Ketika Borobudur Hanya Menjadi Backdrop

Oleh: Teguh Ostenrik*

Catatan Kritis atas Konser Andrea Bocelli di Pelataran Candi Borobudur

Saya datang jauh-jauh ke Yogyakarta untuk menyaksikan Andrea Bocelli bernyanyi di pelataran Candi Borobudur. Setelah penerbangan dan perjalanan darat sekitar satu setengah jam dari bandara, akhirnya saya duduk di kursi penonton.

Belum sampai dua menit, saya mulai gelisah.

Di hadapan saya berdiri panggung proscenium yang sangat konvensional, lengkap dengan rig-rig lampu dan pepohonan besar sebagai latar belakang.

Di mana Borobudur?

Untuk apa saya datang sejauh ini jika panggung yang saya saksikan bisa didirikan di mana saja di dunia?

Karena penasaran, saya berjalan menuju area penonton dengan kategori tiket lebih mahal.

Dan, aha! Di sanalah Borobudur!

Candi megah itu tampak kemerahan oleh tata cahaya, berdiri sebagai backdrop panggung Andrea Bocelli.

Salah satu mahakarya arsitektur dan spiritualitas terbesar di dunia telah diturunkan derajatnya menjadi dekorasi panggung.

Tepat pukul 20.10 WIB, orkestra memainkan Indonesia Raya. Seluruh penonton berdiri dan bernyanyi. Saya pun melepaskan suara bariton saya. Tubuh merinding, bulu kuduk berdiri.

Apakah nasionalisme saya sedang meledak?

Kemudian bermunculan penari tradisi Nusantara, diiringi dentuman drum yang menggema ke langit Borobudur. Sebuah pembukaan yang menjanjikan.

Namun pertanyaan saya belum terjawab.

Mengapa konser sebesar ini tidak diselenggarakan saja di sebuah concert hall yang netral, jika Borobudur hanya diperlakukan sebagai latar?

Mengapa sang perancang panggung tidak mencoba memeluk Borobudur?

Bukan secara fisik, melainkan melalui dramaturgi ruang yang menjadikan candi sebagai bagian utama pengalaman pertunjukan, tanpa mengganggu kelestarian dan kesakralannya.

Bukankah Nusantara mengenal tradisi panggung arena, pendapa, dan ruang pertunjukan yang cair, tempat penonton dan pemain tidak selalu dipisahkan oleh batas frontal?

Malam itu Andrea Bocelli tampil sendiri, berduet, dan bernyanyi bersama rekan-rekannya. The Prayer bersama Lea Simanjuntak tentu menjadi salah satu bagian yang dinantikan, meskipun bagi telinga saya kekuatan emosionalnya tidak lagi seperti ketika ia menyanyikannya bersama Céline Dion.

Di sisi kiri panggung, sepasang penari berulang kali muncul tanpa fungsi dramaturgis yang jelas.

Saya teringat wayang kulit. Bahkan Ki Nartosabdho dan Ki Manteb Soedharsono mampu menciptakan pengalaman tiga dimensional melalui sabetan wayang di balik kelir dua dimensi.

Sebaliknya, malam itu Andrea Bocelli dan Borobudur justru terasa dipipihkan menjadi ornamen pelat aluminium hasil laser cutting.

Rapi, presisi, tetapi dekoratif.

Saya teringat arsitek Hans Scharoun, perancang Berliner Philharmonie. Ia meninggalkan konsep panggung frontal dan menempatkan orkestra di tengah, dikelilingi penonton dari berbagai arah dan ketinggian.

Filosofinya sederhana: musik menjadi pusat ruang, bukan sekadar tontonan dari satu arah. Meskipun kualitas setiap kursi tidak identik, penonton dengan tiket mahal maupun murah tetap diajak mengalami pertunjukan secara utuh.

Harga tiket boleh menentukan tempat duduk, tetapi tidak semestinya menentukan hak seseorang untuk mengalami gagasan utama sebuah pertunjukan.

Di Borobudur, saya justru harus meninggalkan kursi untuk menemukan candinya.

Saya teringat pula pada pementasan opera Turandot karya Puccini di Beijing tahun 1998, yang disutradarai Zhang Yimou dengan Zubin Mehta sebagai konduktor.

Pertunjukan di kompleks Kuil Leluhur Kekaisaran, berdekatan dengan Forbidden City itu, memanfaatkan halaman, tangga, teras, dan arsitektur kekaisaran sebagai bagian dari dramaturgi. Opera Barat berdialog dengan ruang dan kebudayaan Tiongkok, menciptakan pengalaman yang tidak mungkin dipindahkan begitu saja ke gedung konser biasa.

Mengapa kemungkinan semacam itu tidak dieksplorasi di Borobudur?

Bukan berarti kita harus meniru kemegahan produksi Turandot. Yang patut dipelajari adalah keberanian memperlakukan arsitektur dan sejarah sebagai bagian dari komposisi artistik.

Tempat pertunjukan seharusnya bukan sekadar alamat sebuah peristiwa, melainkan bagian dari jiwa peristiwa itu sendiri.

Saya sendiri sudah dua kali mendaki Borobudur pukul empat dini hari, hanya untuk menyaksikan matahari terbit dari pelataran Arupadhatu.

Ternyata yang saya alami bukan sekadar pertunjukan visual.

Di antara siluet Gunung Merapi dan Merbabu, cahaya mulai memainkan bayangan. Ayam berkokok, kambing mengembik, burung-burung terbangun, dan suara sepeda motor terdengar dari kejauhan.

Sebuah orkestra kehidupan!

Tanpa konduktor, tanpa partitur, tanpa tata panggung.

Suara datang dari berbagai arah, sementara matahari perlahan mengubah bentuk dan volume arsitektur candi melalui permainan cahaya.

Saya menyebutnya pertunjukan tujuh dimensi: ruang, suara, cahaya, gerak, waktu, kehidupan, dan kesadaran manusia yang mengalaminya.

Gunung menjadi skenografi, matahari menjadi penata cahaya, dan alam memainkan simfoni yang tidak pernah sama setiap subuh.

Kita bukan lagi sekadar penonton, melainkan bagian dari pertunjukan itu sendiri.

Bukankah manusia seharusnya belajar dari alam semesta?

Jika Borobudur setiap subuh mampu menghadirkan simfoni multidimensional, mengapa manusia dengan segala kecanggihan teknologi panggung justru meratakannya menjadi gambar dua dimensi?

Saya tidak menuntut lebih banyak lampu, penari, atau teknologi. Barangkali justru diperlukan keberanian untuk mengurangi, memberi ruang kepada cahaya, suara, dan arsitektur agar saling berdialog.

Bayangkan Andrea Bocelli tidak sekadar bernyanyi di depan Borobudur, melainkan seolah bernyanyi bersama Borobudur.

Malam itu pertunjukan berjalan lancar. Musik dimainkan, para penyanyi tampil, lampu menyala sesuai aba-aba.

Tetapi tidak ada satu pun yang berhasil mencopot jantung saya dari tempatnya.

Padahal saya datang dengan harapan menyaksikan pertemuan dua keagungan: suara seorang maestro dunia dan sebuah mahakarya peradaban manusia.

Keduanya hadir di tempat yang sama, tetapi gagal dipertemukan dalam satu bahasa artistik.

Pertunjukan kolosal ternyata tidak otomatis menjadi karya seni monumental.

Saya pulang dengan sebuah pertanyaan:

Mengapa kita mengundang dunia datang ke Borobudur, jika kita tidak memberi kesempatan kepada Borobudur untuk berbicara?

Karena Borobudur bukan dekorasi yang menunggu diterangi lampu.

Ia adalah sebuah peradaban yang menunggu diajak berdialog.

*Teguh Ostenrik, Founder Terumbu Rupa