Wregas Bhanuteja

Wregas dan FFI 2021

Banyak sineas yang berusaha mengangkat realitas sehari hari. Tapi kebanyakan klise dan mudah ditebak. Atau kadang realitas yang diangkat cenderung berlebih-lebihan tidak bertolak betul-betul dari pengamatan yang tajam atas berbagai fenomena realitas kekinian. Penggarapan sinematografisnya pun kerap sering diindah-indahkan meski struktur logika filmnya tak mampu membawa kita ke tahap-tahap penanjakan dramaturgi yang logis. Di tengah kondisi perfilman seperti itu muncul film Wregas Bhanuteja: Penyalin Cahaya yang lain daripada lain. Wregas bertolak dari problem kekinian dan mampu menghadirkan isyu itu dengan cara wajar tapi tak terduga. Serta: estetis. Estetis bukan dalam arti kemayu atau penuh adegan-adegan yang elok yang memanjakan mata. Tapi estetis dalam arti sebuah sikap merepresentasikan sebuah film dengan cara pandang dan alur yang tak meniru-niru yang sudah ada. 

Film Wregas bertema hal yang dekat dengan realitas kita sehari-hari yaitu: pelecehan seksual berbasis digital. Seorang perempuan bernama Suryani dalam film itu terlibat dalam kegiatan teater mahasiswa. Ia bukan aktor atau pemain musik kelompok teater tersebut. Ia adalah pembuat website teater yang bertugas mengupload semua kegiatan teater. Kelompok teater mahasiswa tersebut menang dalam festival dan berhak maju ke festival teater mahasiswa di Kyoto. Jepang. Sebuah pesta diadakan. 

Suryani hadir dalam pesta itu. Tapi sebuah kejadian menimpa Sur. Ia tak ingat apa-apa. Tahu-tahu ia bangun dan dimarahi keluarga karena membuat malu keluarga. Malam-malam menjelang subuh dalam kondisi tak sadar – mabuk ia dipapah laki-laki tak dikenal yang mencari alamat rumahnya dengan cara menggedor semua pintu tetangga. Sur tak tahu apa yang terjadi. Dia hanya menerima kenyataan lain yang lebih mengejutkan yaitu bahwa ternyata – foto dirinya mabuk itu tersebar ke dunia maya. Dan itu membuat beasiswanya dicabut. Karena yayasan pemberi beasiswa menganggap ia telah melakukan perbuatan tak senonoh.  

Film ini lalu menampilkan “investigasi” pribadi Sur yang berusaha melacak mengapa ia bisa jatuh mabuk pada pesta itu dan fotonya tersebar kemana-mana. Dalam loteng  sederhana – tempat kios foto kopi dan rental kampus –  satu persatu ia diam-diam mentrack hand phone atau isi lap top kawan-kawannya yang tengah ada keperluan mengetik di tempat foto kopi itu. Dan dia mendapat kesimpulan mengejutkan bahwa saat pingsan tersebut ia ditelanjangi dan difoto oleh seorang mahasiswa. Dari pelacakan digitalnya, dia juga menemukan hal yang jauh lebih mengagetkan. Bahwa korban pemotretan telanjang –saat tak sadar itu bukan hanya dirinya. Tapi juga mahasiswi-mahasiswi lain yang mengikuti kelompok teater tersebut. Sebuah kriminalitas dari seorang pengidap kelainan seksual yang mencari mangsa. Siapakah pelakunya?

Wregas Bhanuteja

Foto Wregas Bhanuteja bersama Shenina Cinnamon mewakili film Penyalin Cahaya di red carpet acara pembukaan Busan International Film Festival (BIFF) ke-26 di Busan Cinema Center, Busan, Korsel, 6 Oktober 2021.(Sumber Foto: selebritalk.pikiran-rakyat.com)

Sur jelas adalah representasi anak muda sekarang yang sadar dengan dunia digital. Dia adalah digital native. Film Wregas ini mampu menampilkan budaya dan ketrampilan digital yang meresap ke kalangan milineal. Dilema Sur yang berusaha “mencuri” dan mentrack isi lap top itu adalah dilema psikologis kekinian. Dilema yang bisa memperluas watak dan karakter tokoh dalam film maupun teater. Sejak tragedi Yunani sampai teater realis masa kini – kita disodorkan berbagai dilema manusia yang berbeda-beda. Dan dilema-dilema yang berkaitan dengan dunia digital pada hari ini adalah dunia yang memperkaya kita akan psikologi manusia. Psikologi dan dilema Suryani itu relatif baru disodorkan dalam film kita. Belum ada novel maupun film yg menggarapnya. Usaha gigih anak ini mentrack kasus pelecehan seksual yang menimpa dirinya melalui  investigasi terhadap HP dan laptop teman-temannya adalah angle menarik.  Sesuatu yang dekat dengan kita tapi tak pernah diangkat sineas. 

Maka dari itulah bila dewan juri FFI 2021 memutuskan menganugrahi film Wregas: Penyalin Cahaya ini dengan berbagai kemenangan amatlah tepat. Film Wregas ini memborong kemenangan dengan meraih: Film terbaik, Sutradara terbaik, Penulis skenario terbaik, Pengarah sinematografi terbaik, Pengarah artistik terbaik, Penyunting gambar terbaik, Penata suara terbaik, Penata musik terbaik, Penata busana terbaik, Pemeran utama terbaik (Chicco Kurniawan). Tampak para dewan juri amat menghargai pencapaian estetik film Wregas ini.  

Awal adegan fim Penyalin Cahaya cukup menarik, yaitu adegan sebuah pementasan teater. Sebuah teater dalam film. Sementara adegan-adegan akhir  film ini cukup mengejutkan. Di bagian-bagian terakhir film ini terdapat adegan “dreamy”. Adegan beberapa petugas melakukan fogging atau penyemprotan insektisida untuk mencegah deman berdarah. Adegan ini mula-mula terlihat seperti sebuah adegan realis namun ternyata ini sebuah alusi. Dari kabut fogging itu tiba-tiba muncul – si anak pelaku pemotretan telanjang. Ia melakukan adegan-adegan dalam teater mereka (adegan soal Medussa) dan kemudian membungkam mulut Suryani dan kawan-kawan- sehingga Suryani tak bisa bernafas menghirup kabut fogging.

Sebuah adegan yang sangat kuat. Di sini film yang tadinya realis dibawa meningkat ke adegan yang surealis tapi make sense dan logic. Adegan penutup atau adegan  terakhir – setelah adegan “dreamy” itu – Suryani dan para korban perempuan lain  mendorong keluar mesin-mesin foto kopi milik rental kampus (dimana pegawainya – yang merupakan teman SD Suryani – yang juga pelaku penjual skripsi mahasiswa ternyata pernah dimintai tolong pelaku pemotretan untuk menyimpan atau memontase beberapa foto telanjang mahasiswi) juga cara mengakhiri film yang tak terduga. Wregas mampu mengambil masalah cerita, menyodorkan masalah cerita dan mengakhiri masalah secara mengagetkan.

Kemenangan Wregas dalam  FFI ini layak dicatat. Film Wregas ini tergolong sebuah film dengan sikap estetis yang di luar main stream. Mulai dari pengadegannya sampai  sinematografinya. Sikap Dewan Juri FFI 2021 yang berani menganugrahkan banyak kemenangan untuk Penyalin Cahaya semoga bisa menimbulkan keberanian para sineas muda untuk melahirkan film-film dengan cara pandang baru dan sikap-sikap baru yang tak kompromis terhadap selera kebanyakan. Ketakutan-ketakutan seorang sineas agar  filmnya harus bisa  menyenangkan dan diterima mudah penonton saat menonton sambil mengunyah pop corn – serta harus bisa menghasilkan uang yang banyak  itu yang bisa diatasi oleh Wregas. Dia membuat film yang bertolak dari ekspresi estetiknya sendiri. Filmnya tak mentah-mentah disesuaikan dengan selera umum penonton Indonesia yang cenderung suka film-film yang  “mudah”. Dia yakin akan perspektif estetisnya sendiri. Dan terbukti menang.

Orang seperti Wregas itu tahu betul bahwa film-film estetis demikian memiliki ekosistemnya sendiri – yang juga akan bisa menghasilkan penghasilan yang setimpal. Dia bisa hidup lebih lama dari film-film biasa yang katakanlah laku di bioskop – meski secara kualitas kurang. Ekosistem itu berupa festival-festival film dunia. Para sutradara muda kita seperti Wregas (juga Edwin dan lain-lain) tahu bahwa film yang masuk dalam pusaran dan sirkulasi ekosistem festival internasional tak akan berumur  pendek. 

---©BWCF2021---
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *