Puisi-Puisi Fahmi Wahid

KESAKSIAN DI MATA DEBU

Sepanjang kota menyeret diri melangkahi waktu
mengusung matahari pada punggung yang letih
menyaksikan peristiwa dalam pigura suram
tentang mulut-mulut jalan yang menganga
terus dilintasi roda-roda berpergian ke tujuan
anak-anak trotoar berpayung lampu merah
menadah harap di kebisingan jalanan
senandung-senandung sumbang
mengisi irama kehidupan mereka
dengan senyum dalam kepahitan

Di depan kota kusaksikan debu berceloteh
memaki orang-orang di dalam pencakar langit
menunjuk poster-poster wajah tanpa rasa malu
senyum-senyum dusta yang mereka pampang
sebatas pemanis bagi kaum di pinggiran kota
sesaat menebar janji setelahnya berlalu saja
tidak menyisakan secercah perasaan

Tapak demi tapak kaki semakin sesak berat
menyaksikan perut hutan dan tubuh rawa
semakin tergeser oleh ganasnya pembangunan
manusia berlomba mendirikan berhala beton
membentang kawat berduri pembatas status sosial
zaman tidak pernah habis berganti rupa begitu cepat
tapi jangan kita ikut terhimpit maupun terjepit
oleh mesin keserakahan melahap keduniawian

Kesaksian debu yang terhampar di mata
kenyataan kepada keperihan di atas keperihatinan
tentang hak-hak manusia yang terdampar
pada kehidupan dirantai sekarat

Balangan, 2021

 

LEWAT DOA KITA DEKAP JIWA PALESTINA

Kabar tanah Palestina selalu bertandang
dengan membawa serangkaian air mata
yang tidak pernah henti untuk kita bela
di sanalah kiblat pertama umat Muslim
yang sampai ini diintai mata senjata
berselimutkan sesak kepulan asap api
jeritan saudara kita di ambang gerbang ajal
demi mempertahankan tanah tercinta Palestina

Masjid Al-Aqsa tetaplah tegak sekuat iman
kumandang azan akan bergema sepanjang zaman
walau gerimis peluru mengepung pelosok kota
meski hujan bom menjatuhi seluruh negeri
Palestina tetap akan teguh bersama kita
karena tiap jengkal tanahmu titipan dari-Nya
tanpa gentar raga dan mendidih darah
tanpa henti suara dan jangan takut
untuk merebut kembali Palestina
menyelamatkan dari jajahan Israil

Sekarang para umat Muslim
berzikir dengan untaian nyawa
bersama gema Allahu akbar!
luluh lantak ribuan juta orang
saudara kita yang menjadi mayat
mewangi di atas hamparan debu suci
tertimbun bongkahan beton dan semen
dari reruntuhan tempat berteduh mereka
tapi sekarang sudah damai di taman surga
di pangkuan Tuhan Yang Maha Esa
lewat doa kita dekap jiwa saudara kita
yang gugur syahid di tanah Palestina

Balangan, 2021

 

RISALAH TANAH RETAK

Hujan yang disekap jemari musim
menyuburkan angin dan api
di hamparan tanah yang retak
doa sungai kehilangan apuah
walau memanggil sebiji gerimis
agar bertandang ke tandus lubuk
karena alam sudah dahaga parah

Isyarat tercengkram pada daratan
dipungut pasukan serangga dan cacing
pertanda pergilah dari tanah-tanah retak
karena bising baja raksasa akan segera tiba
membongkar hutan, gunung dan sungai
meruntuhkan sarang-sarang satwa
menumbangkan rumah-rumah warga
membangun gemerlap perkotaan
yang menggila dirasuki peradaban

Risalah tanah retak yang koyak
embun darah sudah mengendap
pada rumput dan runcing ranting
memberikan semangat melawan
melalui puisi senantiasa bersuara
meneriakkan rumpun hijau
yang perlahan hampir musnah
kesakitan tanah yang dijajah
kemurkaan hutan yang dijarah

Balangan-2021

 

KULANGITKAN DOA DI KUBAH MASJID AL-AKBAR

Pada shaf awal sajadah di masjid-Mu
raka’at demi raka’at telah ditunaikan
hati hanya merujuk pada Keesaan-Mu
kutundukkan dunia yang terperangkap dalam jiwaku
kupasrahkan kemauanku pada kehendak ketentuan takdir
karena keyakinan bahwa Kaulah Maha Pengampun
yang tidak pernah menolak tobat dari manusia
yang tidak pernah menutup gerbang pemaafan

Setetes bening air mata jatuh mengukir keharuan
kalam-kalam indah terpahat di dinding Masjid Al-Akbar
hingga ke mana pun sepasang mata memandang
selalu teringat pada keindahan-Mu
meluluhkan jiwa yang keras
melunakkan kehendak yang rakus
melunturkan doa yang kehitaman
meluruskan niat ke jalan kebenaran

Kutengadah tangan melangitkan doa di kubah Masjid Al-Akbar
menghayati betapa besar dan luasnya karunia dari-Mu
di hadapan mimbar tempat para orang-orang sholeh
menebarkan curahan hikmah penyampai ayat-ayat-Mu
di atas sajadah yang membentang dari duduk bersilaku
kutafakuri diri yang kelak menutup hijab kehidupan
Engkaulah Al-Akbar: Yang Maha Besar

Masjid Al-Akbar-Balangan, 2021

 

PETUAH SAYAP KUNANG-KUNANG

Menyekap cahaya kunang-kunang
kujadikan pendar-pendar penerang diri
memasuki gelapnya gulita kehidupan
menapaki ufuk senja dalam perjalanan
hanya tawa keluarga dan amanat orang tua
menjadi petunjuk menakhlukkan
tajam duri rimba pengembaraan

Kutitip riwayat hidup untuk generasiku
yang nanti seperti pasukan kunang-kunang
bersayap terbang menjelajah masa depan
menantang jurang dan menerobos rintangan
cerah bersinar di manapun mereka berada
selalu dalam pegangan di kepak doa petuahku

Balangan, 2021

 

*Fahmi Wahid lahir di Barabai, 3 Agustus 1964. Antologi puisi tunggalnya yang telah terbit a.l: Suara Orang Pedalaman (2016), Perjalanan Debu (2018), Tandik Meratus (2019), Tanah Perindu (2020). Antologi Bersama a.l: Swara Masnuna (2019), Tegal Mas Island dalam Antologi Puisi (2020), Dundang Parisj Van Borneo (2019), Kumparan Puisi (2020), Rajawali di Dermaga (Antologi Grup Dapur Sastra Jakarta, 2020), Pandemi Puisi (2020), Negeri Rantau (2020), Gambang Semarang (2020), Banjarbaru Rain (2020), Para Penuai Makna (2021). Biografinya terdapat dalam Leksikon Penyair Kalimantan Selatan 1930-2020 (2020), Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (2008), Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Lolos seleksi Lomba Penulisan Kreatif Dapur Sastra Jakarta (2019) sehingga mendapat hadiah mengunjungi dan mengikuti Ubud Writers and Readers Festival (URWF) 2019 di Ubud, Bali. Menerima Hadiah Seni (bidang sastra) Gubernur Kalimantan Selatan (2011).