Pos

Kisah Akadjok Meruntuhkan Stigma Keroncong

Oleh Titus Gesang Lokeswara* Di sudut Kota Yogyakarta yang katanya istimewa, ada sebuah kafe sederhana di tepian Gondomanan. Terdengar petikan kencrung kalau kata orang awam. Petikan cello terasa menggelitik telinga dan membangunkan jiwa. Berbaur samar dengan riuh obrolan anak muda. Sekelompok anak muda yang ternyata masih senang bermain musik keroncong, warisan budaya asli orang Indonesia. […]

Kurasi, Koleksi, dan Ruang Ingatan di Museum Mpu Purwa

Oleh Pramita Dewi Safitri* Sejarah tidak hanya hadir melalui buku, tetapi juga melalui ruang. Di museum, masa lalu tidak pernah tampil secara utuh sebagaimana adanya. Ia hadir melalui serangkaian pilihan: apa yang dipamerkan, apa yang disimpan, dan apa yang tetap berada di balik ruang penyimpanan. Proses inilah yang dikenal sebagai kurasi. Dalam praktik permuseuman, kurasi […]

Ternyata Canting Lebih Bijak daripada Saya

Oleh Dahayu Kirana* Bukan seseorang yang tumbuh di lingkungan pembatik, namun sejak kecil saya selalu belajar membatik. Pulang kampung ke Yogyakarta untuk menjenguk simbah adalah rutinintas tahunan. Di rumah simbah, saya hampir selalul melihat proses membatik, karena beliau memang seorang pembatik lama. Bau malam yang pekat, lantai yang lengket karena tetesan lilin, serta berbagai bentuk […]

Di Sudut Kota Jogja, Keroncong Asli Masih Bernyanyi

Oleh Satrio Bagus Wicaksono* Pada sebuah malam yang tenang di kampung Kota Jogja, dendang lagu dengan iringan keroncong mulai terdengar perlahan. Para pemain duduk melingkar di kursi-kursi kayu sederhana, sementara penyanyi berdiri di depan para pemain musik. Tidak ada pengeras suara berdaya besar seperti dalam panggung pertunjukan. Hanya sebuah speaker kecil yang digunakan sekadarnya untuk […]

Rendu Ola : Kampung yang Dilindungi Leluhur

Oleh Bambang Supriadi* Kampung Adat Rendu Ola, tempat yang mungkin akan luput dari perhatian kebanyakan orang, tersembunyi rapi di dataran tinggi Desa Rendu Butowe, sekitar dua puluh tiga kilometer dari Mbay, kota kecil yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Nagekeo, di Pulau Flores. Letaknya, di antara bukit-bukit yang terbuka dan seakan selalu bersahabat dengan angin yang […]

AI Sebagai Sarana atau Ancaman?

Oleh Bambang Supriadi* Dzaki, seorang mahasiswa yang sedang menempuh ujian tengah semester, menatap layar laptopnya sambil mencoba menyusun jawaban ujiannya berupa tugas esai. Di sebelah dokumen tulisannya, terbuka jendela aplikasi Artificial Intelligence. Dengan bantuan chatbot berbasis AI, Dzaki merapikan logika tulisannya, menemukan beberapa referensi baru yang relevan, dan memperbaiki struktur akademis tulisannya agar lebih mudah […]

Meditation Retreat Masa Lebaran

🪷MEDITATION RETREAT MASA LEBARAN🪷 Dibimbing langsung oleh : SAYADAW U KUṆḌADHĀNA Sayadaw ditahbiskan pada tahun 1991 oleh Pa-Auk Sayadawgyi.Saat ini telah membabarkan dhamma dan mengajarkan meditasi di berbagai negara seperti Malaysia, Macao, Singapore, Amerika, Kanada, Jepang, Sri lanka, China, Hongkong, Inggris, Indonesia, Thailand, dan Vietnam, Taiwan. 📆Akan di adakan pada tanggal : 20 Maret – […]

Menjadi Saksi: Balada sebagai Zikir Tanah Leluhur

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Menjadi Saksi Langit dan Tanah Saya menulis bukan untuk menentukan makna tanah leluhur, apalagi menafsirkannya dengan tergesa. Saya datang sebagai orang yang menepi: berdiri di pinggir sawah, di batas kebun, atau di bawah pohon tua yang tak lagi ditanya umurnya. Di sana saya belajar mendengar, bukan hanya suara alam, […]

Ekoteologi Ronggowarsito dan Manusia Avatar

Oleh: W. Sanavero*   Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena adanya jaman Kala, kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya.  (Serat Kalatidha, Ronggowarsito) ——-   Masa itu telah tiba (lagi), masa yang disebut-sebut sebagai […]

Film, Pohon, dan Logika Ekologis Kita

Oleh: Purnawan Andra*   Dalam banyak kebudayaan Nusantara, pohon bukan sekadar benda hidup yang berdiritegak. Ia adalah penanda moral, ruang komunal, sekaligus representasi dari cara manusiamemahami posisinya di dalam jagat. Namun dalam imajinasi pembangunan modern, makna ini perlahan disisihkan. Pohondipindahkan dari ranah kultural ke ranah statistik, dari ruang hidup menjadi kolom produksi, darientitas relasional menjadi […]