Puisi-puisi Umi Kulsum binti Jaenudin

HAKIKAT KEINDAHAN I

Banyak yang mengira,
Keindahan tinggal
Di pelukan senja
Atau cahaya bulan
Yang menempel di pipimu
Pasir membelai tubuh
Dan bulu matamu
Menggiring desir ke jantungku

Namun, sesungguhnya,
Keindahan kadang bersembunyi
Di rintih perempuan lapar
Yang tak bernama,
Yang dibungkam jalan-jalan
Dan pandangan orang-orang
Yang sibuk menuju diri mereka sendiri

Kau hadir,
Bukan dengan paras,
Tapi dengan sepotong roti,
Dengan tatapan teduh
Yang membungkus perih
Dalam diam yang mengenyangkan

Purwokerto, 28 Mei 2025

 

HAKIKAT KEINDAHAN II

Orang menyangka keindahan
Adalah alunan musik,
Kicau burung kala pagi,
Dan sinar mentari
Yang menyapa lembut di antara dedaunan

Rintik hujan
Memelodikan senja,
Rerumput berdansa
Di bawah langit kuyup
Yang menampung perasaan

Namun, keindahan sesungguhnya
Adalah suara yang menyelinap
Di antara sunyi,
Berbisik lirih
Mengantar doa
Pada rerumput kecil
Yang tumbuh diam-diam
Di sela mawar yang mekar

Ketika suara insan
Telah dikubur lelap malam,
Keindahan tetap hadir
Tak bersuara,
Tapi menyentuh
Hingga ke akar jiwa

Purwokerto, 2 Juli 2025

 

HAKIKAT KEINDAHAN III

Aku kira keindahan lahir dari puisi
Yang memiliki metapora berselimut pelangi
Atau prosa berembun es yang di tulis setiap pagi

Menyampaikan pesan
Menggulung dan mengulur emosi
Dan berujung pada kerinduan

Namun, keindahan adalah jemari yang selalu menengadah
Bersama hati pada kerisauan hidup yang datang kian kemari
Bersemayang di sela-sela puisi

Purwokerto, 10 Juli 2025

 

HAKIKAT KEINDAHAN IV

Ada keindahan yang menyelinap
Di sela kepahitan
Seperti tetes bening
Yang diam-diam menjadi obat
Dan nasihat bagi hati

Kadang ia terasa panas,
Menggetarkan telinga,
Menyenggol tembok-tembok keyakinan
Yang kita jaga terlalu lama.

Namun saat kau meneguknya,
Mengalir kesegaran
Ke ruang-ruang yang kosong,
Mengisi jiwa yang kehausan rahmat
Di sunyi malam
Atau di lengang siang hari

Ia akan menumbuhkan,
Membangunkan ruh yang tertidur
Dalam panjang perantauan hidup

Lalu kau merajutnya
Dengan air mata dan sesal,
Menjadikannya jejak
Yang menuntun setiap langkah

7 November 2025

 

HAKIKAT KEINDAHAN V

Tawa mengalir
Di lingkar meja,
Pada jemari yang berkilau
Dan suara uang
Yang saling menyapa

Namun keindahan
Tak selalu bertunas
Dari santapan mahal
Di atas meja bercahaya

Ia kerap tumbuh
Di tikar sederhana
Ketika cerita ditukar,
Ketika hati duduk setara,
Tanpa menimbang
Dari mana atap
Atau lantainya berasal

Purwokerto, 18 November 2025

 

WAJAH PADA CERMIN RETAK

Dari tuturmu,
ada cahaya yang turun
seperti angin surga
menyentuh hati kami yang kehilangan arah.

Kau menanam pohon teduh,
menyapa kami dengan kelembutan,
hingga kami lupa,
bahwa teduh pun bisa menyimpan bayang.

Sampai suatu hari,
lembar kejujuran tertinggal di kursi taman,
tangis seorang perempuan
menyebut namamu perlahan.

Retaklah kaca yang kupandangi,
dan dari wajahmu
muncul banyak wajah
menyisakan bayangan
tentang siapa sejatinya yang berbicara.

Purwokerto, Oktober 2025

 

MALAM TANYA

Kisah itu
kini berdebu di rak waktu,
terdesak oleh kisah-kisah baru
yang tak mengenalnya lagi.

Ia pernah ada
namun tak sempat menulis dirinya.

Hanya menyapa,
lalu pergi,
meninggalkan tanya yang menggantung
di antara detik dan sunyi.

Mungkin malam itu
akan datang kembali,
saat kota mulai kehilangan suara,
dan orang-orang sadar
ia hanyalah ilusi
yang senang mengisi
lubang-lubang kesendirian.

Purwokerto, Oktober 2025

 

WAJAH DALANG

Selembar ingatan
tiba di sela senyuman
tentang dalang yang menuturkan hidup
dari balik layar bayang.

Aku mendengar lagi suaranya,
mengikat nadi dengan benang makna,
menggerakkan tangan dan kakiku
dalam tarian yang tak kupahami.

Ia tersenyum
dan dari senyum itu
lahir hujan di dalam dada.

Di mana ruang-ruang sapa
hanya menjadi lukisan,
dan tubuh ini
sekadar wayang
yang kehilangan arah pulang.

Purwokerto, Oktober 2025

 

SECANGKIR KOPI

Secangkir kopi
menyisakan wajahmu di permukaannya
antara pahit dan manis
yang tak pernah seimbang.

Tanpa gula,
malam ini mengalir ke dalam kepala,
membawa aroma percakapan
yang tak selesai.

Kopi ini tahu,
ada malam-malam
yang tidak diciptakan untuk tidur,
melainkan untuk terjaga
menemani tanya
yang belum menemukan jawabnya.

Purwokerto, Oktober 2025

 

AKU INGIN MATI

Aku ingin mati
saat kesunyian malam
telah kutapaki hari demi hari,
waktu demi waktu,
hingga tidurku diselimuti
ketenangan batin.

Aku ingin mati
saat pandanganku
mengenali gelap dan pahit
bukan sebagai keburukan,
melainkan mutiara yang tumbuh
di kedalaman hidup manusia.

Aku ingin mati
saat air terjun keikhlasan
telah memenuhi muara hati.
Ketika panahan kata datang,
ia hanya mengalir lewat,
meninggalkan senyuman
di bibir yang lapang.

Aku ingin mati
saat lisanku terbiasa
mengalirkan nada-nada pengingat
yang menghapus dosa
menyuburkan hati
dari kekeringan yang mengeras.

Aku ingin mati
saat kematian bukan lagi perpisahan,
melainkan kasih sayang
yang datang sebagai kehidupan.

14 November 2025

 

UNTUK BUMI YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR TIDUR

Menyelinap di reruntuh kisah,
manusia menatah sejarah
di atas tangis yang tak sempat
mengambang di permukaan
tertelan laut,
terjerembap tanah
yang kehilangan akar.

Napasnya tersengal
dihisap pipa-pipa
yang mengeruk wangi desa;
tetangga berderet,
tapi tawa tak kunjung
menyentuh ujung kota.

Inci demi inci
hamparan hijau
berguguran
disapu angin angkara.

Karpet coklat
digelar senyap
menutupi jejak-jejak
air mata satwa
yang tak dijangkau
indra manusia.

Seekor orang utan
menyeberangi retakan waktu,
menyimpan doa di dahan
yang kian sirna.
Ikan-ikan berenang
di sungai yang menyimpan limbah
sebagai cerita,
dari pabrik
yang rampung
mengecupnya.

Mereka mengabarkan
luka
bagi nelayan
yang tinggal harap.

Ikan-ikan itu
terbaring
di keranjang kota,
membisu
menanggung kabar
yang tak pernah sampai
ke telinga dunia.

Purwokerto, 17 Juni 2025

 

KOPI DAN TEH RUMAH DESA

Aku pernah menonton film
Bukan pada pavilum indah dan megah
Atau boskop kota
Yang menyajikan tawa

Tapi pada rumah sederhana
Di ujung desa

Kopi menari setiap saat
Mengalirkan cintanya
Lewat alunan obrolan
Pada kursi kayu
Menjadi saksi bisu

Tanpa perlu melihat jendela hati
Siapa yang menunggu jarak rindu

Dari pagi mengetuk siang
Siang memeluk malam
Hanya ada kopi dan teh di sajikan
Mereka saling mencium rasa
Manis pahit beradu
Menjadi satu

Orang-orang hanya heran
Mengapa ia dapat meminumnya dengan bersamaan
Padahal 2 gelas air putih selalu ada di meja
Namun, ia hanya jadi saksi
Dalam keheningan malam

Aku pernah melihat teh membawa kopi yang lain dari luar
Ia duduk melontarkan pujian
seolah rumah ini aman
Tiada angin
Tiada hujan
Hanya ada ketenangan di dalam

Padahal saat siang kadang ada
Panas menyelimuti wajah
Gelas-gelas air putih hanya menjadi bayangan
Kehadirannya ada tapi ia hanya jadi hiasan meja

Gelas air putih ingin memancarkan warna kopi dan teh
Namun ia tak kuasa
Berbicara soal warna
Ia hanya duduk diam di pojok
Dengan tawa

Purwokerto, 23 Januari 2026

 

AKU INGIN HIDUP

aku ingin hidup

saat tubuh

berdiri di atas bumi

tanpa perlu kain-kain berkilau

atau sorotan puja-puji

aku ingin hidup

ketika pelukan rahmat-Mu

mengalir di tiap denyut napas

membawaku pada syukur

tanpa pesta pora malam

atau hidangan mewah

penggugur nafsu semata

aku ingin hidup

seperti teduh pohon beringin

akar-akar mencengkeram kehidupan

menata tanah

yang luput dari pandang mata

aku ingin hidup

ketika mataku memandang

hitam-putih kehidupan

sebagai rahmat-Mu

Purwokerto, 26 Desember 2025


*Umi Kulsum binti Jaenudin, berasal dari Garut, Jawa Barat. Dia turut aktif di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) UIN PROF. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Puisinya yang pernah terbit di Gol A Gong Kreatif “Puisi tentang Rumah” dan puisi yang berjudul “Sungai Ketenangan” telah di terjemahkan ke dalam bahasa Korea serta terbit di majalah Korea bersama 4 penulis lainnya. IG: ummi_ku22 Gmail. Umik4000@gmail.com