Wajah “Agak Laen” Para Legenda
Oleh : Agus Dermawan T.
Mengamati wajah-wajah legenda pahlawan Nusantara dan Indonesia. Adakah semuanya faktual? Ternyata banyak yang hasil reka visual.
————
Pada akhir April 2026, saya menerima WA (WhatsApp) dari guru besar riset sosial politik BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Prof. Dr. Asvi Warman Adam. Dalam WA, sejarawan utama Indonesia itu mengirim artikel Dr. Dario Turk, SpOG, yang tercatat sebagai Pembina Yayasan Wage Rudolf Soepratman – Meester Cornelis Jatinegara. Artikel tersebut berjudul menohok, Wajah Palsu W.R. Soepratman Dipakai Secara Resmi Bertahun-tahun. Kita tahu, Soepratman adalah komponis besar pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.
Dalam artikel diceritakan bahwa wajah Soepratman yang selama ini beredar adalah bukan wajah sebenarnya. “Masalahnya sederhana, itu bukan foto. Lebih jauh lagi – bukan representasi historis yang dapat dipertanggungjawabkan. Itu hanya karya seni yang disalahartikan.”
Sebagai bagian dari keluarga penerus Soepratman, Dario lantas berupaya meneliti penyebab ketidaksesuaian wajah itu, sambil menggelar gambar Soepratman yang dianggap salah-salah. Misalnya,yang termaktub sebagai sampul buku Supratman Guru Bangsa, terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Poster Radio Republik Indonesia. Ilustrasi Tempo.com untuk artikel berjudul Rahasia Kisah Asmara WR.Soepratman. Cover buku Tragedi Kehidupan Seorang Komponis karya Soebagyo I.N.
Puncaknya adalah ketika Dario menerima undangan Halal Bihalal Keluarga Besar W.R.Soepratman yang diselenggarakan pada 30 April 2023. Gambar depan undangan juga menggunakan ilustrasi yang “bukan represenstasi historis” itu. Dario pun semakin gusar. Apalagi ketika ia tahu betapa gambar keliru tersebut dari kurun ke kurun dijadikan acuan oleh para penggambar lain yang ingin menghormati Soepratman.
Maka ia pun mencari siapa yang pertama kali mencipta ilustrasi wajah Soepratman ini. Dari telusur yang rumit, ditemukanlah nama si penggambar, Aji Sumakno F.
Berbulan-bulan Dario mencari Aji – yang pastinya sudah sangat tua – lewat Facebook, Linkedln, Instagram dan sebagainya. Akhirnya ketemu. Namun ketika berkali-kali dihubungi, Aji tak pernah merespon. Sampai pada suatu kali dokter Dario mendapat pasien yang bersahabat dengan anak Aji. Nah, Aji pun berhasil “ditangkap” pada 15 September 2024.

Foto wajah W.R.Soepratman dari arsip Soerachman Kasansengari, kerabat, ahli waris dan pelestari sejarah W.R.Soepratman. (Foto: Dokumen)

Wajah W.R.Soepratman versi Sochieb, pelukis spesialis revolusi. (foto: Agus Dermawan T.)

Dr. Dario Turk, SpOG dan penggambar Aji Sumakno F., dalam pertemuan 15 September 2024. (Foto: Dokumen)
Dalam pertemuan itu, muncul pengakuan bahwa gambar Soepratman yang ia bikin bukan rekonstruksi sejarah, tidak berbasis arsip, melainkan hanya interpretasi artistik. “Dengan begitu, yang beredar selama ini hanya imajinasi yang dipercaya sebagai fakta,” tulis Dario.
Dalam artikel itu Dario menampilkan foto Soepratman, yang selama puluhan tahun disimpan oleh Soerachman Kasansengari, kerabat, ahli waris dan pelestari sejarah W.R.Soepratman. Memang beda! Walaupun puluhan reka gambar yang telah beredar secara tipis-tipis tetap mencitrakan wajah Soepratman. Termasuk lukisan Sochieb, pelukis yang terkenal sebagai spesialis penggubah tema-tema revolusi.
Gajah Mada Model Yamin
Wajah “agak laen” pahlawan Nusantara bukan cuma menimpa Soepratman. Kita lalu mengingat gambar wajah Gajah Mada, seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit yang bertekad menyatukan Nusantara dengan mengucap Sumpah Palapa, pada abad ke-14.
Sejarah menulis bahwa tekad itu kesampaian, sehingga Gajah Mada lantas dijunjung sebagai Pahlawan Nasional. Lalu, wajah Gajah Mada pun diabadikan dalam gambar, patung, relief dan lukisan. Wajahnya jadi lambang legenda dari zaman ke zaman.
Seperti yang acap kita saksikan, sosok Gajah Mada yang sudah terlembaga itu adalah tinggi besar, cenderung gemuk, bertulang dagu dan pipi menonjol, dengan mata sipit memicing. Seraut tipe yang menurut ahli fisionomi mengesankan manusia kukuh, kuat, arif, suka berpikir dan bertindak. Kita pun setuju.
Namun, di balik himpunan kesetujuan banyak orang, tidak sedikit yang mempertanyakan, sejauh manakah kebenaran wajah Gajah Mada yang sekarang kita kenali. Atas hal itu, sejumlah fakta bisa mengungkap.
Orang yang pertama kali meyakini wajah Gajah Mada adalah Muhammad Yamin. Keyakinan sastrawan dan ahli sejarah itu terbit ketika ia menemukan sebuah pecahan keramik kuno peninggalan Majapahit berbentuk celengan. Di dinding celengan pecah itu terukir wajah seorang lelaki kuat, berwajah membulat, dengan rambut ikal panjang. Oleh karena ditemukan di wilayah Wringin Lawang yang merupakan pintu gerbang kerajaan Majapahit, Yamin meyakini itu wajah Gajah Mada. Atas klaimnya itu ternyata tidak ada ahli yang menggugat secara resmi.
Ketika ia membuat buku Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara (terbit 1945), wajah Gajah Mada menurut versinya dicantumkan sebagai penanda. Dan itu berlanjut sampai sekarang. Di berbagai buku sejarah, baik buku sekolah sampai kitab kajian ilmiah, wajah Gajah Mada versi Yamin itulah yang tertera. Lalu, andaipun ada gambar atau arca baru yang mempresentasikan Gajah Mada, pecahan keramik itulah yang jadi acuan. Itu sebabnya di Pendopo Agung Trowulan di Mojokerto, pada “pusat pandang” Majapahit dan Gajah Mada, terdapat sebuah arca yang menggambarkan wajah Gajah Mada a la Yamin itu.

Fokus dari lukisan “Gajah Mada” karya Henk Ngantung yang obyeknya diambil dari patung terracotta kuno. (Foto: Agus Dermawan T.)

Wajah Muhammad Yamin yang jadi acuan terracotta berwajah Gajah Mada. (Foto: Dokumen)
Menjelang 1950, para pelukis Indonesia mendapat dorongan dari Presiden Sukarno untuk melukis para pahlawan Indonesia. Henk Ngantung – pelukis yang akhirnya jadi Gubernur Jakarta 1964 – 1965, memilih melukis Gajah Mada. Lukisan Henk merujuk kepada pecahan keramik temuan Yamin itu. Sehingga di kanvasnya ia menulis inskripsi: “Menurut sebuah patung terracotta”. Lukisan tersebut lantas dipersembahkan untuk Presiden Sukarno. Yakinkah Henk Ngantung atas wajah Gajah Mada yang dilukisnya?
“Tidak terlalu yakin,” ujarnya dalam sebuah wawancara tahun 1991. Apalagi ketika Henk pernah melihat arca batu Brajanata, yang oleh sejumlah sejarawan juga diklaim sebagai perwujudan asli dari Gajah Mada. Wajah Brajanata ini sangat “agak laen” dengan Gajah Mada versi Yamin.
Ketidakyakinan itu semakin mengembang tatkala Henk dekat dengan Presiden Sukarno. Sebuah kedekatan yang menyebabkan ia juga semakin mengenal Yamin, yang diangkat sebagai Menteri. Di situ Henk menanyakan kebenaran wajah Gajah Mada. Dan Yamin hanya menjawab bahwa sejarah harus memiliki ikon visual, yang akhirnya ditetapkan sebagai lambang. Honos alit artes, katanya. Artinya, kehormatan bagi Gajah Mada akan melahirkan seni. Dan interpretasi wajah itu anggaplah sebagai seni penghormatan atas Gajah Mada.
Selanjutnya, dalam banyak percakapan di kalangan budayawan dan elit pemerintahan tersimpul bahwa wajah Gajah Mada itu dipilih Yamin lantaran mirip dengan wajah Yamin sendiri. Ada yang percaya, ada yang tidak. Tapi hal itu terbukti ketika Yamin merilis gambar Gajah Mada ciptaannya, yang sangat dekat dengan wajahnya sendiri, sebagaimana disiarkan oleh tirto.id, edisi 17 Oktober 2019.
Sisingamangaraja lalu Pattimura
Apakah hanya pahlawan Gajah Mada yang wajahnya diragukan? Ternyata ada banyak. Namun, karena sang pahlawan tetap membutuhkan fakta visual, maka keraguan itu dibiarkan saja. Apalagi tidak ada referensi gambar awal dan fotografi yang bisa mendukung keraguan itu.
Wajah Sisingamangaja XII misalnya, seorang pejuang Tapanuli yang gigih melawan Belanda. Tokoh Batak ini berjuang melawan penjajahan Belanda sejak 1878. Setelah lama bertempur, ia gugur pada 1907. Dan ia pun digadang-gadang sebagai Pahlawan Nasional. Sebelum dinobatkan, Pemerintah Indonesia memerlukan gambaran visual sosok legendaris itu. Foto-foto dirinya tidak ditemukan. Padahal catatan visual wajah pendahulunya, Sisingamangaraja XI ada. Terdengar kabar bahwa Sisingamangaraja XII memang tak mau difoto, bahkan: tidak bisa difoto! Konon mereka yang mencoba memotretnya : badan akan kaku, gemetar, untuk kemudian lunglai tak berdaya.
Augustin Sibarani, yang terkenal sebagai karikaturis, mendengar upaya pemerintah itu. Ia lalu ingat peristiwa pada 1954, saat hadir dalam pertemuan besar warga Tapanuli di Jakarta. Di situ oleh Paguruban Pane (ayah pengarang ternama Sanusi Pane dan Armijn Pane) ia diminta melukis wajah Sisingamangaraja XII. Sibarani lalu melakukan penelitian, sampai akhirnya lukisan itu terwujud. Gambar wajah itulah yang kemudian oleh pemerintah dianggap sebagai “wajah resmi”. Sehingga dicantumkan sebagai gambar dari mata uang Rp1000, keluaran 1987.
Akuratkah wajah itu? Sibarani mengatakan bahwa itu adalah hasil penafsiran atas cerita-cerita orang tua. “Persisnya, manalah aku tahu!”
Wajah pahlawan lain yang juga dikerjakan dengan setengah imajinasi adalah Kapitan Pattimura alias Thomas Matulessi. Ia adalah pahlawan perang Maluku yang lahir di Saparua pada 1783 dan gugur di Ambon pada 1817. Ia marah ketika Belanda berupaya menguasai Maluku demi memonopoli perdagangan rempah-rempah. Salah satu jasa Pattimura yang paling diingat adalah ketika ia dan pasukannya berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Namun pasukannya akhirnya takluk dan Pattimura ditangkap, untuk kemudian digantung di Benteng Victoria, Ambon.
Wajah Pattimura yang resmi diakui pemerintah adalah ciptaan Christian Luluputy, bikinan 1951. Christian adalah pelukis yang tidak pernah tahu wajah Pattimura. Referensinya adalah “arsip tutur” para sejarawan dan tetua di Ambon dan Saparua.

Pangeran Diponegoro karya seniman Hindia Belanda. Meski kelihatan main-main, pernah dipakai sebagai gambar resmi. (Foto: Dokumen)

Gambar Kapitan Pattimura di uang rupiah, rekaan pelukis Christian Luluputy. (Foto: Agus Dermawan T.)
Apakah tidak ada referensi visual yang dibikin penggambar Belanda, yang biasanya rajin merekam tokoh-tokoh musuhnya? Tentu ada, seperti karya Quirijn Maurits Rudolph Ver Huell, yang menurut sejarawan Des Alwi adalah komandan pasukan Marinir Belanda. Tapi Christian sangat tidak mempercayai gambar Ver Huell itu, yang dianggap gemar menjelekkan wajah bumiputera, dan suka iseng membohongi fakta. Ini mengingatkan kita kepada sejumlah penggambar Hindia Belanda yang kadang sebisanya dan semau-maunya merekam wajah Pangeran Diponegoro.
Christian pun melukiskan Pattimura menurut versinya: sosok gagah dengan kumis yang melintang seperti Gatotkaca, dengan tangan kanan memegang golok panjang. Ini sangat jauh berbeda dengan gambar Ver Huell yang menggambarkan Pattimura dalam wajah penurut dan culun. Sejauh mana presisi wajah versi Christian? Sampai puluhan tahun, ia tak pernah tuntas menjawab.
Teuku Umar versi Dede
Dede Eri Supria adalah seniman neo-realis yang banyak dipesan melukis pahlawan perang dan tokoh bangsa. Salah satu serialnya adalah para pahlawan Kerajaan Aceh abad 18-19. Ismail Sofjan, pengusaha asal Aceh yang dikenal sebagai kolektor, bertindak sebagai sponsor dan pengarah.

Aksi perang Teuku Umar dalam rekaan Dede Eri Supria, 1986. (Foto: Agus Dermawan T.)
Berkait dengan itu, Sofjan lantas banyak memberikan referensi ihwal sosok dan gestur orang Aceh. Untuk wajah dan busana yang digunakan ia memberi contoh lewat foto-foto lama yang rusak visualnya, sehingga susah sekali disimak detilnya. Lantas terlukislah Laksamana Keumalahayati, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah, Ratu Kamalat Zainatuddin Syah, sampai Ratu Inayat Zakiatuddin Syah. Tentu sosok Teuku Umar, yang digambarkan gagah rupawan, beratraksi kuda sambil membawa bedil, dengan aksi a la film perang India.
Akuratkah presisi wajah dalam lukisan-lukisan itu? Dede tidak bisa menjawab, karena lukisannya ia anggap sebagai hasil interpretasi dari mitos. Dan wajah tokoh hanya hasil rekonstruksi cerita yang diimbuh khayalannya, serta citra samar-samar dari foto lapuk.
Sejarah Nusantara, sejarah Indonesia, agaknya mengidap penyakit agaklaenal visualis vaskular. Penyakit agak lucu, tapi menular. ***
*Agus Dermawan T. Kritikus. Penulis buku-buku budaya dan seni.




