Puisi-Puisi Bambang Widiatmoko

Menguji Kopi Bintuha

 -bersama Yogira Yogaswara

Jika kita teguk nikmatnya secangkir kopi pagi ini
Ingatlah embun yang turun dari gunug tua Patuha
Sejak petani mengubah ladang sayur menjadi kebun kopi
Berubahlah tanah yang dulu sering longsor
Menjadi perkebunan kopi yang tersohor.

Meresapi pahit manisnya pilihan selera kopi robusta
Tentu kuingat geliat para pedagang pasar Ciwidey
Meski dengan perbincangan bahasa yang tak kupahami
Tapi secangkir kopi di kedai yang hangat oleh tungku arang
Keakraban terjalin dan terikat kuat seperti batu karang.

Memahami nikmatnya mereguk kopi adalah menemu jati diri
Riwayat panjang perjalanan dari kebun, biji, dan api
Tubuh petani yang terbalut tanah dan getah, mengalir napasnya
Lantas di mana-mana kopi tersaji, harum dan nikmatnya teruji
Di sini, di kaki gunug Patuha, hatiku terpanah oleh kopi robusta.

2020

 

Kopi Tak Kie, Petak Sembilan

-bersama Adri Darmaji Woko

Sebuah lorong sempit menuju kedai kopi Tak Kie
Seperti melemparkan diriku ke ingatan masa lalu
Sejarah kelam perjuangan hingga reformasi yang membakar
Kedai kopi Tak Kie tetap bertahan di kawasan Petak Sembilan
Sebab dari namanya terkandung arti orang yang bijakasana.

Aku duduk di kursi dan meja tua, tembok kusam penuh foto kenangan
Hitam putih warnanya, merekam jejak perjuangan warga tionghoa
Memesan kopi pahit robusta, sambil memandang lorong yang panjang
Bergelantungan daging babi, buah-buahan dan kalender berwarna merah
Mereguk kopi robusta, seolah tersesap pahitnya kehidupan jika terlena.

2020

 

Kopi di Bibir Manado

-bersama Arther Panther Olii

Di kawasan boulevard matahari telah tenggelam
Gunung Manado Tua tinggal bayangan di kejauhan
Dua cangkir kopi telah habis diseruput perlahan
Bibirku dan bibirmu menjadi semanis bibir Manado
Tergigit kenangan dalam temaram lampu jalanan
Gairah menetes seperti keringat membasahi badan.

Entah mengapa pilihan kita selalu berbeda
Engkau menyukai kopi tanpa gula dan pahitnya nyata
Aku memilih mencampurinya dengan susu cap Nona
Di boulevard tawa kita berputar seperti tata surya
Lalu ketika engkau berteriak memesan kopi lagi
Tubuhku limbung mencari kesadaran hidup hakiki.

 

*Bambang Widiatmoko, penulis kelahiran Yogyakarta ini memiliki kumpulan puisi tunggal al. Silsilah yang Gelisah (2017), Air Mata Sungai (2019), Mubeng Beteng (2020). Sajaknya terhimpun di berbagai antologi puisi bersama al. Kepak Sayap Waktu (2020). Tegal Mas Island (2020), Pringsewu Kita (2020), Mahligai Penyair Titipayung (2020), Berbisik pada Dunia (2020), Semesta Jiwa (2020), Peradaban Baru Corona (2020). Kembara Padang Lamun (2020), Angin, Ombak, dan Gemuruh Rindu (2020), Rantau (2020). Cerpennya tergabung dalam antologi cerpen Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil (2017), Alumni MUNSI Menulis (2020). Ikut menulis esai di buku Apresiasi Sastra dan Perbincangan Karya (2016), Isu Sosial dalam Puisi (2017). Jabal Rahmah Perjumpaan Sastra (2018). Bunga Rampai Tradisi Lisan (ATL.,2020), Bunga Rampai Semiotika (FIB UI, 2020), Bunga Rampai Kritik Sastra (HISKI-Balai Bahasa Bali, 2020), Dosen Universitas Mercu Buana.