Menggugat Filsafat sebagai Estetisasi Retoris: Ketika Logos, Ethos, dan Pathos Tak Lagi Harmonis
Oleh: Kasiyan*

René Magritte, The Treachery of Images (1929). Ketika citra mengkhianati kenyataan, barangkali yang paling sulit bukan menemukan kebenaran, melainkan mengenalinya di antara sekian banyak hal yang tampak seperti kebenaran. (Sumber: https://news.artnet.com/art-world/rene-magrittes-pipe-treachery-of-images-2561415)
————–
Ada sesuatu yang menarik dalam hubungan manusia dengan keindahan. Sesuatu yang berkilau belum tentu menerangi. Cahaya membantu kita melihat, tetapi kilau kadang justru membuat mata terpukau sehingga kita tidak lagi memperhatikan apa yang sesungguhnya ada di baliknya. Dalam seni, bentuk yang indah tidak selalu menjamin kedalaman makna. Hal serupa, saya kira, juga dapat terjadi dalam kehidupan pemikiran.
Kita sering kali terlalu mudah menghubungkan kecanggihan bahasa dengan kedalaman pikiran. Orang yang fasih menggunakan istilah, pandai merangkai metafora, dan mampu melontarkan kalimat yang terdengar filosofis, lekas memperoleh pengakuan sebagai seseorang yang memiliki kedalaman intelektual. Padahal, antara kepiawaian berbicara dan kesanggupan berpikir terdapat jarak yang tidak selalu dapat dijembatani oleh kefasihan.
Fenomena Rocky Gerung menarik dibicarakan dalam hubungan ini. Kehadirannya di ruang publik Indonesia memperlihatkan bagaimana filsafat dapat digunakan untuk membaca persoalan politik, menguji akal sehat, dan mengkritik kekuasaan. Ia memiliki kecakapan retoris yang membuat sejumlah pernyataannya mudah diingat. Namun, justru di situlah muncul pertanyaan yang agaknya perlu diajukan: apakah kemampuan menggunakan pemikiran filosofis dengan sendirinya menjadikan seseorang seorang filsuf?
Pertanyaan itu bukan soal gelar atau pengakuan akademik. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni perbedaan antara menyampaikan pemikiran orang lain dan menghasilkan pemikiran sendiri.
Kilau Bahasa
Ada sebuah ungkapan satire yang cukup dikenal: If you can’t convince them, confuse them. Jika tidak mampu meyakinkan, buatlah mereka bingung. Ungkapan yang sering dikaitkan dengan Harry S. Truman ini menyimpan sindiran tentang cara kerja retorika politik. Ketika alasan tidak lagi cukup kuat untuk meyakinkan orang, bahasa dapat diperumit sedemikian rupa sehingga orang kehilangan kesempatan untuk memeriksa persoalan yang sebenarnya.
Dalam filsafat, persoalannya sedikit lebih rumit. Sebab, filsafat memang tidak selalu membawa manusia kepada kejernihan yang segera. Ada kalanya seseorang justru harus mengalami kebingungan terlebih dahulu sebelum menyadari bahwa sesuatu yang selama ini diyakininya ternyata tidak cukup kuat. Kita mengenal hal itu dalam tradisi Sokratik. Socrates mengajukan pertanyaan, membongkar asumsi, dan memperlihatkan kontradiksi dalam pengetahuan lawan bicaranya. Orang dibuat ragu, bukan agar berhenti berpikir, melainkan agar mulai berpikir dengan lebih sungguh-sungguh.
Tetapi ada kebingungan yang lain. Kebingungan yang tidak mengantar seseorang pada pemahaman, melainkan membuatnya semakin jauh dari persoalan. Istilah diperbanyak, kalimat diperpanjang, metafora saling bertumpuk, tetapi hubungan antara alasan dan kesimpulan tidak pernah benar-benar menjadi jelas. Orang mungkin terkesan. Namun, belum tentu memahami apa yang sesungguhnya sedang diperdebatkan.
Di sinilah ungkapan satire tadi menemukan tempatnya.
Plato, melalui Gorgias, telah mengingatkan kita tentang bahaya retorika yang terlepas dari pengetahuan mengenai kebenaran dan keadilan. Melalui dialog Socrates dan Gorgias, Plato memperlihatkan bahwa kemampuan membujuk tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan mengetahui. Retorika dapat menyenangkan pendengar, tetapi belum tentu membawa mereka kepada kebenaran. Socrates bahkan membandingkannya dengan seni memasak: menyenangkan lidah, tetapi belum tentu menyehatkan tubuh.
Saya kira, peringatan tersebut masih relevan ketika kita membaca penampilan Rocky Gerung di ruang publik. Ia cukup piawai menggunakan metafora, satire, dan istilah filsafat untuk membicarakan persoalan politik. Istilah seperti arete, aletheia, radical break, atau hermeneutics of suspicion memang memiliki tempat dalam tradisi pemikiran. Akan tetapi, istilah tidak dengan sendirinya menjadi argumentasi. Ia baru memiliki arti ketika digunakan secara tepat, ditempatkan dalam kerangka pemikiran yang jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan hubungannya dengan persoalan yang sedang dibicarakan.
Ada kalanya bahasa yang rumit justru menyulitkan kita membedakan antara kedalaman dan kesan kedalaman. Dalam kritik argumentasi, keadaan semacam ini berdekatan dengan obskurantisme, yakni kecenderungan menggunakan bahasa yang mengaburkan persoalan. Kita juga mengenal Gish Gallop, teknik membanjiri lawan bicara dengan begitu banyak klaim sehingga tidak tersedia cukup waktu untuk memeriksa semuanya. Keduanya mengingatkan bahwa kerumitan tidak selalu lahir dari kedalaman. Kadang-kadang ia justru menjadi tempat yang nyaman untuk menyembunyikan kelemahan alasan.
Tentu, tidak setiap pernyataan Rocky dapat dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Namun, pertanyaan yang perlu diajukan tetap sama: apakah bahasa yang digunakan sungguh membantu publik memahami persoalan, atau justru membuat mereka terpukau oleh cara persoalan itu disampaikan?
Menjadi Filsuf
Ada satu hal yang menurut saya perlu dikatakan secara lebih terang. Rocky Gerung lebih tepat dipahami sebagai intelektual publik yang menyampaikan, menafsirkan, dan menggunakan perangkat pemikiran filosofis untuk membaca persoalan sosial-politik, bukan sebagai filsuf dalam pengertian seorang pemikir yang menghasilkan konstruksi filosofis orisinal.
Saya menyadari bahwa pernyataan ini mungkin terdengar tegas. Namun, persoalannya bukan terletak pada apakah seseorang memiliki gelar filsafat atau tidak. Seseorang dapat menempuh pendidikan filsafat tanpa pernah menghasilkan pemikiran filosofis yang berarti. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki latar pendidikan filsafat formal mungkin saja menghasilkan gagasan yang memiliki sumbangan penting bagi perkembangan pemikiran.
Ukuran yang lebih masuk akal adalah pekerjaan intelektualnya. Apakah ia mengembangkan konsep sendiri? Apakah ada bangunan argumentasi yang memperlihatkan suatu tesis filosofis yang khas? Apakah pemikirannya memberikan sumbangan konseptual yang dapat dikenali, diuji, dan diperdebatkan dalam tradisi filsafat?
Dalam pemikiran Rocky yang dikenal melalui ruang publik, saya belum menemukan konstruksi filosofis orisinal semacam itu. Kekuatan yang lebih menonjol justru terletak pada kemampuannya mengartikulasikan gagasan para pemikir, menggunakan perangkat filsafat untuk membaca politik, serta menyampaikan kritik dengan bahasa yang mengundang perhatian. Kemampuan tersebut tentu bukan sesuatu yang tidak berarti. Namun, ia tetap berbeda dari pekerjaan menghasilkan filsafat.
Menggunakan Nietzsche bukan berarti telah menjadi Nietzsche. Mengutip Kant juga tidak dengan sendirinya membuat seseorang menghasilkan pemikiran Kantian yang baru.
Barangkali perbedaan ini tampak sederhana. Tetapi dalam kebudayaan publik yang sangat mengandalkan figur, kita sering kali lebih cepat mengagumi seseorang karena cara ia berbicara tentang filsafat daripada memeriksa apa yang sesungguhnya telah dihasilkannya sebagai pemikiran.
Paul Ricoeur, dalam Freud and Philosophy (1965), membicarakan hermeneutika kecurigaan sebagai pekerjaan penafsiran yang berusaha menyingkap makna di balik apa yang tampak. Kecurigaan dalam pengertian ini bukan sekadar kebiasaan mencurigai segala sesuatu, apalagi menjadikannya gaya berbicara. Ia membutuhkan kerja interpretasi yang serius. Ada sesuatu yang harus dibongkar, tetapi pembongkaran itu juga harus menghasilkan pemahaman.
Filsafat, karena itu, tidak selesai pada kemampuan meragukan. Ia juga memerlukan kesanggupan membangun pemikiran.
Logos, Ethos, dan Pathos
Persoalan retorika pada akhirnya membawa kita kepada hubungan antara logos, ethos, dan pathos. Dalam kehidupan pemikiran, ketiganya tidak dapat dipisahkan begitu saja. Logos berkenaan dengan keteguhan penalaran, ethos menyangkut integritas dan tanggung jawab, sedangkan pathos memberi daya afektif kepada gagasan.
Sebuah argumentasi mungkin sangat cerdas, tetapi kehilangan makna ketika prinsip yang digunakan untuk menilai orang lain tidak bersedia diterapkan kepada diri sendiri. Sebaliknya, sikap moral yang terdengar luhur juga tidak cukup apabila tidak ditopang alasan yang dapat diperiksa. Adapun emosi, betapapun pentingnya dalam kehidupan manusia, dapat dengan mudah menggerakkan orang tanpa selalu membuat mereka memahami persoalan.
Dalam konteks Rocky Gerung, hubungan antara ketiga unsur tersebut menarik dibaca melalui pandangannya mengenai sejumlah kebijakan pemerintahan Prabowo, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Dalam berbagai kesempatan, Rocky pernah mengkritik persoalan perencanaan, pembiayaan, dan pelaksanaan MBG. Ia juga menyampaikan pandangan mengenai pentingnya pelibatan masyarakat dalam program tersebut. Sementara itu, dalam pembicaraan mengenai Koperasi Desa Merah Putih, ia pernah memberikan apresiasi terhadap harapan kemakmuran yang dibawa program tersebut, meskipun tetap mengingatkan perlunya landasan ideologis dan pendampingan yang memadai.
Perubahan penekanan semacam ini tentu tidak otomatis merupakan inkonsistensi. Seseorang boleh mengkritik pelaksanaan suatu kebijakan sekaligus menerima tujuan yang hendak dicapainya. Bahkan, kemampuan mengubah pendapat setelah memperoleh informasi atau alasan baru merupakan bagian dari kematangan intelektual.
Namun, perubahan pendapat membutuhkan penjelasan. Apa yang berubah dalam penilaian seseorang? Apakah terdapat fakta baru, perubahan premis, atau pertimbangan etik yang sebelumnya belum diperhitungkan? Tanpa penjelasan semacam itu, publik hanya menyaksikan perpindahan posisi, sementara proses pemikiran yang mendasarinya tidak pernah benar-benar terlihat.
Persoalan ini menjadi semakin menarik setelah Rocky dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada 2 Oktober 2026. Kedekatan dengan kekuasaan tentu tidak dengan sendirinya menghilangkan independensi seseorang. Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa setiap orang yang memasuki institusi pemerintahan otomatis kehilangan daya kritisnya. Tetapi perubahan posisi tersebut menghadirkan pertanyaan yang patut direnungkan: bagaimana seseorang mempertahankan ukuran kritik yang sama ketika ia tidak lagi sepenuhnya berada di luar lingkaran kekuasaan?
Aristoteles, melalui Nicomachean Ethics, mengingatkan bahwa keutamaan tidak cukup diketahui melalui pengetahuan tentang kebaikan. Ia harus hadir dalam tindakan dan kebiasaan. Orang dapat berbicara panjang mengenai keadilan, tetapi keadilan baru memperoleh maknanya ketika diuji dalam keputusan konkret.
Kant, melalui Groundwork of the Metaphysics of Morals (1785), mengajukan gagasan imperatif kategoris: prinsip tindakan harus dapat dikehendaki menjadi hukum universal. Dengan demikian, prinsip moral tidak semestinya berubah hanya karena posisi seseorang berubah. Ukuran yang digunakan untuk mengkritik pihak lain juga perlu berlaku ketika kritik itu harus diarahkan kepada lingkungan sendiri.
Barangkali di sinilah ujian sesungguhnya bagi seorang intelektual publik. Bukan sekadar keberanian berbicara di hadapan kekuasaan, tetapi juga kesediaan menjaga jarak kritis ketika dirinya berada lebih dekat dengan kekuasaan itu.
Aura Pemikiran
Dalam dunia seni, kita mengetahui bahwa makna sebuah karya tidak selalu hanya ditentukan oleh keberadaannya sebagai benda. Sejarah, institusi, ruang pamer, dan narasi kuratorial ikut membentuk cara orang memandangnya. Sebuah objek yang tampak biasa dapat memperoleh makna berbeda ketika ditempatkan dalam konteks tertentu.
Walter Benjamin, melalui The Work of Art in the Age of Its Technological Reproducibility (1935–1936), membicarakan persoalan aura dalam pengalaman seni. Gagasan ini menarik digunakan sebagai analogi untuk memahami kewibawaan simbolik seorang intelektual. Nama besar, reputasi, gaya bicara, dan pengakuan publik dapat membentuk semacam aura yang membuat pernyataan seseorang diterima bahkan sebelum argumentasinya diperiksa.
Rocky Gerung memperlihatkan bagaimana bahasa dan citra dapat bertaut dalam kehidupan publik. Sebuah metafora terasa lebih tajam karena diucapkan oleh seseorang yang dikenal piawai bersatire. Sebuah kalimat terdengar lebih filosofis karena dibungkus istilah yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi pemikiran. Publik tidak hanya mendengar apa yang dikatakan, tetapi juga membawa serta gambaran tertentu tentang siapa yang mengatakannya.
Dalam kebudayaan komunikasi yang semakin bergantung pada perhatian, keadaan ini menjadi semakin terasa. Kalimat yang mengundang reaksi sering lebih cepat beredar daripada pemikiran yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Sebuah sindiran dapat terus diingat, sementara alasan yang mendasarinya justru terlupakan.
Dalam kaitannya dengan hal ini, kita dapat mengingat The Treachery of Images (1929) karya René Magritte. Lukisan itu menampilkan gambar sebuah pipa dengan tulisan bahwa gambar tersebut bukanlah sebuah pipa. Magritte sedang mengusik hubungan antara representasi dan kenyataan. Apa yang tampak di hadapan kita bukanlah benda itu sendiri, melainkan gambarnya.
Hal yang kurang lebih serupa dapat terjadi dalam kehidupan intelektual. Citra kedalaman tidak selalu sama dengan kedalaman. Citra keberanian moral tidak otomatis membuktikan keberanian moral. Demikian pula, citra seorang filsuf tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang filsuf.
Theodor W. Adorno, melalui Aesthetic Theory (1970), memperlihatkan bahwa pengalaman estetik memiliki daya kritis karena dapat mengganggu kebiasaan persepsi manusia. Seni memungkinkan kita melihat sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatian. Karena itu, persoalannya bukan menyingkirkan keindahan dari pemikiran. Bahasa yang indah bahkan dapat membantu gagasan hadir dengan lebih jernih.
Yang perlu diwaspadai ialah ketika keindahan bahasa mengambil alih pekerjaan pemikiran. Ketika bentuk lebih diperhatikan daripada isi, ketika metafora lebih diingat daripada alasan, dan ketika citra intelektual lebih dipelihara daripada tanggung jawab terhadap kebenaran.
Di sinilah perbedaan antara estetika pemikiran dan estetisasi pemikiran menjadi penting. Estetika membantu gagasan hadir dengan baik tanpa kehilangan ketepatan konseptual. Estetisasi justru terjadi ketika daya pikat bentuk membuat kita lupa memeriksa substansinya.
Ingatan dan Tanggung Jawab
Kata-kata sering kali memiliki umur lebih panjang daripada suasana ketika ia diucapkan. Sesuatu yang hari ini terdengar meyakinkan dapat kembali hadir beberapa tahun kemudian, lalu mengundang pertanyaan yang berbeda. Waktu tidak selalu menghakimi. Kadang-kadang ia hanya mempertemukan seseorang dengan perkataannya sendiri.
Dalam kehidupan publik sekarang, pertemuan itu menjadi semakin mudah. Rekaman, wawancara, tulisan, dan berbagai jejak digital memungkinkan pernyataan seseorang diperiksa kembali, bahkan setelah ia sendiri mungkin telah melupakan konteks ketika pernyataan tersebut dibuat.
Namun, ingatan tidak seharusnya digunakan untuk membekukan seseorang pada pendapat masa lalunya. Manusia berhak berubah. Yang lebih penting ialah kesediaannya menjelaskan perubahan tersebut. Apa yang dahulu diyakini, mengapa keyakinan itu kemudian dipersoalkan, dan alasan apa yang membuat pandangan baru lebih dapat dipertanggungjawabkan?
Nietzsche, melalui Beyond Good and Evil (1886), mengingatkan bahwa pengetahuan selalu berangkat dari perspektif tertentu. Kesadaran ini bukan pembenaran bagi relativisme tanpa batas. Justru sebaliknya, ia mengajak kita lebih jujur dalam mengenali kepentingan dan keterbatasan yang ikut membentuk pandangan kita.
Socrates, sebagaimana digambarkan Plato dalam Apology, menempatkan pemeriksaan terhadap kehidupan sebagai bagian penting dari keberadaan manusia. The unexamined life is not worth living. Barangkali pemeriksaan itu juga perlu diarahkan kepada kata-kata yang kita gunakan untuk memahami orang lain, termasuk kata-kata yang kita ucapkan sendiri.
Rocky Gerung tentu tidak harus terbebas dari kesalahan, sebagaimana seorang intelektual tidak harus mempertahankan pendapat yang sama sepanjang hidupnya. Tetapi semakin besar pengaruh seseorang dalam percakapan publik, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjelaskan dasar pemikiran yang digunakan. Kefasihan tidak dapat menggantikan tanggung jawab tersebut.
Pada akhirnya, persoalan ini mungkin memang lebih luas daripada Rocky Gerung sendiri. Melalui fenomena dirinya, kita dapat melihat bagaimana filsafat berisiko kehilangan sebagian daya kritisnya ketika terlalu dekat dengan pertunjukan; bagaimana bahasa dapat membangun kewibawaan tanpa selalu membuktikan kedalaman; dan bagaimana seseorang dapat begitu terampil memeriksa pemikiran orang lain, tetapi kurang memberi ruang bagi pemeriksaan atas pemikirannya sendiri.
Maka, pembedaan antara filsuf dan penyampai pemikiran filosofis tetap perlu dipertahankan. Rocky Gerung, dalam penilaian saya terhadap karya dan penampilannya di ruang publik, lebih tepat ditempatkan pada posisi kedua. Ia memiliki kecakapan menggunakan perangkat filsafat untuk membaca persoalan politik dan kehidupan sosial. Namun, kecakapan tersebut belum memperlihatkan suatu konstruksi filosofis orisinal yang cukup untuk menempatkannya sebagai filsuf dalam pengertian penghasil pemikiran filosofis baru.
Pembedaan ini bukan soal merendahkan seseorang. Justru dengan menempatkan pekerjaan intelektual secara lebih jernih, kita dapat menghindari kekeliruan dalam memberikan pengakuan.
Filsafat, bagaimanapun, tidak menuntut manusia untuk selalu benar. Ia hanya meminta agar manusia tidak berhenti memeriksa kemungkinan bahwa dirinya keliru. Kebingungan kadang-kadang memang diperlukan untuk memulai pemikiran. Tetapi kebingungan yang sengaja dipelihara agar kelemahan alasan tidak terlihat, tentu merupakan perkara yang berbeda.
Mungkin karena itu, satire If you can’t convince them, confuse them patut kita ingat kembali. Ia bukan sekadar sindiran terhadap politisi atau orang yang gemar berdebat. Ia juga merupakan peringatan bagi siapa saja yang menggunakan bahasa untuk berbicara atas nama pengetahuan.
Sebab, filsafat bukan seni membuat orang lain terpesona, apalagi membuat mereka kehilangan arah. Ia merupakan kesediaan untuk tinggal lebih lama di hadapan pertanyaan, termasuk ketika pertanyaan itu mulai mengusik keyakinan sendiri.
Dan barangkali, di sanalah letak keindahan pemikiran yang sesungguhnya: bukan pada kemegahan kata-kata, melainkan pada kesediaan untuk tidak bersembunyi di baliknya.**
*Kasiyan, Guru Besar Departemen Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta.
Daftar Referensi
Adorno, T. W. (1997). Aesthetic theory (R. Hullot-Kentor, Trans.). University of Minnesota Press. (Karya asli diterbitkan 1970).
Aristotle. (1999). Nicomachean ethics (T. Irwin, Trans.; 2nd ed.). Hackett Publishing Company.
Benjamin, W. (2008). The work of art in the age of its technological reproducibility: Second version. In M. W. Jennings, B. Doherty, & T. Y. Levin (Eds.), The work of art in the age of its technological reproducibility, and other writings (pp. 19–55). Harvard University Press.
Kant, I. (2012). Groundwork of the metaphysics of morals (M. Gregor & J. Timmermann, Trans. & Eds.; 2nd ed.). Cambridge University Press. (Karya asli diterbitkan 1785).
Magritte, R. (1929). The treachery of images [Lukisan]. Los Angeles County Museum of Art.
Nietzsche, F. (1966). Beyond good and evil (W. Kaufmann, Trans.). Vintage Books. (Karya asli diterbitkan 1886).
Plato. (1997a). Apology (G. M. A. Grube, Trans.). In J. M. Cooper (Ed.), Plato: Complete works (pp. 17–36). Hackett Publishing Company.
Plato. (1997b). Gorgias (D. J. Zeyl, Trans.). In J. M. Cooper (Ed.), Plato: Complete works (pp. 791–869). Hackett Publishing Company.
Ricoeur, P. (1970). Freud and philosophy: An essay on interpretation (D. Savage, Trans.). Yale University Press. (Karya asli diterbitkan 1965).




