Pos

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

 BALADA CERMIN RETAK DI LEMARI JATI Di sudut kamar tua sebuah cermin retak terkunci dalam lemari jati yang tak pernah dibuka sejak kematian Ibu. Pantulan wajah di dalamnya selalu berbeda kadang lelaki bersorban kadang bocah menangis kadang wajah sendiri tapi setengah tak kukenali. Aku bertanya pada retaknya, “Siapa aku dalam matamu?” Ia menjawab dengan senyap […]

Puisi-puisi Suminto A. Sayuti

Inilah Saatnya serupa bunyi genta di mulut goa. kumandangnya menyela ke mana-mana. juga rongga telinga kita. ini saatnya, bisikmu dalam isyarat rahasia. lalu kita pun berbagi dalam sunyi. dalam desir angin sepoi. ketika badai gurun pun reda. inilah saatnya berbagi cerita. juga cinta. bersama hasrat-hasrat rahasia. ketika daun-daun pun gugur. tapi harapan masa depan tetap […]

Ensiklopedi Sastra Nusantara: Dari Entri ke Kesadaran Kebudayaan

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Ensiklopedi sebagai Ikhtiar Kebudayaan, Bukan Sekadar Buku Rujukan Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN), yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya bekerja sama dengan Pusat Studi Sunda dan Universiteit Leiden/KITLV-Jakarta pada tahun 2026 ini, tidak lahir dari ruang yang hening dan steril. Ia hadir justru ketika ingatan kebudayaan kita kerap terputus-putus, ketika sastra […]

Sastra Santri dan Sastra Pesantren dalam Konstelasi 

Kesusastraan Indonesia Modern: Jalan Baru Kebudayaan Islam Oleh Abdul Wachid B.S.*    I. Konteks dan Urgensi Di tengah dinamika kebudayaan Indonesia yang kian kompleks, cair, dan plural, sastra santri dan sastra pesantren tampil sebagai gejala literasi yang tidak bisa lagi dipandang pinggiran. Pesantren yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman seperti fiqh, tasawuf, […]

Menyusuri Dunia Puisi Aslan Abidin: Dimensi dan Posisi dalam Perpuisian Indonesia

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Pendahuluan Membaca puisi-puisi Aslan Abidin sering kali terasa seperti memasuki sebuah kota pada jam-jam yang tidak dicatat dalam peta wisata. Ada senja yang basah, lorong-lorong sosial yang pengap, percakapan batin yang berlangsung setengah berbisik, setengah memberontak. Makassar hadir, tetapi tidak sebagai latar geografis semata. Ia menjelma pengalaman. Dari sanalah […]

Menggali Makna Serat Nitisruti: Arsitektur Jiwa dan Estetika Ketentraman

Oleh: Gus Nas Jogja* Menyelami samudera pemikiran Pangeran Karanggayam dalam Serat Nitisruti bukan sekadar membaca naskah kuno dari tahun 1612, melainkan sebuah ziarah batin menuju hulu peradaban Jawa yang adiluhung. Pangeran Karanggayam, sang pujangga dari Pajang yang juga leluhur Raden Ngabehi Ronggowarsito, menyusun untaian kata ini bukan sebagai doktrin kekuasaan yang kaku, melainkan sebagai komposisi […]

Natural Born Killers, Masyarakat Tontonan dan Kebudayaan sebagai Dekorasi 

Oleh Purnawan Andra* Beberapa waktu lalu, saya menonton (lagi) film Natural Born Killers ketika diputar di acara Bioskop Trans TV hari Selasa tanggal 20 Januari 2026 sesi malam. Sebelumnya, saya menonton film ini di acara “Sepekan Film Quentin Tarantino” yang diadakan di Gedung Kampus Sekip oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Film Kine Klub Jurusan Komunikasi […]

Politik Tubuh (Pasca Penutupan) Gang Dolly: Sebuah Utopia Menghapus Pelacuran?

Oleh  Afiyanti*   “Upaya meniadakan pelacuran sering dibingkai sebagai kemenangan moral, sebuah utopia yang dibangun atas keyakinan bahwa regulasi dapat membersihkan ruang sosial dari praktik yang dianggap ‘menyimpang’. Pelacuran diperlakukan sebagai masalah moral yang bisa dihapus melalui larangan, bukan sebagai konsekuensi dari sistem ekonomi politik yang tidak menyediakan alternatif hidup yang layak bagi pekerjanya.” Dokumenter […]

Berpuisi Sebagai Liturgi

Sebuah Simfoni Kosmik Eksistensi Oleh: Gus Nas Jogja* Puisi bukanlah sekadar deretan kata yang dipaksa berima, melainkan sebuah tindakan sakramental. Ia adalah jembatan antara yang fana dan yang baka, sebuah ruang di mana bahasa menanggalkan jubah fungsionalnya dan mengenakan jubah cahaya. Menulis dan membaca puisi adalah sebuah liturgi—sebuah perayaan atas keberadaan yang melibatkan seluruh dimensi […]

Estetika Perpuisian Warih Wisatsana: Ziarah Kesadaran, Etika Diam, dan Orisinalitas yang Mengendap

Oleh Abdul Wachid B.S.*   Pendahuluan Di tengah lanskap perpuisian Indonesia kontemporer yang semakin plural, eksperimental, dan terkadang fragmentaris, puisi-puisi Warih Wisatsana hadir sebagai oase kesabaran dan ketenangan. Larik-lariknya panjang, ritmenya melambat, dan gerak puisinya menyerupai perjalanan kesadaran, bukan ledakan emosional yang memusat pada “aku”. Warih tidak terburu-buru menutup makna; pertanyaan kerap dibiarkan menggantung, seakan […]