Pos

Pertunjukan Tanpa Sutradara: Ritual, Liminalitas, dan Performatifitas Tubuh di Pantai Parangkusumo

Oleh Ramanda Noviandri* Angin malam di Pantai Parangkusumo terasa lebih dingin dari biasanya. Pasir masih menyimpan sisa panas siang hari, tetapi udara laut yang bergerak pelan membuat tubuh merinding. Malam itu adalah Selasa Kliwon, salah satu malam yang dianggap memiliki energi spiritual kuat dalam kosmologi Jawa.  Saya datang bukan sebagai peziarah, juga bukan sebagai wisatawan. […]

Bunga, Memori, dan Pengetahuan

Oleh Nurhasna Isnaini* Berbunga-Bunga” menjadi tajuk pameran tunggal seniman asal Yogyakarta, Angki Purbandono. Agenda ini berlangsung di SAL Project, Jakarta, dari 7 Februari sampai 5 April 2026. Pengalaman artistik saya saat mengunjungi pameran yang menampilkan 73 jenis bunga merupakan pengalaman yang melampaui aktivitas melihat karya seni. Sejak memasuki ruang pamer, saya berhadapan dengan deretan panel […]

Ketika Amir Hamzah Hijrah Ke Panggung Wayang Kulit

Oleh Andhi Sulistya Putra* Sekuat apa pun seni tradisi mempertahankan akar budayanya, pada akhirnya ia tetap akan berhadapan dengan dinamika zaman yang terus berubah. Kemajuan teknologi dan pengaruh budaya populer secara perlahan membentuk pola pikir serta cara masyarakat memandang dan menikmati seni tradisi. Dalam situasi ini, tentunya seni tradisi tidak hanya berurusan dengan pelestarian, namun […]

Nasirun dan Studionya

Oleh: Almeida Ganefabra* Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Kota ini tidak hanya menjadi tempat lahirnya banyak seniman penting, tetapi juga menyediakan ruang sosial, budaya, dan intelektual yang memungkinkan praktik seni berkembang secara dinamis. Di antara berbagai ruang kreatif yang berperan dalam dinamika tersebut, studio seniman sering menjadi tempat […]

Persahabatan Di Balik Tekstur Kelam

Oleh Bambang Supriadi* Vincent van Gogh, pelukis Belanda dari abad ke-19, dikenal sebagai perintis ekspresionisme. Dalam hidupnya yang singkat, ia melahirkan lebih dari dua ribu karya, sekitar 860 di antaranya berupa lukisan cat minyak, seolah setiap kanvas menjadi ruang tempat ia menumpahkan gelora batinnya. Ia menjalani hari-harinya dalam kemiskinan dan hampir tak dikenal oleh zamannya […]

Menyanyikan Indonesia 

Oleh Purnawan Andra* Setiap tanggal 9 Maret Indonesia memperingati Hari Musik Nasional. Peringatan ini biasanya diisi dengan konser, penghargaan bagi musisi, dan nostalgia terhadap lagu-lagu yang dianggap klasik. Nama Wage Rudolf Supratman hampir selalu disebut sebagai titik awal karena hari itu merujuk pada tanggal kelahirannya. Dari sana muncul gambaran bahwa musik nasional adalah kumpulan lagu […]

Melihat Dunia Melalui Keheningan di Pameran Tunggal Andre Tanama, “Still: Silent/World”

Oleh Audia Febriana* Di dunia yang semakin dipenuhi suara dan tuntutan untuk terus berbicara, keheningan justru menjadi sesuatu yang semakin sulit ditemukan. Ada saat ketika dunia terasa terlampau penuh, berbagai hal datang tanpa henti, menuntut perhatian kita. Dalam situasi seperti itu, keheningan menjadi ruang yang dibutuhkan untuk berhenti sejenak, memberi jarak dari hiruk-pikuk kehidupan yang […]

Ketika Bunyi Tidak Lagi Datang Dari Depan: Teknologi, Ruang dan Cara Baru Mendengar

 Oleh Mukhlis Anton Nugroho* Saya tidak pernah menyangka bahwa salah satu perubahan paling mendasar dalam kebudayaan kita hari ini justru terjadi melalui cara kita mendengar. Ia tidak datang sebagai revolusi besar yang diumumkan dengan gegap gempita, melainkan tumbuh sebagai kebiasaan yang pelan-pelan menempel pada tubuh. Kita mendengar musik melalui earbud yang langsung menancap di telinga, […]

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

PUISI KENTUT Di antara anggapan yang paling tak bunga Di antara sangkaan yang paling sampah Ialah merasa Kentutku lebih harum dari pada kentut orang lain   PUISI ORANG Orang itu mengeluh di media sosial Karena gajinya tak cukup untuk dimakan Lalu langit disalahkan Bahwa air tak becus menjadi hujan Bahwa gunung tak pantas berselimut hutan […]

Takziah di Tengah Hujan: Seruan Waras di Tengah Dunia yang Terlalu Bising

Oleh: Selwa Kumar*  Hujan belum juga berhenti ketika saya melangkah meninggalkan pagar kedutaan itu. Rintiknya masih jatuh pelan, seperti doa-doa yang tidak diucapkan dengan suara keras. Jalan Teuku Umar tetap sibuk. Klakson mobil, motor yang terburu-buru, orang-orang berlari kecil menghindari genangan. Kota ini seperti tidak pernah benar-benar punya waktu untuk berduka. Saya berjalan pelan. Di […]