Pos

Letupan Diksi di Bawah Bayang-bayang Negara

Oleh Wahyu Kris* Letupan diksi ‘kalcer’ dan ‘anjay’ yang terlontar di Pasar Monolog #4 berhasil menarik penonton yang sebagian memang Gen Z. Namun, tarikan lebih menohok ada pada diksi ‘konoha’ dan ‘mens rea’ yang perlahan menggiring mereka memasuki pusaran persoalan yang direproduksi negara.   Bertempat di Ruang Amphiteater Malang Creative Centre, Sabtu 24 Januari 2026, […]

Natural Born Killers, Masyarakat Tontonan dan Kebudayaan sebagai Dekorasi 

Oleh Purnawan Andra* Beberapa waktu lalu, saya menonton (lagi) film Natural Born Killers ketika diputar di acara Bioskop Trans TV hari Selasa tanggal 20 Januari 2026 sesi malam. Sebelumnya, saya menonton film ini di acara “Sepekan Film Quentin Tarantino” yang diadakan di Gedung Kampus Sekip oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Film Kine Klub Jurusan Komunikasi […]

Politik Tubuh (Pasca Penutupan) Gang Dolly: Sebuah Utopia Menghapus Pelacuran?

Oleh  Afiyanti*   “Upaya meniadakan pelacuran sering dibingkai sebagai kemenangan moral, sebuah utopia yang dibangun atas keyakinan bahwa regulasi dapat membersihkan ruang sosial dari praktik yang dianggap ‘menyimpang’. Pelacuran diperlakukan sebagai masalah moral yang bisa dihapus melalui larangan, bukan sebagai konsekuensi dari sistem ekonomi politik yang tidak menyediakan alternatif hidup yang layak bagi pekerjanya.” Dokumenter […]

Berpuisi Sebagai Liturgi

Sebuah Simfoni Kosmik Eksistensi Oleh: Gus Nas Jogja* Puisi bukanlah sekadar deretan kata yang dipaksa berima, melainkan sebuah tindakan sakramental. Ia adalah jembatan antara yang fana dan yang baka, sebuah ruang di mana bahasa menanggalkan jubah fungsionalnya dan mengenakan jubah cahaya. Menulis dan membaca puisi adalah sebuah liturgi—sebuah perayaan atas keberadaan yang melibatkan seluruh dimensi […]

Melawan dengan Dapur: Etika Hidup Sunyi dalam Puisi Fajrul Alam

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Kesederhanaan sebagai Pilihan Estetik dan Etika Esai ini berangkat dari satu keyakinan yang sengaja saya letakkan di awal: kesederhanaan dalam puisi-puisi Fajrul Alam (Resep Bahagia, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Jejak Pustaka, 2025) bukanlah akibat dari keterbatasan estetik, melainkan hasil dari pilihan sadar: pilihan ideologis sekaligus etis. Di tengah iklim perpuisian […]

Estetika Perpuisian Warih Wisatsana: Ziarah Kesadaran, Etika Diam, dan Orisinalitas yang Mengendap

Oleh Abdul Wachid B.S.*   Pendahuluan Di tengah lanskap perpuisian Indonesia kontemporer yang semakin plural, eksperimental, dan terkadang fragmentaris, puisi-puisi Warih Wisatsana hadir sebagai oase kesabaran dan ketenangan. Larik-lariknya panjang, ritmenya melambat, dan gerak puisinya menyerupai perjalanan kesadaran, bukan ledakan emosional yang memusat pada “aku”. Warih tidak terburu-buru menutup makna; pertanyaan kerap dibiarkan menggantung, seakan […]

“Happy Rain”, Satire, dan Etika Publik 

Oleh Purnawan Andra* Banjir yang kembali menggenangi Jakarta dalam beberapa hari terakhir tidak lagi datang sebagai kejutan. Ia hadir seperti tamu rutin yang sudah dikenal tabiatnya. Warga pun telah menyesuaikan jam berangkat, menghindari rute tertentu, menyiapkan sepatu cadangan, dan melanjutkan hidup dengan sedikit keluhan.  Tidak ada kepanikan kolektif, tidak ada kegentingan yang benar-benar terasa. Dalam […]

Telaga Narcissus di “Your Curious Journey” Olafur Eliasson

Oleh Razan* Karya Olafur Eliasson “The Weather Project” saya sematkan pada catatan saya sebagai salah satu referensi ketika karya “ Fajar Di Ufuk Barat” sedang saya kerjakan pada tahun 2021. Referensi ini saya dapatkan dari mbak Melati Suryodarmo, guru yang selalu bermurah hati membagikan tajuk karya dan nama seniman yang menurutnya penting untuk diketahui dan […]

Seekor Bajingan, Subyek yang Teralienasi dalam Kebisingan

Oleh Indro Suprobo*   “Poverty means death. This death, however, is not only physical but mental and cultural as well. It refers to the destruction of individual persons, peoples, cultures, and traditions.” (Gustavo Gutiérrez, We Drink from Our Own Wells: The Spiritual Journey of a People)   Gustavo Gutierrez-Merino Diaz adalah seorang filsuf cum teolog […]

Menghidupkan Kembali Bahasa Ibu: Urgensi Kultural untuk Generasi NU Milenial

Oleh Abdul Wachid B.S.* Di tengah gempuran budaya global dan arus digital yang tak terbendung, bahasa ibu (seperti Jawa, Sunda, Madura, Banjar, Sasak, Bugis, hingga bahasa Osing) mengalami peluruhan yang nyata di tengah keluarga-keluarga Nahdliyin. Banyak anak-anak muda NU kini lebih fasih berbicara dalam bahasa Indonesia baku atau bahkan dalam logat media sosial ketimbang dalam […]