Puisi-puisi Fatin Hamama

Surat kepada Air Mata

Air mata, selamat pagi.
Engkau, apa sebenarnya?

Pada luka,
engkau mengalir.

Pada duka,
engkau menetes.

Pada bahagia,
engkau menggenang.

Pada sakit, luka, dan bahagia yang pura-pura,
pun engkau menderas.

Lalu air mata mana
yang bisa membedakanmu?

Buaya punya air mata sangat menggoda.
Kabarnya duyung juga punya,
air mata serupa mutiara dalam cerita.
Diburu dengan jampi-jampi purba.

Tapi ada mata yang kering penuh nestapa
di negeri ini bernama rakyat.
Yang tak bermimpi jadi kaya.

Air mata masuk ke dalam dada.
Genangannya di beranda,
merah mengibar di bendera.

Alahai…
Ini bernama tangis.
Sepi isaknya di ruang ruang.

Di ruang raung.
Meraung.
Sunyi
Tak berujung.

04 Juli 2026.

Sambal

Rawit, bawang, tomat.
Kebanyakan rawit
Sambal pedas melengking.

Kebanyakan bawang
Sambal langu
Membiru.

Kebanyakan tomat
Sambal asem
Pedasnya jinak.

Boleh pilih mana.
Banyak bilang tobat dengan sambal.

Lain waktu
Heran
Sambal dicolek lagi.

Pedas lagi
Tobat lagi
Colek lagi
Pedas lagi

Tobat tak tobat
Tak tobat tobat.

Dukuh, 15 Juni 2026

Juni

Juni datang membawa pintu
yang tidak pernah ditutup sementara.
Ia pergi
dan kepergiannya menetap,
menjadi cuaca baru di kamarku.

Lukanya ditinggal,
bukan dibawa.
Ia meletakkannya di sela tulang,
di sudut-sudut nama yang menyebut relung.
Luka itu tumbuh seperti lumut:
diam, tapi menguasai.

Kenangannya mengakar.
Menembus lantai, merambat ke langit-langit,
menggambar cuaca rinai di dada pada setiap retak.

Setiap kali hujan Juni jatuh,
akar itu minum air mata,
lalu bermekaran jadi mimpi dengan alamat yang jauh.

Perpisahan ini aneh.
Ia bilang, “Selamat tinggal,”
tapi langkahnya malah mendekat ke jauh.
Pertemuan yang menjauh.
Senyum yang disiapkan dari jauh.
Tangan yang melambai dari jauh menuju rumah yang jauh,
kini jadi alamat yang jauh, namun mendekat dan kelat.

Juni mengajari aku begini:
Ada orang yang pergi tanpa pamit.
Ada yang pamit tapi tak pernah benar-benar pergi.
Ia tinggal di Juli, Agustus, Desember, pada Januari,
dan kembali ke Juni lagi.
Tinggal di setiap Juni yang datang lagi.

Maka, Juni,
jika kau harus membawanya,
dan menyisakan aku hanya tanahnya saja
sebagai tanda pernah bersua dan ada,
aku izin belajar
menumbuhkan bunga dari luka dan kenangan
dengan menyebutnya tanpa paksa: rela.

Dukuh, 15 Juni 2026

Tersangka

Aneh.
Bertemu manusia topeng:
Dosa disembunyikan di balik punggung,
Teriakan dilempar ke depan
Untuk menutup bau daki kuku

Menebar fitnah seperti menabur garam di luka orang,
Lalu berteriak paling kencang
Mengaku dirinya yang berdarah

Dia hasut angin menjadi kabar,
Menista bayang yang dia tersangkakan,
Menuding yang tak pernah mengangkat batu,
Menutupi tangan teracungnya sendiri

Lempar batu sembunyi tangan:
Batunya melayang,
Dada orang pecah diserang

Anehnya
Orang yang remuk
Dia yang ngamuk
Digiring jadi tersangka

Dunia apa ini?
Topeng.
Badut.
Apa manusia silver yang menyembunyikan muka?
Berkilau tanpa jelaga

Lalu atas nama apa
Mereka?

Dukuh, 15 Juni 2026

Air Putih

Kemana hujan mengalir
Ke seluk seluk akar
Menyimpan air

Menembus tanah
Menyimpan mata air
Membentuk tasik, telaga, danau
Mengalir menjadi sungai
Mencari muara menuju laut dan samudera

Lalu matahari
Menguapkan kembali menuju langit
Menjadi awan
Menjadi hujan

Mengalir lagi
Lagi

Sekali waktu
Sampai di meja makanmu
Sekali waktu sampai di kolam mandimu
Sekali waktu menyiram bunga-bungamu
Pohon-pohonmu
Taman menjadi hutan menjadi rimba

Menjadi telaga
Tempat ikan-ikan beranak pinak
Pelerai dahaga, tempat singgah segala satwa

Kampung-kampung mekar
Kota-kota binar

Sekali waktu
Dia binal
Dia bah
Nakal
Melenyapkan semua

Sekali waktu dan hanya sekali
Menjadi air mandi terakhir mayatmu

Menggantung di mata
Basah di pipi

Air
Putih.

Dukuh, 15 Juni 2026

*SUARA*

Orang-orang menanti suara
Orang-orang mendengar suara
Orang-orang minta suara
Orang-orang takut suara
Orang-orang membekap suara

Orang-orang bertikai suara
Orang-orang membeli suara
Orang-orang mencari suara
Orang-orang mengolah suara

La laaaa

Orang-orang BERSUARA
BISING

Tapi lupa ada suara paling nyaring
Mengetuk tanpa permisi
Masuk tanpa dibatasi
Meruang mengisi
Sering tak diambil peduli

Suara hati

Dia bersuara pada jantung
Pada kepala
Pada telinga
Pada mata
Namun sering terlambat disadari

Tapi tidak pada bibir yang sering mendusta
Politisi

Kau akan geleng kepala
Sambil menyesali
La laaaa

Dukuh, 21 Juni 2026

Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah kabut yang turun di kaki gunung
pada pagi yang sunyi.
Selalu dingin dan penuh harapan,
seperti segelas kopi yang diseduh:
bermula panas dalam hitam,
berangsur dingin dan pahit.

Seperti seorang ibu yang bangun di pagi hari,
membuka jendela bersama semilir angin,
beranjak ke dapur menanak nasi,
setelah menampi beras, memisah antah.
Tapi tungku tak selalu punya api.

Ada kayu yang enggan menjadi arang.
Ada arang yang takut menjadi abu.

Setelah hutan-hutan basah oleh darah,
setelah hujan bernama peluru,
membidik tepat ke arah jantung.

Kemerdekaan
adalah suara pagi
yang terbakar menuju siang,
kemudian raib menuju malam.

Kemerdekaan adalah
yang kau cari tapi tak kau temukan.

Sebab,
kemerdekaan yang sungsang
adalah juga penindasan.

Cikini, 15 Juli 26.


*Fatin Hamama penyair Indonesia yang karya-karyanya tidak hanya mengangkat tema-tema religius, cinta, dan masalah-masalah sosial. Penyair kelahiran 15 November 1967 ini diundang ke berbagai kegiatan sastra di dalam maupun di luar negeri. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku antologi puisi terbarunya, Empat Musim Mengasuh Waktu, bersama tiga penyair perempuan Indonesia yang tergabung dalam lembaga sastra Podium.