Pos

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP

BULAN SABIT MERAH asap bercampur debu mengepul serpih-remuk ambulan di reruntuhan rumah sakit; tenaga medis berguguran— au, bulan sabit merah dinistakan nafsu-bengis zinonis membombardir tanpa nurani; roket dan rudal meluluhlantakkan marwah kemanusiaan; iran + palestina tercabikluka! air mata jatuh berderai menjelma serpih waktu retak rapuh : “kematian-kehancuran itu memupus kemerdekaan jiwa!” di langit iran + […]

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

SEJARAH Ketika menyatakan salah belum tentu ia benar Ketika menyatakan benar belum tentu ia salah Karena di pusat kutub selatan semua arah menjadi utara Lha kok bisa? Itu pertanda Tuhan tidak bercanda Lalu kapan Tuhan bercanda? Terserah kita Yang jelas bukan ketika seorang anak bunuh diri Karena sang ibu tak mampu membelikan bolpen dan buku […]

Puisi-puisi Umi Kulsum binti Jaenudin

HAKIKAT KEINDAHAN I Banyak yang mengira, Keindahan tinggal Di pelukan senja Atau cahaya bulan Yang menempel di pipimu Pasir membelai tubuh Dan bulu matamu Menggiring desir ke jantungku Namun, sesungguhnya, Keindahan kadang bersembunyi Di rintih perempuan lapar Yang tak bernama, Yang dibungkam jalan-jalan Dan pandangan orang-orang Yang sibuk menuju diri mereka sendiri Kau hadir, Bukan […]

Dalí yang Mungil di Lantai 53

Oleh: Kristian S* Seni modern sering kali adalah sebuah ilusi megah yang dikelola dengan sangat rapi melalui dinding-dinding putih museum. Ia mematri kanon di kepala kita, mendikte apa yang agung dan apa yang banal, melalui buku-buku teks sejarah yang ditulis oleh tangan-tangan Barat. Namun, ilusi itu menuntut untuk diuji secara fisik. Perjalanan saya untuk menguji […]

Puisi-puisi Suminto A. Sayuti

RAMADHAN, 1 (1) Lapar adalah kenyang yang sempurna. Karbohidrat pun terurai masuk ke saraf-urat. Perut pun kosong sarat berisi. Vitamin sukma berbait-bait puisi. Senandung diri sepanjang siang hingga sorehari. Japa-mantra tergelar hingga dinihari. Lapar pun menyempurnakan diri. Kenyang sukma dalam anyaman ketupat dan lontong doa.   RAMADHAN, 1 (2) Bayang diri terlipat di selimut kelam. […]

Puisi-puisi Samsudin Adlawi

GULA PUISI Karena tak manis, tak mau kau sebut ia gula Karena tak cantik, tak mau kau panggil ia wanita Karena tak indah, tak mau kau sebut ia puisi Ah, tak mengapa tak indah. Yang penting Puisi ini masih gula dan wanita 2025, the sunrise of java   DESEMBER GUS MUS –Membaca sajak Kalender-Kalender Tua […]

Puisi-Puisi Teguh Tri Fauzi

Revolusi Puisi : Rabindranath Tagore kaumasuki rimba puisi Tagore, ketika kata tak sampai menyebut namamu yang retak di mulut waktu di Bengal bunyi dan alunan lagu sunyi yang bernapaskan —gelanggang nyanyian kebebasan mencari muasal antara dua ketiadaan: di timur menanam cinta di barat memanen luka saat bahasa membakar makna yang menolak menjadi senjata kau berbaring […]

Puisi-puisi Selwa Kumar

I. KREMASI Raga tenggelam dalam Agni. Tinggal tulang, tinggal debu kenangan— mimpi, air mata, suka duka Atma. Samsara. Karma. Kala reinkarnasi.   II. WAHANA Kayu berbalut minyak, dupa kayu cendana. Dewi Agni hadir— kapur barus membakar puja, mengantar Atma ke Nirwana. Agni membungkus raga dalam keindahan kebebasan. Tinggal asap-asap kenangan. Tinggal duka di awal segalanya. […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

IBUKU, RUMAH DARI SEGALA RINDU pagi belum sempat bersuara, ibu telah menghamparkan sajadah dari hela napas malam yang ditinggalkan mimpi. tangannya mengelus benang yang patah di pinggir sarungku, jarumnya masuk pelan seperti seseorang yang tak ingin melukai kain yang pernah ia jahit sejak kecil. ia tidak banyak bicara. setiap lipatan kain menyimpan cerita yang hanya […]

Puisi-Puisi Ulfatin Ch

Saat Aku Mencintaimu, Indonesia Saat aku mencintaimu, Indonesia bahasa baru tumbuh di rahim ibu Burung-burung bersarang di atas dahan menanam paruhnya dipintu gerbang ruang hijau Saat aku mencintaimu, Indonesia desa-desa mekar, kota-kota terbang Dan kau pulang dari perlawatan membawa beras, gula, paha ayam dan garam yang banyak tersimpan di gudang Keesokan hari aku menyaksikan tanganmu […]