Ruang, Memori, dan Negosiasi Visual: Membaca Pameran “Life from the Corner of My Room” Karya RYOL
Oleh Aisyah Khairunnisa Kusuma*
Beberapa waktu terakhir, terutama di era di mana batas antara kehidupan publik dan privat semakin kabur, sebagian besar hari kita mungkin dihabiskan di satu titik yang konstan: sudut kamar. Di dalam ruang domestik yang terbatas itu, ritme hidup berjalan dalam siklus yang berulang. Kita duduk, menatap layar, berpindah dari satu informasi ke informasi lain, sementara dunia di luar sana terasa begitu riuh namun tak tersentuh. Pengalaman intim semacam ini memperlihatkan bahwa ruang tidak pernah hadir secara netral. Ruang bukanlah sekadar wadah kosong atau latar belakang pasif tempat aktivitas berlangsung, melainkan sebuah entitas aktif yang ikut membentuk ritme tubuh, mengarahkan fokus perhatian, dan pada akhirnya memengaruhi cara kita memahami realitas di luar diri kita.
Pameran tunggal RYOL bertajuk Life from the Corner of My Room yang digelar di Srisasanti Gallery merangkul erat memori keruangan tersebut. Melalui teks pengantarnya, kita diajak menyelami praktik artistik sang seniman yang diakui berakar kuat dari masa kecilnya di dalam kamar. Area-area marjinal yang kerap luput dari perhatian, seperti kolong meja, bagian atas lemari, atau sudut-ruangan yang menyempit, diceritakan sebagai situs tempat imajinasinya tumbuh subur. Teks kuratorial membangun premis bahwa dari ketidakberfungsian ruang-ruang kecil itulah kebebasan visual RYOL lahir. Menelusuri ruang demi ruang dalam pameran ini memunculkan sebuah perenungan menarik tentang bagaimana memori personal seorang perupa diterjemahkan, diorkestrasi, dan pada akhirnya disajikan untuk dikonsumsi publik.
Untuk membedah lapisan pengalaman spasial ini agar tidak sekadar terjebak pada narasi permukaan, kita dapat meminjam kacamata pemikir Henri Lefebvre. Dalam bukunya yang monumental, The Production of Space, Lefebvre melihat ruang sebagai hasil interaksi dinamis dari tiga elemen pokok. Pertama adalah spatial practice, yakni ruang yang dijalani secara fisik melalui gerak dan kebiasaan tubuh kita sehari-hari. Kedua adalah representations of space, yaitu ruang yang dirancang, dikonsepkan, dan dikendalikan secara sadar oleh pihak yang memiliki otoritas (dalam hal ini adalah kurator dan galeri). Sementara elemen ketiga adalah representational space, yakni ruang yang dihayati dan dialami melalui imajinasi, memori, serta emosi personal seseorang. Persilangan dan sesekali benturan dari ketiga elemen inilah yang sangat terasa tegangannya saat kita melangkahkan kaki ke dalam ruang pamer.
Memasuki area pameran pertama di lantai bawah, penonton langsung disambut oleh tata pamer yang secara halus namun pasti mengoreografi tubuh kita. Elemen representations of space (desain kuratorial) mendominasi pengalaman ini. Bagian tengah ruangan sengaja dibiarkan kosong melompong, membimbing langkah penonton untuk secara intuitif melambat dan menyusuri tepi dinding. Di sanalah pandangan kita dihentikan oleh deretan karya, salah satunya The Soft Rebellion.
Karya ini menampilkan figur anak kecil bermata bintang yang tengkurap lesu, mengapit sepotong kentang goreng di sela jarinya layaknya orang dewasa yang sedang menghisap sebatang rokok. Ketika kita berdiri diam di depan kanvas ini, ada ambiguitas yang menahan langkah. Terdapat perpaduan visual yang ironis antara keluguan masa kecil dengan kepasrahan gestur orang tua yang diimpit kecemasan. Di ruangan ini, kesunyian terasa sangat tertata (diestetisasi). Galeri memaksa ritme tubuh kita untuk tunduk pada keheningan, diam, dan meresapi figur tersebut dalam durasi yang telah diperhitungkan.

The Soft Rebellion, RYOL. Sumber: E-Katalog Pameran Life from the Corner of My Room, Srisasanti Gallery.
Pengalaman bertubuh kita kemudian kembali diuji saat melangkah menuju lantai dua. Di ujung anak tangga yang menanjak, kita tidak dibiarkan mengalir begitu saja. Penonton secara anatomis dipaksa untuk memberikan jeda, berbalik arah, lalu mendongak untuk dapat menemukan karya Posture of Distraction yang digantung pada dinding yang tinggi. Melalui peletakan karya ini, distraksi tidak lagi sekadar menjadi tema lukisan di atas kanvas, melainkan menjelma menjadi pengalaman fisik yang kita rasakan secara langsung melalui gerak leher dan tubuh.

Posture of Distraction, RYOl. Sumber: Dokumentasi Penulis
Memasuki area semi-terbuka di lantai tersebut, RYOL menghadirkan kejutan visual yang patut dicermati melalui lukisan Residual Proximities. Alih-alih dibingkai dengan pigura kayu yang lazim digunakan di galeri, kanvasnya justru dikurung oleh logam berornamen yang sangat identik dengan teralis pagar rumah-rumah di Indonesia. Kehadiran detail fisik ini bukanlah sekadar pemanis dekoratif, melainkan sebuah jangkar makna yang krusial. Dalam konteks arsitektur domestik, pagar selalu menghadirkan ilusi tentang keamanan dan perlindungan. Namun, secara harfiah, pagar adalah batas yang memenjarakan dan mengisolasi penghuninya dari dunia luar.
Penggunaan teralis pada karya ini seolah membisikkan pertanyaan reflektif yang menggugat premis awal pameran: apakah imajinasi dari sudut kamar masa kecil itu sepenuhnya melambangkan kebebasan yang tak terbatas, atau justru menyiratkan sebuah ruang perlindungan stagnan yang mengurung kita dari realitas luar? Pagar tersebut menjadi metafora visual yang kuat bahwa ruang domestik RYOL menyimpan kerentanan dan keterasingan.

Residual Proximities, RYOL. Sumber: E-Katalog Pameran Life from the Corner of My Room, Srisasanti Gallery.
Proses negosiasi visual dan psikologis RYOL mencapai klimaksnya pada ruang utama berlatar dinding biru pekat. Di titik ini, sang perupa mengambil langkah yang sangat berani dengan menanggalkan bahasa visual figuratif pop surealis yang telah menjadi identitasnya, beralih pada abstraksi geometris yang didominasi bentuk-bentuk elips atau kapsul. Teks kuratorial membedah fase ini sebagai sebuah sintesis visual; sebuah upaya puitis untuk menangkap memori dari benda keseharian, seperti kehangatan cahaya bohlam atau residu memori tentang aroma hujan.
Namun, pengalaman visual yang ditangkap secara langsung oleh mata penonton justru terasa lebih kompleks dan membumi dari sekadar narasi romantis tersebut. Saat tubuh kita diajak berjalan menyusuri karya paling masif dalam pameran ini, Threshold of the Airy Machine yang membentang sepanjang sepuluh meter, kita tidak sedang melihat sebuah pencapaian akhir yang sudah mencapai titik ekuilibrium (keseimbangan sempurna). Sebaliknya, sapuan warna, tekstur, dan komposisi elips yang berulang di atas kanvas raksasa itu dengan jujur merekam keringat eksplorasi sang seniman.
Terdapat dinamika transisi yang intens dari seorang perupa yang sedang meraba-raba dan berjuang mencari bentuk visual baru. Abstraksinya terasa masih meminta waktu untuk mengendap. Alih-alih melihatnya sebagai kemandekan, pengalaman visual ini justru memperlihatkan sisi paling manusiawi dari seorang seniman: kelelahan yang produktif dan keberanian untuk memamerkan sebuah proses yang sedang “tumbuh”. Mempresentasikan karya yang sedang dalam fase transisi membutuhkan keberanian yang luar biasa, dan kejujuran visual inilah yang justru patut dihargai tinggi.

Threshold of the Airy Machine, RYOL. Sumber: Dokumentasi Penulis
Melihat pameran ini secara keseluruhan, Srisasanti Gallery telah membuktikan kepiawaiannya dalam membangun sebuah pengalaman spasial yang ritmis, terkontrol, dan elegan. Mereka berhasil menjahit karya-karya transisional RYOL menjadi sebuah presentasi yang utuh. Pada akhirnya, Life from the Corner of My Room tidak sekadar bercerita tentang memori masa kecil atau indahnya imajinasi yang mekar di sudut ruangan. Lebih jauh dari itu, pameran ini menjadi sebuah medium yang merekam tegangan antara ruang yang dikonsepkan oleh galeri dengan ruang psikologis yang dihayati oleh senimannya.
Ruang galeri tidak sekadar memajang hasil akhir yang absolut, melainkan bersedia menjadi saksi bagaimana seorang RYOL bernegosiasi secara alot dengan masa lalunya, meredefinisi gaya seninya, dan merangkul proses pencarian artistik yang penuh dinamika. Melalui paradoks antara kebebasan imajinasi dan kungkungan ruang domestik inilah, pameran ini justru menemukan kedalaman maknanya.
—
*Aisyah Khairunnisa Kusuma, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.
—
Daftar Pustaka
Lefebvre, H. (1991). The Production of Space (D. Nicholson-Smith, Trans.). Blackwell Publishing.
Srisasanti Gallery. (2024). Life from the Corner of My Room: RYOL [E-catalogue]. Yogyakarta: Srisasanti Gallery.





