesia.
Metode pengajaran konvensional seperti Hanon atau Czerny (dari pianis dan komponis Austria –walaupun berdarah Ceko– Carl Czerny (1791-1857) yang sebetulnya juga telah menciptakan musik yang lebih “musikal”) terlalu menekankan aspek teknik tanpa mempertimbangkan nilai musikal dan artistik. Saya ingin anak saya belajar piano bukan hanya soal jari kuat atau cepat, tapi juga tentang bagaimana merasakan musik, mengekspresikan cerita, dan merefleksikan kehidupan.
Ada lagi tujuan musik yang lain, yaitu untuk mengikuti kompetisi. Ternyata banyak musik yang walaupun secara artistik bernilai tinggi, tapi tidak efektif dalam kompetisi dalam arti untuk “memukau juri”. Nah, urusan pukau-memukau ini ternyata eksis di karya saya, beberapa nomor Rapsodia Nusantara yang populer di kompetisi. Ada beberapa efek pianistik yang sebetulnya justru cukup mudah dimainkan, seperti “glissando” (menyapu tuts dari atas ke bawah atau sebaliknya) yang membuat penutup Rapsodia Nusantara no. 8 menjadi sangat populer.
Ada juga yang memang sangat sulit, yaitu polifoni. Intinya, bermain polifoni adalah memainkan lebih dari 1 melodi dalam saat yang sama. Memainkan dua melodi sekaligus, walaupun sama tapi sahut-sahutan (contohnya “kanon” misalnya Bapa Yakob atau “Row row your boat”) itu dua kali lebih sulit tapi juga dua kali lebih menarik, walaupun belum tentu formula itu bisa diterapkan untuk lebih dari 3 melodi karena banyak pendengar sekarang yang tidak mampu mendengarnya. Ya, itu semua karena cara mendengar kita yang semakin lemah disebabkan oleh banyaknya “polusi suara” di mall-mall, airport yang membuat kita menjadi kebal (dan bebal) terhadap bunyi.
Saat ini ada trend yang saya amati, yaitu musik saya yang lebih virtuosik menjadi lebih populer di kalangan para instrumentalis dan vokalis muda. Ini tentu disebabkan karena mereka masih “fresh”, yaitu “lulus” dari kompetisi yang baru mereka menangkan, dan komposisi tersebutlah yang membawa mereka menuju kemenangan. Kebanyakan yang kini lebih dikenal adalah para pemenang dari Ananda Sukarlan Award atau Kompetisi Piano Nusantara Plus, apapun itu instrumennya, atau bahkan vokalis klasik. Dua kompetisi “kakak beradik” ini dianggap paling bergengsi di Indonesia, dan memenangkan satu, apalagi keduanya, “menaikkan kelas” sang musikus.
Saya hanya ingin mengingatkan satu hal kepada para musikus muda. Ada “kehidupan nyata” setelah berbagai kompetisi, yang biasanya membatasi usia paling atas sekitar usia 30-an. Dan musik di kehidupan nyata ini tidak ada hubungannya dengan kecepatan, pamer teknik, stamina dan akurasi penjarian.
Musik itu transendental dalam jalinan pengalaman manusia, mengubah momen-momen singkat menjadi gema abadi. Dengan segala elemen dasarnya: melodi, harmoni, ritme dan tempo, musik melampaui batasan bahasa untuk menyentuh jiwa secara langsung, menyuarakan emosi yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata yang terlalu berat, atau justru terlalu menggairahkan untuk ditanggung sendiri. Dalam satu phrasing, crescendo, diminuendo atau proses menuju klimaks atau anti-klimaks, musik menangkap spektrum penuh emosi terdalam kita—rasa sakit dari cinta, sisi indah dari duka, persistensi dari harapan—menyatukan kita dalam kerentanan bersama dan mengingatkan kita akan kemanusiaan kita bersama. Musik menyembuhkan, menginspirasi, dan mengangkat, berfungsi sebagai cermin dan lentera di sebuah bilik di hati yang paling tersembunyi.
10 Juni 2026
—
Ananda Sukarlan, Selain dianugerahi penghargaan tertinggi untuk warga sipil dari Kerajaan Spanyol, Real Orden de Isabel la Católica, komponis dan pianis Ananda Sukarlan juga pernah menerima gelar kesatriaan Cavaliere Ordine della Stella d’Italia dari Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020. Ia juga tercatat sebagai seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah pemulihan hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000, serta masuk dalam daftar 100 “Asia’s Most Influential” atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 versi Majalah Tatler Asia yang terbit di Hong Kong.




