Angga Eka Karina

Mengenal Dodaidi, Lullaby dari Aceh

Oleh Angga Eka Karina*

Dodaidi adalah tradisi lisan nyanyian pengantar tidur (lullaby) di Aceh  yang sering dinyanyikan oleh ibu kepada anaknya dalam buaian atau di ayunan. Dalam tradisi masyarakat Aceh, kehidupan seorang anak pada masa-masa awal kelahirannya diwarnai oleh syair-syair yang dilantunkan oleh ibunya pada saat dalam ayunan. Syair-syair ini digunakan untuk memperhalus rasa dan budi pekerti mereka. Syair-syair itu biasanya berisi nasehat yang mendidik. Salah satu syair yang paling populer adalah Dodaidi.

Dalam masyarakat Aceh, kehidupan seorang anak pada masa-masa awal paska kelahirannya selalu diwarnai syair-syair Islam pembentuk karakter. Syair-syair tersebut dilantunkan oleh para ibu pada saat bayi-bayi mereka ditidurkan dalam ayunan hingga bayi-bayi tertidur nyenyak. Dalam budaya Aceh, seorang bayi biasanya ditidurkan dalam ayunan yang ditempatkan sekamar dengan ayah dan ibunya.

Syair yang dinyanyikan pada saat anak akan memasuki alam bawah sadar atau tertidur bukan dilakukan tanpa alasan. Menurut para medis dan psikolog nilai-nilai dan pesan-pesan akan lebih mudah ditransfer pada saat gelombang otak seseorang sedang berada dalam kondisi ini. Demikian juga dengan Dodaidi. Pada saat mengayunkan anaknya, si ibu akan melantunkan syair-syair islami berisikan nasehat, sejarah dan akhlak-akhlak para nabi. Mengayunkan anak maka dari itu juga  menjadi media untuk menanamkan nilai-nilai keislaman.

Dodaidi Aceh

Foto 1 seorang Ibu menidurkan anaknya dalam ayunan. (Sumber Foto: Arsip Penulis)

Tatkala melantunkan Dodaidi  para orang tua berdoa agar kelak anaknya menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara, termasuk menjadi  anak yang memiliki kesadaran bela bangsa dan bela agama (syahid). Orang tua berharap kepada anaknya untuk mengambil bagian dalam perang suci. Dalam Islam memperkenalkan agama adalah kewajiban bagi orangtua. Itulah sebabnya pesan agama selalu ditemukan dalam syair-syair Dodaidi.

Syair Dodaidi dan maknanya

Dodaidi berasal dari dua kata dalam bahasa Aceh yaitu, doda dan idi. Doda atau peudoda berarti bergoyang, dan idi berarti berayun. Syair Dodaidi merupakan puisi tradisional Aceh, yang pengarangnya tidak diketahui (anonim). Syair lagu Dodaidi disusun dalam empat baris dari setiap kuplet dengan sajak a-a-a-a atau a-b-a-b. Syair lagu ini diwariskan turun temurun dan sampai saat ini masih digunakan.

Syair lagu Dodaidi merupakan karya dari sebuah nilai kearifan lokal (local wisdom), yang diwariskan melalui pesan, ajaran dan nilai-nilai budi pekerti yang terkandung di dalamnya. Masyarakat meyakini bahwa lirik lagu ini akan berpengaruh pada pembentukan watak dan karakter seseorang. Berikut adalah syair dari lagu Dodaidi:

SYAIR LAGU DODAIDI       

TERJEMAHAN

Allahai do dodaidi

Boh gadong bie boh kayee uteuen

Rayek sinyak hana peue ma bri

Aeb ngon keuji ureung donya kheun

Allah hai do doda idi

Ubi Jalar dan buah-buahan hutan yang lain,

Cepatlah besar wahai anakku, walaupun tak ada yang dapat ibu berikan,

Aib dan keji kata orang.

Allahai do dodaidang

Seulayang blang ka putoh taloe

Beurijang rayek muda seudang

Ta jak bantu prang ta bila nanggroe

Allah hai do doda idang

Layang-layang sawah putus talinya

Cepatlah besar anakku, dan beranjak dewasa,

Ikut bantu perang membela bangsa

Wahee aneuk bek taduek le

Beudoh sare ta bila bangsa

Bek ta takot keu darah ile

Adak pih mate poma ka rela

Bangunlah anakku, jangan duduk lagi

Berdiri bersama mempertahankan bangsa

Jangan takuti darah yang mengalir

Sekiranya engkaupun mati, ibu telah merelakanmu.

Jak lon tateh, meujak lon tateh

Beudoh hai aneuk tajak u aceh

Meu bhee bak on ka meu bhee timphan

Meu bhee badan bak sinyak aceh

Mari ku ajarkan jalan, ayo berjalan

Bangun hai anak kembalilah ke Aceh

Harum daun pisang, harumnya timpan (kueh khas aceh)

Aroma badan si anak Aceh.

Allahai po ilahon hak

Gampong jarak han troh lon woe

Adak na bulee ulon teureubang

Mangat rijang trok u naggroe

Allah itu Tuhan yang benar

Kampung yang jauh tak bisa kujangkau

Andaikan aku punya sayap ku akan terbang,

Agar segera tiba di kampung.

Allahai do dodaidi, boh gadong bi boh kayee uteuen, rayek sinyak hana peue mabri, aeb ngon keuji ureung donya kheun. Kata Allah digunakan untuk mengawali syair. Kata Allah dimaksudkan sebagai  pengenalan iman kepada anak. Dengan kata Allah. ibu mulai mengayunkan anaknya. Selanjutnya disebut nama buah di hutan sebagai bentuk peduli lingkungan. Lalu ibu mendoakan agar anaknya tumbuh besar, walaupun tidak banyak yang bisa ia berikan, ini menunjukkan sikap kerendahan hati seorang ibu yang merasa tidak dapat memberi banyak untuk anaknya. Selanjutnya bait-bait mengatakan sang anak harus kuat dalam menghadapi berbagai berita aib dan keji yang dikatakan oleh orang. Orang tua berharap agar anaknya dapat tumbuh besar dengan cepat dan tegar dalam menjalani segala dinamika kehidupan di dunia.

Allahai do dodaidang, seulayang blang ka putoh taloe, beurijang rayek muda seudang, tajak bantu prang tabila nanggroe. Pada bait ini kembali kata Allah dipakai sebagai media pendidikan Iman dan Islam. Dalam bait ini orang tua juga berpesan kepada anaknya agar cepat besar serta menjadi anak yang kuat agar bisa membantu perang membela tanah air untuk dapat mengharumkan nama bangsa.

Foto 2 seorang Ibu menidurkan anaknya dalam ayunan. (Sumber Foto: Arsip Penulis)

Menanamkan  perlawanan terhadap penjajah 

Di Aceh pertengahan abad XIX dikenal Tengku Chik Pante Kulu menuliskan hikayat yang telah membakar jiwa generasi muda Aceh untuk berpartisipasi dalam perang Aceh (1873-1942) melawan kolonial Belanda. Hikayat ini dikenal dengan nama Hikayat Prang Sabi (The holy war epic). Hikayat ini juga banyak dibaca tatkala rakyat Aceh melakukan perlawanan terhadap penjajahan Jepang dari tahun 1942 sampai tahun 1945.

Syair lagu Dodaidi ternyata  juga ikut mewarnai semangat perang dalam melawan penjajahan. Terlihat dari bait beu rijang rayek muda seudang, ta jak bantu prang ta bila nanggroe dimana anjuran untuk berperang terbaca dengan tegas. Ajakan berperang melawan penjajah bertujuan untuk membela tanah air dan melawan kolonial yang menjajah Indonesia yaitu Negara Belanda dan Jepang.

Wahe aneuk bek taduek le, beudoh sare ta bila bangsa, bek tatakot keu darah ile, adak pih mate poma ka rela. Bait ini menjelaskan orang tua berpesan kepada anaknya agar segera bergegas, bangkit dan bergerak untuk membela Negara. Kalaupun si anak meninggal dalam peperangan nanti, maka orang tuanya pun sudah merelakan.

Disana terlihat betapa besar perintah untuk berperang melawan penjajah, hingga nyawa menjadi taruhannya. Dalam kasus ini kita dapat melihat hubungannya dengan sejarah yang menunjukkan bahwa masyarakat Aceh memiliki banyak pahlawan, tidak hanya dari kalangan laki-laki tetapi juga dari kalangan perempuan seperti Tjoet Nja Dhien, Tjoet Meutia dan sederatan lain nama para pahlawan Aceh lainnya.

Perintah berperang tidak hanya untuk anak laki-laki namun juga berlaku untuk anak perempuan. Semangat berperang melawan penjajah ini pula membuahkan hasil, dalam sejarah kita melihat bahwa Aceh merupakan salah satu daerah yang tidak pernah menyerahkan diri pada penjajah Belanda, hingga akhirnya Belanda mengutus seorang ilmuan untuk mencari tahu penyebab kuatnya perlawanan masyarakat Aceh, Mr. Snouck Hurgroenje. Snouck adalah Pakar Dunia Melayu di Universitas Leiden dan Penasehat Pemerintah Belanda dalam agenda kolonialisasi global. Dia menulis lebih dari 1.400 makalah tentang situasi di Aceh dan posisi Islam di Hindia Belanda.

Demikianlah. Syair lagu Dodaidi tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Aceh. Pesan yang disampaikan melalui lirik-liriknya dimaksudkan untuk membentuk jiwa dan perilaku anak di kemudian hari. Agar sang anak menjadi seorang yang bertaqwa dan berani membela negara saat musuh datang.

*Mahasiswa S3 Program Doktoral Minat Pengkajian Seni  Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

————–

DAFTAR PUSTAKA

Mudji Sutrisno, F X. 2020. “Spiritualitas Dan Teori Seni.” Basis 69 (01–02): 51–54.

Sutrisno, Mudji. 2006. Oase Estetis: Estetika Dalam Kata Dan Sketza. Penerbit Kanisius.

Sutrisno, Mudji, and Christ Verhaak. 1994. Estetika: Filsafat Keindahan. Penerbit Kanisius.

TUTI MARJAN FUADI1, RIKI MUSRIADI2 USMAN3, SYARIFAH FARISSI4. 2019. “DODAIDI: BUDAYA MENGAYUNKAN ANAK DALAM MASYARAKAT ACEH (PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA) TUTI.” Jurnal Pencerahan 13 (1): 79–96. https://doi.org/ISSN: 1693-7775.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *