Pos

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

DALAM HUTAN (bersama Sinansari Ecip) Hutan ini mengajarkan harmoni Bagaimana angin membisiki daunan Dan burung pun berkicau tanpa lidah yang keseleo Selintas hanya menyanyikan lagu yang sudah-sudah Padahal itu ada maksudnya Ada maksudnya Jangan bicara soal waktu di sini Kita di luar hari dan tahun Inilah sediakala, inilah purbakala Engkau dan aku sama-sama telanjang Tanpa […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA KENDI YANG RETAK  Di sudut dapur yang jarang disentuh cahaya, sebuah kendi tua bersandar pada tembok, retak di lehernya, dan serpih kecil menganga seperti luka yang tak kunjung sembuh. Dulu, ia ditempatkan di gubuk pesantren, mengalirkan air untuk wudu bagi para santri yang menghafal Al-Qur’an di sela desir angin dan suara jangkrik. Setiap tetesnya […]

Mens Rea Patung Macan Kediri: Dari Ilusi Estetik ke Delusi Birokrasi

Oleh: Gus Nas Jogja*   Catatan Kuratorial   Pendahuluan: Singa yang Salah Identitas Di sebuah persimpangan jalan di Kediri, atau mungkin dalam imajinasi kolektif kita yang paling liar, berdiri sebuah patung macan. Namun, ini bukan sembarang macan. Ini adalah macan yang tampak seperti sedang mengalami krisis eksistensial—wajahnya lebih mirip kucing yang baru saja melihat tagihan […]

Aceh Sebagai Kobokan

Ontologi Air Suci yang Dinistakan dalam Perjamuan Kekuasaan   Oleh: Gus Nas Jogja* Prolegomena: Metafora Kobokan dalam Perjamuan Negara Dalam tradisi jamuan makan Nusantara, kobokan adalah air dalam mangkuk kecil yang disediakan bukan untuk diminum, melainkan untuk membasuh tangan yang kotor setelah atau sebelum menyantap hidangan utama. Ketika kita menyebut “Aceh sebagai Kobokan”, kita sedang […]

Mens Rea Panggung Tunggal Penuh Kritik

Oleh Pietra Widiadi* Dalam beberapa hari terakhir, ruang publik Indonesia kembali dipenuhi oleh paradoks yang berulang: bencana struktural di Sumatra yang lahir dari kebijakan politik tak kunjung menemukan jalan pemulihan yang jelas, sementara kegagapan rezim pemerintah dalam mengelola negara justru menjelma tontonan. Negara seolah hadir bukan sebagai pengelola krisis, melainkan sebagai produsen absurditas. Di tengah […]

Kemerdekaan Imajinasi

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Membuka Pintu Imajinasi Kemerdekaan fisik adalah sebuah pintu gerbang yang megah. Kita sering menganggapnya sebagai puncak, garis finis dari perjuangan panjang sebuah bangsa. Namun, di balik pintu itu terbentang ruang yang jauh lebih luas dan dalam: ruang kebebasan batin dan kebebasan berpikir. Ruang itulah yang sesungguhnya menentukan apakah kemerdekaan […]

Desa, Bencana dan Politik Liyan

Oleh: Purnawan Andra*   Bencana sering kita pahami sebagai peristiwa alam yang datang tiba-tiba. Hujan deras, tanah longsor, banjir bandang, atau kebakaran hutan kerap dijelaskan sebagai akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim global. Penjelasan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi ia belum menyentuh akar persoalan yang lebih dalam. Dalam banyak kasus di Indonesia, bencana bukan semata […]

Obituari Romo Mudji Sutrisno, SJ: Penasihat Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF)

Oleh Bhante Ditthisampanno Mahathera, Ph.D.*   Duka cita yang mendalam atas wafatnya Romo Mudji Sutrisno, SJ, Penasihat BWCF, rohaniwan, intelektual, dan humanis yang sepanjang hidupnya mendedikasikan pemikiran dan tindakan bagi kebudayaan, keadilan sosial, serta dialog lintas iman dan peradaban. Bagi BWCF, Romo Mudji bukan sekadar figur penasihat secara struktural, melainkan penjaga nurani intelektual dan etika […]

Akal Bulus Amerika di Venezuela: Petrodollar, Hegemoni Berdarah, dan Senjakala Imperialisme Finansial

Oleh: Gus Nas Jogja*   Topeng Demokrasi di Atas Sumur Minyak Sabtu dini hari, 3 Januari 2026, sejarah mengulang rima kelamnya. Penangkapan Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat bukan sekadar operasi penegakan hukum terhadap “diktator” atau “gembong narkoba”. Di balik narasi moralitas yang diproduksi oleh mesin propaganda Washington, tersimpan sebuah Akal Bulus yang sangat pragmatis, […]

Menjadi Saksi: Balada sebagai Zikir Tanah Leluhur

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Menjadi Saksi Langit dan Tanah Saya menulis bukan untuk menentukan makna tanah leluhur, apalagi menafsirkannya dengan tergesa. Saya datang sebagai orang yang menepi: berdiri di pinggir sawah, di batas kebun, atau di bawah pohon tua yang tak lagi ditanya umurnya. Di sana saya belajar mendengar, bukan hanya suara alam, […]